Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Karya Naga Langit’ Kategori

Si Vis Pacem Para Bellum

Cappuccinno instant kusesap seujung bibir. Mataku menatap jemu pada layar komputer yang masih kosong. Si upin , kucingku , berlarian kesana kemari , mengejar sesuatu -entah apa- di lantai. Belum pernah aku seragu ini dalam menulis , padahal serangkaian ide cerita telah memenuhi otakku. Berkali kali jariku menyentuh keyboard , namun tak satupun huruf yang berhasil kuketik. Dengan kesal kubawa gelasku menuju jendela , dan duduk di sana. Hujan turun deras sekali. Gelap datang lebih cepat dari seharusnya. Genangan air di depan rumahku , sedikit demi sedikit terus meninggi. Jika hujan tidak juga reda , setidaknya dalam satu jam ke depan , maka di depan rumahku akan muncul sungai dadakan. Si upin ikut ikutan duduk di bawah jendela. Mungkin sudah berlari atau penasaran melihat kegundahanku. Kepalanya mendongak seolah bertanya ada apa. Aku hendak bercerita tentang wanita cantik. Public figure. Namanya terkenal dan aku yakin banyak penggemarnya. Dulu sekali aku pernah mengenalnya , saat dia belum sepopuler sekarang. Mungkin sekarang dia tak mau repot –repot mengingat siapa aku. Tapi aku tak akan pernah melupakannya. Aku tak akan pernah lupa jika dia pernah membuatku kehilangan pekerjaan. Dari situlah keragu-raguanku muncul. Aku tak mau orang mengira tulisan ini dibuat atas dasar dendam dan sakit hati. Well, mungkin sedikit ada unsur itu , tapi bukan menjadi alasan utama. Ada pesan yang lebih besar yang ingin kusampaikan melalui tulisan ini. Di sisi lain , aku juga tak mau dianggap sebagai seorang penggemar yang obsesif. Seseorang yang tak mampu menyentuh idolanya , lalu menyalurkan khayalannya dengan sebuah cerita mesum. Sebuah  Fan fiction. Kuteguk cappuccinoku yang mulai mendingin. Si upin sudah berkeliaran lagi mencari apapun yang tadi dikejarnya. Seorang lelaki tua terbungkus jas hujan melintas di depan rumahku sambil mendorong motor. Ia celingak celinguk , sepertinya mencari tempat berteduh atau mungkin juga bengkel. Aku tersenyum hambar. Gara gara kisahBB, setiap kali melihat lelaki tua macam itu, pikiranku langsung ngeres. Terbayang olehku, sesampainya di rumah, lelaki itu disambut oleh wanita cantik  -Eliza atau Andani Citra- melayaninya, menghangatkannya luar dalam seperti dalam film-film JAV keluaran Glory Quest. (lebih…)

Read Full Post »

Blacknote Interlude

APA ITU INTERLUDE:

Blacknote interlude adalah ‘jalan samping’ dari Blacknote regular. Bedanya adalah , dalam interlude , cerita akan lebih difokuskan pada latar belakang di balik kejadian pada cerita regular termasuk asal usul Blacknote dan siapa itu Joker. Sengaja dipisah , agar tidak terkesan ngelantur dan dipanjang panjang seperti kisah sinetron. Smentara cerita regular , lebih berfokus pada penggunaan Blacknote dan korbannya.. Interlude adalah penggabungan antara cerita Mantrakala dan Seratjiwa , yang tadinya dibuat terpisah . tujuannya agar lebih efisien. So , guys and gals , I hope you enjoy the story. (lebih…)

Read Full Post »

Black Note 4

Farrah Quinn

Farrah Quinn

Grill chicken al horno. Masakan lezat terbuat dari fillet ayam yang dipanggang dan dicampur dengan white wine ataupun lemon. Dari aromanya saja , kelezatannya sudah terbayang dan memancing selera makan. Apalagi jika yang membuatnya adalah chef Farrah Quinn yang bukan hanya jago memasak , tapi juga mempunyai body yang indah dipandang. Dan meskipun Farah membuat masakan ini dengan wajah ditekuk dan cemberut , namun tetap tak mengurangi kelezatan masakannya. Padepokan Satrialoka adalah  tempat Farah Quinn berada sekarang. Di dapurnya yang mewah, bersih dan lengkap, Farah menyiapkan makanan yang diinginkan sang pemilik padepokan ini untuk menjamu makan malam dua tamu ‘istimewanya’. Padepokan Satrialoka resminya adalah sebuah perguruan silat tenaga dalam yang dipimpin oleh seseorang yang menamakan dirinya Datuk Banteng, entah siapa nama aslinya tak ada seorangpun yang tahu. Belakangan padepokan ini berkembang bukan hanya menjadi tempat latihan silat, tetapi juga membuka klinik pengobatan alternatif dan beberapa bisnis publik seperti perkebunan, perdagangan, dll. (lebih…)

Read Full Post »

STANDARD DISCLAIMER

  • Cerita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat konsensual dan non-konsensual (normal ataupun paksaan). Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal-hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Masih banyak cerita yang ditulis penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.
  • Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak pernah dan tidak akan pernah menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Kalau anda mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan silahkan hubungi dokter dan jangan membaca cerita ini lagi sampai sembuh.
  • Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu. Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini.

Copyright (c) 2009

Naga Langit & Pujangga Binal Production

***___***

Langsung dari studio satu KBB – TV,

Naga Langit dan Pujangga Binal mempersembahkan :

D4RK S1M0NE 1.0 : “Breaking (The) News (Anchor)”

PROLOG

Sinar bulan yang kejam dan dingin menembus malu mendesak sela korden yang malas ditutup di sebuah ruang besar yang berantakan. Kertas bertebaran di meja dan kursi, notebook terbaru yang berharga mahal dibiarkan teronggok menyala di atas meja, layar tipisnya masih membuka halaman situs KisahBB. Gambar wanita cantik setengah telanjang terpampang di kalender besar yang mencuri perhatian di dinding. Guci raksasa yang menggambarkan gadis oriental yang sedang mandi di pinggir sungai teronggok di sudut ruangan tanpa tersentuh, bunga yang terbuat dari kerajinan yang dipasang di dalamnya sudah lama sekali tidak pernah dibersihkan sehingga menjadi sarang laba – laba. Televisi flat 41” menyala dengan suara stereo yang berbingar di sudut lain. Seorang pria bertubuh gempal berkepala gundul tertawa terbahak – bahak sambil menuding ke layar televisi yang sangat lebar. Perutnya yang menggelambir bergoyang – goyang tak terhenti ketika ia tertawa terpingkal – pingkal. Kepala gundulnya mengingatkan orang pada om – om genit yang sering berburu ABG di mal – mal. Kursi yang ia duduki berukuran kecil sehingga hampir tak mampu memuat ukuran pantatnya yang lebih besar dari rata – rata.

“Bwahahahaha… lihat itu… hahahaha… lucu sekali… hahahaha…. Hei, itu lucu kan…??” tanya pria gemuk gundul itu kepada dua orang yang berdiri di belakangnya. Dari posisi berdiri mereka yang kaku dan tanpa ekspresi bisa dikenali kalau kedua orang tersebut adalah dua orang bodyguard atau pengawal si pria gundul. Mereka saling berpandangan ketika sang bos bertanya pada mereka.

“I.. iya bos, lucu… lucu… hehehe…” jawab bodyguard di sebelah kiri.

“Lucu sekali bos, betul…” jawab bodyguard di sebelah kanan.

 

Kedua bodyguard itu mengeluarkan suara tawa penuh paksaan yang tidak enak didengar, tentunya hanya untuk membuat sang bos senang. Sang bos mendengus dengan kesal melihat kedua bawahannya berekspresi terpaksa. Dengan keluhan panjang sang bos duduk di kursinya yang sempit untuk kembali menyaksikan acara yang sedang berlangsung di layar TV. Sekali lagi ia tertawa terbahak – bahak, kedua bodyguard di belakangnya saling bertatapan dan hanya bisa menggelengkan kepala satu sama lain karena tidak tahu apa sebenarnya yang sedang ditertawakan oleh sang bos. Bos itu bernama Viktor Giyono atau lebih akrab disapa Bos Gion. Salah satu dari jajaran konglomerat tersukses di Asia dan tentunya merupakan salah satu nama yang cukup disegani di Indonesia, Bos Gion sudah delapan tahun terakhir menduduki peringkat prestisius orang – orang terkaya di Asia versi majalah terkemuka dari Amerika. Bisnisnya berderet mulai dari yang legal seperti ekspor impor barang tambang hingga ilegal seperti judi dan prostitusi, tentu saja pendapatan terbesar justru didapatkannya dari bisnis ilegalnya. Walaupun sudah beberapa kali berurusan dengan polisi karena bisnis ilegal yang ia jalankan, Bos Gion selalu bisa meloloskan diri dari jeratan hukum dengan hebatnya. Ia tak pernah sekalipun ditahan, kemampuannya mengucurkan ‘negosiasi yang bisa disetujui pihak berwajib’ membuatnya melenggang santai di bawah hidung aparat. Bos Gion memiliki dua pengawal yang setia, mereka adalah dua tangan kanan yang sangat dipercayainya. Nama mereka Jack dan Jim, tapi jangan bayangkan mereka sebagai orang bule berkulit putih bermata biru. Jack bernama asli Rojak dan Jim sebenarnya dilahirkan dengan nama Kosim. Keduanya berperawakan tegap dan kekar dengan wajah keras yang mencerminkan pekerjaan mereka sebagai tukang pukul. Penampilan keduanya begitu menyeramkan sehingga orang akan berpikir ratusan kali sebelum memulai masalah dengan mereka, mendekati keduanya saja pasti akan segan. Hanya karena menganggap nama keduanya terlalu kampungan, Bos Gion merubah nama mereka menjadi Jack dan Jim.

 

Malam itu Jack dan Jim sedang menemani Bos Gion bersantai – santai di ruang keluarga, layaknya seorang konglomerat, Jack dan Jim bukan satu – satunya sekuritas di rumah Bos Gion karena rumah ini dipenuhi barang mewah dan antik yang harganya bisa lebih mahal dari satu unit rumah sederhana. Bos Gion masih terus asyik menyaksikan acara TV yang ia tonton sambil sesekali tertawa. Anehnya, acara yang ia tonton sebenarnya bukanlah pertunjukan lawak ataupun film komedi, malah sebenarnya Bos Gion tengah menyaksikan acara talkshow serius… ia sedang menyaksikan acara Apa Kabare Indonesia Malam yang tengah ditayangkan oleh TVSatu. Apa Kabare Indonesia Malam memang menarik untuk disimak, bukan hanya dari topiknya, tapi banyak juga orang yang menyaksikan acara ini hanya untuk melihat sang host – Tina Talisa. Tidak mengherankan tentunya, sebagai Putri Bandung 2002, Putri Jabar 2003 dan finalis Putri Indonesia 2003, kecantikan Tina Talisa tidak perlu diragukan lagi. Tidak hanya cantik, Tina juga dikenal sebagai host yang cerdas. Pertanyaan yang ia lemparkan pada para tamu seringkali tajam dan terkadang menjebak sehingga membuat si tamu kehabisan kata – kata. Bahkan Mantan Gubernur DKI  Sutiyoso yang dikenal jago diplomasi sekalipun tak mampu berbuat banyak saat berhadapan dengan Tina. ‘Korban’ Tina kali ini adalah pakar telematika Roy Suryo. Dicecar banyak pertanyaan tajam terutama soal analisa multimedianya yang terkadang tak pada tempatnya membuat pria berkumis itu gugup, padahal di awal acara ia terlihat sangat percaya diri, sok pintar dan jumawa seakan ia tahu hal – hal teknis yang tidak semua orang tahu. Namun ‘harga diri’ Roy Suryo pun semakin berantakan ketika saat ditanya soal analisa video Alyssa Subandono – Pasha Ungu yang ternyata salah dan analisa tentang hasil forensik Manohara yang sebenarnya tak terlalu penting untuk dipublikasikan dan tentu saja kasus terakhir saat roy suryo melakukan interupsi yang salah pada sidang perdananya sebagai anggota dewan. Malam itu, Tina Talisa dengan sukses berhasil mempermalukan Roy Suryo, pria yang mengaku dirinya pakar telematika itu terlihat bodoh di depan TV nasional yang disiarkan secara langsung pula! Hal itulah yang membuat Bos Gion tertawa terbahak – bahak.

 

“Baik, Bung Roy, tahan dulu jawaban anda karena kita harus jeda dulu. Pemirsa jangan kemana mana, Apa Kabare Indonesia Malam akan segera kembali……,” kata Tina menutup sesi perbicangan dengan Roy Suryo.

Merah muka Roy Suryo, hatinya pun panas karena pertanyaan – pertanyaan dari Tina yang menyudutkan dan mempertanyakan intelegensianya. Jeda iklan menyelamatkan mukanya untuk beberapa menit. Ketika iklan pertama muncul, telepon genggam Bos Gion bergoyang dan berdering di atas meja. Laki – laki gempal itu mengambil telepon genggamnya, memeriksa ID dan mendengus geli sebelum memencet tombol jawab. “Halo, Bung Roy! Hahahaha… gimana kabar situ…? What this is? You rock! Hahahaha… Ya, tentu saja I nonton… Ayolah, you are so entertaining, lebih menghibur dari lenong Betawi, hahahaha… besok bikin acara talkshow sendiri aja nyaingin Tukul. Hahahahaha… apa…? Hahahahaha… makanya, jauh – jauh hari I kan sudah peringatin you sebelum tampil, hati – hati sama cewek satu itu. Tina Talisa itu bukan host sembarangan. Hahahaha… hm? Apa?!” mimik wajah Bos Gion berubah seketika, yang tadinya becanda menjadi serius. “Ah! Yang benar aja… I sedang tidak mood untuk… ah, you bercanda nih. Hmm? You serius? Hmm… ya… ya, I dengerin…”

Bos Gion makin tenggelam dalam keseriusan.

“Ok, I understand. Hmm… you yakin gak nih? I gak mau kalau rencana ini dijalankan cuma gara – gara you kesal sesaat sama Tina….. Apa?! Bukan…, bukan begitu, masalahnya target kita kan biasanya selebritis, kita belum pernah… Hei!!! Jaga omongan you!!!” nada bicara Bos Gion mendadak meninggi, emosinya mulai naik. “I tidak pernah takut sama siapapun! I justru gak mau you bertindak bodoh! Sudah sering you bikin repot, I gak mau kita gegabah dan menggagalkan operasi yang sudah kita… ok ok… I tahu, makanya… ok ok… kalau gitu I tunggu perkembangan selanjutnya. Just don’t do something stupid that we will both regret, ok?”

 

Bos Gion menutup pembicaraannya. Ia meletakkan handphone di meja kecil di samping dan menghenyakkan tubuh pada sandaran sofa yang empuk. Matanya menerawang jauh dan pikirannya melayang memikirkan rencana yang disampaikan Roy tadi. Ketika sedang berpikir keras seperti ini, Bos Gion biasanya membutuhkan minuman untuk stimulan…

“Afifa!!! Mana minuman Oom? Cepat bawa kemari..!!!” teriak Bos Gion dengan galak.

“I – iya, Oom. Sebentar Afifa siapkan…” terdengar jawaban samar dari arah ruangan kecil mirip bar yang tidak jauh sofa dan TV.

Tak seberapa lama kemudian, seorang wanita muda yang cantik muncul membawa baki berisi sebotol Scotch dan satu gelas es batu yang juga sudah dituangi minuman tersebut. Jika ada orang yang mengenal wanita itu pastinya akan mengerutkan kening keheranan. Gadis belia itu adalah Afifa Shahira, seorang artis muda yang sedang naik daun dan laris manis bermain sinetron. Karena itu sungguh aneh jika saat ini, Afifa mendadak menjadi pelayan di rumah mewah milik Bos Gion. Afifa berjalan dengan gugup dan risih, wajahnya memperlihatkan kegalauan luar biasa. Ia tak bisa berjalan dengan nyaman dan lepas karena sejak masuk ruangan terus menerus diamati oleh tiga orang pria yang seakan – akan ingin menelan tubuhnya bulat – bulat. Busana Afifa malam itu memang tergolong seksi dan jauh di luar kebiasaannya mengenakan pakaian. Afifa memakai kostum maid warna pink dengan rumbai rumbai seksi. Bagaian bawahnya terlalu tinggi di atas lutut sementara bagian atasnya membuka memperlihatkan kemulusan kedua bahunya serta memberi sedikit intipan di bagian dada. Dalam keadaan normal, Afifa pastinya tak akan mau melakukan hal seperti ini, apalagi harus memakai pakaian seksi sevulgar yang ia kenakan saat ini. Sayangnya ia dijebak dalam sebuah konspirasi busuk yang membuatnya rela menjadi ‘mainan’ Bos Gion.

“I – ini Oom, minumannya….” Afifa membungkuk di depan meja untuk meletakkan baki yang ia bawa. Dengan posisi seperti itu, Afifa sadar jika tubuhnya menjadi tontonan. Buah dadanya akan terlihat oleh Bos Gion yang berada di hadapannya, sementara pantatnya menjadi tontonan gratis bagi Jack dan Jim yang berdiri tepat di belakangnya. Hal ini membuat hati gadis muda itu seperti teriris namun tak berdaya untuk menahan malunya.

 

Bos Gion mengambil gelas dan menyeruput sedikit minumannya. Matanya tiba – tiba mendelik dan menatap Afifa dengan pandangan yang sangat galak.

“Apa – apaan ini…???” tanya Bos Gion sambil memuntahkan minumannya.

“Eh… mmm, itu Scotch, Oom…” jawab Afifa cemas.

“Goblok…!!!” maki Bos Gion.

Plak!! Tangan besar pria gemuk itu mendarat di pipi mulus Afifa.

Gadis belia itu langsung menjerit kesakitan. “Aawww!!!” tubuhnya terjengkang dan jatuh ke lantai, ia pun mulai menangis sambil mengusap pipinya yang terasa sakit dan panas.

“Dasar goblok…!!!” teriak Bos Gion sambil menumpahkan scotch dalam gelas di atas kepala Afifa. “Sudah sering Oom bilang! Kalo yang namanya scotch itu Jangan pake es! JANGAN PAKE ES!! HARUS DIULANGI BERAPA KALI LAGI SUPAYA KAMU NGERTI?!!”

“Aaahhhh!!! Ahhhh!!! Ja – jangan Oom… auuuughhh… ampuuun….”

“Tidak ada ampun! Kamu harus dihukum!!!” Bos Gion menarik tangan Afifa dengan kasar dan menelungkupkan tubuh gadis jelita itu di atas pangkuannya.

Afifa memberontak tapi tak berdaya. Wajahnya yang ketakutan justru menjadi hiburan bagi lelaki gemuk yang kini menguasai tubuhnya.

“Oom…!! Jangan Oom… jangan… ampuun… jangan Oom… jangan…!!”

“Sudah bodoh banyak bacot pula! Shut the hell up!!”

Bos Gion menahan tubuh Afifa dengan tangan kirinya sehingga gadis muda yang cantik itu tak bisa banyak bergerak sementara tangan kanannya dengan sigap menyingkap bawahan rok Afifa dan dilanjutkan menurunkan celana dalamnya.

“Hehehe… anak nakal harus dihukum… hehehe…” kata Bos Gion sambil mengusap – usap pantat mulus Afifa. Wajah mesumnya makin kentara saat pantat mulus Afifa terbuka lebar.

 

“Ngggghhh!!! Nggak mau Oom… jangaaaan… saya mohon… sakit Oom… sakit… jangan… jang… aaaawwwww…!!!”

Kalimat Afifa yang bergetar berubah menjadi jeritan saat Bos Gion mulai menampari bulatan indah pantat Afifa. Tak ada yang bisa dilakukan gadis muda yang cantik itu selain menjerit dan menangis. Pantatnya yang mulus putih bersih mulai memerah setelah ditampar berkali – kali. Entah berapa lama Bos Gion memukuli pantat Afifa, namun bagi gadis itu rasanya lama sekali. Afifa akhirnya bisa bernafas lega saat pada akhirnya tubuhnya dihempaskan Bos Gion di atas sofa panjang yang empuk. Dalam hatinya, Afifa tahu kalau mimpi buruknya belumlah berakhir. Perasaan Afifa ada benarnya, tak lama setelah melempar tubuh Afifa ke atas sofa, Bos Gion melambaikan tangan supaya Jack dan Jim mendekat.

Bos Gion menyeringai sadis. “Nah, anak nakal. Sebagai hukumannya… kamu harus melayani kedua rekanku ini sampai puas!!” kata pria gemuk itu sambil menepuk pundak kedua tukang pukulnya yang langsung tersenyum – senyum girang karena mendapat jatah selebritis muda yang aduhai.

“A – apa?!” Afifa melotot dan menggelengkan kepala, air matanya menetes makin deras. Ia langsung bangkit dan mencoba berdiri. “Tidak Oom, saya nggak mau… jangan… jangan mereka Oom… saya mohon… Oom… jangan…”

Selama menjadi budak Bos Gion, Afifa memang belum pernah melayani Jack dan Jim namun ia pernah melihat bagaimana kasarnya permainan seks mereka berdua ketika sedang menggumuli wanita – wanita malang yang juga jadi korban kelicikan Bos Gion, tidak sedikit wanita bahkan pingsan setelah diperkosa dan disiksa Jack dan Jim semalam suntuk.

“Oom, jangan mereka Oom… saya layani Oom saja… apa yang Oom mau saya kerjakan, tapi jangan serahkan saya pada mereka, Oom… saya mohon…”

Afifa merengek – rengek agar tidak diberikan pada kedua bodyguard Bos Gion, tapi pria gemuk itu tidak bicara apa – apa lagi, sekali lagi ia mengayunkan tangan pada Jack dan Jim agar membawa Afifa pergi. Dua pria yang sudah tidak tahan lagi pada nafsu mereka itu segera menangkap lengan sang gadis muda yang molek dan menyeretnya ke lantai atas.

 

“Ooom!!! Saya mohon… Oom!! Oom!!! Jangaaaan!!! Saya tidak mauuuu!! Jangaaaan!!! Aawwww…!!!”

Ketiga orang itu akhirnya meninggalkan ruangan tempat Bos Gion masih duduk menikmati acara Apa Kabare Indonesia Malam. Mereka naik ke tangga dan tak terlihat lagi saat mencapai lantai atas. Meskipun demikian, jeritan Afifa yang minta ampun masih sangat jelas terdengar, seolah – olah gadis itu menghabiskan seluruh energinya untuk menjerit sekeras – kerasnya, sejadi – jadinya. Bos Gion memejamkan mata. Ia menikmati setiap detik rengekan dan jeritan memilukan dari lantai atas tempat kedua tukang pukulnya menikmati tubuh Afifa. Tak ada suara yang lebih indah bagi telinga pria gemuk yang sadis itu, selain suara jeritan penuh penderitaan dari seorang wanita yang sedang diperkosa. Beberapa saat kemudian Bos Gion membuka mata, ia mengambil remote TV dan mengeraskan volumenya. Suara TV beradu keras dengan jeritan melolong dari lantai atas. Tak ada masalah bagi Bos Gion untuk memusatkan perhatian. Ia membuka kotak di meja yang ada di samping, mengambil sebatang cerutu panjang, menyalakannya dan menghisapnya dengan penuh kenikmatan. Ia kembali berkonsentrasi ke layar kaca. Apa Kabare Indonesia Malam masih berlangsung, namun bintang tamunya sudah berganti, bukan lagi Roy Suryo yang malu semalu – malunya. Mata pria gemuk itu nyaris tak berkedip terus memandangi sang pembawa acara yang molek.

“Hmm… Tina Talisa.” Mata Bos Gion mengerjap sesaat dan mulutnya yang bercerutu menyunggingkan senyum penuh misteri. “Not bad… not bad at all…” Pria gemuk itu terus menatap layar kaca, sembari mengusap – usap penisnya yang tersayang.

***___***

Tina Talisa

Tina Talisa

Divisi pemberitaan TVSatu, layaknya sebuah kantor redaksi berita, selalu terlihat sibuk dan dinamis. Aktivitasnya nyaris tak pernah sepi apalagi berhenti. Berita baru selalu muncul hampir di setiap detik – dan bagaikan makanan – berita akan menjadi basi, jika terlambat disajikan. Di salah satu cubicle, Tina Talisa tengah sibuk di depan komputer, menyusun materi berita untuk tayangan siang. Malam ini dia tidak akan menjadi host Apa Kabare Indonesia Malam karena berganti giliran dengan rekannya, Rahma Sarita. Meski begitu, bukan berarti Tina bisa bersantai karena dia juga menjabat sebagai produser beberapa acara berita dan harus terus mengirim supply bahan yang up to date.

“Tin, ini update terbaru dari kasus Noordin M Top…”

“Oya, makasih, Don.” Tina menerima beberapa file dan dua rekaman video dari rekannya. “Gimana kabar dari Kapolri? Ada perkembangan?”

“Hm, katanya sih besok ada press conference, tapi masih harus diconfirm ulang. Belum ada kepastian sih…”

“Oke deh kalo gitu… thanks filenya, ya.”

Tina memeriksa sekilas file yang baru saja diterimanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, telepon genggam Tina berbunyi. Karena sedang asyik dengan pekerjaannya, ia membiarkan sejenak telepon genggamnya bergetar sebelum akhirnya ia jawab juga.

“Halo?” sapa Tina sambil mengetuk – ngetuk pena di atas meja. “Oya. Mas Andi, apa kabar? Ya… ya… memang sih… jadi gimana…? Oh ya? Beneran lho… ya confirm kalo gitu… oke, jam tujuh pagi hari kamis. Oke… terima kasih banyak Mas Andi. Iya… sama – sama…”

 

Wanita cantik itu menutup telepon genggamnya lalu berdiri. Matanya menjelajah ruangan, mencari – cari rekannya, Indy Rahmawati.

“Indy… Indy…!” Tina memanggilnya sambil bertepuk tangan. Yang dipanggil mendengar teriakan Tina dan menoleh.

“Apa, Tin?”

“Confirm kamis jam tujuh pagi. Wawancara eksklusif SBY – Boediono di Cikeas.”

Indy tersenyum sambil mengacungkan dua jempol. Tina membalasnya dengan isyarat OK.

Tina duduk kembali di kursinya, ia sedang berusaha mencoba mengingat kembali rangkaian berita yang sudah ia ketik ketika ia dikagetkan oleh seseorang yang masuk cubiclenya.

“Selamat pagi, Bu. Ibu mau minum kopi?” seorang OB bernama Maman tiba – tiba sudah berada di samping Tina.

“Eh, iya…” Tina sedikit kaget. OB yang satu ini memang agak aneh dan sering muncul tiba – tiba tanpa suara, lama – lama kok jadi mirip hantu saja. “Kopi susu ya, jangan terlalu manis.”

“Baik, Bu. Permisi…” Maman pun berlalu dan Tina kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Ketika sedang sibuk dengan pekerjaannya, muncul sebuah pesan di layar komputernya.

‘YOU’VE GOT MAIL.’

“Aduh… siapa lagi sih ini?” batin Tina yang terpaksa menghentikan pekerjaannya untuk yang kesekian kali dan membuka email. Ia berharap ini benar – benar satu email yang sangat penting sehingga ia tidak rugi meninggalkan pekerjaannya sebentar.

 

Kening wanita cantik itu langsung berkerut heran saat melihat email yang baru saja masuk. Nama pengirim dan subjeknya aneh sekali. Pengirimnya adalah ‘d4rk – s1m0ne’ dengan subjek: ‘Tina Talisa, buka segera email ini atau anda akan menyesal.’ Tina menjadi ragu untuk membuka email tersebut, ia bukan takut pada subjek email yang bernada mengancam, ia bukan wanita yang selemah itu. Ia hanya khawatir seandainya email ini berisi spam atau virus yang akan berkembang ketika ia membuka email. Di sisi lain, ia juga penasaran dengan isi email tersebut. Alamat email yang ia pakai adalah email pribadi, bukan email yang ia buka untuk khalayak umum, jadi tidak setiap orang tahu….Setelah berpikir agak lama, Tina memutuskan untuk mencoba saja membuka email yang aneh itu. Ia terlebih dulu membackup beberapa file penting agar aman dari serangan virus. Usai memindah data, akhirnya Tina membuka email dan keheranannya semakin bertambah. Isi email hanyalah sebuah link download tanpa pesan ataupun keterangan apapun. Link tersebut berekstensi .avi, yang artinya berisi rekaman video. Video apakah gerangan? Tina Talisa mendesah kecewa dan mengetuk meja dengan kesal, daripada terus dirundung rasa penasaran, akhirnya Tina mendownload video tersebut. Ia berharap semoga video ini adalah rekaman eksklusif dari sebuah peristiwa, entah apapun itu. Tina melanjutkan pekerjaannya sementara video ia download. Kurang dari sepuluh menit, video itu telah terdownload utuh. Dengan rasa penasaran yang sangat besar, Tina memutarnya…

“Well, it better be good…” Gumam Tina.

Gambar pertama yang muncul di video tersebut langsung meruntuhkan harapan Tina jika ini adalah sebuah rekaman eksklusif. Dari kualitas gambar jelas sekali jika video ini bukanlah rekaman CCTV, hidden cam ataupun kamera amatir. Gambarnya sangat jelas dan jernih, mirip sebuah film.

 

Scene pertama memperlihatkan sebuah bangunan yang besar dan indah, sepertinya sebuah villa dengan nuansa alam sekitar yang asri dan hijau. Tina tak tahu pasti di mana lokasi villa tersebut, namun ia menduga sepertinya ada di sekitar Puncak atau Cipanas. Scene kemudian berganti dengan gambar interior villa atau lebih spesifiknya adalah sebuah kamar tidur. Di atas ranjang, duduk bersandar dengan santai seorang pria bule bertampang lumayan. Ia hanya mengenakan celana dalam saja dan sedang membuka – buka majalah Populer. Perlahan – lahan, kekecewaan mulai tumbuh di hati Tina. Rekaman video ini sepertinya hanya sebuah film porno biasa yang dikirimkan kepadanya secara iseng oleh entah siapa dan bukanlah sebuah rekaman eksklusif seperti yang ia harapkan. Entah siapa d4rk s1m0ne yang dengan kurang ajar mengirimkan video porno seperti ini dan entah apa tujuannya. Waktunya sudah terbuang percuma, ia kesal sekali. Walaupun begitu, Tina tetap merasa ada sesuatu yang berbeda dari video ini. Batinnya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang menarik dan menghebohkan. Itu sebabnya ia tidak segera menutup video tersebut dan memutuskan untuk menontonnya sampai beberapa menit kemudian.

“Hey, baby. I miss you…” pria bule itu berkata pada seorang wanita bertubuh indah dan memakai lingerie merah menantang.

Tina tidak bisa melihat siapa wanita itu karena membelakangi kamera, namun ia penasaran karena rasa – rasanya ia mengenal sosok perempuan yang ada dalam video, sepertinya wanita lokal. Tak banyak bicara, si wanita dan pria bule lalu bercumbu dengan panasnya, si bule dengan sangat semangat meremas – remas buah dada kenyal sang wanita.

Jengah menyaksikan adegan yang muncul, Tina meraih mouse bermaksud hendak menutup video ketika scenenya mulai mengarah ke adegan yang tak pantas ditonton saat kerja. Tepat sesaat sebelum jarinya meng – klik mouse, Tina Talisa terkesiap dan tertegun. Tangannya gemetar, darahnya terasa membeku, tubuhnya merinding seperti baru tersiram air es. Wajah perempuan dalam video tersebut kini terlihat jelas sekali. Tina sangat mengenal sosok itu…

 

“Gak mungkin… ini… tapi… gak mungkin… ini gak mungkin…” mulut Tina terbuka lebar karena heran, ia menggumam terperangah tak percaya. Tubuhnya bergetar karena takutnya. Ia benar – benar tidak mempercayai ini semua.

Bagaimana tidak, perempuan yang ada dalam video tersebut adalah… Tina Talisa. Ia menyaksikan dirinya sendiri bergumul penuh birahi dengan pria bule yang tak ia kenal, jangankan mengenal ia bahkan belum pernah melihat pria itu seumur hidupnya. Dengan pandangan tak percaya, ia melihat bagaimana dirinya dalam video tersebut mengerang erotis saat buah dadanya terus diremas dan dimainkan, atau bagaimana pula dengan gayanya yang nakal, Tina mengulum dan menjilati batang penis bule tersebut tanpa rasa risih. Tina tentu saja sangat terkejut karena ia memang tak pernah melakukan itu semua, apalagi sampai direkam segala. Si bule yang sedang menggumulinya di dalam video itu pun  baru dilihatnya hari ini. Lantas siapa sebenarnya perempuan yang ada di dalam video tersebut? Penjelasan sementara yang paling masuk akal adalah bahwa perempuan itu hanyalah orang yang mirip dengan dirinya. Tapi Tina tentunya hapal dengan tubuhnya sendiri, semakin diperhatikan semakin sulit disangkal jika perempuan yang ada dalam video tersebut memang benar – benar dirinya, gerakan, bagian tubuh, suara, bahkan hingga lokasi tahi lalat, semua sama. Tapi bagaimana mungkin…

“Kopi susunya, Bu.”

Dengan refleks Tina memencet mouse dan menutup video tersebut. Maman seperti biasa datang secara tiba – tiba tanpa suara, ia muncul di samping Tina sambil membawakan segelas kopi.

“Oh i – iya… taruh aja di m – meja, Man…” Tina agak gugup dan gelisah. Apakah Maman sempat menyaksikan video tadi? Wanita cantik itu berusaha membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh Maman, namun sikap OB itu sepertinya biasa – biasa saja, santai, lurus dan misterius. Tak ada tanda kalau Maman juga baru saja menyaksikan sesuatu yang menghebohkan.

 

“Ibu perlu sesuatu lagi mungkin?” tanya Maman.

“Oh… eng – enggak, Man. Ma – makasih kopinya…”

Maman mengangguk dan kembali ke dapur.

Tina terus menatap Maman hingga pria tersebut menghilang di balik pintu. Sepertinya Maman memang tidak melihat video tadi, setidaknya Tina berharap demikian. Satu hal yang tidak diketahui Tina adalah… sesaat ketika melangkah meninggalkan newsroom, senyum aneh tersungging di wajah sang OB.

Sepeninggal Maman, Tina terhenyak lesu di kursinya. Email aneh yang baru saja diterimanya menimbulkan banyak sekali pertanyaan di benaknya. Siapa sebenarnya ‘Tina Talisa’ dalam video tersebut? Apa maksud semua ini? Siapa itu d4rk s1m0ne?

Pertanyaan – pertanyaan itu baru terjawab beberapa jam kemudian.

***___***

Kota Jakarta. Kota yang selalu identik dengan kemacetan lalu lintas dan hiruk pikuk kendaraan bermotor. Hampir sepanjang hari, jalanan ibukota selalu dipenuhi berbagai jenis kendaraan, asap knalpot yang mengepul tebal, suara bising klakson berbaur dengan caci maki pengemudi yang tak sabaran. Di siang hari, penderitaan para pemakai jalan akan semakin bertambah dengan cuaca panas menyengat yang mampu membuat darah mendidih. Tina dengan resah memandangi jalan di depannya sambil sesekali melirik tak sabar pada jam tangannya. Taksi yang ditumpanginya sebenarnya ber – AC. Namun sepertinya, AC tersebut tak cukup dingin untuk menyejukan Tina. baik secara fisik, hati maupun pikiran.

“Masih jauh ya, Pak?” tanya Tina gelisah.

“Ya, lumayan sih non.” jawab supir taksi, “Gak tahu nih kenapa. Biasanya juga gak separah ini macetnya…”

Tina menghembuskan nafas panjang dan bersandar pada jok belakang dengan kesal. Ia mencoba merilekskan pikiran sambil memejamkan mata. Namun dalam suasana seperti ini, ditambah dengan masalah yang sedang dihadapinya, sulit bagi Tina untuk merasa rileks. Satu jam setelah emailnya yang pertama, ‘d4rk s1m0ne’ kembali mengirimkan email. Kali ini berisi sebuah pesan pendek.

‘Datang sendirian ke Tropicana café jam tiga atau video tadi tersebar di internet.’

Tina semakin bingung dengan pesan tersebut. Sebenarnya siapa dan apa maunya orang ini. Apakah ini berhubungan dengan pemberitaan TVSatu atau hanya sekedar fans yang iseng. Tina tak bisa memastikan. Satu hal yang membuatnya lega adalah orang ini meminta untuk bertemu di tempat ramai. Setidaknya pikir Tina, di tempat yang ramai tentunya orang tersebut tak akan berani melakukan hal yang aneh – aneh.

 

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dan menyiksa, Tina tiba di Tropicana café beberapa menit sebelum pukul tiga. Pengunjungnya sore itu agak ramai juga.

“Selamat sore, selamat datang di Tropicana café. Silahkan….” Seorang waitress cantik membukakan pintu dan menyambut Tina. Anchorwoman yang cantik itu membalasnya dengan tersenyum manis.

Memasuki café, mata Tina langsung menyelidik, ia mulai memperhatikan pengunjung café tersebut satu persatu. Ia tak tahu siapa yang dicarinya karena d4rk s1m0ne tak memberi clue apapun tentang dirinya. Tina hanya berharap ia melihat seseorang yang ia kenal.

“Silahkan mbak. Di sebelah sana masih ada meja kosong…..” kata waitress tadi saat melihat Tina seperti sedang kebingungan.

“Oh… eng – enggak… saya ada janji dengan teman, terima kasih.” Sedikit gugup Tina menjawab karena ia benar – benar tidak tahu siapa yang sebenarnya ia temui. Saat itu pula, matanya melihat sosok yang ia kenal, duduk sendirian di salah satu meja. Sepertinya ia bukanlah orang yang Tina cari. Dia adalah Frida Lidwina, rekan sesama penyiar namun beda stasiun TV. Sebagaimana posisi Tina di TVSatu, Frida adalah newsanchor andalan MeteorTV. Seperti umumnya seorang newsanchor, Frida mempunyai penampilan yang menarik dan kecerdasan yang membanggakan.
Awalnya Tina ragu, apakah akan menyapanya atau tidak. Namun saat melihat wajah cantik Frida yang terlihat gundah, firasat jurnalis Tina mengatakan jika Frida sepertinya menerima email yang sama hari ini. Tina pun memutuskan untuk menghampirinya.

 

“Frida….? Hai, apa kabar?” sapa Tina hangat.

Frida terlihat sedikit terkejut melihat Tina muncul disana, “Eh… T – Tina…., a – a – apa kabar….?” Kegugupan Frida tidak bisa disembunyikan, Tina makin yakin ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah sedikit beramah tamah ala perempuan menanyakan kabar, Tina lalu duduk di depan Frida.

“Frida sendirian?” Tanya Tina.

“Iya. Ehm, ini… baru… nunggu temen….” Ada nada ragu saat Frida menyebut kata ‘temen’. “Kamu juga sendirian, Tin?”

“Iya. Sama juga, ada janji…,” Tina terdiam sejenak, mempertimbangkan sesuatu. Sesaat kemudian, wajahnya berubah serius. Tina melanjutkan, “dengan s1m0ne….”

Tina sengaja menyebut nama tersebut untuk melihat reaksi Frida. Seperti yang diduganya, Frida langsung terkesiap saat mendengar nama tersebut, meski hanya dengan tatapan mata dan ekspresi wajah yang terkejut dan takut.

“Selamat sore. Silahkan menunya, mbak.” seorang waiter datang memberikan sebuah menu pada Tina.

“Saya pesan caramel cappucino saja.” Jawab Tina tanpa mengambil daftar menu yang disodorkan padanya.

Waiter itu menuliskan pesanan Tina dan berlalu.

“Kamu dapat email juga dari ‘d4rk s1m0ne’…???” Tanya Frida dengan suara pelan setengah berbisik.

“Iya… pagi tadi….” Jawab Tina dengan suara yang sama pelannya.

 

Frida Lidwina

Frida Lidwina

Tina lalu tanpa ragu menceritakan tentang isi email yang diterimanya tadi. Setelah itu giliran Frida yang bercerita. Rupanya ia memang mengalami hal yang sama seperti Tina.
Sebuah video dikirim kepadanya via email. Dalam video tersebut, Frida berada di sebuah pantai yang indah entah dimana. Ia sedang asyik berjemur di tepi pantai sambil menyaksikan seorang surfer beraksi. Tak seberapa lama surfer itu menepi. Wajahnya biasa saja namun perawakannya gagah. Rambut sedikit ikal dan kulit gelap karena sering terjemur matahari. Surfer itu lalu menghampiri Frida yang saat itu sendirian dan hanya mengenakan bikini saja. Tanpa banyak bicara sang surfer, menarik lepas tali bikini Frida seluruhnya hingga, si cantik itu telanjang bulat. Lalu tangan sang surfer dengan lincahnya menggelitik vagina Frida, seraya mulutnya menyedot kuat buah dada penyiar jelita tersebut. Frida kelihatan menikmati semua itu, rintihan erotis dan gelinjangan nakal ia lakukan sebagai reaksi dari rangsangan si surfer. Frida bergidik jijik saat mengingat semua adegan tersebut. Seperti halnya Tina, ia sangat shock saat menerima video misterius yang entah darimana datangnya itu. Frida tentunya tak pernah melakukan itu apalagi dengan seorang surfer yang sampai sekarang pun tak ia ketahui siapa. Frida adalah wanita baik – baik, jangan bercinta sembarangan, selingkuh pun tak pernah terlintas dalam benaknya. Jadi siapa sebenarnya ‘Frida Lidwina’ dan ‘Tina Talisa’ yang ada di video tersebut?

“Silahkan pesanannya, satu Caramel Cappuccino.” Sang waiter datang membawa pesanan Tina, kedua wanita cantik itu menghentikan pembicaraan mereka sesaat. Setelah menanyakan kalau kalau Tina atau Frida hendak memesan lagi, sang waiter kembali ke tempatnya semula.

“Menurutmu… siapa si ‘d4rk s1m0ne’ itu? Apa tujuannya memfitnah kita seperti ini?” tanya Tina dengan desahan yang bercampur antara kesal dan bingung.

 

Frida menggeleng dan mengangkat bahu sambil menatap ke arah jendela, wajahnya geram. “Aku juga tidak tahu pasti, tapi yang jelas dia bukan orang yang disiplin dan on time. Sudah hampir setengah jam dia terlambat…”

Tina secara otomatis melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15 : 23. Namun tak ada tanda tanda kemunculan seseorang yang bisa ditenggarai sebagai ‘d4rk s1m0ne’. Pukul 15:36. Seorang pengunjung datang ke café tersebut. Wajahnya sangat dikenal, tak hanya oleh Tina ataupun Frida, tapi juga oleh seluruh pengunjung café tersebut.

“Selamat sore. Selamat datang di Tropicana café, silahkan…..” waitress cantik yang tadi menyambut Tina Talisa kini menyambut sang tamu baru dengan tak kalah ramah.

Orang itu adalah seorang pria pendek berkumis. Matanya jelalatan mencari cari sejenak, lalu tersenyum saat melihat Tina Talisa dan Frida Lidwina duduk di satu meja. Ia lalu menghampiri mereka.

“Hello ladies, selamat sore….” Ia memberi salam dengan gaya tengilnya.

Baik Tina maupun Frida kelihatan terkejut melihat pria ini. Dia adalah ‘pakar telematika’ Indonesia yang malam sebelumnya sempat menjadi bintang tamu di acaranya Tina. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Roy Suryo.

“Mas Roy….???” Tina keheranan.

“Sama siapa, bang?” Frida mencoba menetralkan kejengahannya dan Tina karena  berjumpa Roy Suryo pada situasi seperti ini. Ia hanya berharap Roy Suryo berada di tempat ini karena kebetulan belaka.

“Sendirian.” Kata Roy yang kemudian duduk di kursi yang tersisa di meja Frida dan Tina tanpa diundang. “Kalian cuma berdua aja? Tumben nih akrab…”

“I – iya… tapi kita sedang menunggu seseorang, bang….” Kata Frida. Dari nada bicaranya, Frida menyiratkan jika ia tidak mengharapkan Roy Suryo ikut duduk disana.

 

Roy Sukro

Roy Sukro

“Selamat sore. Silahkan menunya…” Seorang waiter datang ke meja dan dengan sopan memberikan daftar menu pada Roy Suryo.

Roy menerimanya, membacanya dengan cepat lalu mengembalikannya lagi, “ saya minta iced tea saja.”

“Satu iced tea, “ waiter itu menulis pesanannya, “with milk or lemon?”

“Enggak usah, iced tea saja….” Jawab Roy cepat.

“Baik, satu iced tea….. permisi.”

Waiter itu berlalu sambil tersenyum. Ia merasa geli karena orang setenar Roy Suryo, datang ke sebuah café elite, kok pesannya cuma iced tea alias es teh manis.

“Omong – omong kalian baru nungguin siapa nih?” Tanya Roy sambil menyunggingkan senyum manis yang tak manis.

Tina dan Frida saling berpandangan, jelas mereka agak terganggu dengan kemunculan Roy Suryo yang tak mau pergi. Akhirnya Tina memberanikan diri bicara, “Maaf mas ya, bukannya kami gak sopan …..tapi kami ini ada janji dengan seseorang dan….”

“Saya tahu kok.” Roy memotong, “kalian ada janji……dengan ‘d4rk s1m0ne’ kan…???”

Tina Talisa dan Frida Lidwina tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Roy melanjutkan perkataannya, “Mbak Tina dan Mbak Frida yang cantik. Akulah ‘d4rk s1m0ne’”. Kata Roy bangga sambil menepuk dada.

“Anda..???” Mulut Tina terbuka dan matanya terbelalak, ia berada antara marah dan terkejut.

“Ja – jadi Bang Roy adalah….??” Frida hampir terisak, ia sama sekali tak menduga seseorang yang begitu dikenal oleh masyarakat melakukan hal yang sangat cabul dan mesum seperti itu. “Tapi…. tapi… kenapa….??? Teganya Bang Roy…”

Banyak nama yang terlintas di benak Tina maupun Frida saat menduga – duga siapa ‘d4rk s1m0ne’ sebenarnya. Namun nama Roy Suryo sama sekali tak terbayangkan oleh mereka berdua.

 

“Anda benar benar yang membuat video itu….???” Tanya Tina geram.

“Yap. Benar sekali.” jawab Roy santai sambil menyunggingkan senyum yang membuat hati Tina dan Frida semakin panas.

“Tapi…. apa maksud semua ini? Apa untungnya untuk Bang Roy? Kenapa kami? Kenapa saya? Kenapa…” Frida tak bisa meneruskan kalimatnya karena emosi.

Roy tak langsung menjawab karena waiter telah datang membawakan pesanannya, segelas es teh. Ia lalu mengambil es teh itu dan meminumnya seperti orang yang baru saja selesai marathon.

“Jadi apa arti ini semua….??? Jangan berlagak sok!! Jawab pertanyaan kami!!” Tina bertanya dengan emosi.

“What do you think, ladies?” Roy balik bertanya. “menurut kalian apa?”

“Kami… sedang diperas?” Frida bergidik ngeri mempertimbangkan kemungkinan itu. Ia dan Tina saling berpandangan.

Roy membenarkan jawaban tersebut dengan bertepuk tangan dan mengangguk – anggukkan kepala.

“Tapi pemerasan untuk apa? Kami tidak punya apa – apa.” Frida merasa heran. “MeteorTV tidak pernah memberitakan sesuatu hal yang membahayakan anda, begitupun TVSatu setahuku. Kami juga bukan orang yang tepat untuk anda peras seandainya itu yang anda inginkan, karena kami hanyalah pembaca berita dan karyawan.” Tangan Frida gemetar karena emosi, ia berusaha mengatur nafas agar bisa menghadapi Roy dengan kepala dingin. “Menurut saya anda juga tidak sedang dalam posisi bangkrut sehingga harus melakukan semua ini, Bang Roy.”

Kali ini Roy memberikan jempol untuk Frida. Ia membenarkan pernyataan itu.

 

“Lalu… apa tujuan anda, Bang? Cuma iseng?” Frida menatap lekat pria berkumis yang tersenyum mesum di depannya. “Lebih penting lagi, siapa orang – orang yang tampil di video tersebut? Mereka sangat mirip dengan kami hingga ke detail bagian tubuh yang mungkin hanya kami berdua yang tahu. Bagaimana anda bisa melakukannya?”

Dengan senyumnya yang menyebalkan, Roy Suryo mulai angkat bicara. “Ini semua adalah hasil dari d4rk s1m0ne. Program komputer yang dibuat oleh seorang hacker Jepang. S1m0ne sendiri merupakan singkatan dari simulation one. Software ini dapat membuat sebuah digital figure yang kemiripan dengan sosok aslinya hampir mencapai 97%”. Roy Suryo tersenyum menyebalkan. Kemudian, pria yang mulai dibenci oleh Frida dan Tina itu mulai bercerita tentang ‘d4rk s1m0ne’. D4rk s1m0ne adalah sebuah program computer yang dibuat oleh seorang hacker yang juga ahli pembuat software dari Jepang. S1m0ne adalah singkatan dari ‘Simulation One’. Software ini dapat menciptakan sebuah figur digital yang kemiripan dengan figur aslinya hampir mencapai 97 % baik dalam ketepatan fisik ataupun perilaku. Cara kerjanya pun cukup sederhana untuk ukuran seorang programmer yang menguasai sistem pemrograman virtual simulation. Cukup memasukan data – data fisik orang yang diinginkan beserta sample voicenya, lalu biarkan komputer yang mengolah. Output yang akan muncul dari pemrograman ini adalah sosok digital figure yang disebut virtual s1m0ne. Di negara asalnya; Jepang, ‘virtual s1m0ne’ digunakan sebagai ‘peran pengganti’ dari beberapa artis JAV yang sudah berhenti namun masih banyak peminatnya. Hasilnya cukup memuaskan. Tak pernah ada yang tahu atau menyadari jika Mihiro, Maria Ozawa ataupun Sora Aoi yang mereka lihat, bukanlah artis aslinya melainkan hanyalah pertunjukan digital figure atau disebut juga DSF (Digital s1m0ne Features). Versi ‘jahat’ dari DSF disebut dengan julukan gelap yaitu ‘d4rk s1m0ne’. Karena kemampuannya, program ini  bukanlah software yang dijual bebas untuk umum. Maka tentunya hampir tak ada yang tahu tentangnya.

 

Setelah terdiam sejenak mencoba mencerna penjelasan Roy Suryo ( yang penjelasan aslinya lebih panjang dan lebih ruwet daripada tulisan di atas). Akhirnya Tina Talisa buka suara

“Jadi tujuan anda itu apa…..??? Keterangan anda masih belum menjelaskan hubungan semua ini dengan kami!! Kenapa memeras kami? Saya bisa segera menuntut anda ke pengadilan, Bang Roy!”

Roy tidak mengatakan sepatah katapun. Tapi tatapan matanya telah menjadi jawaban. Roy menatap tajam ke arah Frida Lidwina lalu berganti pada Tina Talisa. Arah pandangannya kepada buah dada kedua penyiar cantik tersebut. Tina hari itu memakai blouse yang memang agak mengetat membungkus tubuhnya sehingga buah dadanya cukup menonjol. Sedangkan Frida, memakai dalaman model kemben yang agak turun sehingga memperlihatkan kombinasi indah leher dan dada atas yang terbuka hampir mencapai belahan dada. Kemben itu dicover dengan blazer yang membuat Frida terlihat cantik, elegant sekaligus sexy. Keduanya langsung sadar dan risih dengan sikap Roy Suryo ini, tapi pikiran keduanya langsung menuju ke satu titik. Frida dan Tina saling berpandangan tak percaya.

“Jangan – jangan… anda melakukan ini untuk….. sex?” Tanya Tina menyatakan pikirannya. Dari dua orang newsanchor ini, Tina memang lebih to the point dibanding Frida.

“Tentu saja! Kalian pikir untuk apa? Siapa orangnya yang tidak tergoda melihat para penyiar cantik dan cerdas di layar kaca? Terutama sekali… Mbak Tina ini…” jawab Roy sambil berkedip nakal dan melirik belahan buah dada Tina Talisa.

“Dasar orang sinting…!! Kamu pikir kami ini perempuan murahan?!” Tina mulai terpancing emosinya, namun ia bersuara pelan agak berbisik karena tak mau memancingkan keributan di tempat umum seperti saat ini. Suasana sangat tidak mendukung bagi Tina dan Frida. Tina yang merasa geram dan ingin memukul wajah Roy Suryo atau menumpahkan minuman yang ada di atas meja ke kepala pria mesum itu.

 

“Tentu tidak.” Jawab Roy. “Tapi seandainya video itu tersebar di internet… dan dilihat oleh rekan kerja, klien dan keluarga kalian. Siap – siap saja dianggap seperti itu.”

“Kami akan membuktikan jika video itu hanya rekayasa saja!” balas Frida yang mulai berani menentang Roy.

“Bagaimana caranya? Untuk membuktikan siapa pembuat video itu saja kalian memberanikan diri datang kemari seorang diri.” Kata Roy dengan nada bicara penuh kemenangan. “Trust me ladies. Kallian tak akan bisa membuktikan kalau video tersebut palsu.” Roy meminum tegukan terakhir es tehnya. “Lagipula, jika ada peristiwa seperti itu… siapa yang akan diwawancara oleh pihak media tentang keasliannya?” Roy Suryo terkekeh dan menunjuk dirinya sendiri.

Frida Lidwina dan Tina Talisa terdiam dalam gundah. Meski berat, mereka harus mengakui kalau apa yang dikatakan Roy Suryo sangat benar. Seandainya video tersebut beredar, tak ada cara untuk membuktikan jika video itu palsu. Kemiripannya hampir sempurna, masyarakat umum akan mudah sekali percaya saat melihatnya… dan jika itu terjadi, reputasi, karir dan nama baik mereka maupun keluarga jelas terancam. Tidak ada jalan lain kecuali mengakui kekalahan.

***___***

Bos Gion mengetahui adanya software ‘virtual s1m0ne’ dari rekan bisnisnya asal Jepang yang juga merupakan seorang yakuza yang disegani di sana. Saat membeli software tersebut, Bos Gion punya rencana lain yang menurutnya sangat genial. Dan untuk itu ia menghubungi Roy Suryo sang pakar telematika. Maka terciptalah sebuah konspirasi busuk antara Bos Gion dan Roy dan keduanya menciptakan kembangan dari software tersebut yaitu ‘d4rk s1m0ne’. Dengan software tersebut, Roy membuat berbagai adegan porno dengan bintangnya adalah para selebritis terkenal. Video buatan tersebut akan dikirimkan pada artis yang menjadi target. para selebritis tersebut kemudian akan diberi pilihan untuk menuruti semua kemauan Bos Gion atau videonya disebarkan. Sejauh ini belum ada target yang melawan, semuanya terpaksa patuh menjadi mainan sex Bos Gion. Dan setelah kejadian dimana Roy Suryo merasa dipermalukan di depan penonton TV saat acara Apa Kabare Indonesia yang dipandu Tina Talisa, korban pun berkembang ke arah para newsanchor. Berangkat dari Tropicana Café, Roy Suryo kemudian membawa Tina Talisa dan Frida Lidwina ke sebuah pabrik bekas peninggalan jaman Belanda yang sudah dilupakan orang. Tempatnya agak terpencil dan jauh dari keramaian. Bos Gion telah membeli pabrik tersebut dan juga tanah di sekitarnya. Ia lalu membangun ulang pabrik tersebut untuk dijadikannya sebagai tempat untuk mengatur segala bisnis haramnya. Dan kini setelah ‘s1m0ne’ di tangannya, Bos Gion menyulap bekas pabrik tersebut menjadi sebuah studio. Saat memasuki bangunan utama pabrik tersebut, hal pertama yang dilihat Tina dan Frida adalah kesibukan orang orang yang sepertinya sedang membuat sebuah video klip musik. Playback yang terdengar adalah lagu ‘mari bercinta’ milik Aura Kasih.
Semakin mendekat, Tina dan Frida semakin jelas melihat jika orang orang tersebut memang sedang membuat video klip, bintangnya tak lain adalah Aura Kasih sendiri, namun penyanyi bertubuh seksi tersebut sama sekali tak mengenakan sehelai benang pun.

Di depan kamera, di atas sebuah stage, Aura Kasih menari dan meliukan tubuhnya dengan erotis layaknya penari telanjang dan mengikuti irama lagu. Bersama dengannya ada dua orang pria berbadan besar yang ikut menari, kedua pria tersebut juga telanjang bulat. Penis kedua pria itu menegang dan mengeras saat Aura Kasih menyentuhnya.

 

Saat playback selesai, seorang sutradara berseru ‘That’s a wrap!’, tanda shooting selesai. Para crew yang semuanya laki laki, bertepuk tangan senang. Namun wajah Aura Kasih yang tadinya begitu liar dan nakal, mendadak berubah sendu dan pucat. Frida dan Tina langsung tahu alasannya. Para crew tadi membentuk satu barisan memanjang ke samping. Mereka semua menurunkan celana masing masing dan mengeluarkan penis mereka dari sarangnya.Aura Kasih dengan lesu berjalan mendekati orang paling kiri. Tanpa berkata apa apa, ia lalu berlutut dan langsung mengulum penis pria itu, sementara penis orang di sebelahnya, ia kocok dengan tangan. Crew lain yang belum mendapat giliran, menatap tak sabar pada temannya yang sedang dilayani Aura Kasih. Salah seorang pria yang tadi menari bersama Aura Kasih di atas stage, ikut mendekat lalu merangkul dan meremas buah dada Aura Kasih dari belakang. Sementara itu pria yang satu lagi berjalan ke sebuah matras yang tak jauh tergelar dari sana. Di atas matras tersebut terbaring penyanyi cantik Rossa. Tubuhnya telanjang berkilau karena keringat. Wajahnya terlihat basah karena air mata, keringat dan juga bekas sperma, rambutnya acak acakan. Rossa terlihat sangat kepayahan sekali. Tidaklah mengherankan, karena sebelumnya Rossa harus mengalami gangbang yang dlakukan oleh para crew tadi. akibatnya kini tenaganya sudah habis tak bersisa. Karena itu pula, Rossa tak bereaksi apa apa saat kedua kakinya dibuka lebar oleh pria itu. saat penis pria itu menembus vaginanya dan mulai melakukan genjotan, tak ada reaksi apapun dari Rossa, selain wajah yang telah kehilangan semangat hidup, dan tubuh yang terguncang guncang seperti boneka seks yang tak bernyawa. Satu teriakan kencang membuat perhatian Tina dan Frida kembali teralih, kali ini mereka melihat seorang gadis cantik yang diikat telanjang di sebuah tiang. Seluruh tubuhnya berlumuran lilin, sepertinya ia baru saja disiksa menggunakan cairan lilin panas. Setelah berteriak kencang, wajahnya berubah menjadi sayu dan pandangan matanya kosong, satu dildo yang terus bergetar menembus liang kewanitaan dan anusnya bersamaan. Cairan cinta menetes perlahan dari sela dildo itu. Gadis cantik itu cukup dikenal oleh Tina dan Frida, dia adalah bintang film yang baru naik daun, Tika Putri.

 

Tina dan Frida bergidik ngeri menyaksikan rangkaian adegan tersebut. Dalam hati mereka bertanya – tanya, akankah nasib mereka akan sama seperti halnya Tika Putri, Rossa dan Aura Kasih?

“Ok ladies…., silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri.” Kata Roy Suryo menyuruh kedua penyiar cantik tersebut memasuki sebuah ruangan.

Saat memasuki ruangan tersebut, baik Frida maupun Tina langsung merasa familiar dengan setting ruangan yang ada. Sebuah news desk, kursi dengan virtual set di belakang, kamera, dan teleprompter. Ruangan ini dibuat seperti news studio pada umumnya, tempat mereka biasa membacakan berita. Seorang pria yang sepertinya adalah floor director, terlihat sibuk memberi instruksi pada anak buahnya. Satu – satunya yang membedakan ruangan ini dengan news studio asli, adalah tidak adanya logo stasiun TV tempat mereka berdua bekerja.

“Ahhh…!! Ini dia yang kita tunggu – tunggu… Tina Talisa dan Frida Lidwina…. Apa kabar? Apa kabar? Hahahahaha……” Bos Gion menyambut keduanya dengan suka cita.

Tina dan Frida hanya terdiam sambil menatap jijik pada Bos Gion. Sebagai seorang reporter, mereka tentu tahu siapa pria gendut yang berdiri di hadapannya ini. Viktor Giyono alias Bos Gion. Reputasinya sudah menjadi rahasia umum di kalangan jurnalis. Karena itu kedua penyiar cantik itu tak terlalu terkejut saat mengetahui siapa dalang di balik semua skandal ini.

“Kami seharusnya bisa menduga kalau anda otak di belakang semua ini,” Kata Tina Talisa dengan sinis, “…seorang pengusaha yang terhormat.”

“Oya. Tentu saja.” Jawab Bos Gion bangga, “langkah yang pintar untuk mendapat keuntungan, bukan demikian?”

“Anda benar benar mahluk bejad yang menjijikan. Teganya anda melakukan ini pada kami… dan mereka…..” maki Frida sambil menunjuk ke arah ruangan dimana Tika Putri, Rossa dan Aura Kasih berada.

 

“Hahaha. Marahlah sepuasnya! Caki maki sesukanya! Tapi ingat, semua itu tak akan merubah apapun! Kalian adalah budak saya. Kewajiban seorang budak adalah patuh pada perintah majikannya! Atau kalian ingin melawan….. hmmmm…?”

Tina dan Frida tentunya panas mendengar ejekan Bos Gion yang sangat merendahkan martabat mereka. Namun apa daya, situasinya memang benar benar tidak menguntungkan bagi mereka. Pilihan yang ada hanyalah merelakan tubuh mereka menjadi ‘mainan’ atau reputasi mereka dan keluarga hancur berantakan gara gara sebuah video rekayasa. Dengan berat hati dan amat sangat tidak rela, pilihan pertama lah yang mereka ambil. Frida dan Tina hanya berharap semua ini segera berakhir. Bos Gion menatap lapar dua newsanchor cantik di hadapannya. Walau wajah mereka masih terlihat melawan, namun Bos Gion tahu, hati mereka sudah menyerah. Bos Gion mendekati Frida terlebih dahulu. Dengan rok selutut dan blazer yang melapisi dalaman model kemben. Frida terlihat begitu smart, anggun, beautiful, dan menggairahkan. Newsanchor nomor satu MeteorTV itu kini berada dalam cengkaraman bos paling bejat yang pernah ia temui seumur hidup. Bos Gion tertawa mesum saat membelai rambut dan wajah Frida. Tak ada perlawanan apapun selain kernyitan marah dari wajahnya yang cantik. Saat Bos Gion mencoba mencium bibirnya, Frida berusaha mendorong tubuh pria itu dengan dua tangan dan menjauhkan wajahnya. Namun usahanya tak berhasil. Frida harus merelakan bibirnya dikulum dengan bernafsunya oleh Bos Gion. Lidah pria itu menari nari nakal di rongga mulut Frida, berusaha mencari pasangannya. Frida baru kembali berontak saat merasakan pahanya diraba raba oleh Bos Gion. Tangannya yang besar berusaha menelusup masuk dari bagian bawah rok Frida.

“Mmmpp… mmhh.. mmmmmpphh…” protes Frida teredam oleh kuluman bibir Bos Gion.
Tangan Bos Gion yang semakin naik, berusaha Frida dorong kembali, namun gagal pula.
Tangan Bos Gion terus merayap naik hingga pangkal paha. Tubuh Frida merinding, matanya terpejam. Ia berusaha untuk tidak terangsang atau setidaknya terlihat seperti itu.

 

Jari jari Bos Gion menekan nekan lubang vagina Frida dan mengelus elus belahannya dari luar. Rangsangan seperti itu tentunya sulit untuk bisa diabaikan. Nafas Frida menjadi tak teratur dan vaginanya mulai basah. Tangan Bos Gion berlanjut masuk ke balik celana dalam Frida. Jari jarinya mengusap langsung permukaan vagina si cantik itu sambil mencari klitorisnya. Begitu dapat, klitoris itu dipencetnya dan digesek gesek seiring dengan jemari lainnya yang menyusup dan menyentuh dinding vagina. Bos Gion sengaja melepas kuluman bibirnya karena ingin mendengar erangan dari Frida. Tapi Frida mati matian berusaha untuk tak melakukannya. Matanya ia pejamkan erat, bibirnya ia gigit kuat hingga sedikit berdarah, ia menahan diri agar tidak mengerang atau merintih. Meskipun wajahnya sudah merona merah dan nafasnya kian memburu. Saat Bos Gion menarik keluar tangannya, jarinya sudah belepotan cairan bening dari vagina Frida. Ia pun tertawa tawa sambil mengelapkan jarinya yang basah pada wajah Frida. “Satu sudah jatuh.” Bisik Bos Gion sambil mengecup pipi Frida yang tubuhnya gemetar karena shock dan wajahnya pucat pasi. Bos Gion lalu beralih pada Tina Talisa. Salah satu daya tarik penyiar satu ini, selain cantik tentunya, adalah bentuk tubuhnya terutama buah dadanya yng menonjol montok dan tak kalah dengan model cover majalah dewasa. Hari ini Tina memakai blouse ketat yang memang begitu menonjolkan bentuk dadanya, berpadu dengan bawahan celana semata kaki. Penampilannya hari itu, meski tertutup rapat, namun tak pelak mengundang para pria penasaran ada apa di balik ‘bungkusan’ tersebut. Alangkah beruntungnya bagi Bos Gion dan anak buahnya, yang sebentar lagi bukan hanya bisa melihatnya tapi juga menikmatinya. Bos Gion mengendus endus wajah Tina, lalu menjilatinya. Tangannya yang besar sudah sibuk menggerayangi buah dada Tina. Kepala Tina terus bergerak gerak dengan perasaan jijik saat lidah basah Bos Gion menyapu wajahnya.

 

“Tina Talisa.” Bos Gion memandangi sekujur tubuh Tina penuh kekaguman, “kamu adalah penyiar terseksi yang pernah saya lihat… hahahaha…”

Tina hanya membuang muka mendengar pujian yang juga merendahkannya itu.
Tina pun tak bereaksi saat satu persatu, kancing blousenya dilepas oleh Bos Gion.

“Wow…” Bos Gion berseru kagum saat menyingkap blouse yang telah terbuka dan melihat sepasang buah dada yang begitu mengundang selera. Dengan tak sabar, Bos Gion melepas kaitan bra Tina, lalu menyingkapnya ke atas.

Mata Bos Gion pun kian nanar menyaksikan dua bukit kembar yang sudah menjulang polos tersebut. Tak membuang banyak waktu lagi, buah dada Tina Talisa segara digerayanginya. Diawali dengan usapan lembut, pijatan nakal yang perlahan tapi pasti berubah menjadi remasan, lalu berlanjut dengan menggesek gesek dan memilin putingnya. Setelah itu tentunya tak lupa, giliran mulut Bos Gion yang menikmati buah dada Tina dengan kuluman dan gigitan lembut. Seperti halnya Frida, Tina pun berusaha untuk tidak mengerang atau merintih, meski harus diakui ia pun mulai terangsang.  Namun harga diri yang tersisa membuat Tina menahan diri sebisa mungkin.
Bos Gion masih asyik menyeruput dan mengulum buah dada Tina, saat ia merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Bos Gion pun menghentikan aksinya dan menoleh. Salah seorang anak buahnya, dengan headset menggantung di leher dan rundown di tangan, berdiri agak menunduk karena ketakutan telah mengganggu keasyikan bossnya.

“Apa…???” hardik Bos Gion dengan muka kesal.

“A – anu Bos… m – maaf…. semua su – sudah… si – si – siap….” Kata orang itu terbata bata karena takut.

“Hmmm.” gumam Bos Gion sambil memberi isyarat dengan kepalanya agar orang itu segera pergi.

 

Bos Gion meremas buah dada Tina untuk terakhir kalinya, lalu merapikan kembali pakaian gadis itu seperti semula, diiringi tatapan heran Tina.  Ia lalu berbicara pada kedua penyiar cantik tersebut.

“Nah… nona nona cantik….. tugas kalian sekarang, adalah membaca berita seperti biasa kalian lakukan. Ingat! Harus seperti biasa ketika kalian bertugas di stasiun TV kalian masing masing. Jadi saya tak mau melihat wajah kaku dan tegang seperti ini, paham?”

Tina dan Frida hanya saling memandang. Tak satupun dari keduanya yang menjawab atau sekedar bersuara. Bos Gion mendengus kesal, lalu berjalan ke belakang mereka.

“Paham…???!!!” hardik Bos Gion sambil menjambak rambut kedua penyiar cantik tersebut dari belakang.

“Aawhh… i – iya… paham.. p – paham…..” jawab Frida sambil menahan sakit.

“I – iya.. iya… t – terserah… terserah….” Jawab Tina.

“Bagus.” Bos Gion melepas jambakannya, “Ingat juga… apapun yang terjadi nanti, kalian akan dan harus terus membaca berita sampai ada perintah untuk berhenti, paham?”

Tina dan Frida mengangguk nyaris bersamaan, meski kalimat ‘apapun yang terjadi’ membuat perasaan mereka semakin tak enak. Bos Gion ternyata membuat tempat ini seperti news studio yang benar – benar mirip dengan aslinya hingga ke kru – krunya pula. Sebelum Tina Talisa dan Frida Lidwina tampil, para juru rias sudah bersiap memoles wajah keduanya agar terlihat lebih fresh. Teleprompter sudah menyala dan memuat rangkaian berita yang nanti akan dibaca. Kamera, sound, lighting, semuanya dalam posisi standby dan ready. Bedanya adalah, siaran berita di tempat ini tak akan disiarkan secara luas ke seluruh Indonesia. Bahkan sebenarnya tak akan disiarkan sama sekali.

 

Tina dan Frida sudah selesai di make up dan telah duduk di belakang news desk. Meski hati dan pikiran mereka bergejolak, namun sesuai instruksi mereka memasang wajah ramah seperti biasanya. Untuk yang satu ini, sebenarnya mereka sudah cukup terlatih. Sering kali mereka harus menjadi pembaca berita di saat suasana hati sedang kacau. Namun mereka tak pernah memperlihatkannya saat di depan kamera. Kali ini Tina dan Frida hanya berharap jika semua mimpi buruk ini segera berlalu.

“Ok! Everything ready, stand by!” Teriak floor director (FD). Ia lalu memberi isyarat pada Tina dan Frida, “ready in five…. four….”

Hitungan selanjutnya ia menggunakan isyarat tangan tanpa suara. Begitu hitungan selesai, sebuah ilustrasi musik terdengar kurang lebih sepuluh detik. FD segera memberi que pada Frida untuk mulai membaca sambil menunjuk ke arah prompter.

“Se-Selamat sore pemirsa. Anda sedang menyaksikan berita sore bersama saya Frida Lidwina….” Frida berusaha meredam perasaannya yang gundah.

“……” Tina Talisa terdiam sejenak, ketika FD mulai mendelik marah, ia meneguk ludah dan memejamkan mata sekejap. “…dan saya Tina Talisa.”

“Selama satu jam ke depan kami akan menyampaikan berita berita yang diantaranya; perkembangan kasus pemboman Ritz Carlton dan JW Marriott.”

“…..keputusan MA tentang kursi DPR yang mengundang kontroversi…..”

“…..kebenaran berita pemerkosaan Sheila Marcia di penjara…..”

“…….Bayer Muenchen menjadi juara Audi Cup setelah mengkandaskan Manchester United….”

“…dan berita ringan tentang wisata kuliner di Bandung. Berita pertama akan dibacakan oleh Tina Talisa. Silahkan Tina…..”

 

“Terima kasih, Frida. Pemirsa, dari perkembangan kasus pemboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton jum’at lalu, polisi menyimpulkan jika florist bernama Ibrahim adalah orang yang bertanggung jawab memasukan bom ke dalam hotel tersebut. Hal ini diperkuat dengan rekaman CCTV yang memperlihatkan Ibrahim atau yang biasa dipanggil boim , bersama orang tak dikenal, masuk membawa barang barang mencurigakan yang disamarkan dengan tumpukan bunga.”

Tina membaca seluruh berita pertama hingga selesai tanpa ada masalah apa apa. Begitupun saat selanjutnya Frida membaca berita kedua semua masih normal – normal saja. Bagian yang paling Tina dan Frida khawatirkan muncul di berita ketiga.
Jack alias Rojak dan Jim alias Kosim, berjalan menghampiri mereka dengan hanya bercelana dalam saja. Jack lalu berdiri di belakang Tina, sementara Jim di belakang Frida. Tina dan Frida sempat melirik cemas, namun FD di depan mereka lantas mengacungkan sebuah karton besar bertuliskan ‘keep reading’.

Tina Talisa melanjutkan membaca beritanya. “…..Sheila Marcia dengan keras membantah berita tentang pemerkosaan dirinya saat di penjaraaaaah…..”

Jack tiba tiba meremas buah dada Tina dari belakang! Tina mencoba memprotes dan meronta namun FD kembali mengacungkan karton ‘keep reading’

“….menurut… She..ila…. eghhhh….hhh.. semua itu…… ha….. nya…… aeghhh… hanya…. isu… yang da… oohhh…. uuhh….” menahan erangan disaat seperti ini ternyata lebih sulit dibandingkan tadi saat bersama Bos Gion. Kancing blouse Tina sudah dilepas Jack seluruhnya, pria itu pun lalu menyelusupkan tangannya ke balik bra Tina dan meremas langsung buah dada montok itu.

“….b..beri…ta…ooohhh…ter..se..sebut…..dapat….uugghhh…ahhhh…..hmmm…da..pa..aaww….” Tina terpekik kesakitan saat putingnya dipencet kuat oleh Jack. Tina menjadi kesulitan membacakan kelanjutan beritanya.

 

Ia menoleh ke arah Frida. Nasib rekannya itu tak lebih baik, sambil buah dadanya di remas, Frida harus mengulum penis Jim. Sambil menghisap cerutunya, Bos Gion terlihat sumringah sekali meihat dua penyiar cantik sedang ‘dikerjai’ saat membaca berita. Tak hanya memuaskan fantasinya, rekaman video ini akan berharga mahal. dan lebih dari itu, ia pun bisa menjual Tina Talisa dan Frida Lidwina dengan harga yang sanggup membuat pundi – pundi uangnya menebal. Banyak orang di luar sana yang tergila gila dan berfantasi bisa meniduri kedua penyiar yang tak hanya cantik tapi juga cerdas ini. Kecantikan para newsanchor memang tak pernah terlihat murahan seperti para selebritis. Selama “ d4rk s1m0ne ” ada ditangannya, Bos Gion punya stock yang cukup untuk menjebak para newsanchor ini. Masih ada di luar sana: Gadiza Fauzi, Grace Natalie, Duma Riris, Aviani Malik, Fessy Alwi, Rahwa Alya, Chantal Della Concetta, Putri Violla, Elvira Khairunnisa, Shara Aryo dan lain – lainnya. Bos Gion pun tertawa sendiri membayangkan keuntungan yang bakal ia dapatkan. Keuntungan dari segi fantasi, birahi ataupun materi. FD memberi isyarat pada Jim supaya mundur, karena sekarang giliran Frida Lidwina yang akan membacakan berita. Setelah mengulum penis Jim yang begitu memuakkan bagi Frida, rasanya sulit bagi dirinya untuk tetap tersenyum. Namun ia tetap berusaha untuk bersikap normal, karena taruhannya jika gagal sangat fatal. Frida mengatur nafas sejenak setelah tadi agak sulit bernafas karena tersedak penis Jim, sejenak ia melirik ke arah Tina. Blouse dan bra Tina sudah dilepas, kini ia bertelanjang dada hanya mengenakan celana panjang saja. Jack membaringkan Tina di news desk dengan kaki menjuntai ke bawah. Satu buah dada Tina ia sedot sekuatnya sementara yang lain ia remas dengan gemas.

 

“Uaaaaghhhhh… hssssttt…” Tina berusaha menahan diri agar bisa tahan terhadap serangan Jack.

Tapi Tina hanyalah wanita biasa sementara Jack sudah sangat berpengalaman menaklukkan wanita buangan Bos Gion. Tubuh presenter montok itu menggelinjang pasrah tanpa bisa dikendalikan pemiliknya. Sebenarnya jack ingin segera menancapkan penisnya di vagina tina , namun instruksi dari boss-nya sangat jelas , lakukan apapun tapi jangan penetrasi. Maka yang dilakukannya adalah memuaskan diri dengan meremas dan menjilati bagian sensitive tubuh tina , dan juga merasakan sebaliknya , genggaman mantap tangan halus tina di penisnya plus tentu saja kuluman hangat mulutnya yang basah. Tina yang telah lelah hanya bisa pasrah tubuhnya diombang-ambing dan dipermainkan oleh anak – anak buah Bos Gion. Sudut matanya menangkap sosok Frida yang masih terus membacakan berita dengan air mata yang terus berlinang. Mulut Tina megap – megap mencoba memanggil Frida, namun suaranya sudah tidak bisa keluar. Dan begitulah yang terjadi selama kurang lebih 45 menit , tina dan frida bergantian membaca berita yang muncul di prompter. Pada menit ke -20 , membaca berita yang muncul menjadi semakin berat bagi dua wanita malang tersebut. Saat itu pakaian keduanya sudah terlepas seluruhnya. Tinggi meja yang sepertinya disesuaikan dengan postur tubuh keduanya ,membuat frame yang indah di layar. Dua anchorwoman cantik dengan buah dadanya yang menggiurkan , seolah tersaji di atas meja. Bagian bawah meja tersebut tertutup , membuat jack dan jim yang sedang asyik menjilati vagina tina dan frida tak terlihat di kamera. Bisa dibayangkan betapa kelimpungannya tina dan frida. Saat buah dada mereka diremas atau disedot sekuat apapun , mereka masih bisa menahan ekspresi. Tapi saat vagina mereka diserang , tak bisa lagi mereka berpura pura tak terjadi apa apa.

“…demikian berita kita hari ini, saya Frida Lidwina.”

 

Akhirnya ‘siksaan’ itu selesai juga.Kepala Frida tertunduk usai mengakhiri. Siaran berita busuk ini memang berakhir, tapi tidak dengan mimpi buruknya dan tina. Ia menggelengkan kepala, mengutuk orang – orang yang telah membuat Tina dan dirinya terjebak situasi semacam ini. Usai membacakan berita, keduanya diberi kesempatan untuk rehat sejenak sambil mengenakan kembali pakaiannya. Tapi cerita belum berakhir. setelah rehat ,Frida dan Tina dipisahkan oleh Bos Gion, Tina dibawa masuk ke sebuah ruangan bersama Bos Gion sementara Frida ditinggalkan di ruangan itu. Kedua mata berlinang air mata milik Tina hanya bisa menatap Frida tanpa bisa mengucap sepatah katapun karena mulutnya dibekap oleh Jim dan tubuhnya dipandu oleh Jack.

“Jarot! Yang ini bagianmu! Katanya sudah lama ingin mencicipi yang ini ?!” Kata Bos Gion sambil menepuk pantat Frida Lidwina, ia meninggalkan presenter cantik itu sendirian di ruangan sementara ia mengikuti Jack dan Jim masuk ke ruangan tempat Tina Talisa dibawa. Kru TV yang tadi berkumpul kini sudah menghilang dari ruangan, tak tahu kemana. Frida hanya bisa menangis sesunggukan karena dirinya dijadikan mainan oleh Bos Gion dan anak – anak buahnya. Sebelum pergi, Bos Gion sempat berbisik pelan di telinga Frida, “dulu kamu yang membacakan berita saat Jarot ditangkap polisi. Sekarang dia ingin merasakan memek penyiar cantik yang muncul di TV membacakan beritanya itu.” Setelah mengecup pipi dan mengulum bibir Frida yang menggemaskan, Bos Gion pergi. Seorang pria masuk ke ruangan tempat Frida berdiri dan langsung menghampiri si cantik. Orang yang baru masuk itu bernama Jarot, salah satu anak buah Bos Gion yang paling sering keluar masuk penjara. Ia bisa dikenali dari tato yang menghiasi dadanya dan seluruh punggungnya, saat ini Jarot kebetulan hanya mengenakan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan tato naga yang melingkar – lingkar di bagian lengan atas. Tubuhnya yang tegap besar mengintimidasi Frida yang bergetar ketakutan melihatnya. Pria berambut gondrong keriting itu berkacak pinggang di dekat pintu, pandangan matanya tajam menatap Frida yang ketakutan. Setelah Bos Gion dan yang lain pergi meninggalkan ruangan, Jarot mulai melucuti pakaian yang ia kenakan sendiri sehingga iapun bertelanjang dada.

“Sini.” Panggil Jarot, suaranya berat dan dalam.

 

Jarot adalah seorang pria berkulit gelap dan bertubuh besar, pipinya yang gembul hampir menutup matanya yang hanya segaris. Seluruh nafsu Jarot sudah memuncak di ubun – ubun ketika ia melihat anchorwoman kesayangannya datang dengan langkah malu – malu menghampirinya. Birahinya membara dan jakunnya naik turun melihat Frida yang tampil hanya dengan blazer dan baju model kemben yang cukup ketat dan rok selutut yang tadi sempat acak – acakan. Puas sudah Jarot sekian lama menjadi kacung Bos Gion, karena sekarang ia bisa mendapatkan si molek Frida Lidwina yang sering ia kagumi di layar TV. Tak puas – puasnya Jarot menikmati kecantikan dan kemolekan korbannya kali ini, wajah yang smart dan bibir yang merekah. Wanita yang sangat indah.

“Angkat kepalamu,” perintah Jarot, suaranya bergetar karena ia hampir – hampir tak kuat menahan nafsu.

Sang pembawa acara yang cantik itu mengikuti perintahnya. Frida meluruskan tubuh dan kepalanya, matanya yang berkaca – kaca kini menatap tepat ke depan. Wanita jelita ini nampak menawan, manis dan mempesona walaupun kedua pipinya dipenuhi bekas tangisan. Rok mini yang dikenakan Frida mempertegas garis aksen kemolekan tubuhnya, mulai dari pinggul hingga turun ke paha dengan lekukan yang membuat seorang pria bertekuk lutut. Kakinya yang jenjang tanpa penghalang amat nyaman dipandang. Kalau tidak ditahan oleh akal sehat, Jarot sudah berlutut dan menjilati kaki jenjang itu. Blazer yang ia kenakan sudah acak – acakan. Baju model kemben yang ia kenakan juga sudah naik turun tidak karuan, dada atas Frida yang montok terlihat jelas oleh Jarot. Sungguh sedap menyaksikan pemandangan indah yang bernama Frida Lidwina ini. Cantik, seksi, smart, sekaligus lezat untuk dinikmati.

“Blazernya dibuka.” Pinta Jarot ringan, tidak ada ancaman pada nada suaranya.

Frida sesunggukan menahan takut, “jangan…”

 

Hanya dengan satu pandangan tegas dari Jarot membuat Frida sadar bahwa tidak ada gunanya melawan. Pria bertubuh besar itu sudah pasti bisa menyakitinya dan bisa dipastikan sebentar lagi dia akan diperkosa olehnya, jadi percuma melakukan perlawanan. Dengan tangan bergetar Frida membuka blazer.

“Bajunya juga,” lanjut Jarot.

Sambil memejamkan mata, Frida melepas baju berbentuk kemben yang ia kenakan. Ia mengenakan bra tipis menerawang, sehingga bulat payudaranya yang ranum bisa dilihat langsung oleh Jarot. Pria bertubuh besar itu mengeluarkan decak kagum saat perlahan – lahan Frida mulai melepas seluruh bagian atas pakaian yang ia kenakan. Jarot makin suka ketika melihat pinggang yang ramping dan perut tanpa tonjolan.

“Bra itu juga seharusnya dicopot.” Tambah Jarot.

Sedikit menggigit bibir karena gemas dan kesal, Frida melepas kait behanya.

“Wah – wah, ini baru namanya payudara. Kamu beruntung punya tubuh indah, Frida sayang…” kata Jarot mengagumi buah dada sang presenter, “pentilmu seperti minta dikulum dan dijilati, mereka nunjuk – nunjuk terus nih. Ha ha ha…”

Frida berdiri tak tenang, ia merasa malu sekali, ingin muntah rasanya telanjang dada di hadapan pria seperti Jarot. Tangan Frida secara reflek menutup buah dadanya yang terbuka. Namun hal tersebut langsung ditolak Jarot.

“Jangan ditutup!” Hardik Jarot. “Punya payudara indah seharusnya bangga, bukan malu. Berbaliklah, biar kunilai pantatmu.”

 

Jarot merasakan penisnya bergerak – gerak tak henti di dalam celana ketika Frida membalikkan badan. Kini si cantik itu berdiri dengan tubuh bergetar karena tahu Jarot tengah mengagumi pantatnya yang bulat.

“Singkirkan rok tak berguna itu,” kata Jarot, suara pria itu makin bergetar karena ia mulai tak tahan dengan pemandangan indah yang ada di hadapannya, sungguh amat menggetarkan naluri lelakinya yang paling liar.

Rasa enggan dan penolakan Frida nampak dari gerakannya yang pelan, tapi Frida tahu tidak ada gunanya melawan. Si cantik itu melepas kait hingga rok pendeknya jatuh ke lantai.

“Celana dalam.”

Frida mendesah penuh sesal dan melenguh lirih. Dengan gerakan takut penyiar andalan MeteorTV itu melepas celana dalamnya. Jarot kini mampu menikmati pemandangan yang sangat indah, kecantikan sempurna dari seorang Frida Lidwina… telanjang bulat. Kulitnya yang putih mulus berpadu manis dengan tubuhnya yang indah dan rambutnya yang hitam panjang. Benar – benar seorang presenter berita idaman. Pantat yang bulat mulus dipadu dengan payudara kenyal yang menggantung indah di tubuh dengan lekukan menggairahkan.

“Luar biasa. Pantatmu aku nilai tinggi, mulus dan bulat. Balik badan lagi.”

Pandangan Jarot naik turun menikmati keindahan tubuh Frida, pandangan utamanya tertuju pada selangkangan Frida. Rambut kemaluan lembut yang dicukur rapi dan bersih menandakan bahwa Frida memang sangat menjaga tubuhnya dengan baik. Makin berhasratlah Jarot meniduri si cantik ini.

 

“Sini.” Jarot berkata dengan suara parau karena sudah tidak sabar ingin segera menyetubuhi Frida Lidwina.

Si cantik yang sesunggukan itu berjalan perlahan menuju si tubuh besar dan tidak melakukan perlawanan sedikitpun ketika ia membimbingnya duduk di pangkuan. Tubuh indah Frida bergetar ketakutan dan ia harus menahannya supaya tidak berguncang di pangkuan Jarot. Newsanchor kebanggaan MeteorTV itu duduk di paha Jarot bagaikan seorang anak kecil yang duduk di pangkuan ayahnya, Jarot bahkan meminta Frida melingkarkan tangannya di pundaknya yang lebar seakan memeluknya. Frida yang molek kembali terdiam ketika tangan nakal Jarot bergerak untuk memainkan payudara dan pentilnya yang menantang, jemari Jarot yang gemuk memilin – milin pentil susu Frida, menarik dan meremas ujung lembut buah dada Frida itu dengan gemas. Rangsangan hebat di buah dada membuat tubuh indah Frida Lidwina menggelinjang kesana kemari. Frida tambah menahan nafas ketika jari – jari tangan Jarot bergerak ke bawah ke kaki dan mulai mengelus – elus pahanya yang mulus.

“Hngh!” Frida sedikit terhenyak kaget ketika tiba – tiba Jarot menangkup bagian kewanitaannya. Ia kembali terisak dan melenguh sengau ketika jari tengah sang pria kasar memainkan belahan kemaluan Frida. Karena terpaksa dan takut disakiti, Frida harus membentangkan kakinya lebar, memberikan akses lebih mudah ke bibir kewanitaannya pada Jarot. Pria buruk rupa bertubuh besar itu tidak menyia – nyiakan kesempatan ini. Dengan jempolnya Jarot memainkan kelentit Frida yang baru saja ia temukan sementara jarinya yang panjang ia desakkan masuk ke dalam vagina si molek.

“Luar biasa,” gumam Jarot sambil memainkan vagina pembawa berita idolanya. “Begitu hangat dan sempit, padahal kamu bukan perawan…”

Frida hanya terisak tanpa menjawab.

 

“Berdiri,” perintah Jarot sekali lagi. Jarinya masih tertanam di dalam vagina Frida.

Frida melakukan apa yang diminta Jarot dan merasakan satu tangan besar mengelus – elus pantatnya, jemarinya yang gemuk melintas di kulitnya yang mulus dan menyelip masuk diantara gundukan pantatnya. Kepala Frida langsung terhentak ke belakang, tubuhnya menelikung dan punggungnya menekuk ketika dia merasakan satu jari gemuk masuk ke lubang pengeluarannya yang mungil.

“Jangaaaaan!!” teriak Frida sambil memejamkan mata menahan sakit, “jangan di situ. Saya mohon… saya mohon… saya mohon…”

Matanya yang indah terkatup rapat sementara mulutnya terbuka tanpa suara karena menahan lenguhan sakit yang ia rasakan. Frida makin menggelinjang ketika tekanan jemari di lubang belakang tubuhnya mulai terasa, tekanan itu makin hebat ketika jari Jarot masuk makin dalam.

“Hnnghhh!!! Aaaaughhh!!! Sakit!!!! Aaaghhhh… ja – jangan…”

“Diam.” Gertak Jarot yang tengah menikmati kedua lubang Frida.

Satu jari mengacak – acak vaginanya dan jari yang lain menusuk lubang di bokongnya. Kedua jemari itu bergerak dalam satu irama untuk mempermalukan sang presenter yang cantik. Wajah panik dan kalut Frida bagaikan lukisan indah di kanvas bagi Jarot, air mata yang menuruni pipi indah Frida adalah garis keindahan seorang wanita yang telah ditaklukkan. Jarot tak berhenti dan terus melanjutkan memperkosa Frida dengan kedua jemarinya walaupun si cantik itu terus meronta. Frida berusaha bertahan dari semua teror jemari Jarot, ia harus kuat, ia tidak boleh jatuh dan menyerah. Sisi kewanitaannya boleh membuatnya menangis, meraung, menjerit dan gemetar ketakutan, tapi ia tetap berdiri tegang tanpa mampu bergerak satu sentimeterpun. Untuk beberapa saat lamanya Frida membiarkan Jarot membuatnya kesakitan.

 

Akhirnya, setelah lelah mengobrak – abrik semua lubang milik Frida, Jarot menarik jemarinya, ia mengendus tangannya yang baru saja mengacak – acak vagina Frida dan berteriak puas.

“Secantik dan sepintar apapun dirimu, kamu masih tetap wanita normal.” Bisik Jarot sambil mencium pipi Frida. Ia menurunkan tubuh Frida dari pangkuannya.

Jarot berdiri dan mulai membuka sabuk celananya, “turun ke bawah! Tidur terlentang dengan kaki terangkat! Kakinya dibuka lebar – lebar!”

“Ja – jangan…” Frida merengek, tangannya ditangkup seperti sedang berdoa. “Jangan… jangan perkosa saya… sa – saya akan… akan……”

Tatapan tanpa ampun Jarot menjadi pembungkam rengekan Frida, tidak ada rayuan apapun yang bisa menghentikan lelaki buruk rupa itu untuk menikmati keindahan tubuhnya sekarang. Lutut presenter cantik yang bergetar itu ditekan satu sama lain sembari tubuh telanjangnya didudukkan di lantai. Sesunggukan karena menangis dan takut, Frida mulai membaringkan tubuhnya, membuka lutut perlahan dan menariknya ke atas sampai ke dada, posisi itu membuat garis liang kewanitaannya membuka dan menantang, membuat Jarot terangsang hebat. Jarot melepas celana panjang dan setelahnya mencopot juga celana dalamnya, ia memunculkan satu monster gemuk yang besar, tegang dan berdenyut seakan – akan ingin segera memangsa vagina Frida Lidwina. Presenter cantik itu langsung pucat pasi melihat penis besar Jarot yang berwarna hitam dengan urat – urat bertonjolan mengelilinginya. Benda itu panjang, besar dan kulitnya gelap seperti timun busuk dengan ujung merah jambu dan memiliki bau pesing yang tidak enak.

 

Beberapa saat lamanya Frida terdiam tak bergerak karena menatap benda menakutkan yang menggantung di selangkangan Jarot. Ketika kesadarannya kembali, barulah ia berteriak sekuat tenaga dengan ketakutan.

“Jangaaaaaaaaaaan!!”

Teriakan itu datang terlambat. Jarot sudah berada di atas tubuh Frida dengan sekejap sebelum si cantik itu bisa merangkak melarikan diri, pinggul Jarot yang besar dan berat menekan tubuh Frida ke bawah. Tangan pria buruk rupa yang gemuk dan besar itu menekan sisi kepala Frida hingga si cantik itu tak bisa bergerak, pinggulnya yang besar terus menekan ke bawah, memaksa Frida membuka pahanya lebar karena direnggangkan kaki Jarot. Frida terus menerus menjerit dan meronta, memukul – mukul tubuh Jarot tanpa hasil. Tubuhnya telah terkunci. Penis Jarot yang gemuk dan besar mendarat santai di perut langsing Frida, menepuk payudaranya beberapa kali sebelum diselipkan di antara belahan buah dada indah sang presenter. Dengan satu gerak cepat Jarot telah menekan kedua lengan Frida, membentangkannya lebar – lebar tanpa daya. Frida hanya bisa berteriak dan meronta. Tiba – tiba Jarot berhenti menekan. Frida terdiam sejenak, tubuhnya bergetar menahan rasa takut ketika Jarot menarik pinggulnya ke belakang, menyelusurkan penisnya menuruni perut mulus Frida dan meletakkan ujung gundulnya tepat di bibir vagina sang presenter andalan MeteorTV itu. Dengan satu jeritan kencang, Frida menahan rasa sakit ketika Jarot melesakkan penisnya dalam – dalam. Bibir vagina Frida yang merah muda merekah membuka karena dipaksa menerima sodokan kepala gundul penis Jarot yang menjajah liang kewanitaan si cantik itu.

“Ampun, ampun, ampun, ya Tuhan ampun… amp… nggghh!!! Aaaaaaa… ahhhh!!” Frida menjerit karena tak kuasa menahan rasa sakit. “Ya Tuhan!! Arrghh!!”

 

Bibir kemaluan Frida yang mungil terkuak lebar, melahap batang penis Jarot yang melesak ke dalam dengan begitu erat. Tubuh presenter cantik itu melejit ke depan ketika Jarot menusukkan penisnya dalam – dalam, tusukan yang membuat Frida menggumamkan kalimat tak jelas dan mendesah kesakitan. Geliat tubuh Frida yang kesakitan malah semakin membuat Jarot keenakan. Teriakan kesakitan Frida tidak membuatnya mundur, ia justru semakin giat menusukkan batang kemaluannya ke vagina Frida, kian lama kian dalam dan dengan gerakan yang teratur. Si cantik itu hanya bisa meraung dan menangis, sesekali melolong atau berteriak kesakitan. Ia mencoba melawan tapi tak berdaya menghadapi serangan Jarot yang memompa dengan semakin membabi buta. Tubuhnya yang indah tersentak tiap kali ujung gundul Jarot menumbuk kemaluannya semakin dalam. Jarot tahu Frida kesakitan dan ia dengan sengaja memanfaatkannya, pria bertubuh besar itu menarik keluar penisnya perlahan dan sebelum sampai di luar, Jarot menancapkannya kembali ke dalam memek Frida dengan sekuat tenaga! Sentakan ini selalu disambut teriakan kecil Frida yang miris. Penis Jarot keluar masuk liang cinta Frida dengan kekuatan yang teratur namun kuat, keluar masuk, keluar masuk. Vagina penyiar cantik itu seperti dihajar berulang – ulang. Kepalanya seperti mau copot karena sering tersentak dan buah dadanya bergoyang ketika Jarot menyetubuhinya dengan penuh nafsu. Lama kelamaan penis Jarot mulai kaku dan ia melambatkan tempo goyangannya. Kepalanya dilempar ke belakang sembari mengeluarkan satu raungan kepuasan bersamaan dengan menyemburnya cairan cinta pertanda puncak kenikmatan yang dilepas dalam vagina Frida Lidwina. Pantat dan pinggulnya begerak maju mundur ketika Jarot menyuntikkan cairan yang hangat dan kental ke dalam rahim sang presenter cantik. Akhirnya Jarot usai, dengan gerakan yang sangat-sangat-pelan, Jarot mengeluarkan semua cairan yang tersimpan di ujung penisnya. Bunyi ‘plop’ yang kencang terdengar ketika Jarot menarik kejantanannya dari dalam liang kewanitaan Frida.

 

Sungguh puas bodyguard Bos Gion itu karena telah menyetubuhi presenter berita yang sangat cantik seperti Frida. Ketika dilepaskan, tubuh Frida melengkung ke satu sisi, lututnya ditarik hingga ke dada sementara tangannya menutup wajah yang menangis sesunggukan. Tangisan Frida begitu kencang sehingga tubuhnya berguncang keras. Presenter andalan MeteorTV itu terutama sekali menangisi rasa sakit dan malu yang ia rasakan. Cairan kental putih menetes dari bibir vagina Frida, seluruh tubuh terasa sakit dan nyeri.

“Ayo bangun!” bentak Jarot galak, “masih ada beberapa jam lagi sebelum kamu dijual ke cukong – cukong penggemar memek! Presenter cantik seperti kamu pasti laku keras. Kita manfaatin waktu yang sempit ini berdua saja di kamar ya, sayang?” Jarot mencolek dagu Frida dengan kurang ajar dan mengecup lembut bibir wanita cantik yang sedang shock itu. Ciuman mesra Jarot mendarat tanpa perlawanan, ingin rasanya Frida menggigit bibir Jarot sampai putus, tapi tenaganya sudah habis.

Jarot tertawa terbahak saat dia menarik Frida yang walaupun sudah meronta dan melawan sekuat tenaga namun tetap tak berdaya. Dengan satu gerak ringan, Jarot mengangkat tubuh Frida dan membopongnya masuk ke kamar. Ia terus saja tergelak ketika Frida menjerit – jerit minta tolong dan ampun. Malam itu, tubuh Frida sepenuhnya menjadi milik Jarot.

***___***

Tina talisa dibawa ke sebuah ruangan bernuansa putih , yang langsung mengingatkannya dengan suasana ruang praktek dokter atau setidaknya ruang UKS sma elite. Meja untuk dokter dan pasien, lemari obat, dan sebuah tirai putih yang memisahkan letak tempat tidur dengan meja dokter, semuanya mirip. Barang yang berbeda hanyalah sebuah kamera dengan tripod, dan sebuah spot light. Tina menduga, baru saja ada ‘shooting’ di tempat ini seperti yang dialaminya tadi. Satu hal yang langsung mengganggu tina saat pertama masuk , adalah suara jeritan perempuan yang teredam. Asalnya dari balik tirai putih , dan pastinya dari tempat tidur. Tina pun terkesiap saat dibawa melihat ke baliknya.  Ia melihat seorang gadis muda yang sedang diperkosa oleh pria brewokan. Tina mengenal gadis itu sebagai seorang artis sinetron. Meski ia ta tahu siapa namanya. Afifa didandani memakai seragam SMA, yang sekarang sudah acak acakan tak jelas. Rok abu abunya yang pendek tersingkap hingga pinggang. Baju putihnya hanya terkancing dua terbawah , sisanya terbuka dan tersingkap memperlihatkan bahu yang mulus dan buah dada yang ranum. Tangannya terikat ke belakang , mulutnya disumpal kain. Si brewok dengan bernafsu menindih tubuh afifa , penisnya melesak ganas di vagina gadis itu , tubuh besarnya bergerak maju mundur diiringi jeritan penuh kepedihan dari afifa. Belum lagi afifa pulih setelah semalaman ‘dihajar’ jack dan jim , kini ia harus mengalami kejadian yang sama dengan orang yang berbeda. Wajahnya yang sudah basah oleh keringat dan air mata terlihat begitu erotis di mata pemerkosanya , apalagi ditambah dengan rambutnya yang acak acakan. Si brewok semakin bersemangat menggenjot tubuh mungil tersebut. Tina sangat geram melihat adegan tersebut. Matanya melotot marah pada Boss Gion. Dirinya juga memang korban sama seperti Afifa dan yang lainnya, tetapi nuraninya sebagai wanita tak bisa diabaikan begitu saja.

“kalian semua memang mahluk rendah…BIADAB…!!!” tina memuntahkan kekesalannya.

Boss gion menatap tina , mengangkat bahu sambil tertawa , “hahahaha…ya memang begitu kok , mau apa lagi….hahahaha…..”

 

Ia lalu mendekat dan mengelus pipi Tina dengan lembut , “ dan satu hal …..”

PLAKKK..!!!!

Boss gion tanpa peringatan langsung menampar tina begitu kerasnya , menyisakan setitik darah di sudut bibir wanita cantik itu.

“this ain’t your show…!!!! So , mind your words…bitch…!!!!”

Tina menatap marah sambil meringis menahan sakit. Ia tak bisa berbuat banyak karena jack dan jim memeganginya sangat kuat. Dari tempat tidur , jeritan afifa berubah nada menjadi meninggi, panik, dan histeris. Kepalanya ia hentak hentakan di atas bantal. Rupanya si brewok sudah tiba sampai ‘tujuan’ dan memuntahkan ‘amunisi’-nya di dalam vagina afifa. Terang saja afifa histeris karena khawatir dirinya akan hamil.

“hahaha..bagus..bagus….” boss gion menepuk nepuk bahu si brewok , “ kita lihat apa kata dunia , kalau mendengar artis sesantun afifa shahira , tiba tiba hamil sebelum menikah….hahahaha….”

Sumpal Afifa dibuka. Dan meledaklah tangis gadis itu bagai stereo yang dipasang pada volume max. afifa menangis dan menjerit sebisanya , mengeluarkan semua beban di hatinya. Begitu keras jerit tangisnya afifa , bahkan hingga terdengar hingga ke luar. Tina pun meneteskan air mata , tak tega melihat afifa begitu tersiksa dan tertekan secara fisik dan batin. Hatinya trenyuh dan prihatin. Ia berharap semoga orang orang bejad ini kelak akan mendapat balasan yang setimpal. Entah kapan pun itu. Boss Gion lalu menyuruh jack dan jim melucuti pakaian tina. Meski diwarnai sedikit perlawanan , namun akhirnya , untuk kedua kalinya tina talisa telanjang bulat di depan para pemerkosanya. Boss gion juga menyuruh si brewok pergi sambil membawa afifa bersamanya. Entah apa yang terjadi kemudian , namun dari luar terdengar kembali afifa menjerit kata ‘tidak’ dan ‘jangan’.

 

Boss Gion duduk di tepian tempat tidur, menatap tubuh telanjang di hadapannya. Buah dada tina yang naik turun mengikuti tarikan nafas menjadi pemandangan paling menarik.

“you know…actually I like you …” boss gion berdiri dan mulai melepaskan pakaiannya , “smart , beautiful …sexy…..tapi ketika saya tahu kamu menikah dengan seorang anggota dewan sekaligus menantu seorang pejabat yang…yaaa , saya tahu seperti apalah dia….”

Ada nada mengejek dan sinis pada kalimat terakhir,

“saya jadi bertanya tanya….” Boss gion menyelesaikan dulu melepas seluruh pakaiannya sebelum melanjutkan kalimatnya , “ pernahkah kamu melayani mertuamu itu…hmm…???”

Muka tina langsung memerah. Telinganya panas dan darahnya menggelegak mendengar boss gion menghinakan keluarganya. Namun tak sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

“yahh…don’t answer that…” kata boss gion , “ I think , I already know the answer..hahahahaa….”

“BRENGSEK…!!!” tina menghentak tubuh hendak menyerang boss gion , namun tertahan cengkraman jack dan jim. Meskipun ia meronta ronta mencoba melepaskan diri , namun tak berhasil.

Akhirnya tina hanya melontarkan bermacam caci maki kepada boss gion yang di mata tina saat telanjang seperti itu mirip siluman babi.

Boss gion menanggapinya dengan santai. Ia lalu mengambil sebatang cerutu yang dari kotak yang berada di atas meja , menyalakannya dan menghembuskan asapnya ke wajah tina.

“uhuk..uhukk…huk..” tina terbatuk batuk sambil memejamkan matanya yang perih.

“bicara sesukamu lah, dasar pelacur…!!! Tapi ingat siapa yang berkuasa disini. Sekarang….berlutut , cepat….!!!” Kata boss gion.

Sadar berada di posisi yang kalah, Tina pun patuh.

“good…buka mulut…yes , that’s it ….and suck it…very hard.”

 

Menahan segala mual dan jijik , tina mengulum dan menghisap kuat penis boss gion. Sesekali juga tangannya ikut membantu mengocok ngocok penis itu. Dan lama kelamaan tina mulai terbiasa dengannya. Merasa tak ada gunanya meawan , tina akhirnya memutuskan untuk mengikuti saja jalan cerita yang bergulir. Entah apa yang terjadi pada rekannya frida lidwina.  namun melihat kondisi rossa , atau tika putri ,atau baru saja Afifa, Tina  tak mau menambah buruk situasi dan membuatnya mengalami penderitaan seperti mereka. Tak hanya mengulum, ia pun menjilati penis itu hingga ke buah zakarnya. Sentuhan dingin lidahnya memberikan sensasi luar biasa pada Boss Gion. Sambil mengisap cerutu , di bawah ‘cerutu’-nya pun sedang dihisap anchorwoman cantik. Betapa teristimewa sejagat. Saat tina kembali memasukan penisnya ke dalam mulut, Boss Gion menyerahkan cerutunya pada Jack, lalu dengan tak sabar dia memaju mundurkan pinggulnya sambil memegangi kepala tina.

“mmmhh…mmm..mmm….” tina agak sedikit gelagapan dibuatnya. Ia berusaha menahan pinggul boss gion , tapi sia sia. Boss gion malah semakin kuat mencengkram kepala tina , dan menyodokan penisnya makin bernafsu . tina mulai kesulitan mengatur nafas.

Entah berapa menit , penis boss gion bergerak ganas di dalam mulut tina. Yang pasti boss gion lalu menekan kuat kepala tina talisa sambil melenguh panjang , mengdorongnya beberapa kali ,lalu dengan cepat mencabut penisnya. Boss Gion mengarahkan penisnya ke wajah tina. Cairan putih kental pun dengan deras membasahi wajah dan rambut tina.

“ohohooo..yes…yees…hahahaha…” boss gion kembali menyodorkan penisnya ke mulut tina untuk dibersihkan. Meski merasa risih dengan cairan yang lengket mengalir di wajahnya , tina patuh membersihkan penis boss gion dengan lidah dan bibirnya.

Boss gion mengambil kembali cerutunya lalu duduk dengan lemas di kursi. Dengan isyarat tangan , ia memberi izin bagi jack dan jim untuk menikmati tina talisa.

 

Jack dan Jim yang sudah tak sabar , segera melepas pakaiannya. Saking semangatnya , Jim bahkan terjatuh hingga kepalanya terantuk pinggiran tempat tidur saat membuka celana. Kedua ‘monyet’ boss gion itu sudah merasa tak perlu lagi segala macam pemanasan. Mereka sudah cukup melakukan pemanasan saat diluar tadi, dan juga saat menyaksikan boss-nya tadi. Saatnya langsung ke pertunjukan utama. Jack yang telanjang lebih dulu , laluberbaring terlentang di atas kasur dengan penis mengacung seperti tiang bendera.

“ayo nona Tina , tancepin memek kamu di sana…” perintah Jack sambil menunjuk penisnya.

“sebelum itu….” Tiba tiba boss gion berdiri dan memungut celana dalamnya, “ bersihkan dulu mukamu itu…” celana dalam itu dilemparkan ke arah tina.

Diiringi derai tawa melecehkan, Tina dengan sangat berat hati membersihkan sperma yang berleleran di wajahnya menggunakan celana dalam boss gion. Setelah bersih , ia mencampakan celana dalam itu dengan kesal ke lantai , menarik nafas sejenak , lalu bergerak menaiki tubuh Jack. Vaginanya ia arahkan tepat pada penis Jack, pantatnya ia turunkan perlahan

“oochhh…” Tina agak terpekik saat penis jack memenuhi vaginanya. Perlahan tapi pasti , tina mulai menggerakan pantatnya naik turun.

Nikmatnya gesekan dan jepitan vagina Tina bisa dilihat jelas dari ekspresi wajah Jack .

“uuhh…aahhh…ahhhh….’” Disadari atau tidak tina mendesah mengiringi gerakan naik turun pantatnya yang makin lama makin cepat. Erangan itu berpadu harmonis dengan kecipakan dua kelamin yang menyatu. Buah dada tina bergoyang goyang begitu menggoda saat ia bergerak naik turun. Dan itu bagian jim yang dengan kasar meremas remasnya. Satu tangan tina , diraih jim dan disuruhnya untuk  mengocok penisnya.

 

“Hei….ayo kita buat permainan ini lebih menarik….” Kata Boss Gion. Ia mengambil secarik kain merah dan segulung tali dari dalam laci meja. Permainan jack dan tina sesaat terhenti

“nih…ikat tangannya….” Tali itu dilemparkan ke arah Jim.

“k-kalian..mau apa, hei..jangan…enggak..eenggak..jangan….awww…” Tina mencoba protes.

Kedua tangan Tina diikat dibelakang punggung, sementara matanya ditutup oleh kain merah hingga tak bisa melihat apa apa lagi.

“nah…ayo teruskan….” Kata Boss Gion.

Dengan perasaan cemas, Tina kembali bergerak naik turun di atas tubuh jack. Hatinya bertanya Tanya , untuk apa tali dan penutup mata ini. Pertanyaan tina terjawab , saat ia mendengar pintu dibuka dan langkah orang masuk. Tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya digerayangi. Tidak oleh satu dua tangan, tapi banyak tangan. Tina tak tahu pasti berapa. Tangan tangan itu bergerak nakal mengelus wajah , punggung dan tentu saja meremas buah dadanya. Tapi itu bukan yang terparah. Tiba tiba Jack menarik tubuh Tina dan mendekapnya kuat. Buah dadanya menekan empuk pada dada kasar Jack. Saat itulah ia merasakan pantatnya dijamah seseorang, diikuti oleh sentuhan benda keras yang bisa Tina duga benda apakah itu.

“tidak..jangan…saya gak mau begini..ja..aaahhhhakhh…..!!!!”

Sebuah penis entah milik siapa menembus paksa pantat tina. Dengan suaminya pun tina tak pernah melakukan ini. Maka tentu saja , penis yang menembus pantatnya sekarang terasa sangat menyakitkan.

 

“aaaahhhh…!!! aaahhkk….!!!!” setiap penis itu menghentak mencoba masuk semakin dalam, Tina terpekik kesakitan.

Tubuh tina kemudian ditarik hingga penis jack terlepas dari vaginanya. Posisinya kini berganti. Tina terlentang diatas tubuh entah siapa dengan penis yang masih menancap di pantatnya. Banyak tangan kembali menggerayangi tubuh tina.

Salah satu tangan itu kini membuka lebar kaki Tina Talisa. Sebatang penis besar kembali menusuk vagina tina.

“ooouhhhh….aahhh….” sepertinya ini bukan penis Jack karena ukurannya terasa lebih besar.

Posisi tina kini bagai sandwich , diapit dari atas dan bawah . dengan penis menancap di vagina dan pantat. Posisinya sangat tidak nyaman untuk tina , apalagi dengan tangan terikat seperti ini , bahunya terasa pegal dan sakit. Dua penis itu bergerak dengan kompak melakukan pompaan . sementara itu kedua buah dada tina  dikulum dan dilumat oleh dua orang lain yang tak diketahuinya siapa. Mulut mulut itu bahkan tanpa ragu menggigiti puting Tina dan menyedot leher yang pastinya menyisakan bekas di kulitnya yang mulus. Entah berapa lama kedua penis itu saling berlompa menggenjot liang tina dari depan dan belakang. Yang jelas , tina mendengar suara menggeram seorang pria , lalu vaginanya terasa disiram cairan hangat.

“oohh..tidak…” gumam Tina cemas. Sperma itu pasti disemburkan di dalam. Harap harap cemas, Tina berdoa semoga ia tidak hamil.

 

Dan selama berjam jam, nyaris tanpa jeda vagina dan pantat Tina Talisa ditembus bermacam ukuran penis secara bergiliran. Digilir begitu banyak orang tentu saja membuat staminanya perlahan mulai surut dan habis. Tubuhnya terasa lemas dan remuk redam, vagina dan pantatnya pun terasa panas karena terus menerus bergesekan dengan penis yang berbeda. Para pemerkosanya tahu jika ia sudah terlalu lemah untuk melawan atau sekedar protes. Ikatan tangan dan penutup matanya pun dibuka.bTina terbaring lemah di lantai, kesadarannya perlahan mulai menipis, tapi orang yang menggilirnya belum juga berhenti. Pandangannya pun mulai kabur, hingga ia tak bisa terlalu jelas melihat siapa saja yang memperkosanya. Tetapi Sesaat sebelum Tina memejamkan mata dan pingsan, ia melihat satu sosok yang ia kenal. Orang itu tertawa – tawa puas ketika kemudian ia juga melesakkan penisnya ke dalam vagina Tina yang sudah becek. Tina meronta dengan marah, namun ia sudah terlalu lemah. Sebelum pingsan, Tina sempat mencakar lengan orang yang terakhir memperkosanya.

“Mammm… mammmm… mamaaaaan… hnnn…” dengan satu desahan panjang, Tina pingsan.

Orang yang terakhir memperkosa Tina adalah Maman, OB di TVSatu. Bagaimana dan mengapa Maman bisa berada di sana mungkin akan menjadi misteri bagi Tina Talisa yang kini pingsan.

***___***

 EPILOG SATU

 Tropicana Café tidak begitu ramai malam itu, hanya segelintir orang yang duduk sambil menikmati lagu smooth jazz dimainkan pelan. Beberapa pasangan menikmati romantisnya suasana sambil berpegangan tangan atau minum segelas jus berdua. Di satu sudut yang remang, sesosok pria berkumis tertawa terkekeh – kekeh sambil menikmati gelas besar es teh yang tinggal berisi separuh. Di hadapan sang pria berkumis, notebooknya memainkan beberapa video yang hendak ia edit. Tak berapa lama kemudian, dua pasang kaki indah melangkah masuk ke café. Melihat dua sosok yang berdiri kebingungan di pintu masuk, pria berkumis tadi segera melambaikan tangan pada dua wanita cantik yang baru saja datang. Dua wanita cantik itupun langsung mendatangi si pria berkumis.

“Ma – Mas Roy Suryo? Se – sedang apa di sini, Mas?” tanya salah satu dari dua wanita jelita yang baru saja masuk. Nada suaranya bergetar karena gugup. Ia tidak menduga akan bertemu dengan ‘pakar’ itu di sini.

“Aku ada di sini karena memang akulah yang kalian cari,” kata Roy sambil merogoh kantong dan mengeluarkan dua helai kartu nama di atas meja dan membaginya seorang satu. “Satu untuk mbak Gadiza Fauzi dan satu lagi untuk Mbak Duma Riris… mari silahkan duduk. Kalian memang mengenal aku sebagai pakar telematika yang kondang di televisi ~ bukannya mau sombong, ini kenyataan. Tapi baiklah, supaya kalian tidak bingung dan kita terlalu lama berbasa – basi, kenalkan… aku adalah representasi dari..…”

Di kartu nama tertulis “ d4rk – s1m0ne”.

Kedua wanita cantik itu langsung terkesiap kaget.

***___***

EPILOG DUA

 Panas terik tak menghalangi seorang pria gemuk, botak dan berusia lanjut berjemur di sebuah kolam renang mewah yang berada di belakang sebuah villa besar yang tersembunyi di kawasan pantai. Tidak banyak orang tahu tempat ini karena dimiliki oleh seorang bos besar pemilik bank yang cukup terkenal di mata masyarakat, kaya raya tujuh turunan dan ( sayangnya ) juga korup. Bos ini biasa dipanggil Om Liong oleh anak buahnya. Mata Om Liong tak lepas dari sosok seorang wanita yang kini tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu adalah anchorwoman terkenal dari MeteorTV, Frida Lidwina.

Frida melepas kimononya dengan gerakan yang sangat pelan, begitu pelan sehingga mirip seperti sebuah tarian. Iringan lagu lembut yang dimainkan semakin membubuhkan tingkat keerotisan gerakan gemulai yang sedang ia lakukan. Presenter cantik itu akhirnya telanjang bulat. Ia masuk ke air perlahan, kaki demi kaki sebelum berjalan pelan ke arah Om Liong.

“Tubuh saya sudah Om sewa untuk setengah hari. Silahkan digunakan sekehendak hati.” bisik Frida seperti bergumam ketika ia sudah berada di depan pemilik bank ternama yang korup itu. Senyum Frida yang lebar dipaksakan mengembang.

Dengan berani pria tua gemuk yang botak dan sudah ubanan itu memainkan payudara Frida yang sangat menggairahkannya. Frida hanya bisa memejamkan mata dan mengerang keenakan ketika tangan nakal sang bos menggerayangi tubuh indahnya.

“Mulus sekali.” Bisik Om Liong di telinga Frida. “Mulus dan menggairahkan. Membuatku ingin segera menggumulimu, sayang.”

 

Sebelum bertemu d4rk s1m0ne, kata – kata itu takkan pernah terbayang Frida akan diucapkan seorang pria tua mesum kepadanya. Tak ada bayangan sedikitpun di benak Frida bahwa suatu hari ia akan berada dalam pelukan seorang pria seperti Om Liong. Tapi hidup penyiar cantik itu sudah berubah, ia menyerah pada nasib. Ia hanya bisa pasrah dan berucap, “apapun yang Om mau…”

Om Liong tersenyum cerah. Dia sudah lama memimpikan bisa memeluk tubuh indah Frida. Tiap hari dia selalu menanti si cantik ini membacakan berita dan dia hanya bisa mencium layar televisinya yang lebar. Kini, si cantik itu tidak sedang membacakan berita di tabung televisi, tubuh indah anchorwoman MeteorTV itu benar-benar menggeliat dalam pelukannya.

““Aku hanya punya beberapa jam saja untuk memilikimu, sayang” bisik Om Liong sambil mengelamuti telinga Frida. “Lakukan yang terbaik.” Pria tua itu mendorong pelan tubuh Frida supaya menjauh. Ia naik ke pinggir kolam dan duduk dengan santai, penisnya yang tua dan keriput menghunjuk ke atas.

Frida tahu apa yang diinginkan pria tua brengsek itu. “Baik, Om.” Kepala si cantik itu turun tepat di selangkangan Om Liong. Dengan memejamkan mata dan menguatkan hidung dari bau pesing penis si tua mesum, Frida mulai membuka mulut dan memasukkan batang kemaluan Om Liong ke dalam mulutnya. Tetesan air mata meleleh dari pelupuk mata Frida Lidwina.

***___***

EPILOG TIGA

Hilangnya Tina Talisa selama beberapa hari tanpa kabar membuat Divisi Pemberitaan TVSatu menjadi sedikit kalang kabut karena posisi jabatan Tina yang cukup strategis. Ketika akhirnya Tina masuk dia mendapat teguran keras dari atasan dan mendapat skorsing, Tina Talisa tentunya tidak mengatakan darimana ia menghilang beberapa hari ini dan menerima saja hukuman tersebut karena tidak ingin semua aibnya dibuka ke umum. Karena skorsing yang didapat Tina, seluruh tugas dan pekerjaannya kini dilimpahkan ke rekannya untuk sementara sampai Tina aktif kembali, rekan Tina yang mendapat pekerjaan itu adalah Grace Natalie. Di cubiclenya, Grace menepuk dahi beberapa kali. Kasus yang menggerogoti KPK dan perburuan teroris yang diakhiri dengan terbunuhnya Nurdin M Top di Solo membuatnya amat-sangat-lelah karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya turun langsung ke TKP, Grace tidak bisa menolak permintaan manajemen ketika pekerjaan Tina dilimpahkan kepadanya. Seharusnya ketika Tina tidak hadir, Rahma Sarita yang akan menggantikannya, namun karena pekerjaan Rahma juga sudah overload, Grace yang ditunjuk.

“Capek, Grace?” tanya Indiarto Priadi yang kebetulan lewat, di kantor TVSatu pria ini memang dikenal sangat perhatian pada Grace. Banyak karyawan yang menduga diam-diam keduanya sebenarnya saling menyukai satu sama lain.

“Banget. Kerjaanku numpuk selangit.” Seru Grace sambil menunjukkan wajah innocent seperti kucing kecil yang lucu.

“Kerjain aja pelan – pelan, nanti juga pasti selesai.” Kata Indiarto sambil menepuk dan mengelus pelan pundak Grace. Keduanya saling bertatap mesra untuk beberapa saat lamanya sebelum Indiarto mengalihkan pembicaraan. “Emm, sudah minum kopi? Kalau belum nanti aku panggilkan Maman.”

 

“Tadi sudah pesan, kok. Jangan khawatir.” Jawab Grace sambil tersenyum sangat manis.

Dada Indiarto bergetar ketika melihat senyum wanita yang diam – diam ia puja itu. Iapun segera pamit untuk kembali ke cubiclenya sendiri. “Aku masih ada beberapa pekerjaan. Nanti aku jemput lagi untuk makan siang, ya?”

Grace mengangguk tanpa menghapus senyum mesra di bibir.

Sepeninggal Indiarto, Grace kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang sangat banyak. Saat ia sedang sibuk memeriksa pekerjaan Tina, tiba – tiba sebuah notifikasi email muncul di layar komputernya. Dengan malas Grace membuka email. Kalau ini pekerjaan tambahan, kepalanya bisa meledak. Ketika membaca subyek email, Grace tercenung kaget.

Email tersebut bersubyek: ‘ Grace Natalie, buka segera email ini atau anda akan menyesal. ’

Subyek yang aneh dan bernada ancaman. Secara reflek Grace menengok ke kanan dan kiri cubiclenya, ia ingin memastikan tidak ada orang yang melihat atau bahkan menemukan orang yang berbuat iseng ini. Karena risih, Grace lalu memeriksa pengirimnya… “ d4rk – s1m0ne ”. Hm, sama saja, tidak kenal juga.

Walaupun tidak mengenal siapa pengirim email misterius dengan subyek antik itu, entah kenapa tiba – tiba saja Grace Natalie berkeringat dingin dan perasaannya menjadi aneh. Dengan tangan bergetar Grace membuka email, email yang akan segera mengubah hidupnya yang tenang.

Tapi itu cerita lain …

D4RK – S1M0NE 1.0 “Breaking (The) News (Anchor)”
Seperti dilaporkan oleh Naga Langit & Pujangga Binal.

TAMAT
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di
sini

Read Full Post »

Suasana kampus di hari libur seperti ini memang biasanya sepi. Hanya saja kali kali ini Suasana sepinya agak sedikit berbeda karena bercampur dengan nuansa berkabung. Professor Danang, seorang dosen yang cukup dihormati di kampus itu baru saja meninggal dunia kemarin malam karena sakit. Hari ini sebagaian besar mahasiswa dan dosen pergi menghadiri pemakaman professor Danang. Kampus saat ini hampir bisa dibilang kosong , hanya menyisakan segelintir orang saja yang memang punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan Tejo adalah salah satu diantaranya. Tejo adalah cleaning service yang bekerja di kampus itu. Hari ini adalah shiftnya dia untuk bersih bersih ruangan dan merapikan taman kecil di belakang kampus. Ia memulai pekerjaannya dengan mengepel lantai dua. Ditemani lagu ST 12 dari walkman murahannya, ia bekerja sambil bernyanyi –nanyi kecil. (lebih…)

Read Full Post »

The Other Dimension

Vanda

Vanda

“Percaya atau tidak , tapi saya benar benar telah menjelajah dimensi lain menembus ruang dan waktu….!!!” kata Darmanto.

Ia adalah seorang pria paruh baya, lulusan ITB dan berprofesi menjadi dosen di sebuah universitas kecil yang tak begitu terkenal.Vanda hanya mengangguk angguk saja selama sedari tadi mendengar cerita Darmanto. Vanda adalah salah seorang mahasiswi yang mengikuti mata kuliah Darmanto. Wajahnya sungguh cantik dan imut bernuansa oriental dengan rambut pendek yang sangat cocok dengan bentuk wajahnya. Darmanto sendiri sebenarnya wajahnya tidak terlalu jelek ataupun tampan. Hanya saja orang bilang wajahnya terlihat lebih tua dari umur sebenarnya , terutama dengan rambut putih yang mulai tumbuh. Hari itu , Darmanto sedang memberi konsultasi untuk tugas akhirnya Vanda. Kebetulan istrinya sedang tak ada di rumah jadi agak sedikit ‘leluasa’.  Namun entah trik Darmanto agar bisa berlama lama dengan Vanda atau memang ada alasan lain , ia bercerita tentang  dimensi ruang dan waktu.  (lebih…)

Read Full Post »

Black Note 3

Uang dan kekuasaan. Dua hal tersebut adalah ‘tuhan’ di negeri yang korup ini. Apapun bisa dilakukan dan terjadi dengan keduanya. Penjara yang seharusnya menjadi tempat yang dingin dan menyeramkan sekalipun bisa berubah menjadi ‘kamar hotel’ yang nyaman. Lihat saja mantan jaksa yang terlibat kasus suap BLBI dan telah divonis penjara, Urip Tri Gunawan. Alih alih ditempatkan di sel berjeruji, ia malah mendapatkan sebuah ruangan  yang meski agak sempit namun lengkap dengan segala fasilitas yang menjamin kenyamanan. Kasur empuk plus selimut, televisi dan DVD player lengkap dengan setumpuk film kesukaannya ( termasuk didalamnya JAV movies ) dan juga lantai berkarpet tebal. Satu satunya yang masih mencirikan jika ruangan itu adalah penjara hanyalah sebuah pintu besi dan jendela berjeruji yang terletak tinggi mendekati atap. Urip tak mempermasalahkan ukuran ruangan yang tak terlalu besar. Yang penting baginya ia bisa menghabiskan masa hukuman dengan ‘nyaman’. Uang dan kekuasaan yang dimilikinya telah menjamin itu semua. Salah satu previlige lain yang dimiliki Urip adalah dibolehkannya dia untuk menerima tamu kapan saja dan siapa saja tanpa ada batasan atau aturan apapun. Seperti halnya hari itu, Urip sedang menerima tamu khusus. Disebut khusus karena tamunya hari ini adalah juga terpidana kasus suap BLBI, ‘partner in crime’ nya, dia adalah si tante modis Artalyta Suryani (Ayin). Ayin pun sebenarnya sudah divonis penjara seperti halnya Urip. Namun kombinasi dari setumpuk uang, sepasukan pengacara tangguh dan sederet koneksi di kejaksaan membuat Ayin bebas keluar masuk dari tempatnya ditahan. Alasan yang digunakan adalah klise, yaitu sakit dan harus berobat. Bahkan dengan alasan fasilitas yang tak memadai, Ayin sudah mengantongi izin untuk berobat ke rumah sakit di Singapura. (lebih…)

Read Full Post »

Black Note 2

Seminggu terakhir masyarakat dihebohkan dengan serangkaian berita mengejutkan yang menghiasi hampir seluruh media cetak dan elektronik. Dimulai dengan berita tewasnya mantan suami pedangdut Kristina yang juga tersangka korupsi Al Amin Nasution. Ia tewas di dalam penjara karena serangan jantung. Setelah itu serentetan berita kematian para koruptor dan penjahat kelas kakap hampir setiap hari muncul di media. Ada yang mati karena serangan jantung, dibunuh atau pun kecelakaan. Polisi tak menemukan keterkaitan antar kematian beruntun tersebut meski sempat merasa janggal dengan waktu kematian yang berdekatan. Berbagai spekulasi beredar di masyarakat. Ada yang menganggapnya santet, karma, azab, bahkan pertanda kiamat sudah dekat. Dari dunia selebritis pun muncul beberapa berita menghebohkan dengan berita perampokan di rumah keluarga Azhari. Selain membawa barang berharga dan sebuah mobil, para perampok itu juga memperkosa Sarah dan Rahma Azhari yang kebetulan sedang ada di rumah. Komentar nakal lantas berkembang bahwa Sarah dan Rahma pastinya lebih menikmati pemerkosaan itu dibanding si pemerkosanya sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Black Note 1

Warning : cerita ini terinspirasi dari serial death note karya Tsugumi Ohba & Takeshi Obata. Tapi cerita ini tidak mengambil alur cerita death note melainkan hanya esensinya saja untuk kemudian diolah kembali sesuai dengan kultur Indonesia

———————————————–

Viona

Viona

(lebih…)

Read Full Post »

Alyssa Soebandono

Alyssa Soebandono

  • Karya cipta ini dilindungi undang -undang hukum alam gaib. Dilarang mengcopy-paste, mengubah isinya, atau mengaku-ngaku sebagai yang nulis. Para pelanggar dijamin akan mandul!
  • PARENTAL ADVISORY : EXPLICIT CONTENT! Cerita ini mengandung unsur perkosaan, tapi di dunia nyata penulis mengecam segala bentuk perkosaan. Rape is a CRIME punishable by human law and by God!
  • Cerita ini hanya rekaan (fiksi) belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, pasti hanya kebetulan belaka. Jika ada yang tidak tahu artinya rekaan atau fiksi, silahkan buka kamus anda!

******* (lebih…)

Read Full Post »

Malam ini begitu gelap dan membosanakan , setidaknya itulah yang udin rasakan. Seharusnya setelah mereka berhasil menculik nadia , pak mamat akan membawanya ke watu ireng , tujuannya agar udin , masto dan abdul tidak terus menerus diteror oleh arwah suster asti yang mereka perkosa dulu.
Namun rencana itu berantakan karena orang tua mitha melaporkan pak mamat ke polisi atas tuduhan pmerkosaan , akibatnya untuk sementara waktu mereka harus bersembunyi di rumah abdul sampai situasi aman.Untuk membunuh rasa bosan , udin meminjam taksi abdul untuk sekedar berkeliling sambil membeli makanan dan rokok , siapa tahu juga ia mendapat sedikit hiburan di jalan. Udin tak khawatir akan polisi karena yang dicari adalah pak mamat dan bukan dirinya. (lebih…)

Read Full Post »

Rape of Julie Estelle

julie

Siapa yang tak kenal dengan Julie Estelle. Seorang model yang cantik
sekali , artis yang lumayan bagus aktingnya , sudah bermain di
beberapa film seperti kuntilanak , selamanya , Alexandria dan lain lain.
Di usianya yang muda , Julie Estelle menjadi artis yang banyak dicari
oleh produser film karena setidaknya wajah cantiknya bisa mengundang
banyak penonton ( terutama pria ) untuk datang ke bioskop , apalagi
Julie Estelle juga pernah berpose untuk playboy . Bahkan
kepopulerannya sudah melebihi sang kakak cathy sharon yang lebih dulu
terjun ke dunia entertaintment. (lebih…)

Read Full Post »

Villa “golden olive” adalah salah satu villa mewah di kawasan puncak bogor yang dimiliki oleh albert donatius. Tak hanya mewah , villa ini pun cukup luas dengan bebebrapa bagiannya masih berupa areal pepohonan yang rimbun memberikan nuansa asri dan hijau. Bangunan utamanya cukup besar dan berjarak cukup lumayan dari pintu gerbang. (lebih…)

Read Full Post »

Dua hari sudah nadia terbaring tak sadarkan diri karena penyakit misterius dan dari sekian banyak dokter yang dipanggil untuk memeriksanya , tak ada seorangpun yang bisa memastikan apa yang terjadi dengan gadis itu. Apalagi nyonya donatius tak mengizinkan anaknya dirawat di rumah sakit sebelum jelas benar apa penyakitnya , ia khawatir jika dibawa ke rumah sakit tanpa kejelasan apa penyakitnya , akan terjadi salah perawatan atau mal praktek.
Dan begitulah , kehidupan di rumah mewah itu tetap berjalan seperti biasa seolah tak ada apa apa , nyonya donatius tetap sibuk dengan bisnisnya , sementara nadia dipercayakan kepada kedua pembantu rumah tangganya , isah dan aceng. (lebih…)

Read Full Post »

Malam semakin beranjak kian larut namun tempat itu justru semakin
ramai oleh pengunjung.
Lagu house mix dangdut terdengar saling bersahutan dari tiap tiap
warung , beberapa terdengar agak memiawakkan telinga karena keluar
dari speaker yang sudah tua.
Tampilan depan tempat ini sangat umum layaknya tempat makan minum di
luar kota , tempat singgahnya para supir truk atau bus. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.