Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Karya Ninja Gaijin’ Kategori

Model Amatir

SINOPSIS

Berawal dari satu pemotretan.  Seorang fotografer dan seorang model.

 Story codes

MF, M+/F, bd, cons, exhib, humil

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 Cerita ini diadaptasi dari beberapa cerita lain di asstr dot org.  Terima kasih juga untuk Anne dan Tyas yang memberi ide buat perkembangannya.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 Model Amatir

-Ninja Gaijin- (lebih…)

Read Full Post »

SINOPSIS

Tia akhirnya dibawa oleh Mang Enjup untuk bernegosiasi dengan Pak Walikota.  Selain mereka, juga ada dua pihak lain yang turut bersaing memperebutkan proyek.  Sementara itu Bram memutuskan untuk pulang lebih cepat…

Story codes:

M+/F+, anal, cons, reluc

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 CREDITS

Terima kasih untuk Mr. Shusaku (KisahBB) yang memilihkan judul seri Slutty Wife Tia.  Terima kasih juga Anne, Linda, dan Anandika buat saran-sarannya.  Teriring salam untuk Ventros S dan teman-teman pembaca seri ini di negeri seberang.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 -Ninja Gaijin-

————————————————————- (lebih…)

Read Full Post »

SINOPSIS

Meskipun sedang dinas luar kota, Bram terus memikirkan Tia.  Sementara itu Tia dipanggil Mang Enjup ke kantornya, untuk persiapan pertemuan dengan Walikota…

Story codes:

MF, MFFF, cons, HJ, rim

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 CREDITS

Terima kasih untuk Mr. Shusaku (KisahBB) yang memilihkan judul seri Slutty Wife Tia.  Juga terima kasih untuk Nitha M buat informasinya, dan Linda S buat usul adegannya.  Adegan pembuka diilhami satu adegan di novel “M&C” karya A** U**mi.  Adegan akhir atas permintaan Diny Yusvita ;)

Bab ini didedikasikan untuk “N”.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

Slutty Wife Tia 7

Kenikmatan Tertunda

-Ninja Gaijin-

-ringkasan cerita sebelumnya-

Tia bertengkar dengan suaminya, Bram, setelah menemukan foto PSK di HP Bram.  Atas saran Citra kakak iparnya, Tia mencoba mengubah penampilannya menjadi seperti yang disukai Bram, menjadi lebih seksi dan binal.  Terjadi kesalahpahaman yang membuat Tia ditangkap aparat karena disangka pelacur.  Untuk menghilangkan shock Tia kemudian konsultasi dengan psikolog, Dr. Lorencia, yang ternyata bersekongkol dengan Mang Enjup, atasan Bram, yang ingin menjerumuskan Tia.  Mang Enjup kemudian mengirim Bram berdinas luar kota selama seminggu sementara dia mengajak Tia ke satu pesta dan memperkenalkan Tia kepada Walikota.  Tia akan dilibatkan dalam satu tender proyek besar…

***** (lebih…)

Read Full Post »

SINOPSIS

Benarkah uang bisa beli segalanya, bahkan kehormatan?

Story codes

MF, anal, reluc

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
  • Ide cerita ini didapat dari satu manga hentai dan berita terkini.
  • Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 Uang Bisa Beli Segalanya

-Ninja Gaijin & Yohana-

***********************************

Suyat

Suyat

Suyat baru saja duduk santai di depan televisi ketika dia mendengar pintu depan rumah kontrakannya diketuk. 

Siapa sih?”, keluhnya gusar, “ngganggu waktu istirahatku aja…”

Suyat pegawai rendahan di satu kantor pemerintah daerah yang mengurusi pungutan kepada pengusaha yang jelas merupakan tempat kerja yang basah dan kadang-kadang Suyat pun kecipratan basahnya. Sebelum tamu yang sekarang mengetuk pintunya, tadi Suyat kedatangan seorang kurir dari satu perusahaan besar setempat, mengantarkan tas yang penuh berisi uang tunai.  Perusahaan itu sedang bermasalah karena sudah bertahun-tahun menunggak setoran kepada negara, dan sekarang berusaha membuat kasusnya dihilangkan dengan menyogok atasan Suyat. Tapi berhubung zaman sekarang transfer bank gampang dilacak aparat antikorupsi, para pengusaha dan pejabat korup jadi lebih memilih menggunakan uang tunai.  Dan tentunya para pelaku utama tidak saling bertemu langsung.  Mereka menggunakan kroco seperti si kurir tadi dan Suyat. Tentu agar tidak ribut, para kroco itu diberi bagian uang sogokan. Suyat sudah biasa dengan peran sebagai perantara uang sogok. Karena dia masih hidup “sederhana” di kontrakan, tidak ada yang mencurigainya terlibat korupsi.  Suyat sendiri memang tidak bisa nyimpan uang banyak. Uang bagiannya tidak pernah ditabung atau dibelikan barang; biasanya habis dia pakai judi atau jajan PSK di lokalisasi.

“TOKKK… TOKKKK TOKKK, TOOKKKK…!!!!!”

Dengan malas Suyat membuka pintu rumahnya, matanya melotot dengan nafas seakan tercekik, bulu kuduknya berdiri seperti duri landak melihat siapa yang datanng.

“lay lay lay lay lay panggil akusi jablay,abang jarang pulang aq jarang di belay! Bla blab la blahhhhh” terdengar suara nyanyian dangdut yang membuat Suyat tersentak ngeri.

“E-ehhh, ada apa ini ? ada apa ??” sontak saja Suyat gelagapan.

“ihh, abang ganteng.., jangan pura-pura ngak tau gitu dong ah, duitnya dong bang..”

“nihhh., gopekkkk…”

“Gopekkk ?? ganteng-ganteng masa cuma ngasih gopek!! Yang bener aja bang.!!”

“pake nawar lagi, udah ah , ni cecenggg…, ga bisa nambah…”

“Goceng boleh nggak bang…?? Dikasih plus-plus loh….”

“eeeuu-deuhhh…amit-amit, kaga-kaga….: @_@ !!!!!!!!!! Mampus dahhhh, pentil gua….ihhhh”

“yiahhh abanggg dikasih yang enak-enak kaga mau ,yaw dahhh dada gantengggg…muachhhh” sembari cengar-cengir si bencong mencolek dada Suyat tepat di bagian pentilnya kmudian barulah bencong itu ngeloyor pergi.

Mau tak mau Suyat langsung  merinding merasakan “sentuhan maut” si bencong. Dengan sekali tendang tertutuplah pintu itu menghempaskan kenangan “indah” dalam otak Suyat dengan santai suyat duduk di atas sebuah kursi sofa empuk yang baru saja dibelinya walaupun dibeli dengan uang panas kursi itu terasa empuk saat diduduki. Sementara itu, di luar kontrakan, seorang perempuan muda menunggu pintu yang diketoknya terbuka dengan jantung berdegup penuh semangat. Dia melihat sepeda motor tua dan tali jemuran di luar pintu kontrakan itu. Memang tidak kelihatan seperti tempat tinggal orang berada. Tapi menurut kontaknya, orang yang tinggal di rumah itu cukup mampu. Kalau dia berhasil meyakinkan orang ini, berarti ada tambahan penghasilan! Suyat membuka pintu dan melongo melihat perempuan cantik di baliknya. Perempuan itu berumur kira-kira dua puluhan awal, bertubuh jangkung, rambutnya diwarnai pirang, dan di bawah alisnya yang tebal tampak sepasang mata yang mengenakan lensa kontak berwarna biru. Blazer coklat muda yang dikenakannya tampak ketat membungkus sepasang payudara cukup besar, yang belahannya mengintip di balik blus coklat tua berpotongan dada rendah. Sementara itu roknya hanya mencapai separo paha, dilanjutkan stoking membawa gelap yang membungkus sepasang kaki yang indah.  Dia juga menenteng satu tas besar.

“Halo, selamat sore… Nama saya Melina, salam kenal,” kata perempuan itu sambil menjabat tangan Suyat, “Mas… Suyat?  Saya dapat kontak Anda dari teman Anda Mas James.  Boleh saya minta waktu Mas Suyat sebentar?”  Melina tersenyum manis, tanpa peduli yang dihadapinya seorang laki-laki bertampang berantakan dan kusut.

“Em… boleh aja.  Sebentar aja kan?”  Suyat mempersilakan Melina masuk.  Yah, tidak ada ruginya ngobrol sama cewek… lagian dia cakep juga…

Melina bergerak cepat, dia memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada.  Begitu bisa duduk menghadapi Suyat, Melina langsung bicara. Dia mulai dengan menanyakan impian Suyat, apakah Suyat ingin cepat kaya. Lalu dia mulai mengoceh mengenai cara agar impian-impian Suyat cepat tercapai, terutama keberhasilan dalam keuangan. Bahwa uang bisa dicapai dengan cepat lewat satu jenis bisnis, dan bisnis itulah yang sedang dijalani Melina. Bisnis multilevel marketing. Melina menceritakan kisah sukses beberapa orang yang sudah menjalani bisnis model itu, yang sudah bisa beli mobil mewah, tamasya ke luar negeri, dan semacamnya. Dengan penuh semangat Melina menjelaskan prospek bisnis itu berikut kelebihannya kepada Suyat, berharap Suyat akan tertarik. Suyat mendengarkan semua itu dengan bosan. 

Dasar MLM gerutunya.

 Awal-awalnya ngajak kenalan, memancing dengan sekadar bilang ‘ada tawaran bisnis’, ujung-ujungnya mengajak ikut supaya orang yang masuk duluan jadi lebih kaya. Pakai ngasih mimpi-mimpi surga segala.

Tapi Suyat tidak bisa tidak memandangi sosok Melina yang berpenampilan seksi.  Sambil dongkol.  Sialan… sengaja ngirim cewek seksi gini, biar aku ga mikir… Lihat tuh bajunya, ampe nempel ke badan gitu…

Bukannya menyimak omongan Melina, Suyat malah membayangkan yang aneh-aneh.

“Ah… kayaknya asyik juga ngecrot di muka dan badannya.  Lama-lama jadi horny juga ngelihatin dia ngoceh.  Pengen deh cobain ngentot ama dia. Tapi yang model begini biasanya maunya sama yang kaya… yang punya banyak duit. Eh…aku kan lagi banyak duit sekarang?”

“Kalau ikut sekarang, setoran awalnya bisa lebih kecil…” Melina terus menjelaskan prospek bisnis MLM-nya tanpa berhenti.

“Stop stop,” kata Suyat.  Dia sudah tahu apa yang mau dilakukannya.

Suyat meraih tas yang tadi dititipkan kurir perusahaan, mengambil segepok uang, lalu menaruhnya di depan Melina. Melina bengong, tidak tahu apa maksudnya.

“Eh… Mas Suyat ini uang maksudnya buat apa?”

“Cukup nggak sejuta?” tanya Suyat.  “Aku udah punya duit, jadi nggak perlu lagi ikut em-el-em kamu, Tensh*t atau apa itu namanya. Ini baru sebagian kecil dari yang kupunya. Kalau mau lagi aku masih punya banyak.”  Melina memperhatikan uang yang ditaruh di depannya.

“Iya, tapi…”

“Aku mau beli badan kamu buat hari ini.  Segini cukup nggak?” ujar Suyat sambil nyengir lebar.

“Uuhh…” Wajah cantik Melina berubah merah padam karena marah.  Sedetik kemudian dia meledak.  “SEMBARANGAN!!  Emangnya aku bisa dibeli?  Mentang-mentang kamu punya duit, terus kamu kira bisa beli segalanya?  Jangan macam-macam ya!?”  Jelas Melina murka akibat ditawar oleh Suyat.

Suyat menghadapi Melina yang naik pitam dengan santai. Tanggapannya bukan dengan membalas makian Melina, melainkan dengan melempar lagi segepok uang ke hadapan Melina.

“Masih kurang ya?”

Hardikan Melina berhenti, tapi wajahnya masih kelihatan marah. Suyat kemudian berdiri dari tempat duduknya, mengambil uang yang ditaruhnya, lalu dengan tak sopannya dia sisipkan gepokan uang tadi di belahan dada Melina yang sedari tadi membuatnya gemas. Melina kaget dan berusaha menahan tangan Suyat.

“Eh, Melina… Kan kamu tadi yang bilang kita mesti punya duit biar bisa ngejar mimpi?  Aku udah punya duit. Mimpiku sih nggak macem-macem,” komentar Suyat.  “Rasain aja. Enak gak rasanya duit? Kalau mau lagi, aku masih punya.”

“Kamu tinggal ngelayanin aku aja, nanti semua ini bisa buat kamu,” kata Suyat, sesudah mengambil segepok lagi dan menggunakannya untuk menampar-nampar lembut pipi Melina.

Melina mulai terdiam, mulai tergoda… “Mendingan gini kan, daripada kamu sibuk ngajak-ngajakin orang ikutan bisnis ga jelas ini?”

Suyat lalu meninggalkan Melina.  “Aku mau mandi dulu ya.  Kamu pikirin aja dulu, mau apa nggak.”

*****

Selagi Suyat mandi, Melina melongo memandangi tiga gepok uang di hadapannya.  Tiga juta. Kalau dia kerja normal, mungkin itu setara dengan gaji sebulan… Tapi pekerjaannya sekarang, mencari orang untuk ikut MLM, benar-benar berat dan menyebalkan, apalagi dia belum juga mulai mendapat penghasilan langsung dari bisnis yang dia jalani.  Kebetulan dia tinggal sendirian, dan uang tabungannya mulai menipis… Akhirnya Melina memutuskan.

*****

Suyat keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebagai ganti celana.  Dilihatnya Melina masih duduk dengan wajah resah di ruang depan kontrakannya.  Wajah Melina memerah. Tiga gepok uang yang tadi dipakai Suyat untuk membelinya tergeletak tak tersentuh di depan Melina.

“…iya deh… mau…” bisik Melina, nyaris tak terdengar.

“Nah, gitu dong, pinter,” kata Suyat sambil mendekat. 

Berhubung sudah konak dari tadi, dia tak berlama-lama, dan langsung melepas handuknya. Melina memandanginya dengan kebingungan, sebentar lihat sebentar tunduk, dengan muka yang terasa panas saat melihat suguhan diselangkangan suyat, sebuah batang mengacung tepat di hadapan wajah Melina yang cantik merona.

“Ya udah, mulai, jilatin tuh,” perintah Suyat.  “Pernah nyepong nggak?” 

Melina belum pernah melakukan oral seks sebelumnya, pengalamannya dalam seks tidak banyak. Tapi sebagai perempuan muda yang sehat, hormon kelaminnya mulai bekerja membuat dia mulai tergoda. Dengan ragu-ragu, ia membungkuk dan menjilat barang Suyat yang sudah mengacung ke depan. Melina mulai menjilati kemudian mengulum penis Suyat yang terus membesar. Suyat menyuruh Melina menggunakan tangan untuk mengocok dan memainkan lidahnya, dan Melina mengikuti semua itu.  Lalu Suyat mulai meraba payudara Melina yang masih tertutup baju. Pijatan dan rabaan itu membuat Melina mulai terangsang, selangkangannya terasa basah. Melina juga makin terangsang karena merasa bisa membangkitkan gairah Suyat. Dia mulai tak peduli bahwa dalam keadaan normal, dia tak bakal melirik Suyat yang memang tak ada ganteng-gantengnya, ataupun kenyataan bahwa dia hanya melayani Suyat karena uang.  Ditambah lagi, posisi mereka berdua rawan, karena lingkungan rumah kontrakan Suyat cukup ramah dan mereka ada di depan, bagaimana kalau ada orang tiba-tiba datang?  Suyat mulai mendesah keenakan dan menggerak-gerakkan pinggulnya selagi Melina terus mengisap kemaluannya.  Tiba-tiba penis Suyat menyentak di dalam mulut Melina dan Melina kaget merasakan semprotan cairan hangat di dalam mulutnya.  Sebagian cairan mani Suyat sampai meluber keluar mulut Melina, menetes ke bajunya. 

“Mmmmhhh… enaaak…” desah Suyat sambil menarik keluar penisnya dari mulut Melina.

Melina terduduk dengan mani mengalir dari mulutnya.

“Bagus… Ayo sekarang dipangku,” kata Suyat.

Melina masih berpakaian lengkap ketika dia menuruti perintah Suyat.  Suyat kemudian menyuruhnya bergoyang, dan Melina menggoyang-goyangkan pantatnya menggoda kemaluan Suyat. Melina sudah bukan perawan, dia pernah berhubungan seks dengan seorang pacarnya sebelumnya, tapi pengalamannnya tidak banyak.  Suyat kembali menggerayangi payudara Melina, menikmati kelembutan dada dan pantat Melina yang merapat ke tubuhnya. Suyat lalu membuka blazer Melina, lalu membuka rok Melina. Melina merasakan vaginanya mulai basah selagi Suyat meremas-remas payudaranya dan menggesek-gesekkan penis ke selangkangannya.

“Eh, kumasukin ya?” Suyat siap menyetubuhi Melina yang dipangkunya, dia menempatkan kepala burungnya di depan kewanitaan Melina.

Suyat melepas celana dalam Melina, menggosok-gosokkan kepala burungnya, membuka bibir kemaluan Melina, lalu mulai mempenetrasi ke atas. Melina masih sempit walaupun sudah bukan perawan, sehingga Suyat mesti pelan-pelan, sampai akhirnya bisa memasukkan seluruh batangnya ke liang Melina. Melina tak bisa menahan diri, dia mengerang keenakan ketika senjata Suyat menembusnya. Suyat mulai menggerakkan kemaluannya di dalam vagina Melina, keluar masuk, tusukan-tusukannya merangsang Melina lebih lanjut. Walaupun awalnya enggan, makin lama Melina makin menikmati. Pinggul Melina mulai bergerak mengimbangi gerakan Suyat, mencoba mendapat lebih banyak kenikmatan. Ketika melihat ke bawah, Melina melihat penis Suyat terbenam di dalam tubuhnya lalu keluar lagi, berulangkali. Suyat makin bersemangat menggenjot Melina, suara kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. Suyat serasa ada di surga. Melina tidak hanya cantik, tapi vaginanya juga masih rapat. Suyat bisa merasakan gairahnya sendiri terus meningkat, menuju puncak. Melina juga merasakan hal yang sama, tusukan-tusukan Suyat dan cengkeraman tangan Suyat di pantat dan dadanya membuatnya kewalahan.  Dia menggeliat sambil mendesah-desah keenakan,

“Oh… ohh… lagi…”

Suyat mengubah posisi, dia mendorong Melina sehingga merunduk ke depan dan akhirnya tersungkur dalam posisi merangkak. Keduanya jadi berposisi doggy style, Suyat menyetubuhi Melina dari belakang. 

“Ahh… sebentar lagi nih… Udah mau keluar nihh…!!” seru Suyat selagi dia menggenjot makin cepat.  “UUAHHH!”

Suyat tiba-tiba mencabut kejantanannya, mendorong Melina, lalu membalik tubuh Melina.  Rupanya Suyat sengaja… Ketika Melina sudah menggeletak telentang di lantai, Suyat berhenti menahan ejakulasinya dan memuncratkan maninya ke wajah perempuan itu.

“Aaah…. Ah… hahahaha…”

Suyat tertawa puas ketika dia melihat wajah Melina yang tadinya bermake-up tebal telah dia bikin berantakan dengan semburan maninya.  Melina terengah-engah, masih juga tak percaya dia mau merelakan orang ini menyetubuhinya hanya karena uang.

“Oke, ronde ketiga…” Suyat sudah siap-siap menikmati tubuh Melina lagi. 

Melina berusaha memprotes, “Ah… jangan duluh… istirahat dulu…” tapi protesnya hilang terhapus jeritan yang muncul ketika Suyat mencubit pentilnya.  “Jangaaaaannnn…” tolak Melina ketika Suyat menjilati leher dan dadanya.  Tapi badannya berkata lain, Melina kembali terangsang.  Pikirannya ikut-ikut berkata lain, tiga juta buat sekadar ngentot sama orang lumayan juga, lagian aku nikmatin juga kan? 

Melina

Melina

“Kalau boleh ngentot bo’olmu, kutambah lima ratus ribu,” bisik Suyat. 

Melina cuma memelototi Suyat dengan tak percaya. Dia belum pernah melakukan seks anal sebelumnya.

“Udah sejauh ini, kan?  Sekalian aja…” kata Suyat lagi.

Tanpa menunggu, Suyat langsung memasang ereksinya di pintu terlarang Melina. 

“Yok anal yook…tung ning nang ning nung!” canda Suyat.

“Eh tunggu!  Aku belum bilang mauuAUAAHHH!!”

Melina tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, dia keburu menjerit ketika anusnya diterobos paksa Suyat.  “SAKITTT!!  AHHH!!” Melina sampai memejamkan mata dan meringis akibat saluran belakangnya terasa pedih didesak terbuka oleh Suyat, mendengar jeritan Melina Suyat malah semakin bernafsu mendesakkan batangnya , kontan saja mata Melina melotot saat batang itu menjebol liang Anusnya.

“Huuhhh… uhhhhuhhh…”

Melina merasa seperti mau menangis ketika menahan sakit disodomi Suyat.  Suyat malah protes. 

“Eh kan aku bayar, jangan kayak kesakitan gitu dong!  Kalo nggak menikmati, kamu pura-pura keenakan aja, napa?”

Tapi Melina benar-benar kesakitan, dan wajahnya menunjukkan rasa benci.

“Eh… apa nih maksudnya?” tanya Suyat.  “Bayarnya masih kurang?  Bilang aja.  Aku mesti bayar berapa biar kamu jadi suka dianal?”

Melina terdiam sejenak, menahan sakit, berpikir, dan…

“Tiga juta lagi,” katanya mantap.

“Bungkusss,” ujar Suyat sambil tersenyum lebar.

Dan seketika ekspresi Melina berubah. Demi tambahan itu dia bersedia pura-pura doyan disodomi. Melina mulai mendesah-desah seksi dan memain-mainkan payudaranya sendiri. 

“Ahh… anh… enak…” desahnya.

Suyat mengayunkan batangnya menikmati liang dubur Melina yang menggigit kuat benda di selangkangannya, seret dan peretnya liang anus Melina membuat Suyat menggeram-geram nikmat sementara Melina meneruskan reaksi pura-pura sukanya, padahal sebenarnya pantatnya terasa nyeri. 

“Enak… dibo’ol enak… Ayo lagi Mas… sodok pantat Melina…”

Dan makin lama reaksi Melina makin hebat, sampai Suyat mulai tidak percaya bahwa Melina pura-pura.

“AHH!  Gede… banget… kontol Mas… ada di… pantatKU…HH!!  AH!  AW! TERUS MAS!  TERUS!  DIKIT LAGI… IAH… AH!  AAAHHHH!!!”, Suyat memacu batangnya dengan semakin kuat

Tak tahunya, Melina malah orgasme betulan selagi disodomi Suyat! 

“Sudah massss,”

“waduhhhh, jangan ngeluh melulu dongg, aku kan udah bayar mahal, kalo gini caranya sihhh, bisa rugi Bandar…., berdiri….”

“berdiri ?? kemana massss….”

“yaaa mau ngentot lagi, masa mau jalan-jalan…, udahhh nurut ajaaa..”

“b-bentar mass bentarrrr…”

Dengan tak sabaran suyat menarik pergelangan tangan Melina didudukkannya gadis itu di atas sebuah meja kecil sambil menyuruh Melina membuka kedua kakinya lebar lebar. Mata Suyat melotot sambil mengejar selangkangan Melina yang becek oleh lender-lendir licin beraroma harum, berkali-kali lidah Suyat mengait-ngait daging mungil yang terselip di belahan bibir vagina bagian atas. Dengan spontan kedua kaki Melina yang jenjang melejang nikmat saat mulut Suyat melumat selangkangannya, setelah puas melahap vagina Melina, Suyat duduk di atas kursi dan meminta Melina untuk duduk di atas batangnya.

“Ayo sinii…”

“tapi mass, aku capek sekalii”

“ahh capek apanya ?? kamu kan cuma ngangkang, sini ngak, kalo nggak mau berarti batall…lhoo” Suyat mengancam Melina

“yeee, Mas Suyat, masa begitu sich…, yawdah, mas Suyat maunya apa, aku turuti….”

“nahhh gitu dong baru sipppp… he he he”

Dengan hati dongkol Melina menghampiri Suyat, agak risih juga rasanya ketika harus menurunkan  vaginanya pada batang Suyat yang masih tegak perkasa,

Melina kini berpegangan pada bahu Suyat, dengan perlahan ia menurunkan vaginanya. Semakin turun vagina gadis itu semakin turun pula buah empuk di dada Melina mendekati mulut Suyat.

“Oufffhhh…hssshhh Mas Suyattt”

Reflek Melina menarik dadanya kebelakang saat merasakan kepala Suyat terbenam di belahan payudaranya, nafas laki-laki yang baru dikenalnya itu menghembus keras dan terasa hangat. Gairah nakal membuat Melina makin merinding, tangan kirinya menjambak rambut Suyat sementara wajahnya yang cantik terangkat ke atas merasakan hisapan mulut lelaki itu yang tengah menikmati puncak payudaranya, pangutan-pangutan kasar dan jilatan lidah membuat gundukan buah dada Melina membuntal semakin indah. Sesekali Melina meringis merasakan gigitan gemas Suyat pada buntalan payudaranya kemudian mendesah panjang merasakan nikmat saat mulut suyat mengulum putting susunya yang meruncing. Laki-laki itu begitu rakus menyusu di dadanya. Tangan Suyat mencekal pinggang dan menarik pinggang Melina ke bawah hingga vagina Melina bertemu dengan kepala kemaluannya. Nafas keduanya terdengar berat saat berusaha menyatukan alat kelamin mereka, belahan bibir vagina Melina yang peret masih terasa sulit untuk ditembus oleh batang Suyat.

“Massss…!!”

“OUGGHH…..oenakkkkkk…”

Keduanya saling berpelukan erat saat kepala kemaluan Suyat mendesak masuk ke dalam belahan bibir vagina Melina. Inci demi inci batang Suyat tenggelam semakin dalam hingga akhirnya selangkangan Melina bergesekan dengan rimbunnya rambut kemaluan Suyat. Entah kemaluan siapa yang berkedutan, batang Suyatkah yang berkedut ataukah dinding vagina Melina yang seret berkontraksi meremas – remas benda asing yang mengganjal di dalamnya.

“slleeepppp.. slepppp… blllsssshhh…” terdengar suara becek yang menggoda saat liang vagina Melina bergerak turun naik mengocok-ngocok batang penis Suyat yang terjepit di antara belahan bibir vaginanya. Gerakan keduanya semakin lancar, Melina terlihat menikmati menaik turunkan vaginanya pada batang Suyat sementara Suyat menikmati menyentak-nyentakkan batang kemaluannya ke atas menyambut turunnya vagina Melina.

“ahhh.. ahhh hhhhnnnnn ahhhh”

butir-butir keringat Melina membalut basah tubuh moleknya yang sedang bergerak turun naik di atas tubuh Suyat. Harumnya tubuh gadis itu berbaur dengan aroma cairan vagina yang meleleh keluar

 “plakk. Plakkk auhhh hssshh ahhh plakkkk” terdengar suara lenguhan dan rintihan saat Suyat menampar buah pantat Melina agar gadis itu bekerja dengan lebih giat lagi.

Suara tamparan terdengar dengan lebih keras pada buah pantat Melina yang memar kemerahan dan Melina semakin cepat menaik turunkan pinggulnya, tubuh Melina seperti sedang tersengat listrik hingga mengejang , bibirnya merintih merasakan vaginanya berdenyut dengan nikmat, Suyat memeluk tubuh Melina yang kelelahan sementara mulutnya terus bekerja menciumi bibir Melina yang sedang merintih hebat di dalam amukan badai kenikmatan.

“crutttt.. cruttttt…. Ennnhhhhh…”

Melina membiarkan Suyat menjilati batang lehernya juga membiarkan tangan Suyat menggerayangi lekuk liku tubuhnya. Kecantikan Melina dan tubuh moleknya yang indah membuat nafsu syahwat Suyat bergolak berkali kali lipat dan batangnya tetap jreng berendam dalam nikmatnya kepitan vagina Melina yang sempit peret. Kali Ini Melina menungging di atas kursi sofa dan Suyat menaiki buah pantatnya, batang yang masih keras itu ditempelkan oleh pemiliknya pada kerutan liang anus Melina. Rasa lelah membuat Melina sulit untuk berpura-pura.

“OWWWWWW…. Akhhhhhh”

Melina merasakan sakit sesakit sakitnya saat batang Suyat merobek liang anusnya yang terluka. Di atas kursi sofa yang dibeli dengan uang panas itulah tubuh Melina tersungkur-sungkur. Tangan Suyat mencengkram pinggul Melina kuat-kuat, gerakan batang penisnya semakin cepat terayun menyodoki liang anus Melina yang mengerang kesakitan.

“PLOKK PLOKK PLOKKKK…”

“OUHHH, Hssshhh ahhhh M-masss Awwwwww….”

Keluh kesah Melina terdengar di antara suara benturan buah pantatnya dengan selangkangan Suyat, mirip seperti suara orang sedang merengek. Suara rengekan Melina membuat suyat semakin bernafsu menghentak-hentakkan batang penisnya, suara pekik Melina membuat suyat kesetanan menjejal-jejalkan batangnya menikmati anus Melina yang menggigit kuat benda di selangkangannya.

“Hnnngehhhhh, M-massss, di depan aja mass…”

Melina menarik pinggulnya hingga batang kemaluan Suyat terlepas dari jepitan liang anusnya. Mata Suyat mendelik melihat susu Melina dan melotot tambah besar melihat belahan vagina Melina yang dihiasi rambut-rambut tipis yang tumbuh merintis. Sebelah kaki Melina tertekuk mengangkang dan yang satunya lagi jatuh terjuntai di pinggiran sofa

Dengan jantung yang berdetak kencang Melina menunggu batang itu melesat dan Jrebbbb..

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhh…. Nikmattttt….”

Tusukan – tusukan suyat yang prima dipadu dengan goyangan vagina Melina membuat gerakan itu tampak serasi, putih dan cantiknya wajah Melina terlihat kontras dengan wajah suyat yang semrawut dan acak-acakan. Tubuh Melina terguncang oleh desakan batang suyat yang menggenjot kuat belahan vaginanya.

“Hhhh Hhhhh Hhhhh Hhhhhh…” nafas Melina terhembus keras setiap kali batang Suyat menyodok kasar selangkangannya yang mengangkang

Tangan Melina memengangi perutnya yang rata karena mulai merasa kram, ia seperti sedang menahan sesuatu, dan sesuatu itu semakin sulit untuk dikendalikan ataupun untuk ditahan. Akhirnya sebuah letupan lendir kenikmatan membuat tubuh Melina melenting nikmat, gerakan tubuhnya yang indah membuat suyat kagum sekaligus bergairah. Suyat merasakan batang kemaluannya semakin menegang dan akhirnya Crotttttt…, menyemburlah lahar panas menyirami liang vagina Melina. Tubuh Suyat melengkung keenakan dan ambruk menindih tubuh Melina yang termegap kehabisan nafas, terlhat mulut Suyat melumat bibir Melina yang memejamkan kedua matanya sambil membalas lumatan bibir Suyat, lama keduanya tertidur.

“aaa-ahhhh Mas Suyat…hoammmm”

Melina yang masih mengantuk tampak pasrah saat Suyat menyeretnya ke bawah. Ia terlentang di bawah lantai kontrakan Suyat, kedua kakinya dicekal mengangkang ke atas oleh tangan laki-laki itu. Matanya mengerjap-ngerjap saat merasakan belahan vaginanya didesak oleh suatu benda tumpul yang hangat.

“Pleppp Pleppp Plepppp…”

Dengan santai Batang Suyat menusuk-nusuk liang vagina Melina, buah dada Melina terguncang mengikuti ritme tusukan batang Suyat. Melina merasakan tubuhnya kembali menghangat, dan peluh kembali meleleh disekujur tubuhnya seiring dengan semakin kuat tubuhnya yang molek terguncang. Dengusan nafas keras terdengar mengisi kembali ruangan itu, dengan keliaran nafsu birahi suyat melahap tubuh Melina yang mulus, digenjotnya liang vagina gadis itu yang kewalahan menghadapi kebuasannya sebagai seorang lelaki yang tengah mencari kenikmatan.

“ahhh ahhh massss suyyahhhh crettt crettttt…,aduh-duh mass ahhh”

Rasa ngilu mulai terasa, gesekan batang kemaluan Suyat yang terlalu kuat menggenjot membuat Melina merintih keras. Ia meringis dengan mata mendelik seolah tak percaya seberapa cepatnya batang kemaluan Suyat mengobrak-abrik kehormatannya, matanya yang indah mendelik-delik dan tubuhnya yang molek menggeliat kesana kemari karena tak tahan merasakan rasa nikmat disodok oleh batang laki-laki itu hingga akhirnya keduanya kembali mengejan nikmat, entah menuju sorga atau neraka. Melina yang cantik menyerahkan tubuhnya yang molek di bawah gepokan uang dengan 5 angka nol, kehormatannya tunduk di bawah lembaran uang seratus ribuan, uang?? yah uang bagaikan pisau dengan dua sisi yang tajam,di satu sisi uang bisa untuk menolong manusia namun di sisi lain uang juga dapat menjerumuskan manusia, semuanya tergantung pada bagaimana cara kita menggunakannya.

*****

Sesudahnya, Suyat melempar uang tunai senilai 6 juta kepada Melina yang tergeletak di lantai kontrakannya, dengan telanjang, wajah dan kemaluan dan dubur berleleran sperma.

“Hehehe,” Suyat tertawa, “Enak juga bisa ngebeli kamu hari ini.  Tuh lihat, mendingan kerja begini kan?  Daripada kamu capek-capek ngebujuk orang ikut bisnis apaan itu.  Kalo jual diri, duitnya langsung.” 

Melina tidak menjawab, hanya terengah-engah kelelahan.  “Kalau mau lagi,” kata Suyat, “datang lagi aja kapan-kapan.”

“…kapan…??” bisik Melina sambil tersenyum malu.

“besok…” Jawab suyat sambil mencuil hidung Melina.

*****

-epilog-

Sesudah hari itu, Melina beberapa kali lagi bertemu Suyat, hubungan mereka berdua tambah akrab hingga akhirnya mereka berpacaran dan kemudian menikah.  Sementara itu karier Suyat tetap aman dan dia terus melakukan pekerjaan kotornya sebagai perantara sogokan dari pengusaha kepada pejabat-pejabat atasannya.  Tapi sayang sepak terjang Suyat sebagai koruptor kelas teri segera berakhir ketika beberapa tahun kemudian Suyat tertangkap basah ketika namanya disebut-sebut sebagai bagian dari mafia pajak oleh Siswo Duadi, seorang polisi korup yang ‘bernyanyi’ ketika sedang disidik.  Suyat yang saat itu sudah membeli rumah mewah untuk ditinggali bersama istrinya, Melina, langsung disorot media karena seharusnya pegawai setingkat Suyat tak mampu membeli rumah berharga miliaran. Melina pun ikut terseret-seret akibat sejumlah uang haram suaminya pun mampir di rekeningnya dan ia pun menikmati uang itu.

Selama beberapa bulan Suyat ditahan dan kasusnya simpang siur sampai media mulai melupakannya (ya seperti biasalah kasus di negeri ini mudah dilupakan begitu saja) hingga akhirnya kembali menghebohkan ketika ditemukan seseorang yang mirip dirinya sedang menonton kontes waria internasional di sebuah night club gay di Bali. Seorang wartawan yang kebetulan meliput berhasil menangkap gambar orang yang diduga Suyat itu dengan kameranya. Yang lebih heboh lagi, wartawan itu, dengan gaya seperti paparazi tulen, berhasil menangkap gambar Suyat sedang berjalan ke sebuah hotel sambil merangkul seorang waria yang adalah salah satu kontestan lomba itu. Nama Suyat kembali bergaung di pelosok negeri ini, para pakar pun cuap-cuap membandingkan foto yang terpampang di media dengan dirinya yang hanya beda model rambut dan kacamata saja (aneh katanya pakar, tapi bedain gitu saja sulit ya?). Setelah semua aparat dan pejabat heboh, Suyat pun akhirnya mengaku sambil tersenyum mesem malu-malu anjing di pengadilan bahwa dia memang membayar para penjaga untuk dilepaskan sementara dan jalan-jalan ke Bali. Ia juga mengaku selain ke kontes waria itu, dirinya juga bertemu dengan seorang pengusaha sekaligus politisi busuk bernama Bakir untuk membicarakan perihal penyimpangan pajak yang pernah dilakukannya. Dari kejadian ini bukan saja instansi pajak yang tercoreng tapi juga menyingkap moral polisi yang rendah. Jadi silakan jawab sendiri, di negeri ini benarkah uang bisa beli segalanya?

Read Full Post »

SINOPSIS

Kelanjutan kisah Tia sesudah traumanya disembuhkan Dr. Lorencia.  Mang Enjup mulai melaksanakan rencananya terhadap Tia.

 

Story codes:

MF, MMF, FF, anal, bi, cons, DP, mc, reluc

 

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 

CREDITS

Terima kasih untuk Mr. Shusaku (KisahBB) yang memilihkan judul seri Slutty Wife Tia.  Juga terima kasih untuk “Sarah” yang mengilhami satu adegan di cerita ini.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 

Slutty Wife Tia 6

Satu Di Antara Tiga

-Ninja Gaijin-

————————————-

-ringkasan cerita sebelumnya-

Tia bertengkar dengan suaminya, Bram, setelah menemukan foto PSK di HP Bram.  Atas saran Citra kakak iparnya, Tia mencoba mengubah penampilannya menjadi seperti yang disukai Bram, menjadi lebih seksi dan binal.  Terjadi kesalahpahaman yang membuat Tia sempat ditangkap aparat karena disangka pelacur.  Tia kemudian berkonsultasi dengan seorang psikolog, Dr. Lorencia, untuk menghilangkan shock yang dialaminya, tapi Dr. Lorencia ternyata bersekongkol dengan Mang Enjup, atasan Bram, yang ingin menjerumuskan Tia…

 

*****

Citra

Citra

Siang hari, sekitar pukul dua di suatu bangunan kecil di kompleks perumahan pinggir kota. Sehari-harinya tempat itu adalah salon, Salon Citra. Tapi pemiliknya tidak hanya menawarkan jasa perawatan kecantikan bagi wanita. Di balik tirai yang memisahkan ruang belakang dengan ruang utama salon, pemilik salon itu, Citra, sedang duduk selonjor di atas tempat tidur yang biasa dipakai untuk luluran atau facial. Citra berpenampilan cantik seperti biasa, rambutnya yang hitam lurus sebahu tergerai. Pakaiannya juga seksi, seperti biasa. Ia mengenakan kaos tanktop putih yang ketat membungkus tubuhnya, juga rok mini kuning yang mencapai setengah pahanya saja tidak, dan di bawah roknya Citra mengenakan pantyhose nilon warna kulit. Kaki kanannya yang terbungkus nilon itu terjulur, mengelus-elus selangkangan celana seorang laki-laki bertubuh tegap yang duduk mengangkang menghadapinya di ujung lain tempat tidur.

“Jadi Mas Kris yang ngatur?” tanya Citra dengan nada manja.

Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Mas Kris itu mengenakan kaos hijau dan celana dinas tentara, dia memang salah satu beking Citra yang masih aktif sebagai perwira menengah di kesatuan setempat. Sambil menggumam keenakan merasakan burungnya mengeras dielus-elus kaki Citra, dia menjawab.

“Iya dong.  Ngeberesin kroco sok jago seperti si Gde itu kecil.  Apalagi zaman sekarang, bikin amuk massa itu gampang.  Kamu udah lihat beritanya kan?” kata Kris.

“Ah, aku gak suka nonton berita Mas, bosen,” kata Citra.

“Mestinya kamu lihat, ha ha ha… Soalnya ada muka jelek si Gde babak belur dihajar massa, ampe berdarah-darah gitu.  Kamu minta yang kayak gitu kan, minta yang setimpal buat dia?  Habis ini juga si Gde bakal dipecat gara-gara bikin malu pemerintah.  Salah sendiri, udah tahu ngadapin kumpulan orang marah, malah ndableg.  Biar mampus dia.” 

 

Beberapa hari sebelumnya, terjadi insiden ketika satuan aparat yang dipimpin Gde melaksanakan penggusuran. Entah mengapa, warga setempat malah melawan aparat dengan membawa senjata tajam dan batu. Akibatnya terjadi perkelahian berdarah yang menyebabkan 1 orang warga dan 1 orang aparat tewas, dan puluhan orang luka berat termasuk Gde yang kepalanya bocor kena timpuk dan sempat digebuki ramai-ramai. Masyarakat dan media ramai menyalahkan, ada yang menganggap warga mengamuk karena kekesalan yang sudah menumpuk terhadap aparat yang biasa semena-mena. Yang luput dari perhatian semua orang adalah bahwa amuk warga itu dipicu oleh beberapa provokator yang dikirim oleh Kris. Walaupun sama-sama aparat, memang kadang ada ketegangan antar kesatuan di balik permukaan, terutama dalam masalah urusan beking membekingi. Citra yang boleh dianggap pengusaha kecil bisnis esek-esek tidak lepas dari beking, dan dia cukup cerdik untuk tidak hanya memegang satu orang. Ketika Gde berlaku kelewatan terhadap dirinya dan Tia beberapa waktu lalu, Citra memutuskan untuk membalas lewat jalan lain: menyingkirkan Gde dengan menggunakan Kris, bekingnya dari kesatuan lain. Rupanya Kris memilih membuat kerusuhan kecil untuk menyakiti sekaligus menyingkirkan Gde. Sambil Kris bercerita bagaimana dia merekayasa massa untuk menghajar Gde dan satuannya, kaki Citra terus mengelus-elus gundukan keras di balik selangkangan celana si perwira. Sementara itu Citra mengangkat sedikit demi sedikit tanktop-nya. Perlahan-lahan tampaklah sepasang payudara Citra yang bersahaja, dengan puting yang sudah mengeras. Kris menjulurkan tangan kanannya, menyentuh payudara Citra. Tangan Kris yang besar itu meremas kedua payudara Citra sekaligus, di bagian dalam tempat keduanya bertemu. Kris membuka sendiri resleting celana dinasnya dan mengeluarkan penisnya dari balik celana dalam, sambil terus menggenggam kedua payudara Citra. Citra mulai mengeluarkan suara merintih-rintih nikmat. Citra mengangkat sedikit lututnya supaya kakinya bisa lebih enak membelai-belai kemaluan Kris yang sudah terbebas. Mata Kris tak lepas-lepas dari kaki nakal Citra di selangkangannya.

“Ughh…” Kris menggerung ketika ereksinya diinjak lembut oleh Citra, penisnya ditekan ke perut oleh sekujur kaki Citra yang seperti memeluk batang itu. 

 

Citra berposisi duduk mengangkang dan Kris bisa melihat bahwa di balik pantyhose Citra tak mengenakan celana dalam.  Citra meningkatkan gesekan kakinya, dan melihat tubuh Kris yang besar itu belingsatan seperti kesetrum.  Citra merasa menikmati posisi dominan itu, dia sebagai seorang perempuan bisa memain-mainkan tubuh seorang laki-laki yang kekar seperti Kris dengan kakinya, seolah seorang ratu dan budaknya.

“Ahh… Citra…” Kris terlihat tegang, wajahnya meringis. 

Citra merayu, “Udah mau keluar, Mas…?”

“Erghh sialannn… Sini!”  Tanpa diduga, Kris bergerak.  Tangannya yang dari tadi bermain di dada Citra kini merenggut tanktop yang sudah menyangsang di atas payudara, menariknya dengan kasar sehingga Citra dipaksa merunduk ke depan.  Citra kaget, “MAS!!?? “

Dan teriakan berikutnya, “AHH JANGAN DI MUKA MASSS!!”

Citra, yang suka bersolek, memang tak suka orang berejakulasi di mukanya.  Dia memang sudah pernah melakukan segala macam hal, tapi ada beberapa yang dia kurang suka, salah satunya adalah apabila mukanya dinodai sperma. Seperti yang terjadi saat itu. Kris menarik Citra sampai dia tersungkur ke depan, tertelungkup di alas tempat tidur dengan muka menoleh, lalu Kris menekan kepala Citra sambil berejakulasi di pipi Citra yang berbedak dan berperona. Kris tertawa puas melihat Citra yang tak senang. Begitu dilepas, Citra langsung bangkit lagi, menyeka cairan berbau amis yang barusan mengotori pipinya, lalu menampar Kris.

“Sialan!” maki Citra, “Dari dulu kan gue udah bilang gak suka orang ngecrot di muka gue!”  Wajah Citra berubah marah.

Kris tidak ikut marah, dia terus tertawa-tawa setelah si pemilik salon memakinya. Dengan kalem dia membalikkan kata-kata Citra. 

“Suka-suka aku mau ngapain kamu. Aku udah repot-repot ngebalesin dendam kamu sama si Gde kucrut itu, dan kamu tetep aja banyak maunya?”

Kris mendekat dan mencengkeram rahang Citra.

 “Hei, Citra,” katanya dengan dingin namun tegas.  “Aku tahu.  Pasti kamu juga ngelunjak begini sama Gde, kan? Aku nggak heran. Kamu tuh udah tau cuma lonte, tapi sombongnya kelewatan. Masih ngerasa kayak dulu ya?”

 

“Uhh…” Citra meringis, gentar.  “Terserah Mas mau bilang apa.  Urusanku sama Gde…”

“…sekarang jadi urusanku juga, kan?” Kris memotong.  “Inget, kamu yang datang ke aku, ngerayu-rayu minta aku ngasih pelajaran ke si Gde.  Aku udah kasih apa yang kamu mau. Jadi ya aku boleh ngapain aja, kan?”

Citra tertunduk.  Sebetulnya dia kesal, tapi Kris memang benar. Lagi-lagi posisi tawar Citra lemah.

“Ngerti?” tanya Kris lagi. Citra mengangguk.

“Kalau ngerti… sekarang kamu nungging.”

Citra patuh, dia pun berubah posisi jadi menungging di atas tempat tidur sementara Kris turun dan berdiri di sampingnya. Kris mendekati bagian bawah tubuh Citra, meremas pantat Citra yang kencang dan masih terbungkus pantyhose itu. Kris terkekeh.

“He he he… Asyiik, pantat lonte.”  Dia menampar pantat Citra dua kali. Citra mendengking kaget. Kris lalu memelorotkan pantyhose Citra sehingga pantat Citra tak lagi tertutupi, lalu kembali dia menampari pantat Citra. Setelah puas, tamparannya berubah menjadi elusan dan remasan. Kris lalu mengulum jarinya. Dengan membasahi jarinya seperti itu, sudah jelas apa yang mau dia lakukan. Citra diam saja ketika satu jari Kris memasuki vaginanya. Kemudian tidak cuma satu, tapi dua jari Kris bergerak keluar-masuk kewanitaan Citra.  Kris tersenyum puas melihat wajah Citra yang menatap kepadanya seolah memohon. Permainan jarinya membuat si pemilik salon itu terangsang.

“Ah… ahh…” Citra mulai mendesah-desah, wajahnya yang berias tebal berkerut menahan nafsu yang mulai meninggi.  “Ahhh…”

Kris menjolokkan satu lagi jarinya, sehingga kini jari tengah, manis, dan telunjuknya keluar-masuk di kemaluan Citra. Kris merasakan bagian itu makin lama makin basah, pertanda pemiliknya sudah terhanyut oleh birahi.  Kris makin kencang menyodok-nyodok Citra dengan ketiga jari tangan kanannya.  Citra berusaha meraih ke belakang dan menahan agar tangan Kris jangan terlalu kasar.

 

“Eit, mau apa?” Tangan kiri Kris yang belum melakukan apa-apa gesit menahan tangan Citra.  Citra tidak kuat melepaskan diri dari genggaman Kris.  Kris meregangkan jari-jari tangan kanannya, berusaha membuat kemaluan Citra melebar. Citra mulai merasakan orgasme akan datang selagi cairan vaginanya membasahi jemari Kris. Kris tertawa dan memasukkan satu lagi, jari kelingkingnya, ke dalam sana. Lagi-lagi dia berusaha merentangkan celah sempit yang dimasukinya selagi dia mendengar nafas Citra memburu.

“Hehehe… Udah mulai longgar lu Cit.  Empat jari gue bisa masuk.  Lu kayaknya sebentar lagi kadaluarsa nih?” Kris berkomentar menghina.

“Bangke,” Citra balas memaki.

“Lonte,” hardik Kris, “Sekarang lu diem.  Gue ga mau denger bacot lu, gue mau memek lu aja.”

Kris naik ke tempat tidur ke belakang Citra, dan kemudian menyorongkan penisnya yang sudah tegak lagi ke hadapan vagina Citra. Di ujung penisnya menitik cairan bening, pertanda Kris pun sudah tak tahan ingin melampiaskan nafsu.

“Ah… Hanhhh!” Citra melontarkan desahan ketika kejantanan Kris menembus kemaluannya.

Penis Kris meluncur dengan mudah ke dalam celah yang sudah basah dan teregang itu, menembus sampai pintu rahim. Citra tak diam saja, dia mendesakkan pantatnya menikmati ereksi Kris.

“Haa… haaahhh…” Bibir merah Citra menganga, mengeluarkan suara-suara penuh nafsu.

Tangannya mencengkeram seprai. Pinggul Kris maju-mundur mendongsok Citra. Kris makin bernafsu, dan dia berubah posisi. Tanpa mencabut penisnya, Kris turun dari tempat tidur sehingga dia berdiri di samping tempat tidur. Lalu kedua tangannya meraih kedua paha Citra, di bagian belakang lutut. Kris yang memang bertubuh kuat lalu mengangkut seluruh tubuh Citra, sehingga dia kini menggendong Citra di depan tubuhnya.

 

Keduanya melanjutkan persetubuhan dalam posisi yang tidak biasa itu.  Citra sudah seperti boneka yang digendong Kris, pasrah dalam lengan-lengan perkasa Kris yang mengangkut kedua pahanya, punggungnya bersandar ke dada Kris.  Tapi memang hubungan intim dalam posisi menggendong itu tidak gampang, karena penis Kris cuma bisa masuk sedikit, jaraknya terlalu jauh.  Akhirnya Citra dia taruh lagi di atas tempat tidur. 

“Hihihi… Sok jago sih,” goda Citra selagi Kris mencabut kemaluannya dari lubang Citra.  “Kurang panjang tuh adeknya…”

Citra saat itu berposisi menyamping dengan lutut tertekuk, pantatnya berada di pinggir ranjang.  Dia melihat Kris masih ereksi dan siap memasukkan lagi… ke lubang pantat.

“Emm…” Citra mengernyit ketika Kris akhirnya menekankan kepala burung yang masih membesar ke pintu belakang. Vagina Citra sudah basah karena baru di-invasi, tapi pantatnya tidak siap.

“Gue masuk ya… Uh!  Ahh… Sempit!” kata Kris.

“Iiuhh!”  Citra terengah ketika kepala burung Kris tiba-tiba memaksa menerobos lingkaran duburnya.  Dia secara refleks berusaha menghindar, memang wajar kalau ada yang mencoba mendesakkan sesuatu ke dalam pantat.  Tapi Citra tak bisa ke mana-mana selagi Kris mendorong pinggangnya ke depan sambil menggerung keras.  Masuklah penisnya ke dalam lubang dubur yang tak sepenuhnya rela itu sedikit demi sedikit.

“Auh!  Enak bangett!  Pantat lu masih nggigit juga ya?” seru Kris sambil mengerang keenakan.

“Hssshh…” Citra mendesis, sakit campur enak, matanya berkaca-kaca ketika merasakan sepotong daging yang keras dan panas di saluran belakangnya.  Kris mulai bergerak maju-mundur menggempur pintu belakang Citra tanpa ampun, kantong bijinya menampar-nampar belahan pantat Citra. Untungnya bagi Citra, setelah dua-tiga menit rasa sakitnya berkurang menjadi sekadar rasa kurang nyaman. Pantatnya sudah bukan perawan sejak lama, jadi sudah tahu mesti bereaksi apa.

“Enak gak Cit?  Lu masih suka pantat lu dientot kan?” tanya Kris sambil terengah.

“Iyah… Terus!  Teruus!” Citra mulai merasa enak.  Bagian bawah perutnya mulai merasakan sensasi nikmat dan jantungnya berdebar.

 

Kris melambat, menarik keluar penisnya pelan-pelan lalu ketika nyaris keluar dia masuk lagi dengan cepat dan kasar.  Dan…

“Uh…hhh!”

Citra merasakan sesuatu yang panas menyembur di dalam pantatnya.  Kris ejakulasi.  Kedua tangan Kris mencengkeram belahan pantat Citra yang berada di atas, seolah mau menyempitkan saluran yang sedang dimasuki kejantanannya. Kris baru mencabut kemaluannya sesudah puas melampiaskan nafsu di dalam pantat Citra. Ia merasakan sebagian sperma Kris ikut meleleh keluar bersamaan dengan perginya penis Kris dari dalam pantatnya. Citra tetap berbaring menyamping, tidak langsung bangun.  Dilihatnya Kris mengambili tisu untuk menyeka badannya sendiri. Beking Citra itu kemudian membereskan lagi pakaiannya.

“Sesuai perjanjian kita kemarin, ya.  Besok-besok kalau aku datang, kayak gini lagi ya.”

Citra dengan cepat mengambil selimut dan melilitkannya di sekeliling badan, lalu berdiri mengantar Kris yang beranjak ke pintu ruangan.  Citra tersenyum sinis sambil menaruh tangannya di pundak Kris.

“Oke boss,” katanya dengan genit.

Kris membuka pintu, lalu berbalik dan mengecup pipi Citra. Laki-laki tegap itu kemudian menuju pintu keluar salon, tanpa mengacuhkan seorang laki-laki muda yang berdiri di tengah ruangan utama salon. Citra melotot melihat laki-laki muda itu.

“Bram?”

Memang masih jam kantor, tapi entah kenapa, Bram ada di salonnya. Adik Citra itu memejamkan mata dan geleng-geleng kepala melihat kakaknya yang cuma terbungkus selimut dan tadi dicium seorang aparat berseragam.

 

“Ya ampun, Kak…” keluh Bram.

“Apa sih?” Citra menoleh ke kanan-kiri dengan cuek, melihat ada satu bungkus rokok di atas meja, mengambil sebatang dan menjepitnya di bibir, lalu sibuk mencari korek api. 

“Ada korek nggak?” tanya Citra kepada Bram.

“Kakak nggak pernah berubah, ya…” Bram tidak menanggapi pertanyaan kakaknya.

“Jangan sok kaget gitu lah,” kata Citra setelah menemukan korek gas di satu laci. Dia menyalakan rokoknya.

“Eh bukannya ini masih jam kerja?”

“Kak,” kata Bram dengan nada serius.  “Aku mau tanya.  Soal Tia.”

Citra membelalak tanpa berkata apa-apa.  Wajahnya berubah serius juga.

“…Kakak pake baju dulu deh, sebelum jawab,” usul Bram.  Risi juga dia melihat kakaknya cuma berbungkus sehelai kain.

 

*****

Sejam kemudian…

 

Bram sudah kembali ke kantor setelah tadi mampir sebentar ke salon kakaknya, tanpa mampir ke rumah. Kepalanya terasa agak berat setelah dia mendengar jawaban Citra.

Tia, sedang apa kamu?

Tapi dia tahu sebagian penyebabnya adalah dirinya sendiri. Begitu masuk kantor, Febby, sekretaris Mang Enjup, memanggilnya.

“Mas Bram!  Dicariin bos,” kata perempuan berkacamata itu.

Bram langsung menuju ruangan Pak Jupri alias Mang Enjup, atasannya.

“Nah ini baru dateng anaknya.  Ke mana aja kamu?  Kenalin, ini Pak Enrico,” kata Mang Enjup yang sedang menghadapi seorang tamu yang berpenampilan pengusaha.

“Bram,” Bram memperkenalkan diri.

“Enrico,” kata orang itu.

Pembicaraan dimulai. Enrico rupanya sedang menggagas kerjasama dengan Mang Enjup untuk membuka perwakilan perusahaan itu di daerahnya.  Menurut Enrico, produk perusahaan mereka belum banyak tersedia di sana.  Mang Enjup sudah mengontak bagian-bagian lain perusahaan untuk menceritakan rencana Enrico, dan perusahaan menyetujui. Maka sekarang persiapan pembukaan cabang bisa dimulai.

“Jadi, saya ngundang Pak Jupri untuk berkunjung ke kota saya, biar bisa lihat sendiri keadaan di sana. Sekalian nanti saya kenalkan dengan rekan-rekan kita dan juga pihak berwenang di sana—lumayan, buat memperlancar urusan kita,” kata Enrico.

 

“Pak Enrico, terima kasih undangannya,” jawab Mang Enjup.  “Saya senang sekali kalau bisa ke sana. Katanya di sana pembangunan mulai rame, ya?  Pasti beda dengan waktu dulu saya masih muda ke sana—dulu sepi!  Ah, tapi sayang saya lagi jalani pengobatan, tidak boleh pergi jauh-jauh untuk sementara waktu.”

Bram yang dari tadi mendengarkan langsung menoleh ke Mang Enjup. Dia tahu Mang Enjup sebenarnya tidak sedang menjalani pengobatan (masalah kesehatan Mang Enjup cuma ejakulasi dini saja). Kata-kata barusan itu sekadar alasan untuk…

“…jadi nanti biar yang ke sana Bram, sebagai perwakilan saya.  Dia sudah biasa ngurus semuanya.  Gimana Bram, kamu bisa kan?”

Bram tersenyum.  “Bisa,” jawabnya pendek.  “Kapan, Pak Enrico?”

“Dua hari lagi saya pulang ke sana.  Barangkali kita bisa bareng. Kira-kira perlu berapa hari?” kata Enrico.

“Seminggu?” Mang Enjup langsung memotong sebelum Bram menjawab.  Enrico mengangguk setuju.

Seminggu sebenarnya terlalu lama—Bram membayangkan, sekadar survei lokasi dan berkenalan dengan orang-orang setempat paling-paling perlu tiga hari. 

“Oke, kalau begitu nanti saya kontak lagi Pak Bram untuk persiapannya.  Semuanya biar saya yang urus,” kata Enrico.  Kemudian Enrico pamit dan pergi.

 

*****

Tia

Tia


Malamnya, di rumah Bram dan Tia… “Mas mau pergi seminggu?” tanya Tia.  Bram berbaring di tempat tidur, sementara Tia duduk di depan meja rias.  Keduanya hendak beristirahat setelah seharian beraktivitas.

“Iya…” Bram menyebutkan nama kota tujuannya, yang terletak di pulau lain.  Dilihatnya wajah Tia seperti kurang senang.

“Ajak dong Mas…” pinta Tia manja.

“Yah, gimana ya… kayaknya nanti bakal sibuk urusan kantor di sana.  Ntar kamu malah nganggur di kamar hotel dong,” jawab Bram.  “Nanti kalau sempat cuti deh, kita ke sana. Katanya sekarang di sana rame, banyak tempat wisata, soalnya pembangunannya maju. Kepala daerahnya hebat.”

“Iih, curang,” Tia merajuk.  “Katanya cewek dari sana cakep-cakep, ya?”

“Terus?” Bram nyengir.  Tapi dalam hatinya, dia mulai bisa membaca isi hati Tia, karena dia sudah mendengar penjelasan Citra. Makanya dia tidak heran melihat Tia bukannya membersihkan muka untuk persiapan tidur, malah memulaskan lipstik tipis saja di bibirnya.

“Pasti kamu mau ditraktir cewek di sana… Iya kan?” kata Tia sambil beranjak dari meja rias, lalu menghampiri suaminya di tempat tidur.

Bram tersenyum melihat istrinya, perempuan cantik yang malam itu berdaster kuning, berias wajah tipis, dan berbau wangi. Jelas Tia tidak ingin langsung tidur…  Tia berbaring menyamping, menghadap Bram, memberikan ciuman mesra kepada suaminya.

“Yah… kamu tahu kan, biasa orang bisnis, entertain-nya gimana,” Bram tidak berusaha mengelak. Toh Tia sudah tahu salah satu kelemahannya. Bram merasakan tangan Tia menyelip ke balik celananya.  “Eh…”

Tangan Tia terasa licin.  Licin dan mulai membelai-belai kemaluan Bram.  Bram merangkul istrinya dan mencium kening Tia.

“Hayo… mau ngapain tangannya di sana…” goda Bram.

Tia membalas dengan mengecup bibir Bram lalu menarik ujung kaos Bram, menyingkap tubuh atas Bram. Sementara itu Tia terus menciumi tubuh suaminya, dari bibir turun ke dagu, rahang, leher.

 

Bram menahan nafas. Ia sekarang paham sebagian besar ceritanya.  Perubahan Tia sesudah memergoki kebiasaan buruknya itu sebagian disebabkan Citra juga. Citra bercerita bagaimana Tia minta saran agar Bram tidak perlu lagi melirik perempuan lain. Dan kakaknya itu, yah, sudah tahu apa yang Bram suka. Jadilah Citra membantu Tia membentuk-ulang dirinya agar lebih bisa memenuhi impian Bram. Misalnya seperti yang terjadi sekarang. Sebelumnya, Tia sangat konservatif dan lebih banyak pasif di ranjang. Sekarang, Tia dengan genitnya merayu dan menggerayangi Bram.  Aksinya sudah tidak kalah dengan perempuan-perempuan penghibur yang dulu (dan kadang sekarang) memberi Bram kenikmatan badan. Tia yang dulu tidak terpikir melakukan apa yang dilakukannya kini. Tangan Tia sudah menyentuh kemaluan Bram yang sedikit tegak, jari-jari Tia merangkum batang Bram. Tia mulai membelai-belai organ intim suaminya, dari bawah ke atas dan kembali lagi, dan membuatnya tegang sempurna.  Bram tersentak sedikit ketika kocokan Tia makin cepat. 

“Ah…”  Bram melihat istrinya melirik nakal dan kembali mencium bibirnya.  Ah, betapa manis bibirnya.  Ah… dia kok jadi jago ngocok juga?

“Pelan… sayang…” bisik Bram.

Tia mengabulkan permintaan itu dan mengurangi intensitas kocokannya.  Bram tadi sudah nyaris keluar, tapi dia tidak ingin buru-buru.  Tangan Bram mencengkeram lengan atas Tia, wajahnya terlihat berusaha menahan kenikmatan, sementara rambut panjang Tia menyapu hidung Bram selagi Tia mengulum salah satu telinga Bram.  Beberapa waktu lalu, Tia sempat memberikan servis ‘mandi kucing’, dan Tia baru menemukan bahwa Bram punya titik sensitif di sana. Bram mengerang keras selagi Tia kembali kencang mengocoknya. Percikan-percikan cairan hangat lengket melompat keluar dari ujung penisnya dan mendarat di mana-mana, di kaos dan dada Bram, di daster Tia, di seprei. Tia tak melepas dan terus mengocok sampai ejakulasi Bram selesai.

 

“Yah… berantakan nih.  Kamu sih nakal, gak bilang-bilang dulu,” goda Bram sambil menikmati perasaan keenakan.

“Habisnya Mas Bram mau pergi… jadi ya mumpung sempat sama Mas Bram,” jawab Tia. 

Tia sendiri merasakan putingnya mengeras dan selangkangannya membasah. Membuat suaminya bisa orgasme dengan tangan sudah cukup merangsang baginya, dan andai Bram mau melanjutkan, dia merasa dia bisa langsung ‘dapat’. Bram meraih wajah Tia. Ciuman yang menyusul sungguh panas. Lidah mereka berdua saling menjelajah, tetap seperti menemukan hal-hal baru walau keduanya sudah berkali-kali berciuman.

“Beresin dulu nggak?” goda Tia.

“Nggak usah, kan mau dilanjutin?” Bram menanggapi. 

Detik berikutnya Tia didorong sehingga telentang, kedua pergelangan tangannya ditahan kedua tangan Bram, kedua lutut Bram mengepit kedua pahanya.

“Aku kan masih dua hari lagi perginya, sayang,” kata Bram pura-pura tak butuh.

“Biarin aja… Mas…” Bram melihat Tia menggigit bibir kemudian kembali berkata. “Mas aku pengen…”

Bram tidak perlu diminta lagi. Sedetik kemudian tubuh keduanya sudah bersatu.

 

*****

Pagi, dua hari kemudian…

 

Bram mencium kening istrinya lalu masuk ke dalam mobil dan memundurkan mobil keluar garasi. Dalam beberapa menit, dia sudah di jalan menuju bandara, hendak berangkat ke kota tempat Enrico akan membuka cabang baru perusahaan. Diiringi lambaian tangan Tia, Bram meninggalkan rumah.  Pinggang Bram terasa agak pegal dan matanya masih mengantuk. Kemarin malam dia tidak sempat cukup tidur karena Tia terus mengajaknya bercinta. Dan pagi itu, dia jadi enggan meninggalkan istrinya yang cantik itu lama-lama. Tapi tugas kantor harus dijalankan. Setibanya di bandara, Enrico sudah ada di sana dan menyambut Bram. Keduanya segera bergerak ke dalam untuk boarding. Satu jam kemudian Bram sudah duduk di pesawat, memejamkan mata dan berusaha memimpikan Tia.

 

*****

Dua, tiga jam sesudah Bram pergi, Tia resah sendiri di rumah. Bukan pertama kali dia ditinggal Bram pergi bertugas ke luar kota, tapi entah kenapa, kali ini terasa ada yang tak tertahan. Apalagi karena sejak dua hari lalu, malam-malam di kamar mereka tak pernah sepi… Entah kenapa, Tia merasa sangat bergairah dan terus berusaha mencari kenikmatan. Itu semua terjadi sesudah Tia berkonsultasi dengan Dr. Lorencia, yang tanpa sepengetahuannya telah memperkuat sugesti yang ditanamkan Mang Enjup. Sebelum Bram berangkat, tadi Tia masih sempat memberi kenikmatan kepada suaminya dengan memberi blowjob di kamar mandi. Hampir saja Tia membuat Bram telat pergi karena dia mengajak suaminya bercinta sekalian.  Tapi Bram masih bisa mengendalikan keadaan dan mengingatkan Tia. Tia menyentuh bibirnya sendiri dan mengulum jari telunjuknya, membayangkan kejantanan Bram yang tadi ada di dalam mulutnya, mengingat rasa benih suaminya yang tadi keluar di sana. Sambil duduk sendirian di sofa ruang tengah, Tia membayangkan adegan tadi pagi. Tangannya yang satu lagi bergerak ke kemaluannya sendiri untuk masturbasi. Celana dalamnya sudah basah lagi, terbawa khayalannya dan hasrat yang belum kesampaian.

“Emmh… Mas… Mas Bram…” Tia menggumamkan nama suaminya ketika dia merangsang dirinya sendiri, matanya setengah terpejam dan kepalanya rebah ke sandaran sofa selagi jari-jarinya bergerak keluar masuk liang kewanitaannya.

Tapi Tia tak kunjung mendapat orgasme.  Yang dia inginkan bukan jarinya sendiri, melainkan kejantanan, kejantanan Bram…atau siapapun.

“Ohh,” keluh Tia yang frustrasi, terhenyak di sofa dengan tak puas.

Dia menyerah dan berusaha melupakan hasrat yang mengganggu pikirannya dengan melakukan kegiatan lain. Tia mulai membereskan rumah, menonton TV, menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri. Setidaknya ada kesibukan, walau perasaannya masih terasa terganjal. Seminggu. Tanpa Bram. Kenapa sekarang terasa susah sekali dilalui? Jam-jam berlalu. Ada telepon dari Bram, mengabarkan dia sudah sampai di tujuan. Pembicaraan hanya singkat karena Bram keburu dijemput oleh rekan kerja di sana.  Sesudahnya, Tia kembali bermasturbasi, tapi dia gagal lagi mencapai klimaks. 

 

*****

Sore menjelang malam.

 

Tia makan malam sendirian. Sesudah makan, cuci piring, lalu beberes.  Lalu… apa? Tia menyalakan televisi. Hanya berita atau sinetron. Tidak ada yang menarik untuk ditonton. Apa telpon Citra saja supaya ada teman bicara? Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ada tamu? Mengintip dari balik jendela depan, Tia melihat tiga orang keluar dari mobil itu. Salah seorangnya Mang Enjup. Ketiganya membuka pintu gerbang dan langsung menuju pintu rumah, lalu mengetok pintu. Tia yang sudah di dekat pintu langsung membukakan pintu.

Puuunten,” Mang Enjup memberi salam.

“Eh, Mang Enjup.  Ada apa, Mang, tumben mampir ke rumah?  Ayo, ayo masuk.”

Mang Enjup didampingi dua anak buahnya—Danang yang urakan dan Reja yang tegap.

Mangga calik,” Tia mempersilakan tamu-tamunya duduk.  “Sebentar, saya bikin teh dulu.”

“Aduh, ngga usah repot-repot,” Mang Enjup berbasa-basi, tapi membiarkan saja Tia pergi ke belakang untuk membuatkan minum. 

Danang dan Reja duduk di sofa, senyam-senyum karena masih ingat apa yang terjadi terakhir kali mereka datang ke rumah itu. Lima menit kemudian Tia keluar membawa baki dengan tiga cangkir teh hangat di atasnya.  Dengan cekatan Tia menyuguhkan minum kepada ketiga tamunya. Ketika Tia duduk kembali, Mang Enjup langsung membuka pembicaraan. Mang Enjup sengaja menggeser posisi duduknya sehingga berada di sebelah tempat duduk Tia.

“Lagi sepi ya, si Aden baru pergi kan,” kata Mang Enjup, merujuk ke Bram.  “Neng Tia enggak kesepian kan?”

“Ah, nggak Mang…” kata-kata Tia tidak sesuai dengan isi hatinya.  “Udah biasa kan kalau Mas Bram pergi keluar kota.”

 

“Gini,” kata Mang Enjup.  “Besok malam teh ada undangan dari Bapak Walikota.  Pesta apa selametan atau semacamnya.  Beliau ngundang orang-orang bisnis juga, termasuk dari perusahaan-perusahaan rekanan pemda.  Perusahaan kita diundang juga.”  Sebagai putri seorang pengusaha, Tia paham bahwa acara Walikota itu bukan pesta biasa, melainkan ajang lobi bisnis.

“Tadinya Mang mau ajak si Aden ke sana,” kata Mang Enjup, “tapi rupanya ada tawaran dari luar kota yang harus diurus juga, jadi Mang dan dia bagi tugas, dia keluar kota, Mang urus Pak Walikota.  Cuma tadi teh Mang kepikiran, gimana kalau ajak Neng Tia sekalian?  Kan Neng Tia juga penerus perusahaan kita, jadi ada baiknya mulai jalin kontak bisnis.  Banyak gunanya buat nanti.  Ya biar kenal sama sesama pengusaha, pejabat, anggota DPRD, dan pastinya Pak Walikota. Mau ikut kan?”

Tia mengangguk setuju. Kata-kata Mang Enjup memang masuk akal. Dia dan Bram sama-sama disiapkan untuk mewarisi perusahaan orang tua mereka, jadi sudah kewajibannya untuk mempersiapkan diri agar bisa melakukan tugas itu sebaik-baiknya. Mang Enjup tidak berlama-lama. Sesudah berbasa-basi sedikit, dia pamit pulang. Mang Enjup bilang akan menjemput Tia besok sore. Tia mengantar para tamunya keluar sampai ke pintu pagar, lalu masuk kembali. Di dalam mobil, Danang mengeluh kepada Mang Enjup.

 “Mang, udah begitu aja?  Si Tia nggak kita apa-apain?”

“Hush!”  Mang Enjup menghardik.  “Ngga sabaran amat sih?  Tunggu ajah.  Nanti juga kalian kebagian lagi.  Sekarang kita pulang.  Reja!  Ayo jalan.”

Mobil melaju meninggalkan rumah Tia.

 

*****

Besok sorenya…

 

Setelah menerima telepon dari Mang Enjup yang mengatakan akan menjemput dua jam lagi, Tia langsung bersiap. Penjelasan Mang Enjup kemarin membuatnya merasa bertanggungjawab untuk memberi kesan baik.  Siapa tahu dari orang-orang yang ditemuinya malam itu, akan ada yang jadi rekan bisnis masa depan. Mengenakan kebaya sutra tipis panjang bersulam warna emas di atas kemben berwarna sama, dipadu rok panjang batik yang tidak mengekang namun tetap bernuansa etnis, Tia tampak anggun menawan. Mang Enjup yang datang menjemputnya, lagi-lagi bersama Danang dan Reja, tidak bisa tidak menyatakan kekaguman.

“Uwaaah… meni geulis pisan euy, si Neng,” Mang Enjup memuji. 

Tia tersipu dipuji seperti itu. Mang Enjup langsung mengajak pergi. 

“Ayoh kita berangkat.”

Mang Enjup sendiri mengenakan kemeja batik dan celana panjang hitam, sementara Danang terlihat tidak cocok mengenakan kemeja putih lengan panjang, dasi, rompi, dan celana bahan. Reja hanya berkaos dan bercelana jeans—dia sadar bahwa sebagai sopir paling-paling dia cuma bakal menunggu di tempat parkir. Malam itu rumah dinas Walikota menjadi ajang suatu pesta.  Sebenarnya alasan pesta itu diselenggarakan tak begitu jelas, hanya saja melihat dari daftar tamu yang mencakup para pejabat, anggota DPRD, pengusaha, dan profesional, sebagian besar yang hadir sudah maklum bahwa pesta itu ada hubungannya dengan tender suatu proyek besar yang akan dilaksanakan beberapa hari mendatang.  Suasana pesta yang formal namun akrab pun menjadi ajang penguasa dan pengusaha saling mendekat, menjalin hubungan, dan di balik itu semua berusaha mendapatkan keuntungan dengan cara halal maupun lainnya. Di antara dekorasi indah, karangan bunga, makanan lezat, dan minuman mahal, manusia-manusia berkepentingan saling berbaur dan berbincang. Tiada yang gratis di dunia, bahkan di tengah pesta.

 

Ini bukan pertama kali Tia hadir dalam pesta kalangan atas, tapi baru kali ini dia hadir sebagai seorang “ahli waris bisnis”. Dia memandangi orang-orang yang ada dengan antusias. Banyak sekali laki-laki berumur 40-an ke atas dalam setelan yang terlihat mahal atau batik sutra. Ada juga beberapa laki-laki muda yang terlihat perlente. Tamu-tamu perempuan yang hadir semuanya tampil gemerlap, dengan gaun mahal dan perhiasan berkilauan.  Kebanyakan tamu perempuan juga berumur 40-an ke atas, mungkin mereka juga adalah pejabat atau pengusaha atau istri pejabat/pengusaha. Kehadiran Tia sendiri justru menarik perhatian. Ketika Mang Enjup, Tia, dan Danang masuk ke ruangan, tetamu langsung menengok dan tidak bisa melepaskan pandangan dari perempuan anggun yang baru hadir. Tia yang anggun dalam kebaya emasnya langsung menjadi pusat perhatian, dan terdengar gumaman serta decak dari sebagian tamu. Dan entah berapa pembicaraan bisnis yang tersela, tergantikan kekaguman. Baik kekaguman yang menghormati, maupun yang membayangkan hal yang tidak-tidak. Mang Enjup yang luas pergaulannya memperkenalkan Tia ke sana-sini. Ini anggota DPRD; ibu ini guru besar kedokteran di universitas; suami-istri itu pengusaha ekspor-impor; bapak itu kepala dinas. Semua perkenalan berlangsung singkat, Tia sampai kerepotan mengingat nama mereka semua. Setiap kali, Mang Enjup selalu memperkenalkan Tia sambil menyebut orangtuanya, Bram, dan orangtua Bram.  Banyak yang langsung paham apa arti semua itu, dan biasanya mereka akan mengangguk-angguk setuju. Tia adalah calon penerus bisnis orangtuanya, salah satu bisnis besar di kota itu dan daerah-daerah lain.

“Hei, Tia!” terdengar panggilan akrab.

Tia menoleh dan melihat Dr. Lorencia yang juga hadir di pesta itu. Dr. Loren memuji kebaya dan kecantikan Tia—sambil tangannya seperti mau menggerayangi Tia. Bagi yang tidak tahu orientasi si psikolog spesialis, kelihatannya seperti dua perempuan yang bersahabat akrab. Tapi sentuhan Dr. Loren jelas tidak cuma menyampaikan keakraban.

 

Mang Enjup tidak menunjukkan bahwa dia kenal Dr. Loren, tapi sempat memberi isyarat kepada perempuan berkacamata itu agar tidak menahan Tia, karena ada urusan lebih penting. Tia dan Mang Enjup meninggalkan Dr. Loren, dan Tia bilang nanti dia akan ngobrol lagi dengan Dr. Loren. Tapi Danang, yang dari tadi mengintil Mang Enjup tanpa diperkenalkan ke siapa-siapa, tetap bersama Dr. Loren dan mengajak ngobrol. Mereka berdua sudah saling kenal rupanya. Di tengah ruangan dalam rumah dinas Walikota, Mang Enjup mengantar Tia berkenalan dengan Pak Walikota. Tia sudah sering melihat wajah Pak Walikota di televisi dan koran, tapi dia merasa baru satu kali bertemu dengan pejabat itu. Pak Walikota bertubuh tegap dan besar; dia mantan perwira yang kemudian masuk ke partai politik dan memenangkan pemilihan kepala daerah tahun lalu. Umurnya kira-kira 50-an, dengan rambut mulai beruban, tapi wajahnya masih terlihat ganteng. Dia menjabat tangan Tia dan tersenyum lebar. Jabat tangannya erat dan lama sekali, seolah dia tak mau melepas tangan Tia; tindakannya itu disaksikan oleh seorang perempuan setengah baya bertubuh gemuk yang berdiri di sampingnya dan mengenakan kebaya mewah, dengan rambut disasak dan beruntai-untai kalung di lehernya. Perempuan itu istri Pak Walikota.

“Senang bisa kenalan dengan Bu Tia,” kata Pak Walikota.

“Sama-sama, Pak,” jawab Tia sopan.

“Bu Tia masih ingat tidak?  Waktu Bu Tia menikah dengan Pak Bram, saya datang,” kata Pak Walikota.

Tia diam saja, dia sendiri tak yakin apa dia ingat pernah bertemu dengan Pak Walikota sebelumnya. Pak Walikota terus berusaha memperpanjang pembicaraan, dengan menyebut bahwa dia kenal orangtua Tia dan Bram.  Tia hanya mengangguk-angguk.

“…saya sudah lama tidak ketemu bapak Bu Tia.  Tolong kasih tahu ya kalau Bapak sedang ada di sini.  Saya pingin ajak ngobrol dia,” pinta Pak Walikota.

“Iya, Pak,” ujar Tia singkat.

“Tapi saya sudah senang kok bisa ketemu lagi dengan putrinya.  Tidak sangka, ternyata cantik sekali.  Bapak dan Ibu pasti bangga,” Pak Walikota berusaha memuji.

 

Mang Enjup masuk ke dalam pembicaraan, membawa topik tender proyek yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Pak Walikota dan Mang Enjup membahas itu, sementara Tia dan istri Pak Walikota jadi penonton. Lalu beberapa orang lain datang mendekat.

“Hai… Pak Jupri mau nyolong start rupanya,” kata seorang laki-laki bertubuh kecil, berkulit kuning, bermata sipit, yang datang dari belakang Mang Enjup.  Dia merangkul Mang Enjup dengan gaya sok akrab, lalu menoleh ke Pak Walikota. Mang Enjup mengomentari orang baru itu.

“Hahaha… Koh Simon bisa aja.  Kan tadi situ yang udah duluan ngobrol.  Siapa dong yang nyolong start?” Mang Enjup menyindir laki-laki kecil itu, yang bernama Simon Sunargo, seorang pengusaha yang juga ikut tender proyek.

Tapi selagi dua orang itu saling sindir, datang lagi seorang laki-laki berjas biru yang mengabaikan keduanya dan langsung menjabat tangan Pak Walikota.

“Selamat malam, Pak.  Maaf saya baru datang.  Biasa, gandengan saya kelamaan dandan,” kata laki-laki berjas biru itu, yang lebih muda daripada Mang Enjup dan George.

“Saya dari tadi udah tanya-tanya, Majed ke mana.  Rupanya nungguin gandengan,” celetuk Pak Walikota menyambut laki-laki muda itu, yang bernama Majed.  Majed berpenampilan seperti orang asing, tubuhnya jangkung, hidungnya mancung, wajahnya brewokan tapi ganteng.  Kontras dengan Mang Enjup yang sudah tua dan gemuk, atau Simon yang kurus kecil. Dan Majed juga salah seorang peserta tender.

“Gandengannya ganti lagi, Jed?” komentar Pak Walikota melihat sosok yang menggelayut di lengan Majed, seorang perempuan berkulit sawo matang, tapi tidak tampak seperti pribumi. Tubuhnya berbentuk seperti gitar Spanyol dengan dada besar, pinggang ramping, dan pinggul seksi. Perempuan itu berbicara sedikit ke Majed. Celetukannya, berbahasa Spanyol juga. Majed membisikkan sesuatu dan perempuan itu tertawa. Majed memperkenalkan gandengannya itu. 

 

“Kenalkan, Pak, ini Gaby.  Lengkapnya Gabriela Iffa Almaraz. Latino tapi masih ada keturunan Timur Tengah, kayak penyanyi itu, Shakira.  Dia dikirim sama kantor pusat di Amerika buat training setahun di kantor cabang Indonesia, terus saya yang suruh handle.” 

Majed memang mewakili perusahaan internasional yang juga bersaing dengan perusahaan orangtua Tia dan perusahaan Simon di tingkat lokal.  Penjelasan Majed mengenai asal-usul Gaby terkesan dibuat-buat, tapi Pak Walikota tak memusingkan itu; dia sibuk memandangi rambut coklat panjang dan mata kelabu-biru Gaby. Simon yang diserobot kesempatannya oleh Majed tiba-tiba mengangkat telepon selulernya, memencet satu nomor, lalu menelepon.  Mang Enjup menguping pembicaraan singkat Simon. 

“Ada di mana… Ayo sini cepet!” yang kemudian dilanjutkan beberapa patah kata bahasa Cina. 

Tak lama kemudian muncullah seorang perempuan bertubuh langsing dan berwajah menarik, ras oriental.  Dia mengenakan baju sutra longgar dan celana panjang, rambut hitamnya dikepang satu di belakang kepala dan dihias jepit besar berbentuk anggrek. Simon memperkenalkannya kepada Pak Walikota sebagai “asistennya yang baru”, Shenny. Dengan kehadiran Shenny, jadilah Pak Walikota dirubung tiga laki-laki, juga tiga perempuan cantik: Tia, Gaby, dan Shenny. Entah kapan, istri Pak Walikota sudah tidak berada di samping suaminya, memilih untuk mengobrol dengan sesama istri pejabat daripada harus menemani suaminya. Tia menyimak obrolan Pak Walikota dengan Mang Enjup, Simon, dan Majed. Dia merasa perlu terlibat dengan urusan proyek itu. Ditangkapnya berbagai hal yang tersirat; bahwa ketiga orang itu sebelumnya bekerja sama melobi DPRD sehingga menggolkan proyek besar yang akan ditender, namun sekarang ketiga pihak akan melupakan kerjasama dan bersaing dalam tender. Ketiganya sama-sama licin dalam berkata-kata, hampir tak pernah keceplosan mengumbar maksud dan siasat di depan lawan-lawannya.

“Oke, keputusannya tiga hari lagi.  Negosiasi final dengan Anda bertiga akan saya lakukan sehari sebelumnya.  Nanti lokasi dan waktunya akan diberitahu asisten saya,” Pak Walikota menutup pembicaraan dengan mereka bertiga, lalu pamit untuk beralih mengobrol dengan tetamu lain.  Bu Walikota entah sudah ada di mana. Tiga laki-laki dan tiga perempuan itu pun bubar.

 

“Neng, tadi ikut denger obrolan kita kan?” tanya Mang Enjup.

“Iya, Mang,” jawab Tia.  “Perusahaan kita bakal bersaing dengan perusahaannya Pak Simon dan Pak Majed itu di tender.”

“Nah, Neng Tia, Mang tuh sebenarnya pengen minta bantuan. Selama ini Mang dan Bram sudah usaha keras supaya kita bisa menang. Sekarang tinggal satu tahap lagi.  Kalau pertandingan bola, kita udah masuk final.  Tinggal gimana supaya kita menang juga di final. Makanya… Bram kan lagi tidak di sini, padahal masih ada satu negosiasi lagi sebelum keputusan.  Boleh tidak kalau Mang minta Neng Tia bantuin Mang di negosiasi terakhir itu?”

Mang Enjup mengatakan itu sambil menatap wajah Tia dan tangannya mengurut-urut lengan Tia; tanda dia menggunakan sedikit keahlian gendamnya. Tia merasa sudah sewajarnya dia ikut terlibat, jadi dia pun mengangguk setuju.

“Boleh Mang… Nanti Tia bantuin sebisanya, apa aja, supaya perusahaan kita yang dapat proyeknya,” ujar Tia.

Hatur nuhun, geulis,” kata Mang Enjup.  “Nah, ini sudah malam.  Mang mau pulang. Tia mau pulang juga, atau masih mau di sini?”  Mang Enjup melepas pegangannya dari Tia, menghentikan upaya mempengaruhi.

“Emm…” Tia memperhatikan sekelilingnya.  Sebenarnya malam belum larut, baru sekitar pukul 9, dan dia juga kesepian di rumah.  Tadi dia belum sempat ngobrol dengan Dr. Lorencia.  “Tia belakangan aja deh, Mang.”

“Ya udah.  Mang pulang dulu sama Reja, nanti Reja Mang suruh balik lagi ke sini buat nganter pulang Neng Tia. Danang mah biarin aja di sini dulu.”

Mang Enjup kemudian meninggalkan rumah dinas walikota untuk pulang bersama Reja ke rumahnya sendiri yang tidak jauh dari sana.

 

Tia kembali beredar dan melanjutkan obrolan dengan beberapa orang di sana. Ada seorang temannya waktu kuliah yang hadir juga di sana, mendampingi suaminya yang menjadi pejabat menengah setempat.  Temannya itu menanyakan Bram. Tia bilang Bram sedang tugas kantor di luar kota. Mereka mengobrol, memuaskan rasa kangen sesudah beberapa lama tak bertemu. Di tempat lain, Danang memanfaatkan kesempatan mencicipi berbagai suguhan, termasuk minuman keras, di pesta itu.  Sekarang efek alkohol dan membuat dia merasa gerah. Ditambah lagi, sedari tadi dia menyaksikan bahwa sebenarnya banyak juga “pemandangan indah” di pesta itu. Ada perempuan-perempuan muda dan cantik di antara para tetamu. Di antaranya Gaby Almaraz yang dibawa Majed, dan Shenny asisten Simon. Dan tentunya Tia. Tadi Danang sempat mengobrol dengan Dr. Lorencia. Mereka berdua sudah kenal sebelumnya, karena Danang sering ikut ke mana pun Mang Enjup pergi. Termasuk ketika beberapa waktu lalu Mang Enjup meminta Dr. Loren menggarap kesadaran Tia. Danang tahu mengenai ilmu gendam Mang Enjup, bahkan dia pernah minta diajari, tapi ternyata dia tidak berbakat. Makanya dia iri kepada Dr. Loren yang bisa menyerap ilmu pamannya. Keduanya tadi mengobrol banyak, dan akhirnya mereka jadi saling tahu pengalaman masing-masing dengan Tia. Danang masih penasaran dengan Tia. Kemarin dia kesal sekali waktu ikut datang ke rumah Tia tapi tidak terjadi apa-apa. Sekarang apalagi. Melihat Tia, ditambah efek alkohol, membuat Danang belingsatan menahan sange. Danang sebenarnya pengecut, dia tidak berani mengapa-apakan Tia kalau sendirian.  Tapi begitu tadi bertemu Dr. Loren dan berbagi cerita, segera muncul rencana di kepalanya untuk bisa meniduri Tia malam itu. Dia tahu Dr. Loren juga berminat dengan Tia. Jadi, begitu melihat Tia ditinggal Mang Enjup, Danang langsung mendekati Dr. Loren lagi. Keduanya punya keinginan yang sama, jadi bisa bersepakat. Waktu Tia terlihat mendekati Dr. Loren, Danang menyingkir.

 

Tia dan Dr. Loren mengobrol lagi, agak berbisik-bisik. Dr. Loren menanyakan apakah Tia masih ada masalah dengan traumanya. Tia menjawab sudah tidak ada masalah. Obrolan mereka tidak berlangsung lama karena Dr. Loren bilang dia mau pulang, naik taksi. Tia menanyakan alamat rumah Dr. Loren; ternyata sama dengan tempat praktiknya. Karena arah pulang mereka sejalan, Tia menawari Dr. Loren pulang bareng. Dr. Loren menyanggupi. Tia melihat Danang tidak jauh dari sana lalu memanggil Danang, menanyakan apakah Reja sudah balik lagi dari mengantar Mang Enjup. Danang menelepon sebentar lalu bilang Reja sudah ada di tempat parkir lagi. Sesudah berpamitan dengan Pak Walikota dan orang-orang lain, Tia menuju pintu keluar diikuti Dr. Loren dan Danang yang saling pandang sambil cengar-cengir. Tidak cuma Mang Enjup yang jago menjerat orang—mereka berdua juga bisa. Di depan pintu, Reja sudah menunggu dengan mobil Mang Enjup. Si sopir membukakan pintu belakang untuk Tia dan Dr. Loren, sedangkan Danang duduk di kursi depan. Mobil segera bergerak meninggalkan rumah dinas walikota. Sambil jalan, Dr. Loren melanjutkan obrolan dengan Tia, sementara Danang dan Reja diam saja.  Mobil menuju rumah Dr. Loren. Tapi Dr. Loren lantas bicara sambil tangannya menggenggam pergelangan tangan Tia.

“Tia, aku pengen mampir ke rumahmu, boleh nggak?”  Sambil mengatakan itu Dr. Loren tiba-tiba menyentak halus tangan Tia—satu teknik untuk menjatuhkan sasaran ke dalam keadaan setengah terhipnotis.

“Iya… Boleh…” kata Tia.  “Kita ke rumahku dulu deh…”

Danang menengok ke belakang dan nyengir. Reja mengarahkan mobil ke jalan menuju rumah Tia.

 

*****

Dr. Lorencia

Dr. Lorencia

Singkat cerita, mereka semua tiba di rumah Tia dan turun. Tia masih dalam keadaan setengah terhipnotis dan sama sekali tidak curiga akan maksud Danang dan Dr. Loren. Tadi di mobil, Dr. Loren sudah memberi sugesti,

“Kamu mau turuti semua yang kami suruh, kan?” dan Tia menyanggupi.

Dan sejak di mobil Dr. Loren sudah mulai menggerayangi Tia, mulai dari meremas-remas paha, meraba leher, sampai mengulum telinga Tia.  Tia bereaksi dengan tertawa kegelian dan mendesah.  Danang bolak-balik menengok untuk curi pandang, tapi Dr. Loren selalu memelototinya kalau dia ketahuan. Waktu mereka masuk rumah, Tia sudah terangsang berat gara-gara Dr. Loren. Keadaan itu, ditambah pengaruh hipnotis, membuat dia mau saja disuruh menunjukkan kamar tidurnya. Dr. Loren menggiring Tia ke kamar tidur, diikuti Danang dan Reja. Dr. Loren menengok ke arah dua laki-laki itu dan berkata,

“Aku duluan, dan jangan coba-coba ikutan.  Sori, aku nggak suka cowok.  Kalau ada yang berani ikutan, bakal kuhipnotis jadi banci. Silakan nonton tapi jangan ada yang macam-macam.”

Danang nyengir mendengar ancaman itu, tapi menganggapnya serius, karena sudah melihat bagaimana Dr. Loren bisa membuat Tia mengikuti semua kata-katanya. Tia duduk di pinggir tempat tidur, masih berkebaya lengkap. Loren menyuruhnya membuka baju. Dengan patuh, Tia membuka kebaya, rok panjang, dan kembennya, sampai hanya tersisa celana dalam G-string dan bra. Sementara itu Loren membuka-buka lemari pakaian Tia, mencari sesuatu.

“Tia,” kata Dr. Loren, “Merem.”  Tia menurut dan memejamkan mata.

Loren sudah mengambil beberapa syal dari dalam lemari, lalu mengikatkan satu syal sehingga menutupi kedua mata Tia. Loren lalu mendorong Tia sehingga Tia rebah di tempat tidur. Kemudian Loren mengikat kedua pergelangan tangan Tia dengan syal lain. Loren tersenyum dan menjilat bibir.

 

Loren kemudian membuka seluruh pakaiannya sampai telanjang, tanpa peduli Danang dan Reja berdiri menonton di belakangnya. Dia lalu berlutut di tempat tidur dan menyibak kedua paha Tia. Loren membungkuk ke depan, ujung-ujung jarinya menggerayangi leher Tia. Dia bisa merasakan nafas Tia mulai memburu. Jemari Loren terus menyusuri sekujur tubuh Tia, tanpa menyentuh payudara Tia. Lalu dengan cekatan Loren mencopot kancing bra Tia. Payudara Tia tumpah keluar. Loren menundukkan kepala, dan memasukkan satu puting Tia ke mulutnya. Tia mengerang keenakan. Loren pindah ke payudara satunya sambil mengelus-elus sekujur tubuh Tia. Puting Tia mulai mengeras. Loren lalu beralih ke bagian bawah tubuh Tia dan melepas celana dalam Tia. Tia terus mendesah dan merintih, ingin lebih.  Setelah membuka celana dalam Tia, Loren memperhatikan vagina Tia yang sudah basah. Loren memasukkan satu jari, kemudian dua jari ke sana. Tia bereaksi dengan menggerakkan panggulnya menanggapi colokan jari Loren.  Loren mencabut jemarinya dan mulai menciumi perut Tia, makin lama makin ke bawah.  Dia mencapai kemaluan Tia dan mulai menjilati klitoris Tia. Tia mulai tegang. Lidah Loren menjalar menyapu bibir kewanitaan Tia, kemudian keluar-masuk rekahannya. Makin lama suara Tia makin kencang. Dua jari Loren kembali masuk ke kemaluan Tia yang becek. Tia tersentak dan menjerit kaget, diikuti tarikan nafas panjang yang gemetar. Bibirnya tersenyum lebar.

“Mau diteruskan?” tanya Loren.

“Iya…” jawab Tia.

Loren mencium Tia, menghisap lembut bibir bawah Tia. 

“Baiklah, sayang,” kata Loren, sambil jari-jarinya beraksi di dalam vagina Tia. 

Loren merasakan kedua paha Tia bergerak hendak merangkul tubuhnya, dan pinggul Tia bergerak menanggapi tusukan jarinya.  Dengan lembut, ia terus merangsang klitoris dan vagina Tia.  Nafas Tia makin memburu dan wajahnya memerah selagi dia mendekati orgasme.  Akhirnya, Tia mencapai klimaks. Dia menahan nafas selagi sekujur tubuhnya bergetar, kemudian mengeluarkan lolongan panjang tanda kenikmatan.

“Oooo…. Eufhhh!!”

 

Dr. Lorencia mulai tak tahan, memandangi tubuh indah Tia yang menggelinjang karena nikmat di depannya. Dia mulai bermasturbasi, menjolokkan jari ke dalam vaginanya sendiri, merangsang kewanitaannya sampai basah. Kemudian dia bergerak sampai akhirnya berposisi mengangkangi dada Tia. Dr. Loren membuka penutup mata dan ikatan di tangan Tia, membisikkan perintah, lalu bergeser lagi, menyodorkan klitorisnya ke mulut Tia. Tia langsung melakukan apa yang tadi diperintahkan.  Dia majukan kepalanya, dan melahap kemaluan Loren di depannya, menyedot klitoris Loren.

“Mmmmm… yes… oh… ayo terus mainin lidahnya…” ujar Loren saat dia mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, mengentoti muka Tia.  Tia tidak peduli apa yang terjadi… rasa, bau, dan gesekan vagina Loren saja yang penting baginya saat itu.  Jari Tia pun ikut main di sana. Sugesti yang tadi Loren berikan membuatnya tidak canggung ketika bercinta dengan sesama wanita.

“Aku… ah… sebentar lagi… oh… ohh…”

Dan, segera setelah berkata seperti itu, tubuh si psikolog cantik mulai gemetar tak terkendali, makin cepat dan bergairah menggesek-gesekkan selangkangannya ke mulut Tia, seolah-olah mau memastikan rasa kewanitaannya akan menempel terus di mulut Tia sampai berjam-jam ke depan. Ketika akhirnya mencapai klimaks, Loren melolong dan mendesah, suaranya begitu bernafsu sampai-sampai Danang yang menonton merinding mendengarnya. Tia pelan-pelan menjilati sisa-sisa orgasme Loren (yang masih mengangkangi mukanya, biarpun nyaris ambruk karena lemas) sampai bersih, membuat Loren terengah dan bergidik dengan tiap sapuan lidahnya.  Loren akhirnya turun dari ranjang, lalu mencium bibir Tia dengan mesra. Dia tak menyangka percobaannya tadi dengan Tia berefek dahsyat kepada dirinya sendiri, dan dia puas dengan “mainan baru”-nya. Sesudahnya, Dr. Loren menengok ke Danang dan Reja.

“Nih, silakan.  Aku udah puas, sekarang aku mau pulang ya.”

Danang dan Reja sudah tidak peduli lagi dengan Dr. Lorencia.  Tia—anak bos mereka—sudah ada di depan mereka dalam keadaan telanjang, terhipnotis, dan terangsang. Kapan lagi dapat kesempatan seperti ini? Tangan Danang langsung menjamah vagina Tia. Dia usapkan jari tengah sepanjang rekahannya, lalu dia tekuk jari itu dan celupkan ke dalam.

 

“Wuihh,” Danang berbisik di telinga Tia, “Basah kuyup memeknya. Udah sange’ berat ya, Tia?” 

Tia tidak menjawab; tapi jari Danang makin mudah bergerak di dalam kemaluannya. Danang menjilati kuping Tia dan membuat istri rekan kerjanya itu makin tegang. Bibir luar vagina Tia terentang ke luar tiap kali Danang menarik keluar jarinya, seolah-olah enggan melepaskan. Nafas Tia makin memburu, bibirnya mengeluarkan suara-suara merintih kecil. Danang terus menjolok-jolokkan jarinya di vagina Tia, sementara tangan satunya membuka celananya sendiri. Dengan tak sabar Danang memelorotkan celana dan celana dalamnya. Penisnya lepas dari kungkungan, berdiri mencuat di tengah rambut kemaluannya yang lebat.

“Kamu lihat kan ini, Tia?  Doyan kontol kan sekarang?  Sebentar lagi ini bakal masuk ke memek kamu, Tia.  Punya Reja juga. Mulai sekarang kamu lonte kami, Tia. Memek kamu buat dimasukin titit semua orang.  Nggak cuma Bram,” kata Danang, seolah meniru cara Dr. Loren mensugesti Tia.  “Nih, buktinya memek kamu becek.  Lihat nih jari gue.”  Danang mencabut jari-jarinya dari vagina Tia, mengendusnya, lalu memeperkan cairan kewanitaan dari kemaluan Tia yang menempel di sana ke pipi kanan dan kiri Tia.

Danang mengambil bantal dan menaruhnya di bawah pantat Tia.  Danang lalu menggenggam penisnya dengan satu tangan dan menusukkannya ke lubang Tia yang menghadap ke depan-atas. Tia tidak melawan sama sekali.  Kedua pahanya tetap mengangkang menyambut Danang. Kepala penis Danang menghilang dari pandangan, memasuki liang kenikmatan Tia. Tia merintih lembut dan menggerakkan pinggulnya, sehingga setengah batang Danang masuk ke saluran cintanya.  Danang membungkuk dengan bertumpu ke kedua tangan di kiri-kanan tubuh Tia, perlahan-lahan memasukkan seluruh kejantanannya ke vagina Tia.

“Wuehh… Masih tetep enak memek luh Ti… sempit!” komentar Danang. Dia mulai bergerak keluar masuk beberapa kali. Penisnya basah terlumasi cairan kewanitaan Tia. Tia membalas tiap gerakan Danang. Dia menggerakkan pinggulnya, menyodorkan kehormatannya, membuka pahanya lebar-lebar agar Danang bisa mendorong sedalam mungkin.

 

“Sialan… rasanya enak banget,” Danang terus mencerocos.  “Baru kali ini gue ngerasain memek lonte sempit kayak gini!  Gratisan lagi!”  Dia bergerak cepat untuk sejenak.

“Lu suka kan, Ti?” Danang bertanya dengan nada memaksa. “Ayo bilang!”

“Iyahh… aku suka dientoth…” kata Tia yang tubuhnya terguncang-guncang menerima genjotan.

“Enak gak kontolnya?”

“Enaa…kh… entot terus…”

Tia mengangkat kakinya memeluk tubuh Danang, lalu menggunakan kakinya untuk membantu mendorong tubuh Danang. Danang menengok ke Reja. 

“Mau ikutan nggak, Ja?” tanya Danang.

Reja mengangguk. Sementara Reja membuka sepatu, baju, dan celana, Danang keluar dari vagina Tia dan mengubah posisi tubuh Tia. Tia ditarik dan ditelungkupkan sehingga bagian atas tubuhnya berbaring di atas tempat tidur, sementara pantatnya menungging ke arah Danang dan Reja.  Kemaluannya terlihat dari belakang, merah dan basah. Danang kembali mencolokkan satu jari ke sana.

“Lu mau dientot lagi, Ti?” tanya Danang. “Sama Reja?”

“I… iya…” Tia berkata sambil terengah. Jari Danang menggosok daerah sekitar klitorisnya.

“Minta dia ngentot kamu,” suruh Danang.

“A-aaahhh…” Tia merajuk manja.

“Ayo, kalau nggak minta, kami cabut nih,” dorong Danang.

“…entot aku… Ja…”

“Yang keras!  Yang jelas!”

“Entot aku… Reja, Danang… entotin aku… yah?” pinta Tia.

“Bagus… Gitu emang harusnya lonte,” kata Danang melecehkan.  “Sok atuh, Ja, silakan dientot, dia udah minta.”  Danang mencabut jarinya dari vagina Tia dan ganti menggerayangi pantat Tia.

 

Reja mendekat, menggenggam penisnya yang sudah tegak. Danang berkomentar,

“Sialan, Ja, bikin iri aja barang lu.”

Tanpa banyak bicara si sopir itu menusuk kemaluan Tia.  Tia masih basah dan siap disetubuhi lagi. Reja mulai mendorongkan kejantanannya ke dalam Tia dari belakang, dorongan tubuhnya cukup kencang sehingga membuat pantat dan payudara Tia berguncang. Danang sudah pindahkan tangannya ke muka Tia, dan Tia mengulum jari Danang yang beberapa saat lalu ada dalam vaginanya. Danang duduk di tempat tidur dan memindahkan tubuh atas Tia ke pangkuannya, tepat di depan penisnya yang masih tegak karena belum ejakulasi. Reja tetap di dalam Tia selagi tubuh Tia berubah posisi, menggenggam pinggul Tia.

“Ayo, Tia, isep kontol gue.  Emut tuh kontol gue…”

Sementara Reja mengentot Tia dari belakang, Tia mengulurkan tangan dan menggenggam pangkal kemaluan Danang. Tia menjulurkan kepalanya ke depan dan memasukkan penis Danang ke mulutnya. Tia mulai menggerakkan kepalanya naik-turun batang Danang. Danang berbaring dan membiarkan Tia menggarap kemaluannya. Tia tampak menikmati sekali: dia menyedot kepalanya, sampai pipinya mengempot. Gerakannya kadang cepat, kadang pelan menggoda.

“Ahh… Udah jago ya lu nyepong,” kata Danang.  “Terus.  Pake lidahnya lagi.  Anjrit… Bisa cepet keluar nih gua.  Jangan berhenti.  Gue mau keluar di dalem mulut lu.”

Danang menggertakkan giginya dan memejamkan mata.

“Nah… oohhh… udah mau…” Danang mencerocos, “Udah mau! Keluarrr!…”  Tubuhnya mulai menyentak.  Dia mendorong pinggulnya, memasukkan penisnya sejauh mungkin di dalam mulut Tia. Tia mengeluarkan suara aneh, bunyi seperti meneguk minuman, dan kepalanya mundur, sehingga cipratan mani Danang mendarat di mukanya. Danang cepat-cepat mencengkeram belakang kepala Tia dan menariknya kembali ke batangnya.  Tia tidak melawan dan mengulum kembali batang yang sedang menyemburkan isinya itu. Terdengar suara menelan, tapi sebagian semburan Danang tumpah keluar dan berleleran di bibirnya. Tia mengisap kepala penis Danang dan mengocok batangnya, mengosongkan isinya ke dalam mulut.

 

Tia merasakan Reja makin terangsang melihatnya mengisap ejakulasi Danang, lalu kembali memperhatikan senjata tumpul keras yang begitu nikmat membelah kemaluannya. Dia mendesak balik dorongan Reja, menginginkan lebih.

“Lu isep crot nya si Reja juga, ya,” perintah Danang. Dia menarik Tia ke depan, sehingga terlepas dari penis Reja, lalu mendorong kepala Tia ke arah reja.  “Sono isep!”

Reja ikut duduk di tempat tidur. Tia merayap ke pangkuan Reja, payudaranya menekan paha Reja. Wajahnya masih belepotan cairan putih Danang. Tia memegang penis Reja dengan dua tangan—lebih panjang daripada penis Danang yang panjangnya hanya segenggaman Tia lebih sedikit—dan mengocok batang yang basah karena cairan vagina itu.  Tia mengecup ujungnya, lalu mendorong mulutnya menyelubungi kepala penis itu. Dia melepas genggamannya dan terus memasukkan batang panjang itu sampai sedalam-dalamnya, sampai ujungnya menyentuh pangkal tenggorokan.  Jari-jari Tia merangsang pangkal tebal batang Reja yang tak masuk ke mulutnya.  Bibir Tia ketat menjepit penis Reja yang bergerak keluar-masuk mulut. Di dalam mulut, lidah Tia lincah mengelus-elus dan bermain-main di bagian bawah batang Reja. Tia masih dalam keadaan akan mematuhi apapun yang diperintahkan kepadanya, jadi ketika Danang menyuruhnya menyepong Reja, dia pun berusaha sebaik mungkin. Dia hanya mengulum kepala burung Reja, mengisapnya, sambil tangannya mengocoki batang Reja. Kedua tangannya bermain, tidak hanya di batang tapi juga di kantong biji, memeras, menggelitik. Tia sudah siap dengan apa yang akan terjadi.  Sperma Reja meletup keluar dari penisnya ke dalam mulut Tia.  Tia menelan dan terus mengocok.  Reja menembak beberapa kali lagi dalam mulut Tia, dan semuanya disedot habis oleh Tia.

 

Setelah Tia melepas penis Reja yang melemas, Danang menyuruhnya telentang dan merentangkan kedua lututnya.  Danang kemudian mulai melahap vagina Tia, menjolokkan lidah ke dalam.  Tia mengerang dan mencengkeram rambut Danang yang dicat merah, menekan kepala Danang ke selangkangannya.  Danang menjilat sepanjang bagian luar vagina Tia, menelusuri bibir-bibir yang basah dengan liur campur cairan cinta.  Dia menowel-nowel klitoris Tia dengan ujung lidahnya.  Mulutnya menutup seluruh vagina Tia, tapi dari cara Tia menggeleng-gelengkan kepala, jelas di dalam sana lidahnya bermain-main menggoda.  Tia merintih nikmat tanpa henti, tubuhnya gemetar akibat lidah nakal Danang.  Lalu Danang berhenti.

“Ohh… jangan…” keluh Tia, “terusin…”

“Terusin apa?” Danang bertanya, pura-pura bego.

“Tia udah… dikit lagi…” pinta Tia.  “Terusin… jilatin memek Tia…”

“Apa?  Nggak kedengeran,” goda Danang.

“…Jilatin… memek Tia!” Tia berkata lebih keras.

“Nggak ah,” tolak Danang.  Tia mengeluh, “Aa~aahh…”

“Gue gak mau jilat lu, tapi gue mau ngentot lu.  Tapi lu mesti minta!” perintah Danang.  “Ayo minta!”

“ento… ia…”

“Apa?”

“Entotin Tia…”

“Apa?  Gak kedengeran!”

“ENTOTIN MEMEK TIA DONG… PLIS… TIA PENGEN BANGET NIH…!” Akhirnya Tia sampai berteriak, merendahkan dirinya sendiri demi kepuasan.

“Boleh aja,” kata Danang. “Tapi ada syaratnya!  Lu mesti biarin gue dan Reja ngentot lu di bagian apa aja.  Ngerti??”

“IYA!!… DUH… CEPETAN!!” Suara Tia makin putus asa.

“Oke,” kata Danang sambil menengok ke Reja.  “Ayo barengan, Ja.”

 

“Sini, Tia,” panggil Danang.  Dia telentang di tempat tidur.  “Naik ke atas gue, terus lu masukin titit gue ke memek lu.”  Tia bergerak menunggangi Danang.  Danang menarik wajah Tia dan menciumnya, lidah mereka berdua saling jilat.  Danang mengulurkan tangan dan meraih senjatanya, lalu memasukkannya ke celah di selangkangan Tia. Kepala burungnya masuk di antara bibir vagina, dan pelan-pelan sisanya menyusul. Danang menyodok sedikit-sedikit, sementara Tia mulai menggoyang pinggul, memutar penis Danang, sambil membiarkannya terus masuk. Akhirnya, batang Danang masuk semua.  Lalu Tia mulai menggerakkan pinggulnya, bergerak naik turun dan memutar batang keras di dalam kemaluannya, menari di pangkuan Danang.

“Sekarang lu tusuk bokongnya, Ja,” kata Danang. 

Pantat Tia tepat di depan Reja, dan tangan-tangan Danang mencengkeram sambil melebarkan kedua belahannya, memperlihatkan lubang kecil di tengah.

“Lu suka kan,” Danang berbisik kepada Tia.  “Awalnya sakit, tapi lama-lama enak.”

“Agghh,” Tia mengeluh halus ketika jari Reja mencolok lubang pantatnya.  Danang menyuruh Tia tidak melawan, dan meskipun masih sempit, jari Reja bisa masuk sedikit demi sedikit sampai seluruhnya masuk di sana.  Reja kemudian memutar-mutar jarinya. Setelah menyiapkan lubang itu, Reja mencabut lagi jarinya dari dalam sana. Tia tidak bergerak selagi Danang terus menggenjot dari bawah dan merentangkan kedua bongkahan pantatnya yang bahenol. Reja maju dan meletakkan kepala burungnya di lubang belakang Tia, lalu mendorongnya.

“Ahh…hh!!” pekik Tia.  “Gede… banget!!”  Tia mencoba menghindar, tapi tidak bisa, bagian depannya sudah terpantek penis Danang, dan dari belakang senjata Reja menusuk tajam.

 

*****

Di jalan…

 

Dr. Lorencia tersenyum-senyum sendiri dalam taksi yang sedang membawanya pulang ke rumah. Dia sudah sukses membuat Tia menjadi perempuan binal hamba nafsu malam itu, dan memang itulah yang diinginkan Mang Enjup. Tadi dia mendapat penjelasan lagi mengenai rencana Mang Enjup, secara tidak langsung, ketika dia mengawasi gerak-gerik laki-laki tua itu bersama Tia di pesta. Dasar bajingan cabul, pikir Dr. Loren.  Anak bos sendiri akan dikorbankan…Tapi Dr. Loren tidak ambil pusing. Dia menyentuh kemaluannya sendiri di balik pakaian, mengingat bagaimana tadi Tia memberikan kenikmatan kepadanya. Andai saja dia lebih dulu kenal perempuan muda yang polos itu, dia pasti tidak akan segan merebut Tia dari suaminya dan menjadikannya budak seksnya sendiri. Satu hal lagi yang dipikirkan Loren. Pengaruh hipnotisnya punya batas waktu.  Dan sekarang waktunya hampir habis. Kalau Danang dan Reja sudah selesai sih tidak masalah, tapi apa jadinya kalau Tia sadar ketika sedang dicabuli dia laki-laki itu?  Dr. Lorencia tersenyum nakal. Entah Tia akan memprotes dan melawan, atau terus berperan sebagai pelacur murahan. Tiba-tiba dia ingin balik lagi melihat apa yang terjadi.  Tapi taksi sudah keburu mencapai rumahnya.

 

*****

 

Reja mendorong maju lagi, terus makin dalam ke lubang pantat Tia.  Reja merasa saluran itu mulai menyerah terhadap desakan kepala burungnya. 

“Auhh… Sakit!”  Tia memekik.  “Jangan… dimasukin… lagih!  Ngga kuatt…!  Sakii…tt!”

Sentakan rasa sakit itu juga membuat Tia sadar dari keadaan terhipnotis.  Danang melihat perubahan di sinar mata Tia, yang tadinya sayu dan kosong kini terlihat seperti mendapat api-nya lagi. Tia tersadar. Dan dia mendapati dirinya telanjang, terjepit di antara dua laki-laki dalam persetubuhan.  Bukan dengan suaminya. Rasa nikmat campur sakit dari depan dan belakang.  Refleksnya membuat dia meronta, tapi Danang dan Reja memeganginya kuat-kuat. Dia menjerit, tapi jeritan paniknya tercampur dengan jeritan nikmat ketika Danang mengemut putingnya dan Reja menciumi bahunya.  Pikiran Tia kacau karena tidak menyangka tiba-tiba berada dalam keadaan seperti itu. Dan di dalam kepalanya, seperti terus bergema suara yang menyuruh dia menyerah saja dan menikmati keadaan. Menyuruh dia mengerti bahwa dia sebenarnya wanita jalang yang haus kenikmatan. Jeritan dan gerakan Tia yang baru sadar disalahartikan oleh Danang dan Reja, mereka kira perempuan muda itu makin terangsang. Akibatnya makin hebat saja gempuran mereka terhadap Tia. Reja sudah memasukkan setengah penisnya. Lingkaran otot dubur Tia mencengkeram erat di sekitar batang penis Reja yang mendesaknya. Reja memundurkan pinggul, menarik batangnya sampai batas kepala, dan mendorong maju lagi, lebih dalam daripada sebelumnya. Kali ini batangnya masuk dengan lebih mudah, biarpun saluran belakang Tia sangat sempit dan lebih melawan daripada vaginanya.

“Ah… gede banget…” keluh Tia.  Dia belum sepenuhnya menguasai diri, kepalanya masih terlanda birahi membara.

“ Reja mundur lagi sedikit lalu mendorong sisanya ke dalam dubur Tia.  Tia meringis, kepalanya ambruk ke dada Danang.

“Yahh…!” Tia meringis.  “Sakit… ahh….!  Jangan… didorong… lagi!”

Reja diam beberapa saat, menikmati jepitan tabung pengeluaran Tia terhadap batang yang sudah dia susupkan seluruhnya ke dalam.  Kemudian dia menggenjot pelan-pelan.  Tubuh Tia mulai merasa lebih nyaman, tapi perasaannya tetap ingin berontak.  Danang juga mulai bergerak lagi, seirama dengan Reja, masuk, keluar, masuk, keluar kedua lubang Tia.  Tia hanya bisa menggelinjang dan mengeluarkan bunyi-bunyi tak jelas.

“Gimana Tia.  Enak kan sekarang?” tanya Danang.

“Iyahh… mendingan… ayoh… lagi,” Tia menjawab sekaligus meminta.

Danang dan Reja menggenjot dengan penuh semangat.  Tia membalasnya dengan mengeluarkan suara-suara penuh nafsu.

 

“Yahh… ah… iya… ah… oh… enak banget… Oh… OH!… Sodok terus… Terus!”

 

Tia terjepit di antara dua laki-laki, menggelepar, menerima sodokan keras dan kencang dari dua arah.  Dia makin bergairah dengan tiap gerakan.  Dan dia sadar sepenuhnya apa yang dia alami.  Dia sedang bersetubuh dengan dua laki-laki yang bukan suaminya.  Tapi dia tak peduli.  Yang menguasai kepalanya adalah keinginan untuk mencapai orgasme, untuk mencapai kenikmatan badan.  Dan biarpun Bram baru pergi satu hari, tubuhnya sudah tak kuat menahan.  Maka dia tidak pedulikan kalau yang menyetubuhinya bukan orang yang berhak.  Sejak di pesta pun Tia sudah resah, karena dia menyadari bagaimana sebagian tamu memandangi dirinya penuh nafsu.  Dia tahu di kepala mereka yang ada justru keinginan untuk menindihnya, merobek paksa bajunya, menggagahinya.  Ditambah lagi, Mang Enjup berkali-kali mencolek tubuhnya, terutama di bagian pantat.  Dan dia malah merasa senang dilecehkan seperti itu.

 

Tia membungkuk, merapatkan tubuh memeluk Danang.  Reja mendorong dari belakang, penisnya masuk semua ke lubang pantat.  Disertai teriakan, Tia mengalami klimaks.  Tubuhnya tersentak-sentak di tengah kedua laki-laki yang menghimpitnya.

 

“Ohhh…” Tia meringis dengan wajah menempel ke dada Danang.  “Auhh… enak banget… unghh…”  Tia terbenam dalam kenikmatan, mulutnya mengeluarkan suara-suara penuh nafsu, dan saluran-salurannya menjepit kedua kejantanan di dalam tubuh.  Reja juga merasa akan klimaks sebentar lagi, dia menghantam makin kencang keluar-masuk, mendorong sedalam-dalamnya kemudian menariknya keluar lagi.  Sementara itu, ekspresi Danang berubah seperti menahan sakit dan tanpa banyak cingcong dia berejakulasi di dalam vagina Tia.  Disusul Reja yang menghunjamkan penisnya dalam-dalam dan melepas pejunya ke dalam pantat Tia.

 

*****

Sesudahnya, Danang dan Reja pulang begitu saja, meninggalkan Tia yang menggeletak ternoda di atas tempat tidurnya sendiri. Danang dan Reja menyangka mereka meninggalkan Tia dalam kondisi masih terhipnotis, padahal sebenarnya tidak. Tia meringkuk di tempat tidurnya… tersenyum merasakan cairan kelelakian Danang dan Reja di dalam rongga-rongga tubuhnya, mengingat orgasme dahsyat yang dia dapat, mengingat betapa bernafsunya kedua laki-laki tadi. Entah kenapa, dia tidak lagi merasa bersalah seperti sesudah disetubuhi aparat sesudah kena ciduk.  Sesuatu di dalam kepalanya—sugesti yang ditanamkan Dr. Lorencia—membuat dia merasa apa yang dia lakukan wajar saja.  Peduli amat dengan statusnya sebagai istri Bram.  Yang dipentingkannya hanya kenikmatan badan.  Setiap hari.  Dari Bram suaminya, atau dari siapapun.

Tia terjerumus makin dalam…

 

TAMAT BAB 6.

SELANJUTNYA…
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di
sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini

Read Full Post »

SINOPSIS

Setelah kepergok mengakses situs porno di kantor, seorang karyawati dijebak oleh dua rekan kerjanya untuk menjadi budak seks.

 Story codes

MF, MMF, blackmail, humil, nc, reluc

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 Cerita ini terilhami beberapa komentar di grup FB KBB.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis.  Selamat membaca.

 Diny Yusvita & Ninja Gaijin (lebih…)

Read Full Post »

Tiga Pemain Asing

SINOPSIS

Drani, seorang manajer klub sepakbola, mesti menghadapi keluhan dari tiga pemain asingnya yang menuntut gaji mereka segera dibayar padahal klubnya sedang krisis keuangan.  Jadi dia tawarkan bonus istimewa…

 Story codes

MMMF, anal, cons, interracial, DP

 DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 Cerita ini terilhami satu komentar di forum diskusi KBB.  Terima kasih buat Anne atas bantuannya pada beberapa rincian. ;)

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 Tiga Pemain Asing

-Ninja Gaijin-

******************************************** (lebih…)

Read Full Post »

SINOPSIS
Trauma setelah pengalaman buruknya akibat diciduk aparat, Tia menemui seorang psikolog untuk meringankan beban hatinya.  Tapi…

 

Story codes

Ff, cons, dom, toys

 

DISCLAIMER

 Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.

Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.

Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.

Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 

Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 

CREDITS

Terima kasih untuk Mr. Shusaku (KisahBB) yang memilihkan judul seri Slutty Wife Tia.  Juga terima kasih kepada Dr. H dan isenk2 atas diskusinya.

 

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

Slutty Wife Tia 5

Pengakuan Tia

 

-Ninja Gaijin- (lebih…)

Read Full Post »

Polwan Teraniaya

SINOPSIS

Dalam suatu penggerebekan, seorang polwan justru jatuh ke tangan para begundal yang akan diringkusnya.  Apa yang bakal dia alami?

 Story codes

M/F, M+/F, 1st, anal, bond, humil, rape

 DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
  • Ide cerita ini didapat dari beberapa cerita lain: dua yang ada di asstr dan tiga karya NightCreeper di greyarchive.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 -Ninja Gaijin-

***********************************  (lebih…)

Read Full Post »


SINOPSIS
 

 

Di tengah kegamangan hati Tia untuk menerima atau menolak perubahan pada dirinya, satu kesalahpahaman mendorongnya melewati suatu batas…

 DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 CREDITS

  • Terima kasih untuk Mr. Shusaku (KisahBB) yang memilihkan judul seri Slutty Wife Tia.
  • Bab ini buat seseorang yg mematahkan hati penulis…
  • Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 -Ninja Gaijin-

 -ringkasan cerita sebelumnya-

Tia bertengkar dengan suaminya, Bram, setelah menemukan foto PSK di HP Bram.  Atas saran Citra kakak iparnya, Tia mencoba mengubah penampilannya menjadi seperti yang disukai Bram, menjadi lebih seksi dan binal.  Pada suatu malam, Mang Enjup, atasan Bram, mampir ke rumah sembari mengantarkan Bram yang mabuk dan bertemu Tia yang sedang berpenampilan demikian.  Mang Enjup yang memiliki ilmu gendam dan niat busuk sekalian mengubah kondisi mental Tia.  Sesudahnya, kepribadian Tia Tia mulai berubah menjadi perempuan penggoda… tapi apakah itu yang benar-benar diinginkan Tia?

 **************** (lebih…)

Read Full Post »

Balada Sang Penari Jalanan

SINOPSIS

Kisah seorang penari jalanan yang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya ibukota, menyusuri suka-duka dunia yang tak selalu cerah.

Story codes

M/F, 1st, reluc, cons

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
  •  Ide cerita ini didapat dari satu lagu lama Iw*n F*ls, satu video musik, satu doujinshi, lingkungan sekitar tempat aktivitas penulis, dan beberapa pengamatan penulis.

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 -Ninja Gaijin- (lebih…)

Read Full Post »

Bijin-Kei/ Siasat Paras Elok

SINOPSIS

Jepang abad ke-15.  Seorang jenderal samurai menerima kunjungan tak terduga dari seorang oiran…

 

Story codes

MF, cons

 

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 Cerita ini adalah modifikasi “Bijin-kei: Beautiful Woman Stratagem” karya penulis yang dipasang di greyarchive dan adultfanfiction dot net.

 Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 Bijin-Kei, Siasat Paras Elok (美人计)    

-Ninja Gaijin- (lebih…)

Read Full Post »

SINOPSIS

Seorang gadis yang bekerja sebagai petugas pembersih kantor, ketika sedang menjalani shift malam…

 

Story codes

MF, 1st, humil, reluc

 

DISCLAIMER

* Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.

* Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.

* Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.

*Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 

* Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 

CREDITS

Terinspirasi “seseorang di lantai 4”.

 

Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca. (lebih…)

Read Full Post »

SINOPSIS

Kehidupan Tia mulai bergeser setelah dia mengubah penampilan dan kepribadiannya dipermak tanpa dia sadari.  Beginilah contoh satu hari yang dialami Tia dengan penampilan dan kepribadian barunya…

 Story codes

MF, MMF, MFF, bi, cons, reluc, slutwife, veg

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.  
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

 CREDITS

Terima kasih untuk Mr. Shusaku (KisahBB) yang memilihkan judul seri Slutty Wife Tia dan gagasan untuk satu adegan bab 3, dan untuk Diny Yusvita atas diskusinya. 

 Philip Pullman, seorang penulis panutan saya, pernah berkata “Penulis itu seperti burung gagak yang suka mencomot benda-benda berkilau di manapun ditemukan untuk dibawa pulang ke sarangnya. Kami juga mengumpulkan potongan-potongan informasi dan gagasan yang menarik di manapun berada.”  Teriring salam dan permohonan maaf buat rekan-rekan sesama penulis yang mungkin gagasan-gagasan berkilaunya saya comot dan pasang tanpa izin di sini.

 Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda?  Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com.  Selamat membaca.

 -Ninja Gaijin-

 -ringkasan cerita sebelumnya-

Tia bertengkar dengan suaminya, Bram, setelah menemukan foto PSK di HP Bram.  Atas saran Citra kakak iparnya, Tia mencoba mengubah penampilannya menjadi seperti yang disukai Bram, menjadi lebih seksi dan binal.  Pada suatu malam, Mang Enjup, atasan Bram, mampir ke rumah sembari mengantarkan Bram yang mabuk dan bertemu Tia yang sedang berpenampilan demikian.  Mang Enjup yang memiliki ilmu gendam dan niat busuk sekalian mengubah kondisi mental Tia…

 

Bagaimana kehidupan Tia selanjutnya?

 1. PAGI

 

Tia

Tia

Suatu pagi di rumah Bram dan Tia.  Beberapa hari sesudah kunjungan Mang Enjup ke rumah yang tidak diingat oleh Bram maupun Tia.  Padahal kita tahu apa saja yang dialami oleh Tia malam itu. Pagi itu sekitar jam 8, Bram sudah berangkat ke kantor, sedangkan Tia baru saja selesai mandi pagi dan berganti pakaian setelah tadi mengurusi Bram. Tia mulai merasakan ada yang ganjil pada dirinya.  Entah kenapa, tadi waktu mandi dia jadi lebih lama dan intens mengelus-elus tubuhnya sendiri. Sesudah mandi, Tia mengenakan daster panjang longgar nyaman yang biasa dia pakai sehari-hari. Kalau berencana seharian di rumah seperti pada hari itu, biasanya Tia betah seharian mengenakan daster.  Tapi entah kenapa, pagi itu daster itu dirasanya kurang nyaman. Dibukanya lagi lemari bajunya, dan diambilnya satu daster lain. Daster setali berwarna biru, jauh lebih pendek (hanya sampai setengah paha), berbahan tipis.  Tia melepas daster panjangnya dan ganti memakai daster biru pendek itu. Kalau daster panjang yang tadi menutupi bahu dan lengan atas Tia, yang ini cuma menyisakan seutas tali kain yang menyampir di tiap bahu, sehingga pundak Tia yang cantik itu terbuka. Tidak tahu kenapa, dia merasa lebih nyaman dengan daster babydoll yang seksi itu. Lalu ketika dia duduk di depan cermin di kamar tidurnya, dia merasakan ada yang kurang.  Wajahnya… terasa terlalu polos.  Jadi, biarpun tidak berencana ke mana-mana hari itu, Tia pun mulai merias wajah. Awalnya dia hanya berbedak tipis. Lalu diulaskannya lipstik pink, tipis saja, di bibirnya.  Entah kenapa, dia tergoda untuk menebalkan lipstiknya.  Beberapa saat kemudian, bibirnya yang indah itu jadi makin menarik perhatian karena berwarna pink cerah dan dibuat kemilau karena lip gloss bening. Digerainya rambutnya yang sudah kering.  Tia mendesah ketika rambutnya mengelus pundaknya sendiri.  Ditatapnya dirinya lagi di cermin; dia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah aku sudah cantik?

Apakah aku bisa menggoda para lelaki hari ini?

Tia tertegun.  Terlintas pemikiran tadi di kepalanya.  Dia tak tahu dari mana datangnya.  Tapi seolah ada perintah dalam kepalanya yang menyuruh dia berpenampilan secantik-cantiknya, supaya bisa menarik perhatian laki-laki. Dan dia tak kuasa melawannya. Entah kenapa.

 

*****

 

Biarpun orangtuanya pengusaha sukses, sejak kecil Tia terbiasa bergaul dengan orang-orang kalangan bawah. Ketika kuliah pun Tia sering aktif dalam kegiatan bakti sosial sehingga sering bertemu dengan kaum miskin.  Tia memang punya kepedulian sosial yang besar, dan patut diacungi jempol karena konsisten mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Salah satu wujudnya adalah dalam kebiasaan Tia berbelanja.  Sementara nyonya-nyonya kalangan atas biasanya ogah berbelanja di pasar atau di tukang sayur dan memilih belanja di pasar swalayan, Tia lebih suka belanja kebutuhan dapur sehari-hari di tukang sayur. Dan hari itu pun, seperti biasa, seorang tukang sayur langganan Tia mampir ke rumah Tia.  Tia membuka garasi membiarkan gerobak tukang sayur masuk. Tukang sayur langganan Tia adalah seorang laki-laki berumur 40-an tahun, namanya Legiman, tapi lebih terkenal di kalangan ibu-ibu pelanggannya dengan nama “Pak Kumis” karena, ya karena apa lagi, kumisnya.  Kumisnya boleh diadu dengan kumis diktator Timur Tengah yang sudah mati digantung ataupun kumis suami seorang artis dangdut yang terkenal karena goyangan khasnya.  Wajah bulatnya yang berkulit hitam biasa tertutup caping.  Ketika datang ke rumah Tia pagi itu, Pak Kumis mengenakan kaos partai bekas kampanye bertahun-tahun lalu yang belel dan agak kekecilan sehingga perutnya yang membuncit tampak menonjol, juga celana panjang usang dan sandal jepit.  Memang bisnis tukang sayur itu tak besar-besar amat untungnya, tapi Pak Kumis tidak mempermasalahkan jalan hidupnya, yang penting ada kerjaan biar bisa makan.  Apalagi kalau dia mengingat bahwa masih banyak ibu-ibu yang menunggu kehadirannya tiap pagi. Pak Kumis harus mengakui, salah satu langganannya tampil agak beda hari ini. Ya, Bu Tia memang masih muda dan lumayan menarik, tapi pagi ini, dengan baju lebih pendek dan rias wajah, dia terlihat lebih menarik.  Tapi sebagai tukang sayur profesional yang berpengalaman, Pak Kumis tetap melayani Tia dengan baik seperti biasa.

Pak Legiman 'kumis'

Pak Legiman 'kumis'

 

Tia memilih-milih tomat, bawang, terong, toge, pepaya. Belum terpikir mau masak apa untuk Bram nanti malam. Ah, ikan saja.  Dengan sop sayuran.  Cuci mulutnya pepaya segar. Dimintanya Pak Kumis memilih dua ekor ikan yang kemudian dibersihkan sisiknya dan dibuang isi perutnya. Tia memperhatikan lengan Pak Kumis yang bergerak-gerak ketika pemiliknya menyiapkan ikan.  Lengan berkulit hitam itu ternyata berotot dan tegap, maklum karena waktu muda pemiliknya tiap hari berolahraga mencangkul sawah di kampung, dan sampai sekarang pun masih terus latihan mendorong gerobak yang lumayan berat berkeliling kota.  Sepintas Tia membayangkan bagaimana rasanya dirangkul oleh lengan-lengan itu…

“Semuanya empat puluh empat ribu, Bu Tia,” suara Pak Kumis membuyarkan lamunan Tia.  Pak Kumis menyodorkan dua kantong plastik berisi belanjaan Tia, ikan dan sayuran dan pepaya, dengan sopan.  Tia menerimanya lalu membuka dompet.  Ada beberapa lembar uang Rp100.000 di dalamnya; tidak ada uang kecil.

“Saya adanya seratus ribuan Pak, ada kembaliannya?” tanya Tia sambil menyodorkan selembar Rp100.000.

“Tunggu sebentar ya Bu,” Pak Kumis kemudian membuka tas pinggang kumal yang melingkari perutnya.  Dikeluarkannya beberapa lembar uang yang kucel, lalu dihitungnya.

“Wah, nggak ada kembaliannya, Bu.  Saya tinggal dulu ya?  Mau tukar duit.”

Pak Kumis pergi meninggalkan garasi rumah Tia dan gerobak sayurnya di sana sebagai jaminan, kalau-kalau dia tidak balik lagi Tia bisa menyita gerobak tersebut. Nah, rumah Tia terletak agak jauh dari warung, toko, pangkalan ojek, dan tempat-tempat lain di mana orang bisa menukar uang untuk kembalian, jadi sepertinya Pak Kumis akan pergi agak lama. Dengan dua kantong plastik agak berat di tangan, Tia memutuskan untuk membawa belanjaannya ke dalam rumah dulu.  Tapi…Setelah ada di dalam rumah, Tia terpikir mengenai salah satu barang yang baru dibelinya dari Pak Kumis.  Jadilah dia berhenti di ruang tamu, duduk di kursi terdekat, sambil merogoh ke dalam kantong berisi sayuran mencari barang itu.

 

Dapat! Tia memegangi sebuah terong yang tadi dibelinya.  Ungu, panjangnya sekitar 20 senti, dan cukup tebal.  Padahal yang mau dimasak Tia ikan goreng dan sop sayuran… kenapa dia juga beli terong? Bukan, Tia bukan mau memasak terong itu.  Entah kenapa, sayuran yang bersangkutan mengingatkannya kepada sesuatu.  Atau lebih tepatnya, menyerupai fantasinya tentang sesuatu. Tia menggenggam terong itu penuh rasa sayang, sambil mengamat-amatinya.  Pelan-pelan disingkapnya sedikit daster pendeknya, sehingga seluruh pahanya terlihat, terus sampai ke celana dalamnya yang polos dan tipis.  Lalu… meskipun tak mengerti benar mengapa dia melakukannya Tia kemudian mengeluskan ujung terong yang dipegangnya ke bagian depan celana dalamnya. Sentuhan lembut ujung terong yang bulat dan masih keras itu terhadap vagina di balik celana dalam membuat Tia merinding.  Tambah merinding dia karena dia tak membayangkan terong itu sebagai sayuran, melainkan kejantanan penjualnya.  Betul, Tia sedang membayangkan tukang sayur langganannya yang berkulit hitam dan berlengan kekar itu.  Dalam bayangannya, agar seimbang dengan lengannya yang keras dan kumisnya yang ganas, senjata pusaka Pak Kumis mestilah gelap dan mantap seperti terong yang dipegangnya. Berulangkali Tia menggosok-gosok celana dalamnya dengan terong itu, kadang sampai menekannya agar ujungnya sedikit melesakkan bahan celana dalam di antara belahan kewanitaannya.  Tia mulai mendesah selagi nafsunya terbangkitkan.  Dia jadi tidak puas dengan hanya menggoda kemaluannya sendiri dari balik kain, dan menggeser sedikit celana dalamnya sehingga terong yang beruntung itu mengelus-elus kedua bibir luar vagina Tia.  Setelah kewanitaannya mulai basah, Tia pun tak ragu lagi untuk memberi kesempatan kepada si terong untuk mempenetrasi manusia.  Ujung terong itu diterima dengan hangat dan becek oleh vagina Tia.  Yang dibayangkan Tia tentunya bukan bercinta dengan terong, melainkan Pak Kumis tukang sayur langganannya itu.  Terong itu pun mulai pelan-pelan digerakkan tangan Tia keluar masuk.  Sambil mengangkat paha kirinya, tanpa sengaja bibir Tia membocorkan apa yang sedang ada di pikirannya.

“Ah… ammm… Pak Ku… mis… engg…”

GEDUBRAK! Tiba-tiba pintu depan rumah Tia terbuka mendadak dan terjatuhlah tukang sayur yang bersangkutan ke lantai di samping kursi yang diduduki Tia. Tia dan Pak Kumis sama-sama terkejut.

 

Jadi begini ceritanya: Pak Kumis sudah berhasil menukar uang 100 ribu yang diberikan Tia, dan dia kembali ke rumah Tia membawa kembalian.  Waktu dia kembali, dilihatnya Tia sudah tidak ada di garasi, dan pintu depan rumah Tia setengah terbuka.  Menganggap Tia sudah di dalam, Pak Kumis mendekati pintu, bermaksud mengetuk pintu untuk menyerahkan kembalian kepada Tia.  Tapi dia tanpa sengaja malah mengintip Tia yang sedang menjebloskan sebuah terong ke vaginanya, dan sejenak dia tak berani beranjak dari posisinya di depan pintu yang terbuka sedikit itu.  Ketika Tia menyebut namanya tadi, saking kagetnya, Pak Kumis sampai terpeleset, mendorong pintu sampai terjeblak, dan jatuh ke dalam rumah.

“Adudududuh…” Pak Kumis meringis karena mencium lantai marmer.

“Ahhnnnh…” Tia meringis karena desakan terong di celah kewanitaannya.

Dua-duanya sama-sama terpaku beberapa saat, lalu tiba-tiba sadar akan anehnya situasi.  Pak Kumis buru-buru berusaha bangun dan keluar, tapi kalah cepat dengan Tia yang langsung bangkit, dan menutup pintu tanpa membiarkan Pak Kumis keluar dari rumah ataupun terong keluar dari kemaluannya.

“Eh, Bu Tia…?  mmMmmMM??”

Tia mendorong Pak Kumis ke tembok di belakang pintu, sambil menutup mulut Pak Kumis… dengan bibirnya.  Saking kagetnya akan kegesitan gerakan Tia, Pak Kumis hanya bisa pasrah ketika bibir merah nyonya muda langganannya itu memaksa bibirnya terbuka lebar, dan lidah Tia merangsek ke dalam rongga mulutnya.  Dengan buas Tia memberi french kiss kepada si tukang sayur, tanpa memedulikan gesekan kumis tebal Pak Kumis yang kasar ke kulit sekitar bibirnya.  Satu tangan Tia kembali memain-mainkan terong di kemaluannya, tangan lainnya menelusuri dada dan perut Pak Kumis, turun terus, ke bawah tas pinggang kumalnya, sampai ke bagian depan celana Pak Kumis.

 

Pak Kumis bukanlah orang yang suka main perempuan, dia cukup setia dengan istrinya yang dia tinggal di kampung halaman agar mengurus anak, tapi menghadapi seorang perempuan muda berpenampilan seksi yang dengan ganas melumat bibirnya dan mengelus-elus burungnya, tukang sayur itu tak berdaya.  Dia tak kuasa melawan ketika Tia menarik turun resleting celananya dan langsung mengocok penisnya.  Selesai menciumi habis bibir Pak Kumis, Tia langsung berjongkok di hadapan Pak Kumis, mengamati terong yang masih juga dia sodok-sodokkan sendiri ke vaginanya, lalu barang aslinya yang memang hitam dan sekarang keras di depannya.  Tanpa memedulikan apapun termasuk kata-kata penolakan setengah hati dari Pak Kumis, Tia menggesekkan pipinya ke batang hitam tegap itu, mengendus baunya, menjulurkan lidah untuk mencicipi rasanya.

“Aduh… Bu Tia… jangan Bu Tia…” keluh Pak Kumis, yang konak sekaligus ketakutan karena tidak tahu apa yang terjadi pada langganannya itu.  Tapi dia tidak berbuat apa-apa untuk menjauh dari Tia.  Dia hanya bengong sambil melihat burungnya yang sudah tegang dimain-mainkan Tia.  Tia makin berani, dan sekarang mulai memasukkan penis Pak Kumis ke mulutnya.  Bibir atas Tia menjepit daging kemaluan Pak Kumis sementara bibir bawahnya menjepit terong paling beruntung di dunia.  Pak Kumis merasa bulu kuduknya berdiri ketika gigi dan lidah Tia menyentuh urat-urat di barangnya.  Dia tak tahu apakah harus merasa senang atau kuatir selagi membiarkan anunya diisap Tia.  Sementara yang mengisap tidak peduli; yang Tia pikirkan hanyalah betapa besarnya kejantanan Pak Kumis, dan betapa kerasnya terong yang menjolok kewanitaannya.  Ada yang bilang perempuan lebih mampu melakukan multitasking, mengerjakan beberapa tugas sekaligus, daripada laki-laki.  Setidaknya Tia memang seperti itu, karena dia menyodok vaginanya sendiri makin cepat dan dalam dengan terong betulan sambil memperhebat godaannya terhadap ‘terong’ Pak Kumis. 

 

Sementara Pak Kumis yang tidak bisa multitasking itu akhirnya tak bisa berbuat apa-apa karena urutan penalaran di otaknya sudah dibajak oleh kenikmatan badani yang diberikan mulut Tia. Tubuh Tia ikut menggelinjang selagi nafsunya terus meningkat menuju puncak.  Terong di kemaluannya digerakkan makin dahsyat… sampai akhirnya membuat Tia menjerit keenakan dalam klimaks.  Mendengar suara kenikmatan Tia yang begitu menggoda, Pak Kumis merasa tak kuat lagi menahan.  Muncratlah burungnya tepat di depan Tia, sehingga wajah cantik Tia ternoda cairan kelelakian si tukang sayur.  Tia terduduk lemah, merasakan hangatnya benih terlarang Pak Kumis menerpa hidung dan pipinya. Pak Kumis yang masih agak panik melihat ada kesempatan dan segera menutup celananya, lalu mencoba beranjak selagi Tia terduduk lemas akibat orgasme.  Sambil memalingkan muka dia berusaha keluar, tapi ketika dia membuka pintu dan mau meninggalkan ruang tamu Tia, dia merasakan celananya ditarik.  Pak Kumis menoleh dan melihat wajah Tia yang belepotan sperma itu menunjukkan ekspresi lapar.  Lapar akan laki-laki.

“Aduh, Bu Tia… tolong jangan… Saya nggak bisa…” pinta Pak Kumis dengan wajah memelas.  Kurang pantas sebenarnya tampang memelas dengan kumis se-sangar itu.  Saat itu juga Tia berdiri pelan-pelan, lalu mendekatkan mukanya ke muka Pak Kumis yang ketakutan, lalu berbisik:

“Maafin yang tadi Pak… tolong jangan cerita ke siapa-siapa… Dan ambil aja kembalian yang tadi.”

Nada suaranya begitu kalem sehingga Pak Kumis jadi tenang lagi.  Tia berbisik lagi, kali ini nadanya agak manja.

“Jangan nggak balik lagi ya Pak Kumis… saya tetap mau langganan belanja sama Pak Kumis, ya?  Janji deh, nggak akan terjadi lagi yang seperti ini…”

“…Iya …iya …” Pak Kumis mengiyakan dengan lirih.  Setelah itu, Tia melepaskan tangannya, dan Pak Kumis bergegas pergi.  Dengan terburu-buru Pak Kumis mendorong gerobak sayurnya keluar.  Karena masih panik, gerobaknya sampai menabrak pagar rumah Tia sewaktu mau keluar.

Setelah Pak Kumis pergi, Tia baru merasakan betapa tak wajarnya tindakannya tadi. Cepat-cepat dia buang terong yang tadi membuatnya orgasme. Kenapa dia sampai begitu?  Berfantasi mengenai tukang sayur sampai-sampai ‘tanpa sengaja’ membeli terong untuk memuaskan dirinya sendiri, dan memaksa melakukan oral seks terhadap Pak Kumis yang sejenak terjebak dalam rumahnya? Tia bingung sendiri.

 

********

2. SIANG

 

Setelah pagi yang tak terduga itu, Tia akhirnya bisa menenangkan diri lagi.  Dia kembali ke rutinitasnya, membaca laporan dan berkas-berkas yang berkaitan dengan usaha keluarganya, melakukan beberapa perhitungan, sambil menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri.  Dia tak mengganti baju daster pendek biru-nya.  Dia juga sudah mencuci muka—dan memulas kembali mukanya dengan make-up sehingga dia kembali tampak secantik penampilannya tadi pagi. Tia makan siang sendirian, hanya nasi dengan lauk seadanya.  Dia juga membelah pepaya yang tadi pagi dibelinya dari Pak Kumis.  Pepaya itu terlalu besar.  Kalau hanya dimakan berdua dengan Bram, tidak akan habis dengan cepat.  Ah, kalau begitu separonya nanti sore kukasih Kak Citra, pikir Tia. Sepinya siang itu tiba-tiba terpecah suara genjrengan gitar, tepuk tangan, dan nyanyian asal-asalan dari depan pintu.

“Ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku

aku yang tengah malu sama teman-temanku karena cuma diriku

yang tak laku-laku

Terdengar suara dua orang laki-laki, suara ‘tanggung’ seperti baru pecah, peralihan dari suara anak-anak ke dewasa.  Tia yang sedang duduk di depan meja makan sambil mengunyah seiris kecil pepaya dan menghadapi piring bekas makan siang segera minum dan mengelap mulut, lalu bergerak ke depan untuk mengintip sumber suara itu dari balik jendela depan.  Di luar pagar dilihatnya dua bocah tanggung, seperti seumuran anak kelas 3 SMP atau 1 SMA.  Salah satu membawa gitar akustik yang ditempeli banyak stiker, sementara kawannya cuma mengandalkan tepuk tangan untuk mengiringi nyanyian. Tia kembali ke dalam untuk mengambil sedikit uang dari dompetnya, bermaksud berbagi rezeki dengan kedua pengamen muda itu.  Tia lalu membuka pintu samping yang terhubung dengan ruang makan dan dapur, dan berjalan keluar.

 

Setelah keluar, Tia bisa melihat lebih jelas kedua pengamen itu, keduanya tampak seperti biasanya anak jalanan, lusuh, kurus, dan berkulit gelap terbakar matahari.  Keduanya mengenakan jeans belel dan kaos hitam bertuliskan nama-nama band beraliran keras.  Gaya rambut keduanya sama-sama tak biasa: yang bertepuk tangan rambutnya dibuat spike, mencuat di sana-sini seperti duren atau landak, sementara kawannya yang main gitar membotaki pelipis kiri-kanan sehingga mirip gaya mohawk walaupun rambutnya yang tersisa di tengah tidak diberdirikan, mungkin karena kurang modal. Terlihat tindikan menghiasi tempat-tempat di muka mereka.

“Makasih tante…” kata si rambut mohawk ketika menerima dua lembar uang seribuan dari tangan Tia.  Yang memberi dan yang menerima sama-sama tersenyum, Tia tersenyum tulus karena senang bisa beramal, kedua pengamen itu tersenyum bahagia karena bisa ketemu perempuan secantik bidadari pada siang yang panas itu.  Biasanya mereka ketemu pembantu, nenek-nenek, atau anjing penjaga. Senyum si rambut mohawk tapi berubah ketika dia mengingat sesuatu.

“Lho… ini Kak Tia kan?”

Tia kaget juga mendengar si pengamen rambut mohawk menyebut namanya.  Tahu dari mana… eh, memang sepertinya… Dia kan…

“Janu?”

Si mohawk nyengir memamerkan giginya yang menguning dan bolong satu.

“Iya Kak, saya Janu, yang dulu di rumah singgah!“

“Ooo, Janu!  Iya iya, inget.  Yang waktu dulu itu ya.  Kamu udah lebih jangkung, ya?”

“Hehehe, iya dong kak, kan udah gede sekarang.”

 

Fi & Janu

Fi & Janu

Kegiatan bakti sosial Tia waktu mahasiswa juga mencakup menjadi guru bagi anak-anak terlantar di suatu rumah singgah.  Salah seorang anak yang sempat dia ajar adalah Janu, yang sekarang kebetulan ngamen di depan rumahnya.  Janu dulu bandel dan liar karena ditempa kerasnya kehidupan di jalan, tapi di rumah singgah itu dia paling menurut pada Tia.

“Eh, Janu, ayo masuk dulu!  Kak Tia pengen ngobrol sama kamu sebentar, ya. Lagian sekarang kan panas, kalian mau minum dulu kan?” Tia menawarkan.

“Gimana, Fi?” Janu menengok, bertanya ke temannya yang berambut landak.  Temannya mengangguk.  Tia membukakan pintu garasi lalu mempersilakan keduanya masuk.  Janu dan kawannya yang dia panggil Fi itu masuk, lalu duduk di teras.

“Ayo masuk aja, gak usah malu-malu,” ajak Tia.

“Jangan repot-repot Kak Tia, kita di luar aja,” tampik Janu sopan.  Fi langsung menyindir kawannya, “Ceileh, sopan amat lu Jan, kalo ngadepin cewek cantik aja langsung sok keren, kayak ganteng aja lu…” yang mengakibatkan kepala landak Fi ditoyor Janu. “Kirik, diem lu, dia kakak gue yang ngajarin gue dulu, masa’ gue ga sopan ama dia?” balas Janu.  Tia tertawa kecil melihat tingkah kedua pengamen itu.

“Janu dan… siapa tadi, Fi? Tunggu di sini dulu ya.  Biar Kak Tia ambil airnya dulu.”

Tia masuk kembali ke rumah lewat pintu samping, yang menuju ke ruang makan.  Diambilnya sebotol air es dari kulkas. Di dalam kulkas dilihatnya pepaya yang sebagian sudah dia makan tadi.  Dia putuskan untuk berbagi cemilan juga dengan kedua bocah tadi.  Maka diiriskannya dua potong besar pepaya untuk Janu dan Fi. Janu dan Fi yang meneruskan adu cela sambil duduk di lantai teras terdiam ketika Tia muncul lagi.  Keduanya terpesona dengan sosok Tia yang tampak begitu cantik di mata mereka. Apalagi nyonya muda itu datang membawa sebotol air sejuk dan sepiring buah segar. Seolah-olah bidadari datang dari kahyangan membawa berkah kenikmatan bagi manusia-manusia hina seperti mereka berdua. Sungguh bersyukur Janu dan Fi siang itu, bisa duduk sambil mendinginkan tenggorokan mereka yang kering dengan minum air dingin dan makan pepaya ditemani seorang wanita jelita.

 

Sambil menemani kedua pengamen itu, Tia ngobrol lebih lanjut dengan Janu tentang keadaan di rumah singgah.  Tia berhenti mengajar di sana waktu mulai membuat skripsi, dan tidak pernah ke sana lagi setelah lulus dan menikah.  Menurut Janu, kegiatan belajar di sana terus berlanjut, tapi Janu sendiri yang sudah tambah besar mulai jarang ikut, dan dia menyambung hidup dengan ngamen bersama kawan-kawannya sesama anak jalanan, termasuk Fi.  Tia menasihati agar Janu jangan melupakan sekolah, supaya tetap bisa punya masa depan.  Fi tidak banyak bicara karena baru kenal dengan Tia, tapi Tia memperhatikan bahwa mata teman Janu itu tak lepas-lepas mengamatinya. Tak lama kemudian suguhan air es dan pepaya pun habis.  Untuk pertama kali, Fi berbicara dengan Tia. 

“Kak, makasih ya.  Kalau boleh, biar kita cuci-in piring dan gelas bekas kita.”

Setelah berpikir sebentar Tia setuju. “Silakan. Di dalam aja ya nyucinya. Ayo ikut Kakak.”

Fi dan Janu membawa piring dan gelas mengikuti Tia yang masuk ke rumah lewat pintu samping.  Di balik pintu samping itu ada koridor pendek sempit menuju ruang makan dan dapur rumah Bram dan Tia.  Tia menunjukkan wastafel tempat cuci piring dan kedua pengamen itu pun mencuci alat makan yang tadi mereka pakai.  Setelah selesai, keduanya berbalik untuk keluar rumah.  Tia berjalan mendahului mereka ke arah pintu, bermaksud membukakan pintu samping.  Fi berada tepat di belakang Tia. Ketika Tia hendak membuka pintu, dengan iseng Fi mencolek pantat Tia.

“Aww!?”

Tia memekik dan langsung menangkap tangan Fi yang belum jauh dari pantatnya. Janu yang berada di belakang Fi menyadari apa yang baru dilakukan temannya, dan langsung menarik kerah kaos Fi dari belakang.

 

“WOY!” teriak Janu langsung ke kuping Fi. “Lu jangan berani kurang ajar sama kakak gue ya, kirik!  Aduh, maaf banget Kak Tia, si kirik ini emang brengsek, biasa nongkrong di rumah emaknya di lokalisasi soalnya, makanya tangannya jail.  Ayo lu minta maaf sama kakak gue!  Sekarang!”

Bukannya insyaf, Fi malah menghardik balik. “Jangan bawa-bawa emak gue juga dong, bangke!”

“Sudah, sudah!” seru Tia.  Kedua pengamen itu memandangi muka Tia dan anehnya Tia terlihat sangat tenang, tidak marah ataupun malu sebagaimana biasanya perempuan kalau habis dilecehkan.

“Janu, nggak usah marah sama dia, Kakak nggak apa-apa kok,” kata Tia kalem.

“Tapi Kak… dia udah gak sopan sama Kakak!  Emang pantas dihajar dia Kak!” Janu masih panas.

Tangan Tia yang satu lagi meraih tangan Janu yang mencengkeram leher kaos Fi, lalu menggenggamnya dengan lembut sehingga cengkeraman Janu lepas.

“Makasih ya Janu, kamu mau ngebelain Kakak.  Nggak apa-apa kok.  Fi nggak salah.”

Genggaman lembut Tia membuat amarah Janu mereda.  Padahal tadi dia sudah siap menonjok Fi.

“Fi,” kata Tia, “Dari tadi kamu ngelihatin Kakak kan?”

“I… iya…” kata Fi pelan.

“Kenapa, Fi?”

“Habisnya… Kakak seksi, sih… gimana gak ngelihatin…” jawab Fi dengan jujur.

“Udah gue bilangin lu jangan kurang ajar sama kakak gue!” lagi-lagi Janu mendamprat Fi.

 

“Janu, udah dong, jangan marah sama Fi…” Dan tanpa disangka-sangka Janu, tangan Tia melepas genggaman di tangan Janu, membelai lembut pipi Janu, lalu kembali menggenggam tangan Janu.

Tia kembali ke Fi.  “Emangnya tadi kamu lihatin apa, Fi?”

“…Uh…”

“Ya?” Tia tersenyum ke arah Fi yang sekarang tersipu.  Fi bingung apakah harus menjawab atau tidak.

“…ya… ngelihatin muka Kakak… kulit Kakak… habisnya Kak Tia cantik ih…”

Tia menarik tangan Fi yang tadi mencoleknya ke dekat mukanya sendiri… dan menggigit lembut jari telunjuk Fi.

“Fi bohong ya sama Kakak…” kata Tia dengan nada nakal. “Bilang yang jujur, kalo enggak Kak Tia gigit lebih keras ni…”

Fi tidak yakin gigitan Tia bakal serius, tapi dia kemudian merasakan tekanan gigi Tia, dan dia memutuskan untuk segera menjawab.

“Iyaiyaiya Fi ngaku… Tadi Fi ngelihatin… toket Kakak.”

“Hmm…” gumam Tia. “Terus?”

“…ngelihatin pantat Kakak juga, habis bohay sih, apalagi waktu jalan di depan Fi tadi…”

Janu berusaha menarik tangannya dari genggaman Tia, mau menghajar Fi, tapi Tia tidak melepasnya.  Bukan cuma itu—setelah melepas jari telunjuk Fi dari gigitan, giliran tangan Janu yang Tia tarik ke dekat mukanya.  Janu tertegun melihat Kak Tia yang selalu dikaguminya itu menjilat dan mengulum telunjuk dan jari tengahnya.  Kedua pengamen muda itu kini dalam posisi berhadapan dengan Tia di koridor sempit yang menghubungkan pintu samping menuju luar rumah dan ruang makan, tangan kiri Tia menggenggam tangan kanan Fi yang tadi digigit, dan tangan kanan Tia menggenggam tangan kanan Janu yang barusan dikulum.  Jantung keduanya berdebar-debar akibat tindakan Tia yang berani itu.

 

“Makanya kamu tadi nyolek pantat Kakak, ya Fi?” tanya Tia.

“Ehm…” Fi tak berani menjawab karena malu.

“Kalau gitu kamu mau nyolek toket Kakak juga kah?” tanya Tia lagi.

“…” Fi tambah tidak bersuara.

“Hayooo…” sindir Tia.

“Kak…” Malah Janu yang menanggapi, biarpun tidak jelas mau bicara apa.

Saat itu juga, tanpa menunggu persetujuan yang punya tangan, Tia menarik tangan Fi sampai menyentuh payudaranya.  Daster birunya tidak memberi perlindungan memadai kepada sepasang keindahan di dada Tia itu, dan sejak tadi memang Fi sudah bisa menikmati lembah dan dua bukit mulus nan sekal yang mengintip di balik kain tipis. Fi menatap muka Tia dengan tak percaya, dan Tia membalas tatapan Fi dengan anggukan setuju.  Dengan malu-malu Fi mengembangkan jemarinya dan mulai menjamah kelembutan buah dada Tia.

“Fi!” teriak Janu tak setuju.  Dia mau protes lagi, tapi keburu merasakan sensasi aneh tapi menyenangkan ketika tangannya dibawa ke payudara Tia yang satunya.  Janu merasa bulu kuduknya berdiri ketika jarinya berkenalan dengan empuknya payudara Tia.

“Kak… Tia…” Janu hanya bisa berkomentar lirih ketika dia tak kuasa melarang tangannya mengikuti tangan Fi mencengkeram sepasang payudara Tia.  Rasanya tak percaya dia melihat Kak Tia yang begitu baik dan pintar dan cantik itu membiarkan tubuhnya dipegang-pegang orang.  Lebih dari itu: Tia malah membuat tangan mereka berdua meremas-remas payudaranya.  Namun sebagai remaja di tengah masa puber Janu tak bisa melawan gelora nafsu yang dipicu Kak Tia idolanya.

 

“Emmm…” Tia menggumam karena remasan tangan kedua pengamen muda itu mulai membangkitkan gairahnya.  Dia kemudian menjauhkan tangan Janu dan Fi dari payudaranya, dan mendekat ke keduanya.

“Janu, Fi… Gimana rasanya dada kakak?” tanya Tia dengan bibir tersenyum manis.

Janu tidak berani menjawab.  Fi berani. “Kenyal… empuk…”

“Pengen lihat?” pancing Tia.  Fi mengangguk.

Tia melepas tangan Fi, dan segera memelorotkan kedua tali bahu dasternya.  Kedua pengamen menahan nafas melihat sepasang buah ranum terbebaskan dari bungkusannya, menantang mereka berdua untuk menikmati.  Tadi keduanya tidak berani bertindak.  Tia tertawa kecil melihat mereka berdua salah tingkah.

“Kak… Kak Tia…” Dari tadi Janu tidak bisa berkata yang lain.  Tia tersenyum ke arah Janu, lalu merangkul kepala Janu, dan mendekatkan muka Janu ke dadanya.  Fi menelan ludah karena iri, sementara Janu tiba-tiba merasa sangat nyaman, damai, dan nikmat ketika pipinya bersandar di bantalan empuk payudara Tia.  Saat itu Janu bersyukur, dalam kehidupannya yang kurang bahagia dia berkesempatan bertemu Tia, tidak hanya karena Tia cantik dan baik dan mengajarinya banyak hal, tapi juga karena Tia telah memberinya kebahagiaan seperti itu.  Tia mendekap dan mengelus-elus kepala Janu seolah-olah Janu itu bayi yang sedang digendongnya.  Sentuhan paku logam yang menyelip di alis Janu membuat Tia geli.

“Fi mau juga?” tanya Tia kepada Fi yang sudah menanti, dan tanpa menunggu ditarik, Fi langsung mendekatkan mukanya ke payudara Tia yang satunya.  Seperti yang tadi disebut Janu, Fi memang besar di lingkungan pelacuran, dan meski masih sangat muda dia bukan orang yang polos dalam hal menyentuh wanita.  Kalau Janu cuma bersender, Fi malah buka mulut dan menjulurkan lidahnya menyentil-nyentil puting Tia.  Tia terpekik lagi akibat ulah nakal Fi, tapi dia membiarkan Fi melakukan itu.

 

Sambil merangkul Fi, Tia meraih muka Janu.  Tia berbisik,

“Janu kamu pernah ciuman nggak?” yang dijawab Janu dengan gelengan kepala. 

Dan serta-merta Tia memberikan pengalaman ciuman pertama untuk anak jalanan yang pernah diajarnya itu.  Tidak tanggung-tanggung, ciuman pertama Janu bukan sekadar kecupan singkat dari Tia, melainkan french kiss penuh nafsu.  Janu kaget, dia tak menyangka Kak Tia-nya bisa bersikap seperti ini.  Selama ini Janu mengagumi Tia seolah seorang dewi, dengan kebaikan dan kasih sayang serta kecantikan sederhana yang anggun, namun imej itu dikacaukan tindakan Tia.  Namun itu tidak membuat rasa kagum Janu terhadap Tia pudar.  Hanya saja dia tidak mudah mengerti mengapa Tia jadi seperti ini.  Ataukah dia saja yang tak pernah tahu sifat Tia yang sebenarnya? Sementara lidah Tia bertemu dengan lidah Janu di dalam rongga mulut Janu, lidah Fi terus beraksi di seputar puting kiri Tia.  Fi tidak hanya menjilat dan menyentil, tapi juga menggigit dan mengulum puting Tia.  Fi makin berani ketika dia merasa tangan Tia di belakang kepalanya justru menekan kepalanya mendekat, pertanda Tia suka dengan perbuatannya. Tia mulai melakukan gerakan lain, kedua tangannya kini sudah tak lagi menggenggam tangan Janu dan Fi, tapi mulai menyelip di balik kaos Janu untuk mengelus perut dan dada Janu, dan merangkul Fi.  Bukan tubuh atas mereka berdua yang menjadi sasarannya… tak lama kemudian tangan Tia sudah turun sampai jendulan di balik celana kedua pengamen itu.  Tidak heran kalau mereka ngaceng, siapa yang tidak demikian kalau sedari tadi digoda Tia.  Tia tersenyum ke kedua bocah itu, seolah-olah baru menangkap mereka berdua berbuat kenakalan.

“Hihihi… kok kalian konak sih…?” goda Tia, pura-pura tidak tahu penyebabnya.

 

Janu membuang muka, masih malu, sementara Fi balas nyengir. Dasar Fi sudah berpengalaman, dengan kurang ajarnya dia membuka resleting celana dan mengeluarkan burungnya, yang disambut tangan Tia tanpa ragu.  Sementara Janu tetap terpaku, bingung antara ingin ikut-ikutan berani seperti Fi atau tetap bersikap menghormati Tia. Tia menyadari kebingungan Janu.

“Janu… tenang aja ya?  Kamu ikutin Kakak aja.”

Di sisi lain, tangan Fi menggenggam tangan Tia yang sekarang mulai membungkus ereksinya, dan mulai menggerakkannya naik-turun, membuat Tia mengocok anunya.  Tia menoleh dan tersenyum ke arah Fi, membiarkan saja si rambut landak menyalahgunakan tangannya.  Perhatian Tia kembali ke Janu.  Sambil tetap mengocok Fi, Tia mengecup lembut bibir Janu, lalu pelan-pelan berlutut.  Begitu mukanya sudah sejajar dengan selangkangan Janu, seperti seorang pelacur profesional Tia menggigit resleting celana Janu dan menurunkannya, kemudian menjilati jendulan hangat yang masih terbungkus celana dalam.

“Kak… jangan Kak… kan kotor…” pinta Janu.  Tia melirik ke atas, melihat wajah Janu yang khawatir, dan dengan cueknya dia malah membuka kancing dan memelorotkan celana Janu sekaligus dalamannya.  Tia membelai-belai dan memijit-mijit penis Janu.  Janu tak bisa menahan desah keenakan keluar dari mulutnya ketika sentuhan jemari Tia memanjakan kemaluannya.  Apapun yang mau diperbuat Tia, Janu sudah tak ambil pusing lagi, dia hanya mau menikmati.  Pandangan Janu terpaku kepada wajah, tangan, dan payudara Tia yang menggoda, menyihirnya sehingga terperangkap dalam hasrat.

 

Tia melepas pegangannya terhadap penis Janu dan Fi, lalu menarik selangkangan Janu makin dekat dengan tubuhnya.  Tia lalu mengangkat tubuhnya sehingga selangkangan Janu sejajar dengan dadanya.  Sekali lagi diajaknya tangan Janu menjamah buah dadanya.  Di depan muka langsung, Tia memandangi batang Janu yang berdiri tegak.  Ketika Tia mencium kepala penis Janu, Janu menahan nafas.  Tia melanjutkan dengan memberi gigitan-gigitan halus sepanjang bagian bawah batang itu.  Sementara itu salah satu lengan Tia meraih ke belakang tubuh Janu, menggenggam dan mendorong pantat Janu supaya tubuh Janu makin merapat. Kemudian si nyonya muda memutuskan memberi kenikmatan bentuk lain kepada Janu.  Memang payudaranya berukuran hanya sedikit di atas rata-rata, tidak besar sekali, tapi cukup untuk melakukan yang ingin dia lakukan.  Kedua tangan Tia menggenggam kedua payudaranya sendiri, lalu menjepitkan keduanya ke penis Janu.  Kelembutan kedua gundukan itu membuat Janu serasa terbang.  Dia mengikuti refleks tubuhnya sendiri dan menggesek-gesekkan batangnya maju-mundur menembus jepitan belahan dada Tia. Fi tidak mau ketinggalan, dia berlutut di belakang Tia dan merangkul pinggang Tia.  Jemarinya bergerak ke arah bibir vagina Tia.  Anak itu jelas-jelas tidak polos, dia tahu apa yang mau dia lakukan.  Dia menjulurkan jemarinya ke dalam vagina Tia dan mendapati bagian dalamnya sudah becek.  Sambil nyengir ditaruhnya kepala kontolnya di bibir vagina Tia, tapi—

“Eit, maaf ya Fi… boleh pegang, gak boleh dimasukin,” kata Tia sambil meraih ke belakang dan menggenggam penis Fi.  Fi dilarang mempenetrasi.  Tapi Tia lantas menggesek-gesekkan belahan memeknya mengelus batang Fi.

 

Tia menyadari bahwa posisinya belum memungkinkan dia menyervis kedua pengamen muda itu berbarengan, sehingga kemudian dia menyuruh Janu duduk.  Janu duduk di lantai, mengangkang, ereksinya tetap tegak menantang. Tia menjauh lagi dari Fi untuk berlutut dan kemudian berposisi merangkak di depan Janu, kedua buah dadanya menggantung, tangannya kembali mengocok batang Janu.  Tia menempatkan kejantanan Janu di antara kedua buah dadanya, lalu menurunkan tubuh depannya sehingga batang Janu kembali terjepit dalam kenikmatan.  Gerak maju-mundur tubuh Tia membuat kedua buah dadanya melumat penis Janu, menimpakan godaan badani yang dahsyat kepada alat kelamin yang belum pernah merasakan lawan jenis itu. Sementara itu Tia sepertinya maklum Fi akan bertindak sendiri, dan melihat Tia kini berposisi nungging di depannya, mana bisa Fi diam saja?  Tapi Fi tetap menuruti permintaan Tia tadi untuk tidak mempenetrasi, dan dia memilih memuaskan diri dengan menyibak bagian belakang daster Tia sehingga menyingkapkan pantat bahenol perempuan yang diidolakan Janu itu, mencengkeram kedua belah pantat Tia, dan menggesek-gesekkan batangnya di lembah antara keduanya. Janu tak kuasa menahan sensasi lembut yang membekap kemaluannya.  Setelah hampir satu menit digeluti kedua tetek Tia, jebol juga pertahanan Janu.  Dia memejamkan mata dan meringis ketika tak bisa lagi menahan maninya muncrat ke dada dan leher Kak Tia yang begitu dikaguminya.  Mungkin karena jarang dikeluarkan, ejakulasi Janu cukup banyak, terciprat menodai tubuh Tia. Fi bertahan lebih lama, apalagi dia dilarang memasuki vagina atau anus Tia yang sudah menantang di depannya.  Cukup lama dia menggesek-gesekkan batangnya di belahan pantat dan bibir memek Tia, menikmati kehangatan dan kelembutan tubuh bagian bawah Tia.  Sekali-sekali dikemplangnya pantat Tia. 

 

Tak lama kemudian, Tia merasakan seciprat-dua ciprat cairan kental menimpa punggung bawahnya.  Fi keluar juga akhirnya. Untuk beberapa lama mereka bertiga tetap terdiam, Janu terduduk, Tia meringkuk dan kepalanya menyandar di perut Janu, Fi juga terduduk lelah di belakang Tia.  Yang pertama kali tersadar dan merasa tidak enak adalah Janu, buru-buru dia bangkit dan membantu Tia bangun.  Janu langsung menaikkan dan mengancingkan lagi celananya, lalu mengulurkan tangan seolah ingin membantu Tia membetulkan pakaiannya yang tersingkap, tapi kemudian ragu dan menarik lagi tangannya.  Janu melihat ke kanan dan kiri, menemukan sekotak tisu, lalu mengambil beberapa lembar dan menyodorkannya ke Tia sambil menunduk.

“Ka… Kak Tia… maaf… maafin Janu Kak… maafin Janu…” Suara Janu tercekat, seperti mau menangis, agaknya dia merasa bersalah karena perbuatannya barusan.  Tia menerima tisu yang disodorkan, dan menyeka sperma Janu dan Fi yang menodai tubuhnya.  Dihampirinya Janu dan diciumnya kening Janu.

“Kamu gak salah Janu… ga usah minta maaf.  Mestinya Kakak yang minta maaf soalnya udah ngegodain kamu,” kata Tia lembut sambil mengelus rambut Janu.  Janu mengangguk dengan agak takut.  Sementara di sisi lain, Fi senyum-senyum sendiri.

Tanpa banyak kata, kedua pengamen itu pamit dan meninggalkan rumah Tia dengan perasaan campur aduk.  Sebelum mereka pergi, Tia sekali lagi meminta maaf kepada Janu dan mengatakan Janu boleh mampir ke rumahnya kapan saja. Tinggallah Tia sendiri. Satu sisi dirinya bertanya-tanya, mengapa dia bisa bertindak seberani itu. Sisi lain dirinya puas karena berhasil menggoda kedua pengamen itu. Dia memang belum mencapai klimaks, tapi dia menyadari bahwa dia sangat menikmati menggunakan tubuhnya untuk merangsang dan menguasai kedua remaja tanggung itu.  Dia senang bisa membuat keduanya lepas kendali dan jatuh dalam pelukan birahi.  Tia sedang berubah…

 

*****

 

3. SORE

 

“Hmmmm…” Tia menggumam karena nikmatnya pijatan Widy di pundaknya.  Sore itu Tia berada di salon Citra.  Tadi Tia mampir untuk mengantarkan pepaya yang mau dia bagi untuk Citra, tapi setelah ngobrol-ngobrol berkepanjangan, akhirnya Tia malah mendapat sesi pijat refleksi gratis dari asisten Citra, Widy.

“Enak kan tangannya Widy?  Aku aja suka kok.  Saban hari pasti aku minta dia pijat aku dulu sebelum dia pulang,” ujar Citra yang berada di sebelah Tia, sambil mengecat kuku.

Widyane—biasa dipanggil Widy—adalah kapster di salon Citra, satu-satunya karyawati Citra.  Keahlian utamanya adalah memijat.  Widy lebih muda daripada Citra dan Tia, mungkin baru berumur sekitar 20, bertubuh pendek tapi berisi dengan lekuk-lekuk menantang.  Tia bisa melihat betapa celana pendek jeans dan T-shirt hijau ketat yang Widy pakai sore itu kerepotan melingkupi bokong dan payudaranya yang semok.  Rias wajahnya tidak kalah meriah dibanding Citra, dengan lipstik merah cemerlang dan eyeshadow berwarna gelap di bawah rambut tebal yang agak megar dan sebagian di-highlight pirang.

“Eh, Mbak Tia kok sekarang cantikan ya? Biasanya juga cantik, tapi akhir-akhir ini jadi tambah kinclong lhoo…” komentar Widy dengan logat medok.

“Iya lah, kan gue yg permak,” ujar Citra bangga.  “Tia ini baru dapat pencerahan, makanya perlu ganti imej.  Gimana Ti?  Mempan gak saranku?”

Tia tidak menjawab, namun bibirnya yang tersaput lipstik pink tersenyum.  Tapi dia sendiri merasa makin lama makin bisa masuk ke dalam kepribadian yang disarankan Citra.  Kepribadian pelacur.  Kejadian pagi dan siang itu menunjukkan kepada Tia bahwa dia sebenarnya suka bisa menarik perhatian laki-laki.  Memancing birahi mereka dan menguasai mereka.

Seperti lonte-lontenya Bram.

Seperti… Citra?

Sambil menikmati pijatan jari Widy yang sekarang mencapai pelipisnya, Tia terpikir lagi mengenai perubahan penampilannya.  Memang, waktu itu Citra menyarankan agar lebih berani dalam merias diri dan berpakaian supaya bisa menandingi perempuan-perempuan penjaja cinta yang sempat menarik perhatian Bram.  Tapi Tia baru sadar, bukan cuma mereka yang penampilannya dia tiru.

 

Citra juga seperti itu.

 

Citra

Citra

Sejak dulu, Citra suka menggoda laki-laki. Siapapun. Teman sekolah, teman kuliah, karyawan orangtuanya—sembarang orang.  Tia tahu itu. Entah sudah berapa laki-laki yang menikmati tubuh kakak iparnya.  Sampai akhirnya satu di antara mereka menghamili Citra. Lamunan Tia terhenti karena dia mendengar bunyi pintu dibuka.  Masuklah seorang laki-laki setengah baya ke dalam salon.  Laki-laki itu bertubuh besar dan berpakaian rapi ala pebisnis, dengan kemeja mahal, dasi, dan celana bahan yang necis.  Rambutnya yang dibelah pinggir mengkilap karena minyak rambut, matanya kecil dan bibirnya lebar.

“Halo halo,” sapanya sok akrab.

“Eh Pak Bernardus. Ke mana aja, kok jarang ke sini?” jawab Citra, juga dengan akrab.

“Waduh, baru juga minggu lalu aku ke sini, manggilnya kok udah jadi formal lagi gitu?” kata Pak Bernardus.

“Iya deh… Om Bernard,” balas Citra dengan centil.

“Tadi ada yang SMS aku katanya Widy udah masuk lagi, jadi kangen sama pijatannya.”

“Emang siapa yang ngabarin?… Oh.” Pertanyaan Citra langsung terjawab ketika melihat Widy nyengir sambil mengacungkan HP-nya.

Citra mendekati Tia yang masih duduk di kursi salon.  “Tia, sori, kamu pulang dulu yah? Aku ada customer nih.”

“Iya Kak,” jawab Tia, yang segera berdiri dan meninggalkan ruangan.  Ketika berpapasan dengan Bernard, Tia mengangguk dan tersenyum, yang dibalas dengan tindakan yang sama oleh laki-laki necis itu.  Bernard terus memandangi Tia sampai Tia keluar dari salon.

“Ayo Om,” Citra dan Widy menghampiri Bernard, membawanya ke satu ruangan lain dalam salon.

 

Ketika Tia keluar, dilihatnya mobil Mercedes-Benz hitam terparkir di depan salon.  Pasti mobil Pak Bernardus yang tadi, pikirnya. Tia ingat sesuatu: sesudah pertama kali dia di-makeover Citra dan terburu-buru pulang karena masih tidak pe-de akan penampilan barunya, dia melihat mobil itu.

Jadi waktu itu, dia yang datang…

 

*****

 

Dua puluh menit kemudian, di rumahnya, Tia menyadari dompetnya ketinggalan di salon Citra.  Dia langsung beranjak kembali ke salon Citra.

 

*****

 

“Gimana kabar bisnisnya, Om?”

Pak Bernardus alias Om Bernard sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur dalam ruang belakang salon Citra.  Bagaimana tidak nyaman, kepalanya berbantalkan paha Widy, sedangkan Citra mengelus-elus tubuhnya yang sudah telanjang.  Widy, yang tadi bertanya, sedang memijat dahi Bernard.

“Apa ndak ada pernyataan lain tho Wid, wis pusing aku sama bisnisku, ee di sini malah ditanyai bisnis lagi.  Mumet aku Wid, pesaing tambah buanyak.  Aku ke sini mau refreshing, jangan tanya yang serius gitu yo?”

“Maaf deh Om,” kata Widy. “Widy kasih nenen aja biar Om ga marah ya?”

Serta-merta Widy membuka kaosnya dari bawah sehingga Bernard yang di pangkuannya bisa melihat jelas BH hitam berenda yang menutupi sepasang gundukan yang sejahtera.  Widy menarik BH-nya ke atas sehingga bagian bawah teteknya bergandulan tepat di depan muka Bernard.  Pebisnis itu langsung menengok dan menowel-nowel dasar tetek Widy dengan hidungnya.

“Widy… asu tenan iki susumu… ini nih yang orang sebut tobrut… toket brutal… heeheehee…” Bernard kegirangan, langsung saja dengan nakalnya dia menjulur-julurkan lidah berusaha menjangkau ranumnya buah dada Widy.  Widy terkikik kegelian ketika lidah Bernard mengenai sasaran.

Tangan Citra yang tadi memijati paha sekarang sudah pindah ke batang dan biji Bernard.  Beberapa usapan kemudian, tegaklah kejantanan Bernard.  Si pebisnis menghentikan sebentar wisata lidahnya di bawah tetek Widy untuk menengok ke arah Citra.  Sore itu Citra tampil glamor walaupun hanya untuk kerja di salonnya, dalam blus biru muda tanpa lengan dan rok mini hitam.  Seperti biasa, dia memakai make-up tebal, kulit wajahnya nyaris tanpa cela berkat foundation, bibirnya merah darah, garis matanya tajam oleh maskara.

“Eh, Cit, kapan kamu mau upgrade toket biar kayak Widy, biar gak jomplang, kan mukamu udah full modif gitu?” Bernard memberi saran tanpa diminta.  Jawaban Citra adalah senyum disertai tatapan tajam ke arah Bernard, dan Bernard pun merasakan cengkeraman keras dan tajam di pelirnya.  Rupanya Citra main kuku…

“Becanda, becanda.  Ampun Mbakyu, biji saya jangan dipites, kasihan Widy ntar…” Bernard langsung berhenti membanyol… atau tidak. “Tapi kalo sampeyan mau operasi bikin gede, bilang aja, nanti Om bayarin.”

Memang bijinya tidak dipites Citra, tapi kena sentil-lah batang Om Bernard yang terlanjur tegak itu!

 

********************

Tia mendapati pintu salon Tia tidak dikunci. Dilihatnya dompetnya tergeletak di meja rias yang tadi dihadapinya ketika dipijat Widy.  Tapi ke mana Citra, Widy, dan Pak Bernardus?  Tadinya Tia kira, paling-paling Pak Bernardus datang untuk cukur rambut atau semacamnya.  Mercy hitamnya juga masih ada di depan. Tia melihat sekeliling, memperhatikan ruangan salon Citra.  Memang salon tersebut tidak besar.  Hanya tiga set kursi, plus satu tempat cuci rambut, dan satu tempat tidur di ruang belakang untuk luluran.  Tahun lalu, sesudah ditinggal suaminya yang kabur entah ke mana, Citra datang ke Bram dan Tia meminta tolong.  Walau Citra sudah diusir oleh keluarga, Bram tetap sayang dengan kakak kandungnya itu, dan Tia yang lama mengenal Citra juga peduli.  Bram dan Tia membantu Citra dengan pinjaman modal dan sewa tempat untuk bisa berusaha sendiri, dan Citra memilih membuka salon di sebelah rumah Tia dan Bram. Didengarnya suara-suara dari arah ruangan belakang yang dipisahkan tembok dari ruang utama salon dan berpintu tirai.  Tia mendekat…

 

*****

 

Agaknya candaan Bernard tadi tidak sampai membuat Citra sakit hati, karena Citra kini sedang menjilati penis Bernard yang tadi disentilnya, bersama-sama Widy.  Tambah ngaceng Bernard melihat dua muka penuh nafsu menyervis kejantanannya.  Tapi ada satu lagi yang mau dia tanyakan kepada Citra.

“Cit, yang tadi itu siapa? Bempernya gede tuh, tampangnya cakep lagi.”

Citra menjawab, “Adik iparku tuh.”

“Oo, adik ipar.  Wuih.  Sayang baru kenal.  Adikmu mujur juga, ya?”

Citra terkikik.  “Awas jangan diembat juga dia Om, udah ada yang punya!”

“Heeheehee, gimana ya?  Kayaknya asyik tuh diulek bokongnya…”

“Sentil lagi nih,” ancam Citra sambil menyiapkan jarinya di samping kepala kontol Bernard.

“Iya deh, iya deh, ampun Ndoro Putri Ayu, kulo jangan disenthil lagi, atit…”

 

*****

 

Tia mendekat ke tirai yang menjadi pintu ruang belakang salon Citra. Disibaknya sedikit tirai itu untuk mengintip.  Dan dia sungguh tak siap mendapati pemandangan di baliknya. Laki-laki perlente tadi—Pak Bernardus—telanjang bulat di atas tempat tidur, Widy yang kaosnya sudah dilepas dan buah dadanya sedang dilahap mulut lebar Pak Bernardus, dan… Citra, bersimpuh telanjang di depan Pak Bernardus, menyepong senjata Pak Bernardus.

Ternyata… Kak Citra…?

Tia terus menonton tanpa terlihat orang-orang yang berada di ruang belakang.  Widy tertawa-tawa kegelian ketika susunya yang sensitif dipermainkan oleh Pak Bernardus dengan tangan, bibir, dan lidah.  Pak Bernardus sesekali mengeluarkan komentar manja dan nakal, membuat Widy tersipu.  Citra menggarap seluruh titik yang bisa dirangsang di bagian bawah tubuh Pak Bernardus mulai dari batang zakar, pelir, bahkan sampai ke lubang duburnya.  Sekali-sekali Pak Bernardus berusaha menjamah tubuh Citra, tapi karena posisinya agak jauh, dia hanya dapat mengelus rambut Citra.  Akhirnya Widy juga yang jadi sasaran gerayangan tangan Pak Bernardus. Pelan-pelan, tangan Tia bergerak ke arah selangkangannya sendiri.

 

*****

 

“Cit, Wid… Om pengen nih…” pinta Bernard yang sudah tak tahan dengan rayuan fisik kedua penggoda yang mencumbunya. “Siapa nih yang mau… apa dua-duanya mau?”

“Hih, ge-er,” cela Citra, “Siapa juga yang mau sama Om…”

“Aduh Citra sayang, jangan nolak Om gitu dong, kan hancur hati Om?”

“Nggak ah, habis Om gak asyik hari ini,” Citra jual mahal.  “Dari tadi ngeledekin aku terus.”

“Ayo dong Cit, kamu gak kasihan sama Om, dari tadi masuk juga Om udah nafsu banget dari ngelihatin mukamu aja, kalo gak dikasih Om bisa-bisa ntar merkosa anak orang…”

Walaupun alasan Bernard jelek sekali, Citra tidak mau mengulur terlalu lama.

“Oke deh Om… tapi ada syarat.  Tiduran telentang dulu ya Om. Wid, bangun dulu,” atur Citra.  Bernard tiduran telentang, tapi tongkat sakti-nya tidak ikut tiduran.  Widy turun dari ranjang dan memberi jalan ke Citra.  Citra naik dan kemudian mengambil posisi mengangkangi muka Bernard.  Yang dikangkangi nyengir dan langsung tahu apa yang dimaui Citra.

“Om mesti jilatin memekku sampe aku puas ya, baru ntar kukasih,” perintah Citra.  Tanpa disuruh pun Bernard sudah tahu apa yang harus dilakukan.  Mulut lebarnya segera bergerak, melahap kenikmatan di selangkangan Citra yang bebas jembut.

 

*****

 

Tia terus menonton, dan dalam hatinya terbersit sedikit rasa kagum akan sikap Citra yang berani pegang kendali.  Sambil terus mengintip, dia bermasturbasi.  Kalau tadi pagi alat bantunya terong, maka kali ini yang dipakai adalah barang yang sedang ada di tangannya—dompet yang tadi ketinggalan.  Tia menggesek-gesekkan sudut dompetnya ke celana dalamnya selagi melihat Citra menggelinjang keenakan ketika memeknya dimakan Pak Bernardus.  Dilihatnya lidah laki-laki itu menjilat, menjolok ke dalam, memain-mainkan klitoris; untuk urusan jilat-menjilat kemaluan wanita, rupanya orang ini sudah ahli.  Terbukti dari reaksi yang ditunjukkan Citra.  Kakak ipar Tia itu tak henti-hentinya merintih dan mendesah karena kenikmatan, kedua tangannya mencengkeram hampir menjambak kepala Pak Bernardus, wajahnya yang bermake-up tebal tampak sangat mesum dan bernafsu.

“Aah… emm.. uh… enak banget Om… aduh gila… Omm… terusshh…” bibir merah Citra gelagapan meracau.

Tidak hanya Citra.  Di luar, Tia ikut terangsang.  Khayalannya mulai liar.  Dia tidak lagi melihat Citra dioral oleh Pak Bernardus.  Malah dia membayangkan dirinyalah yang sedang dikangkangi Citra, didominasi oleh kakak iparnya yang binal itu, dan sebagai budak yang patuh dia harus menuruti, kalau tidak, Citra akan menghukumnya dengan berbagai siksaan.  Makin gencarlah masturbasi Tia karena khayalan tadi, dia membayangkan ditundukkan oleh Citra, digerayangi, dikemplangi, mukanya diduduki dan dipaksa makan memek…

“Aughhh!!” Terdengar jeritan erotis dari Citra yang takluk, jurus-jurus silat lidah Pak Bernardus membuat si pemilik salon yang seksi itu orgasme sampai kelojotan.  Tidak tanggung-tanggung, yang dialami Citra bukan orgasme biasa, tapi dia sampai memuncratkan cairan dari kemaluannya yang lantas membasahi muka Pak Bernardus.

 

*****

 

Citra ambruk ke belakang, terkapar di atas tubuh Bernard, gemetar dan terengah-engah.

“Haduh… ampun Om… gila enak banget tadih…” Citra harus mengakui keahlian Bernard.  Bernard senyum-senyum sambil mengingatkan, “Yo wis, gantian, Om udah bikin kamu merem melek tadi, sekarang giliran anunya Om masuk sono ya Cit?”

Kepala Citra bersandar di paha kanan Bernard, rambutnya yang tergerai menutupi penis Bernard yang sedari tadi tidak ada yang mengurusi.  Citra mengelus-elus batang yang tegang itu, menciumnya, lalu bangun dari ranjang.  Dia mengambil sesuatu dari laci meja yang ada di dalam ruangan itu, ternyata sebungkus kondom.  Dibukanya bungkus kondom itu, lalu dengan profesionalnya dia pasangkan kondom itu ke burung Bernard.  Dengan memakai mulutnya, tentu saja. Bernard tidak berubah posisi, tetap telentang.  Citra kembali naik ke ranjang dan mengangkangi tubuh Bernard, kali ini di selangkangan, bermaksud bersetubuh dengan posisi perempuan di atas.  Sambil memasukkan penis Bernard ke vaginanya, Citra memanggil Widy, “Wid, ayo ikutan.”

 

“Om aku mau juga dong dijilmek kayak Mbak Citra tadi…” pinta Widy.  Bernard oke-oke saja, dan Widy pun ikut naik ke ranjang setelah melepas semua pakaiannya, mengangkangi muka Bernard tapi dengan arah berkebalikan dengan posisi Citra tadi sehingga dia berhadapan dengan Citra yang mulai bergerak naik-turun menunggangi kemaluan Bernard.  Sambil tertawa-tawa kegelian merasakan hidung dan bibir Bernard bermain di daerah pribadinya, Widy mengedip genit ke arah bosnya, Citra.  Citra tersenyum mesem melihat asistennya yang keganjenan itu, lalu memberi ciuman bibir yang hangat kepada Widy. Berbeda dengan mulut dan lidahnya, penis Bernard tidak istimewa, apalagi untuk Citra yang sudah pernah merasakan berbagai bentuk, warna, dan ukuran alat kelamin laki-laki.  Makanya dia bersetubuh dengan Bernard hanya demi formalitas saja, dan mencari kenikmatan pribadi dari Widy.  Sambil menindih Bernard di bawah, kedua pekerja salon itu saling cium dan pagut.  Citra meremas-remas dada Widy yang tak bisa ditandingi payudaranya sendiri itu dengan gemas, seolah iri dengan kelebihan Widy itu.  Dari bawah, tangan Bernard juga ikut main.  Widy yang memang mudah kegelian lebih banyak tertawa menanggapi serbuan cabul dari bawah dan depan.

 

*****

 

Semua itu terus diperhatikan dari celah tirai oleh Tia, yang sampai terduduk karena tak kuat menahan gelora nafsu.  Tia sudah tidak memperhatikan betapa tak senonoh posisi tubuhnya sekarang: duduk mengangkang dengan daster tersingkap dan celana dalam basah akibat kemaluannya terus-menerus dirangsang sendiri.  Makin lama Tia mengintip, makin ingin Tia masuk dan ikut dalam permainan tiga orang di dalam.  Dan di antara mereka bertiga, Tia ternyata jadi paling ingin menggumuli kakak iparnya, Citra.  Melihat apa yang sedang Citra perbuat, Tia jadi ingin dibegitukan juga oleh kakak iparnya: merasakan bibir merah Citra melumat bibirnya, merasakan kuku-kuku Citra mencengkeram buah dadanya.  Citra memang cukup terbuka dalam orientasi seksual, umumnya dia suka laki-laki, tapi Citra tidak segan mencoba pengalaman dengan perempuan juga.  Sedangkan Tia selama ini merasa dirinya biasa-biasa saja, belum pernah mencoba mencari tahu apakah tidak hanya laki-laki saja yang bisa membangkitkan gairahnya.

“…agh… ahm… mm… mmm…” Tahu dirinya tak seharusnya berada di sana, Tia berusaha keras meredam suara-suara penuh nafsu yang lolos dari mulutnya dengan cara menggigit ujung dasternya.  Tentu saja tindakannya itu membuat posisinya tambah vulgar, karena celana dalamnya dan perutnya jadi terungkap.  Tia tak peduli, yang menguasai dirinya hanya kenikmatan dan fantasi.  Akhirnya sampai juga dia ke klimaks.

“MmMMmmMMm!”

 

*****

 

Pada saat yang hampir bersamaan, Bernard juga mencapai orgasme, dia ejakulasi di dalam kondom yang membungkus penisnya ketika sedang berada di dalam Citra.  Sebelumnya lidah sakti Bernard sudah membuat Widy klimaks sehingga si ahli pijat berdada subur itu terhempas ke depan, sepasang payudaranya menimpa perut Bernard. Citra tersenyum puas.  Sepanjang hidupnya dia mencari kenikmatan demi kenikmatan, dan menurutnya cara hidupnya sekarang sebagai seorang pelacur berkedok pemilik salon sudah nyaman.  Bernard hanyalah satu dari banyak laki-laki hidung belang, tidak semuanya bisa memberikan kenikmatan fisik kepadanya karena banyak juga yang ukuran alat kelaminnya kecil, atau ejakulasi dini, atau memang tidak becus saja.  Tapi yang jelas semuanya memberikan kenikmatan dalam bentuk lain, berupa penghasilan dan rasa kagum mereka terhadap dirinya.  Citra bukan orang yang bisa betah dengan satu pasangan saja untuk waktu lama, jadi dia tak mempermasalahkan suaminya yang kabur.  Yang dia inginkan sekarang hanyalah menjalani kehidupan, sambil menyambar kenikmatan yang bisa didapat. Pengamatan Citra cukup jeli.  Dia bukannya tidak tahu ada orang sedang mengintip kegiatannya dengan Widy dan Bernard.  Dia melihat kelebatan tubuh orang yang bergegas berdiri lalu pergi menjauhi tirai.  Dia tahu itu Tia, dan dia bisa mengira sedang apa Tia di sana. Beberapa hari lalu, ketika Mang Enjup dan rombongan mampir untuk memakai jasanya, Citra sedikit-sedikit memancing informasi dari mereka, dan meski Mang Enjup tidak banyak mengungkapkannya, Citra bisa menduga apa yang baru saja terjadi.  Sejak saat itu Citra dilanda perasaan aneh, seolah-olah dia jadi partner tak langsung Mang Enjup dalam mengubah penampilan dan kepribadian Tia.  Tapi dia menganggap, pada akhirnya yang menentukan adalah Tia sendiri, apakah dia mau menerima perubahan itu atau tidak.  Citra tak mau menghakimi.  Dia sudah kenyang dihakimi.

 

*****

 

Tia pulang dengan perasaan campur-aduk.  Setelah tadi mengintip dan terangsang sampai orgasme, Tia tidak berani lama-lama, dan langsung bergegas meninggalkan salon Citra sebelum kepergok.  Walau kakinya masih lemas, dia merasa tak enak kalau sampai ketahuan ngintip.  Kepalanya masih penuh dengan pertanyaan.  Siapa sebenarnya Pak Bernardus?  Mengapa dia bisa sampai berhubungan seks dengan Citra dan Widy?  Apa sebenarnya yang selama ini dilakukan Citra?

Bagi Tia, hari itu benar-benar penuh kejadian.

SMS masuk ke HP Tia. Dari Bram.

“Yang, aku sudah di jalan, ya.”

 *****

TAMAT BAB 3.

 LANJUT?
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di
sini

Read Full Post »

SINOPSIS

Setelah menemukan foto PSK di HP suaminya, Tia memutuskan untuk mencoba ganti penampilan jadi lebih seksi supaya suaminya, Bram, tak lagi perlu jajan.  Setelah percobaan pertama, Tia mulai rutin mengubah penampilannya demi Bram, tapi dia masih belum terbiasa.  Suatu hari, ketika Bram pulang diantarkan rekan-rekan kerjanya…

Story codes

M+/F, anal, DP, fetish, humiliation, mindcontrol, reluctant, slutwife, verbal abuse

DISCLAIMER

  • Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
  • Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
  • Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
  • Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu.  Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
  • Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 157 pengikut lainnya.