Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Karya Dr. H’ Category

Bagian 5: Conclusion (sebuah kesimpulan)

Terminal kedatangan bandara kota G,

Sandra

Sandra

Penerbangan dari kota S sudah lima belas menitan mendarat. Penumpang pertama terlihat keluar dari pintu. Kemudian di susul oleh penumpang berikutnya diiringi oleh seorang porter yang menyeret sebuah troli yang penuh oleh tumpukan koper dan barang lainnya. Dalam hitungan detik suasanapun menjadi hiruk pikuk. Para supir taxi  menyongsong setiap penumpang yang keluar. Mereka memang selalu begitu. Berebutan menawarkan jasa tanpa memikirkan kenyamanan orang lain. Sementara itu beberapa petugas bandara sudah semakin kewalahan menertipkan para penjemput yang semakin menjejali pintu. Bandara Kota H memang kecil. Ruangnya sempit dan pintu keluarnya cuma satu. Ditambah lagi orang-orangnya yang susah di atur. Sandra terlihat berupaya untuk keluar dengan susah payah di antara kerumunan orang di sana. Beberapa kali ia harus mengucapakan ‘permisi’ kepada setiap orang yang menghalangi jalannya.

“Hhhhh!” akhirnya ia baru bisa lega setelah duduk di dalam taxi.

“Apartemen xxx, pak” katanya pada pak sopir.

Untungnya barusan Didiet menelpon bahwa Paijo batal menjemputnya tanpa menyebutkan alasannya. Tadinya ia sudah membayangkan perjalanan ini akan semakin menjadi lebih menjengkelkannya. Setidaknya ia masih bisa punya waktu buat rilek sejenak sebelum memulai ‘perang dunia ke-lima’ dengan Didiet setibanya di apartemen nanti.    Dua puluh lima menit kemudian ia tiba di apartemen. Senyum ramah dan sapaan dari petugas security di loby tak terlalu ia hiraukan. Ia melangkah cepat menuju ke Lift. Selama di dalam Lift ia berusaha mengingat ulang apa saja yang akan ia utarakan kepada suaminya nanti. Sambil  menguatkan tekat untuk menolak setiap permintaan aneh Didiet sekalipun Didiet memaksanya melakukan itu. Ternyata Didiet sendiri yang membukakan pintu baginya.

(lebih…)

Read Full Post »

 

Sandra

Sandra

Hari demi hari berlalu. Satu bulan sudah Alfi pergi dan belum juga kembali. Bila tempo hari ia mengatakan jika ia hanya akan pergi selama dua pekan saja. Berarti sekarang ini sudah dua minggu melampaui jadwal kepulangannya. Tak ada kabar sedikitpun mengenai dirinya. Sandra sudah berusaha menghubungi lewat Handphone. Namun tak ada jawaban baik dari hp Alfi maupun dari semua anggota tim. Kemungkinan mereka hanya mengaktifkan hp pada saat-saat tertentu saja karena keterbatasan baterai. Tentu saja semua itu  membuat Sandra dan yang lain kelabakan. Mereka semua mulai cemas jika benar-benar telah terjadi hal yang buruk menimpa diri anak itu. Pagi itu terlihat Sandra duduk termenung sendirian. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Siang ini Didiet akan pulang. Ia sudah memutuskan untuk berterus terang kepada Didiet tentang apa yang telah terjadi selama ini. Toh! cepat atau lambat Didiet juga akan mengetahui semuanya. Tapi setidaknya masalah keselamatan Alfi jauh lebih penting dan harus cepat diatasi.  Ia bahkan lebih siap menerima kemarahan dari Didiet ketimbang harus menderita batin karena mencemaskan Alfi.

“Non..” terdengar suara bik Iyah menyadarkan ia dari lamunannya. (lebih…)

Read Full Post »

Sudah satu bulan lebih Paijo tinggal bersama Sandra. Sementara itu Didiet masih sibuk dengan pekerjaannya di kota G. Dia jelas belum bisa meninggalkan pekerjaannya yang sedang dalam kondisi mengejar progress akhir. Ia hanya bisa pulang setiap dua minggu sekali dan menginap selama dua hari. Sampai dengan saat ini Sandra beranggapan Didiet  sama sekali tak mengetahui jika telah terjadi perubahan besar di dalam rumahnya karena ia dan yang lain selalu berhasil ‘menyembunyikan’ Paijo setiap kali Didiet pulang. Sandra memang berharap Didiet tak pernah tahu sehingga tak menambah polemik yang terjadi di dalam rumah tangganya. Paling tidak sampai apa yang ia harapan berhasil dulu.  Apalagi dengan perginya Alfi semakin menjadikan perselingkuhan antara Sandra dan Paijo  terus berlangsung tanpa ada lagi yang menghalangi. (lebih…)

Read Full Post »

Bagian 2 :  Sebuah Pengorbanan 

Sandra

Sejak hari itu Sandra secara rutin melakukan aktifitas seksual dengan Paijo. Setiap malam acara setor benih itu berlangsung. Sandra tak lagi berusaha menghindari Paijo. Bik Iyah-pun tak dapat berbuat apa-apa karena itu semua atas kehendak dari Sandra sendiri. Simbiose mutualisme antara dua insan yang saling membutuhkan itu terus berlangsung tanpa ada yang menghalangi lagi. Undangan tak resmi bagi Paijo ke dalam kamar Sandra diisyaratkan dengan pintu kamar-nya yang tak pernah lagi dalam keadaan terkunci. Lalu mereka bercinta dengan panas seakan tak ada lagi hari esok. Bila si Paijo mendapatkan tempat penyaluran bagi nafsu birahinya maka sementara itu Sandra sendiri memperoleh asupan benih dari Paijo. Namun demikian bukannya secara seksual Sandra tak ikut menikmati perlakuan Paijo tersebut. Ia bahkan mulai suka dan ketagihan oleh gelitikan aneh yang ditimbulkan oleh penis anak itu. Semakin hari daya tahan Paijo-pun semakin baik. Itu sangat mengherankan. Jika awalnya ia cuma mampu bersetubuh paling banyak dua kali saja  tiap malamnya. Tapi kini penisnya mampu berdiri tegak sedikit lebih lama. Setidaknya ia bisa memberikan kepuasan bagi Sandra. Sebuah pertanda buruk buat Alfi karena kini Sandra mulai menggantungkan kebutuhan seksualnya pada Paijo. Tapi sulit bagi Sandra menyembunyikan semua itu dari kedua sahabatnya, Dian dan Nadine. Mereka akhirnya mengetahui juga hal itu. Ketika pada suatu pagi Dian dan Nadine datang dan ia belum bangun karena bercinta dengan Paijo tanpa henti dari sore hingga malam harinya. Seperti biasanya Dian menyelonong masuk ke dalam kamar Sandra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aroma bekas-bekas persetubuhan masih kentara terendus membaur dalam udara dingin AC. Suasana kamar yang gelap hanya menampakan bayangan tubuh Sandra yang masih tertidur dalam tindihan tubuh ramping. Dian melangkah ke arah jendela lalu ia menyingkap bagian tengah kain horden dan menariknya ke arah sisi yang berlawanan. (lebih…)

Read Full Post »

Bagian 1 : Penyusup itu bernama Paijo 

Sandra

Sandra

Mentari pagi menerobos lembut kaca jendela ke dalam rumah. Di pagi cerah penuh simfoni terlihat Sandra sedang duduk termagu-magu di ruang keluarga. Meski belum mandi dan berias namun wajahnya yang bulat telur tetap saja terlihat cantik. Hidungnya meliuk dari dahi ke bawah dan meruncing di bagian ujung membentuk sudut yang manis dengan bibirnya yang sensual. Ia memang memiliki semua anugrah yang di idamkan kaum wanita. Kulitnya yang halus berwarna putih menambah keelokan tubuh sintalnya. Sayang tak ada senyum dan keceriaan menghiasi wajahnya saat itu. Wajahnya yang cantik itu justru menggurat sebuah kesedihan. Nampak Didiet sang suami baru saja keluar dari kamar dengan menyandang sebuah koper kecil. Pagi ini ia harus berangkat ke kota G. Ia menoleh di mana sang istri tercinta duduk menatap sesuatu di kejauhan padahal sesungguhnya dia tak melihat apapun di sana. (lebih…)

Read Full Post »

Episode 3 dari 3 : Cinta dan Kebahagiaan buat Lila

Di kota H, di rumah ibu Lila.

Dr Lila

Dr Lila

Pagi itu Lila terlihat sedang asyik mengemut penis hitam Alfi. Gadis itu tampak begitu menikmati hal itu, dengan mata terpejam jemari lentiknya mencengram bagian pangkal batang sementara mulutnya dipenuhi sepertiga bagian batang termasuk ujungnya yang berkulup. Tak ada kocokan sedikitpun, Lila hanya menghisap kuat sambil mempermainkan lidahnya di sekitar leher penis bocah itu. Rasa manis dan gurih muncul dari mazi Alfi yang selalu keluar setiap saat dari lubang pipisnya tanpa henti

Bila ia bosan mencucup ujung kulupnya yang runcing sesekali ia tarik kulit penutup tersebut ke belakang hingga glans-nya yang bulat bagai sebuah tomat itu nampak sudah memerah. Lalu kembali mengemutnya. (lebih…)

Read Full Post »

Episode 2 dari 3 : Asmara dan Gairah

 Kota H

 

Dr. Lila

Dr. Lila

Meskipun Alfi tak menginginkan hal tersebut malam itu terjadi padanya dan dokter Lila namun kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya pada setiap gadis yang pernah ia tiduri. Bukannya Lila menjadi suka dan ketagihan akibat di tiduri malahan gadis itu membenci dan mendampratnya habis-habisan. Atas saran dari Sriti, Alfi menelpon Niken dan menceritakan apa yang telah terjadi. Hari itu juga Niken dan Sandra dengan ditemani oleh masing-masing suami mereka datang ke kota H. Mereka berempat berencana mendatangi rumah Lila namun sebelumnya mereka menjemput Alfi dan Sriti terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan ke rumah Lila, Sriti memberikan penjelasan atas apa yang terjadi malam itu. ia sendiri tak menyangka jika semuanya akan berakhir kacau seperti ini, padahal awalnya ia dan Alfi bermaksud baik ingin menyelamatkan Lila dari Erik. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 157 pengikut lainnya.