Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2011

A.W./ Ncek Ang (mukanya sensor, malu ah!)

A.W./ Ncek Ang (mukanya sensor, malu ah!)

Aku seorang pengusaha kaya di tanah air, namaku kusebut dengan inisial saja, AW (umur ya hampir 70 tahun lah, malu ah nyebut tepatnya hehehe), soalnya gak enak karena namaku belakangan ini sering disebut-sebut dalam berita negatif, padahal aku hanya melakukan penyuapan, itu kan biasa di negeri ini, lagipula bukan aku sendiri kok yang melakukannya, ya ga? Cerita ini kutulis di penjara setelah aku ditahan gara-gara skandal terbesarku yaitu kriminalisasi pimpinan KPK (padahal bilang aja fulusnya kurang kek jadi ga usah ngerepotin kaya gini). Pasti para pembaca bertanya-tanya, di penjara kok ada komputer buat ngetik, internetan pula. Ya bisa lah masa ya bisa dong? orang yang penjara kelas VIP kaya orang-orang seperti saya ini apa sih yang gak mungkin? Yang kelas teri aja bisa liburan ke Bali dan luar negeri kok. Dalam kesempatan ini aku mau ingin bercerita tentang pengalaman seksku dengan seorang gadis yang adalah putri dari mitra bisnisku. Sungguh gadis itu terbilang cantik, kulitnya putih mulus halus menggairahkan, pahanya juga padat berisi, apalagi kalau dia pakai celana pendek pahanya makin menggairahkan kepingin rasanya meraba raba dan menciumnya. Aku sering meneguk liur kalau melihatnya saat bertamu ke rumahnya karena ia sering berpakaian minim. Pasti halus kulitnya dan enak kalau dicium pangkal pahanya dan selangkangannya pasti enak dan harum, beda dengan punya istriku yang sudah bangkotan dan sudah tidak kencang itu. Pokoknya aku nafsu banget apalagi kalau celananya pendek sekali hampir kelihatan pangkal pahanya dan cdnya kadang kelihatan sedikit. Ingin aku merasakan kelembutan cdnya kucium dan kulumat lumat. Fifi namanya, umurnya kurang lebih 25 tahun, masih belum kawin dan punya pacar pasti dia mendambakan kehangatan laki-laki. Aku dan keluarganya sangat akrab, kerap aku ke rumahnya membicarakan bisnis dengan ayahnya. Dia biasa memanggilku Cek Ang karena perbedaan umur kami jauh sekali. Sungguh aku bernafsu melihatnya kalau dia duduk cuek saja meskipun celana pendeknya tertarik ke atas makin kelihatan pangkal pahanya, putih mulus bak pualam apalagi kalau duduk di lantai buka laptop di meja tamu sambil bersila makin kelihatan selangkangannya merangsang saja mau rasanya mukaku kubenamkan ke selangkangannya, pasti hangat dan harum baunya. Kepingin sekali aku mencium aromanya

Suatu sore aku ke rumahnya untuk membicarakan urusan bisnis dengan papanya. Saat itu papanya belum pulang. Pembantu yang mempersilakanku masuk dan menunggu mengatakan hanya ada Fifi di rumah. Tidak lama aku menunggu di ruang tamu, dia baru saja keluar dari kamar mandi habis mandi, rambutnya masih dililit handuk dan tubuhnya memakai kaos longgar dan celana pendek. Langsung pikiranku jadi mupeng ingin merasakan kelembutan dan bau tubuhnya lewat pakaian bekasnya yang mungkin masih ada di kamar mandi. Aku pamit mamanya pura-pura mau pipis, betul dugaanku, di kamar mandi pakaiannya masih ada di dalam keranjang pakaian kotor. Aku memang ada kecenderungan fetishisme, waktu masih SD masih anak ingusan dulu juga aku pernah mencuri celana dalam pembantuku yang baru selesai mandi, padahal pembantuku itu gendut seperti Okky Lukman tapi aku menikmatinya, tidak heran waktu kecil dulu teman-temanku menjulukiku Ang**** si otak peler, hak…hak…hak!! (bangga lagi) Kuambil kaos itu dan kuciumi bagian ketiaknya harum baunya, bhnya kucium nikmat juga celana panjangnya kucium selangkangannya. Lalu yang kunanti-nantikan adalah cdnya merah muda dari kain lembut  kulihat dengan teliti ada rontokan jembutnya 2 helai. Aku mendekatkan kain segitiga itu ke hidungku dan menciumnya, kuhirup dalam-dalam menikmati aroma vaginanya lalu kujilati dan kuisep isep. Puas rasanya dapat merasakan bekas vaginanya yang sudah lama aku angan-angankan. Tak terasa aku orgasme, apalagi dengan umur setua diriku, cepat sekali aku memuncratkan sperma. Wajahku celingak-celinguk memastikan tidak ada yang melihat wajahku yang lagi mupeng abis menciumi celana dalam Fifi, kalau ada wartawan mengambil gambarku waktu begini walah, bisa mati jantungan aku, malunya lebih-lebih dari disorot kamera waktu di kursi pengadilan (kan banyak koruptor lain masih bisa cengengesan sambil melambaikan tangan waktu duduk di situ kok, buat apa malu?) Semakin ingin aku mencoba langsung mencium vaginanya, kapan-kapan aku akan berusaha mendapatkannya. Nanti akan kurayu dan pasti dia pun ingin merasakan kehangatan laki-laki. Besoknya aku ke rumahnya lagi, kedua orang tuanya lagi pergi, dia sendirian buka laptop di meja tamu sambil duduk di lantai dengan kaki satu ditekuk keatas. Makin merangsang aku melihatnya selangkangannya makin nampak, juga cdnya tapi dia tetap cuek saja karena aku sudah akrab dengan keluarganya.

”Fi lagi ngapain? Mana papa?” kataku basa basi sambil duduk di kursi di sampingnya,

“Belum pulang Ncek, tunggu aja dulu ya!” jawabnya sambil tersenyum ramah

“Lagi bikin tugas Fi?” tanyaku

”Ohh ngga Ncek, ini aku lagi mau cari barang untuk kantorku” katanya sambil buka internet

Mataku tak lepas-lepasnya melihat pahanya yang mulus itu. Dia sepertinya tahu kalau aku melihatnya tapi dia tetap saja duduk begitu malah makin dibukanya kakinya tanpa sengaja. Makin napsu aku mau kubenamkan saja mukaku ke pangkuannya.merasakan kehangatan selangkangannya. Panas dingin aku dibuatnya, napsuku mengebu-gebu ingat cdnya kulumat lumat itu, kalau aku punya penyakit jantung bisa kumat pastinya.

Fifi

Fifi

Kuberanikan diriku bertanya,

”Fi, pernah kamu lihat situs-situs porno di internet?”

Dia menolehku dan menjawab “Ndak pernah Cek, takut merangsang aku” katanya malu.

”Oohh…Ncek mau minta tolong kamu sebenernya sih” kataku.

“Minta tolong apa Cek?” tanyanya

”Gini, Ncek kan sudah tua nih, masalah seks perlu referensi lebih banyak, kamu bisa kasih liat gak beberapa situs di internet ke Ncek” aku menggiringnya untuk itu agar ia terangsang sehingga gampang mencumbunya.

”Hhhmm….ndak ah Cek, malu aku, gak enak nih” katanya dengan muka agak merah.

”Ayo lah Fi, sebentar aja Ncek pengin liat” rayuku lagi, “Ncek kan temen papa kamu, gak bakal apa-apa kok!”

Dengan agak malu-malu ia mulai mengetikkan sebuah alamat website dan membuka situs itu.

”Wah bagus ya body cewek itu, terus yg lain lagi Fi” aku komentari gambar cewek bugil yang terpampang di layar.

Kurasa ia mulai terangsang melihat gambar hardcore itu.

”Hihihi, kok gede gitu ya punya orang bule itu, sudah ya Ncek, malu ah”

“terus Fi sekarang buka filmnya” aku terus menyemangatinya

Aku lalu duduk di bawah samping belakangnya sambil kunikmati dari dekat pahanya. Tercium bau tubuhnya harum ketiaknya putih mulus.makin tak tahan aku. Layar memperlihatkan film adegan threesome seorang cewek bule dengan dua cowok. Fifi terpana menontonnya. Disuruhnya aku menutup pintu depan, katanya nanti kelihatan orang lain ndak enak. Makin senang aku sekarang tiba waktu nya mencumbunya, kupegang tangannya kuelus elus diam saja dia sudah mulai terangsang, napasnya memburu bibirnya dikatupkan, wangi nafasnya ingin segera aku mau melumat mulutnya, tapi aku tak berani takut dia kaget, masih belum waktunya sabar saja pikirku, toh sebentar lagi aku akan dapat menikmatinya.

”Seru ya Fi, orang bule itunya gede-gede, ceweknya pasti keenakan tuh” kataku merangsangnya.

”hiii hii,ceweknya keenakan ya? Jadi pengen pipis nih Cek” bisiknya

”Pipis aja dulu Fi, nanti kamu ngompol lo” godaku sambil kulepas tanganku.

Ia pun buru-buru ke toilet dekat situ. Lantai tempat dia duduk agak basah rupanya dia sudah orgasme, kuusap dengan tangan dan kukuciumi cairan itu, hmmm…enak. Tak lama kemudian ia kembali dari toilet. Kembali dia duduk lagi melanjutkan nonton, rupanya dia menikmati juga. Kupegang lagi tangannya kuelus lengannya, kucium bahunya makin mendesah napasnya, lalu kucium belakang lehernya,

”geli Cek, aku…jangan cium aku Cek” katanya pura-pura menolak ciumanku.

”Fi, Ncek juga terangsang lo, pegang ini” kataku sambil meraih tangannya ke penisku kuusap usapkan tangannya.

”Cek itunya bangun keras sekali, hiii…besar lo punya Ncek“ katanya malu-malu sambil menarik tangannya

Aku makin senang karena dia tak menolak tangannya kuusap-usapkan tadi. Pasti dia sudah terangsang, kupeluk dia dan aku mulai meraba pahanya wah lembut sekali, dia diam saja pahanya kuraba raba aku terangsang sekali. Kembali tangannya kuusap-usapkan ke penisku dan dia mulai meremas pelan. Berani juga cewek satu ini pikirku pasti sudah pengalaman, lalu tangannya kusuruh masuk ke dalam celanaku. Dia menolak, aku tak memaksanya. Diremas begini saja aku sudah senang. Kuelusi pahanya sampai ke atas sehingga dia mendesah kegelian, kucium lengannya dekat ketiaknya wangi baunya kuangkat tangannya mau kucium ketiaknya tapi dia tak mau. Malu-malu kucing juga nih cewek, bikin aku tambah nafsu saja. Penisku tegang sekali lalu dia kutarik duduk di pangkuanku kucium pipinya dan lehernya juga belahan dadanya,

”Hihihi…geli Cek, sudah… suuudah ah…geli aku” ia tertawa kecil sambil mendesah

Kegelian dia rupanya baru kali ini akibat leher mulusnya tersapu oleh jambang kasarku. Terus kucium dadanya dia tak menolak lagi malah tangannya naik merangkul pundakku ketiaknya sudah di depan hidungku aromanya wangi mulus sekali lalu kucium kubenamkan hidungku ke ketiaknya. Harumnya membuatku makin terangsang

”Aahh…Cek…ssshhh” desahnya.

Aku memberanikan diri mencium bibirnya, karena sudah terangsang berat, tanpa perlawanan kukecup bibirnya, lidahnya kuhisap dan lidahku juga dihisapnya, kami saling menghisap seru sekali. Rupanya ciuman begini dia senang dan enak katanya, seperti yang kuduga, ia gadis yang berpengalaman dalam seks

Kuelus elus payudara di dalam bajunya dan kuremas remas pelan tak lupa pahanya kuelus lagi sampai ke atas di selangkangannya halus dan hangat. Senang aku bisa merasakan kehangatan selangkangannya. Dia sudah tidak pakai cd, mungkin sudah dilepasnya tadi karena basah dan ditinggalnya di kamar mandi. Kuusap tepi vaginanya yang basah, rambutnya tidak begitu lebat terus kuusap bibir vaginanya lembut sekali. Mau rasanya aku sekarang menjilatnya,

”eees ohh omm seee enak geli” desahnya

Makin dibukanya kakinya supaya aku leluasa mengusapi kewanitaannya. Kuraba kelentitnya yang sensitif sehingga makin mengelinjang dia. Makin enak dan geli katanya sambil tangannya menekan tanganku untuk jariku meraba belahan vaginanya. Enak betul meraba raba vaginanya yang basah, tanganku basah sekali, penisku juga enak merasakan kehangatan pantatnya. Tak tahan aku akhirnya orgasme juga di celanaku. Aku pamit dulu mau pipis ke kamar mandi. Kucium tanganku yang basah oleh cairan vaginanya. Enak baunya, lalu kujilat, di dalam kamar mandi kulihat cdnya mini warna putih digantungan lalu kucium, tak ada bau kencing tapi bau aroma cairan vaginanya sedap sekali baunya kucium sampai puas. Kuhirup baunya dalam-dalam. Lagi-lagi penyakit fetishismeku kumat lagi. Lalu kuambil saja dan kumasukkan celana dalam itu kantongku untuk kukoleksi (asal tau saja di kamarku aku menyimpan banyak koleksi celana dalam loh, baik milik pembantu rumah tanggaku, pelacur dan wanita-wanita panggilan yang pernah kutiduri, bahkan ada satu milik waria yang pernah kuajak main sekitar 20 tahun lalu, huak hak hak hak!!). Saat aku kembali ke depan, dia masih menonton film hasil unduhan dari internet itu.

”Ciuman tadi enak ya Fi?” tanyaku dan dijawabnya dengan mengangguk tersipu sipu

Kupeluk dia lagi dan dia balas memelukku. Dilumatnya lagi bibirku. Sekarang aku mau merasakan aroma vaginanya langsung dan kusuruh dia berdiri. Kucium pahanya lembut dan halus sekali kugesek gesek hidungku enak sekali kucium terus ke atas sampai pangkal pahanya,

”ohh ssshh geli Cek, ehh geli geli eeeem!!” ia mendesah keenakan.

Sekarang aku mau cium selangkangannya. Kududukkan dia di sofa, kakinya kunaikan sebelah dia menurut saja. Kukuakkan kedua kakinya, selangkangannya sungguh mengairahkan sekali, mulus dan agak merah muda kulitnya tak sabar lalu kucium kubenamkan hidungku kuhirup aromanya nikmat sekali, hangat dan lembut sehingga makin terangsang aku. Tak puas-puasnya aku menikmati selangkangannya. Ini yang aku idam-idamkan dari dulu, akhirnya berhasil juga kunikmati. Sungguh senang aku rayuanku mengena, sebenarnya untuk mendapat kenikmatan seksual mudah saja bagiku dengan uang berlimpah, tapi itu untuk para pelacur, sedangkan untuk gadis seperti ini kenikmatannya bertambah bila berhasil melakukan pendekatan padanya. Tampaknya dia senang juga sambil merintih dan mendesah.

”Fi, nikmat ya? enak ya? mulus sekali selangkanganmu” komentarku.

”He ehm enak Cek, duh Fifi jadi becek nih!” terasa vaginanya basah,

Tanpa penolakan kulepas celananya beserta celana dalamnya, sungguh indah vaginanya belum pernah aku lihat vagina semulus ini. Kulitnya putih mulus rambutnya tidak lebat, bibirnya yang masih tipis merekah merah muda warnanya lalu kucium vaginanya. Amboi…aromanya enak sekali. Dia tersenyum lihat aku mencium vaginanya, katanya dia memang paling suka vaginanya diciumi, sensasional sekali katanya. Celana pendeknya juga kucium pada bekas vaginanya. Dia duduk di sofa dan aku berlutut di antara pahanya, kuangkat kedua kakinya, kutatapi vaginanya merekah merah muda. Tak tahan aku melihatnya tak sabar mau melahapnya. Kucium dari tepi dulu lalu belahan vaginanya aromanya enak dan kubenamkan hidungku meski basah tambah nikmat aromanya kuhirup kunikmati aromanya. Makin mendesah dia vaginanya kugesek dengan hidungku.

”Cek aaahhhh jilat Cek, ndak tahan aku ooohh!!” desahnya

Kepalaku ditekannya ke vaginanya yang berkedut kedut. Mulai kujilat vaginanya, kusapu dari bawah dekat anusnya sampai atas di kelentitnya, terus kujilat-jilat kadang anusnya yang masih mulus itu kujilat. Geli katanya kalau aku pas menjilat anusnya. Cairan kewanitaannya makin banyak berleleran, kujilati dan kutelan air vaginanya yang gurih itu. Enak rasanya lidahku kumasukkan sampai dalam dan menjilat-jilatnya  makin dalam sehingga makin mengelinjang tubuhnya. Vaginanya berkedut kedut dan otot perutnya menegang, terpejam matanya sambil bibirnya menahan gejolak napsu. Bibir vaginanya kusapu dengan bibirku. Betul-betul kulumat habis vaginanya, kutampung seluruh vaginanya dengan mulutku, kuisep-isep, nikmat sekali rasanya. Tak puas-puas aku menelan cairannya. Dia puas sekali katanya tak terkira rasanya.

“Ooh Fifi kamu memang cantik dan semok” pujiku

Setelah puas melahap vaginanya, sekarang giliranku minta dipuaskan penisku yang tegang merana tak ada yang meremas remas. Sambil kupeluk dan kucium, dia kusuruh meremas penisku. Ia pun meremasnya dari luar celana saja. Aku tak puas maka kubuka celanaku. Katanya penisku besar dan hangat diremas remas dan dielusi kepalanya lalu dikocoknya. Enak sekali merasakan kelembutan tangannya. Kusuruh dia menjilatnya dia agak malu-malu. Sambil tersenyum nakal, dia mulai mengesek geseknya ke pipinya dan diciumnya. Supaya dia tambah napsu melumat penisku, kuraba raba vaginanya, jariku kumasukkan ke vaginanya yang hangat dan basah lalu kumainkan klitorisnya. Dia dengan ahli menjilati batang penisku terus sampai kepalanya, lubang kencingnya, dijilatnya. Enak dan geli sekali rasanya. Oohh nikmat. Kutanya bagaimana rasanya? asin tapi enak jawabnya. Kemudian ia mulai mengemut penisku dengan bibirnya dan sekali kali digigit pelan, dimasukkannya sampai separuh penisku dan lidahnya menjilat jilat di dalam. Penisku diurut dengan bibirnya yang tipis itu. Nikmatnya sampai aku rasanya mau orgasme dan kusuruh dia berhenti takut ejakulasi dini dalam mulutnya, maklum sudah umur segini.

Sebetulnya aku kepingin muncrat di dalam supaya spermaku tertanam dalam tubuhnya tapi aku takutnya dia hamil dan meminta pertanggung jawabanku walah kan berabe nanti. Kusuruh mengocok saja dengan tangannya.

“Enak Cek ngemut kontolnya, Fifi tambah horny nih!” katanya.

Kemudian aku minta penisku dijepit dengan selangkangannya supaya orgasme dan kusuruh dia duduk di atasku pangkuanku. Dia mau saja tapi jangan dimasukkan katanya takut hamil. Kupangku dan kuselipkan penisku lalu kusuruh dia jepit, enak sekali penisku bergesekan dengan vaginanya. Daerah kewanitaan yang basah itu  tambah licin, oh nikmat sekali sambil kuremas-remas payudaranya dan ketiaknya kuciumi dari belakang. Diapun menekan nekan penisku pada vaginanya dan digesek-gesek ke kelentitnya sambil maju mundur penisku terasa diurut selangkangannya

“Uuuhh…enak nih Cek, Fifi mau keluar lagi!” desahnya

Makin licin saja vaginanya, lalu aku tak bisa menahan orgasmeku, dan melenguh nikmat

“Ooohh…Ncek keluar Fi…uuuhhhh!” keluarlah spermaku membasahi jembutnya.

Dia mau menjilati penisku yang masih memuncratkan sisa sperma. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil dari depan sana.

“Wah Cek…papa pulang!” katanya buru-buru turun dari pangkuanku dan memunguti pakaiannya.

Aku juga buru-buru berpakaian lagi sebelum mitra bisnisku itu masuk rumah. Fifi bersikap biasa dan wajar selama aku mengobrol bisnis dengan papanya. Itu adalah kali pertama hubungan gelapku dengannya. Pertemuan kami berikutnya adalah tiga hari kemudian, saat itu aku ke rumahnya lagi, aku sengaja ke sana karena tahu papanya sedang urusan di luar kota. Yang membukakan pintu adalah Fifi sendiri, ia senyum-senyum senang tahu aku datang tapi tak bisa mencumbunya karena mamanya ada. Dia pakai celana pendek seperti biasanya tapi waktu duduk sengaja diangkat sedikit untuk menggodaku. Dia duduk di bawah sambil buka laptop dengan duduk bersila, makin merangsang aku melihat pangkal pahanya kelihatan cdnya juga. Aku pun serba salah mau langsung mencumbunya tapi ada mamanya. Aku hanya dapat menikmati kemulusan pahanya dengan mencuri curi melihatnya, takut mamanya curiga.

Kadang sengaja dia meraba raba pahanya sendiri dan meraba selangkangannya vaginanya juga

“Cek…Fifi sudah basah nih!” katanya pelan ketika menyuguhkan minuman padaku

Duh aku tak tahan ingin segera mau mencumbunya. Kubisiki dia supaya cdnya dilepas di kamar mandi, dia kebingungan dengan apa maksudku tapi ahirnya mengerti juga. Setelah dia dari kamar mandi tak lama kemudian aku ke sana dan menemukan cdnya ada di gantungan. Memang basah dia sudah orgasme dan langsung kucium harum bau aroma vaginanya nikmat sekali, kucium kuhirup kunikmati aromanya dan kujilat kuisepi sampai napsuku terpuaskan. Dia tersenyum melihatku kembali dari kamar mandi dan sekarang vaginanya kelihatan karena dia sudah tak pakai cd lagi. Makin terangsang aku membayangkan kewanitaan di balik celana ketatnya itu.

“Cek…cdku diciumin ya? kemarin cdku hilang apa diambil?” bisiknya.

”ya Fi, Ncek isepin cdmu, abis aku napsu lihatnya, ya cdmu Ncek ambil juga kemarin, gapapa kan Fi?”

“Buat apa sih Cek?”

“Buat aku koleksi, pssstt…jangan bilang-bilang papamu Ncek suka koleksi ginian ya” jawabku

Dia senyum nakal tapi senang juga kalau aku mencium cdnya. Kemudian mamanya menawari aku pisang, lalu kumakan satu. Fifi juga ambil satu dengan pelan-pelan dia menjilati dulu pisang itu sambil menggodaku dengan dimasukkan ke mulutnya tidak langsung dimakan tapi diemutnya seperti dia ngemut penisku seraya tangannya meraba raba vaginanya. Benar-benar nakal putri rekan bisnisku ini, ia berakting seakan akan sedang melumat penisku. Aku pun tersenyum melihatnya dan ikut terangsang seolah olah dia sedang melumat penisku, pintar juga dia menggodaku. Kunjunganku saat itu tidak sempat untuk berbuat lebih jauh padanya karena mamanya terus di rumah, aku hanya ngobrol saja dengan mamanya sambil curi-curi pandang mengaguminya. Dua hari kemudian Fifi meneleponku, dia bilang mamanya pergi agak lama dan aku disuruh datang ke rumahnya.

“Weleh berani juga nih anak, gak malu-malu mengajak teman papanya yang umurnya beda jauh darinya untuk datang” pikirku sambil geleng-geleng kepala

Akupun cepat-cepat ke rumahnya dan dia pakai baju terusan kayak kemeja besar tapi kayak rok mini sehingga pahanya yang mulus itu makin tampak menggairahkan. Langsung kupeluk dan kuciumi dia, kulumat bibirnya, kucium lehernya dan belahan dadanya sambil kuremas remas, kucium ketiaknya juga. Tak sabar juga dia mulai meremas penisku katanya dia napsu sekali mau bercumbu. Dia minta bercumbu di ruang makan lalu kupangku dia, kancing bajunya kubuka semua tapi tak kulepas sudah terbuka semua ternyata ia tak pakai bh tapi masih pakai cd. Kucium tubuhnya kunikmati aromanya wangi sekali, kuremas payudaranya dan kuisep-isep, cdnya kuremas remas hingga basah bagian tengahnya. Kumasukkan tanganku ke dalam cdnya kuraba vaginanya kelentitnya kupijit pelan sehingga ia makin menggelinjang keenakan.

”Oohh…uuugh enak nikmat Cek, terus teruus,dimasukin Cek ooooh!!” erangnya menahan napsu.

Kulumat payudaranya yang tidak terlalu besar itu semua ke mulutku. Jariku mulai masuk ke vaginanya dan kukorek-korek di dalam kuputar putar sambil klitorisnya kupijit pijit sampai mengeras. Sungguh hangat lubang vaginanya dan basah pula. Sekarang kusuruh dia berdiri setengah duduk di meja makan dan satu kakinya dinaikkan ke kursi. Pemandangan sangat menakjubkan dengan cd warna hitam kontras dengan tubuhnya yang putih dan selangkangannya merah muda. Kuciumi pahanya sampai naik ke pangkalnya, nikmat dan halus putih mulus. Tak puas-puasnya kuciumi selangkangannya yang semakin becek itu. Aromanya enak memabukkan, kubenamkan hidungku dalam-dalam dan kuhirup serta kunikmati aromanya. Sungguh nikmat rasanya, memang vaginanya sangat berlendir, beruntung sekali aku dapat menikmatinya. Kujilat jilat dan kuhisep basahnya, tak sabar dia lalu cdnya dikuakkan untuk aku mulai menjilat vaginanya. Lidahku menjilat cairannya dan kusapu dengan bibirku. Kujilat sampai dalam lidahku bermain di dalam lobangnya sambil bibirku melumat bibir vaginanya.

”Cek Ang…..oooohh Fifi mau maaau keluuuar!!” desahnya saat mencapai puncak

Cairannya keluar deras dan kutampung dengan mulutku lalu kubalik dia membelakangiku, kucium bawah pantatnya belahan pantatnya, kucium kucium dari belakang vaginanya. Cdnya kutarik ke atas masuk belahan vaginanya bibirnya menonjol keluar makin indah lalu kujilat dari depan sampai ke belakang sampai anusnya. Setelah dia melorotkan cdnya, kusosor vaginanya dan anusnya kusapu dengan mulutku, kujilat jilat sensasi rasanya. Dia bilang sangat enak sekali tak terkira rasanya. Sekarang giliran dia mau memuaskan aku dan ganti aku yg berdiri sementara dia berlutut di bawah sambil melorotin celanaku. Sekarang tak ragu lagi dia menjilat dan mengisapnya, disedotnya penisku sambil kepalanya maju mundur. Seluruh penisku masuk mulutnya, lidahnya menjilat jilat di dalam. Betapa enak dan nikmat rasanya diemut dara cantik ini.

Semakin lama semakin pintar ia memainkan penisku dan makin bernapsu. Sungguh dia sangat menikmati penisku yang katanya enak juga walau sudah keriput dan tidak terlalu gede. Rasanya aku mau orgasme dan pas dia menyedot dengan keras spermaku keluar. Tubuhku mengejang ketika spermaku muncrat tanpa tertahankan, makin disedotnya lagi dan kutuntaskan spermaku keluarnya sampai habis. Spermaku yang memenuhi mulutnya ditelannya tanpa ragu.

“Mmmm….gurih Cek, tapi kok cepet banget keluarnya?” godanya nakal

Sialan, aku merasa terhina juga nih dibilang gitu, ya maklum lah usia sudah setua ini ya wajarlah sebentar langsung crot. Dia menelan spermaku dan menjilati penisku hingga bersih sehingga makin bernafsu aku padanya. Setelah istirahat sebentar sambil penisku dilapnya dengan bajunya lalu diremasnya hingga mulai tegang lagi penisku. Dengan bernafsu ia kembali memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan mengemutinya. Sekarang aku kepingin dijepit dengan selangkangannya dari depan sambil berdiri. Kuselipkan penisku dan dirapatkannya kakinya sambil kugesek maju mundur. Vaginanya basah makin licin penisku bergesekan dengan vaginanya. Enak sekali rasanya, sambil mendesah dia melumat bibirku dengan napsu. Dia sudah orgasme lagi dan dia kepingin penisku dimasukkan ke vaginanya. Kemudian aku gesek-gesekkan kepala penisku ke belahan vaginanya aku mau orgasme lagi.

”Oooh enak Cek masuk masukkan cepet!!” baru masuk kepalanya saja aku sudah keluar, spermaku membasahi lubang vaginanya.

”Cek kok cepet sih, belum masuk lo tadi” katanya kecewa.

”lain kali Fi, kalo kamu kepingin kita langsung maen aja ya, supaya aku dak cepet keluar” kataku menghiburnya.

Kemudian kami saling membersihkan diri di kamar mandi dan berpakaian kembali. Dia berkata walau agak kecewa karena aku mengalami ‘edi tansil’ (ejakulasi dini tanpa hasil) tapi ia cukup puas bercumbu dan petting tadi. Aku juga sebenarnya puas karena telah berhasil menikmati vaginanya dengan penisku walaupun sudah keluar baru sebentar, tapi juga menyesal atas ketidakperkasaanku. Ini juga salah satu sebab istriku tidak puas ketika bercinta. Ia mencari kepuasan dengan berselingkuh dengan sopirnya, setelah hubungan gelap mereka kuketahui kami kini tinggal pisah rumah, tidak resmi bercerai untuk menjaga statusku agar tidak malu. Bah, Ang**** si otak peler, kok begini menyedihkan ya nasibmu? Aku meratapi diri. Lain kali aku akan bersiap-siap dulu sebelum bertemu putri rekan kerjaku ini agar bisa kusetubuhi dan kunikmati vaginanya sampai puas.

################################

Suatu hari masih siang aku telepon dia mengajaknya bercinta lagi. Dia menyambut ajakanku dan minta dijemput dari sebuah mall, kali ini ia mau melakukannya di hotel. Ia berkata bahwa ia sudah siap dengan pil anti hamil. Aku makin senang saja karena tak lama lagi aku dapat menikmati tubuhnya luar dalam. Dengan bersemangat aku menjemputnya di tempat yang dimaksud. Ku miscall dia begitu sampai di depan mall, tak lama kemudian ia keluar dan menghampiri mobilku. Dia begitu cantik hari ini dengan kaos lengan pendek dan celana panjang yang mencetak pahanya yang ramping. Langsung kami menuju ke sebuah hotel yang biasa menjadi langgananku untuk main gila. O iya hotel ini juga pernah kupakai menjebak seorang petinggi KPK yang kuanggap membahayakan bisnisku. Seorang wanita caddie yang bekerja di tempat golf langganan pejabat itu kubayar untuk merayu dan menjebaknya. Kuatur sedemikian rupa hingga kasusnya rumit dan berbelit-belit sehingga perhatian mereka padaku teralihkan. Usahaku membuahkan hasil karena kini pejabat itu telah dijatuhkan dan dikenai tuduhan pembunuhan karena cinta segitiga dengan wanita itu. Setelah check in, kami masuk kamar. Begitu pintu tertutup langsung kupeluk dan kucium mesra dia, kurebahkan ke ranjang dan kuciumi seluruh tubuhnya. Tanganku menaikkan kaosnya dan menyingkap branya.

“Eittt…tar dulu Cek, Fifi mau mandi dulu ah, biar seger!” ia mendorong dadaku sebelum aku melucutinya lebih jauh.

Dia mengajakku ikut mandi bareng dan memandikannya. Dengan gerakan erotis ia membuka pakaiannya hingga tinggal cdnya yang merah muda. Wow aku melongo sambil memegangi dadaku, takut jantungku kumat melihat pemandangan yang luar biasa ini. Kembali kudekap dan kuciumi tubuhnya yang wangi dan segar sekali walau belum mandi. Sambil berciuman ia melucuti pakaianku hingga lepas semuanya, terlihat sekali tubuhku yang sudah tua dan keriput kontras dengan tubuhnya yang masih muda dan mulus. Kemudian kami pun mandi berdua, kusabuni badannya dari atas sampai kakinya seperti memandikan bayi. Setelah menyabuninya, ganti aku disabuni sama dia, tak lupa penisku disabuni sambil dikocok kocok. Sungguh puas dapat mandi dengan bidadari cantik ini, tubuh licin kami saling bergesekan menimbulkan sensi nikmat. Anus dan vaginanya kusabuni juga lalu berdua saling membilas di shower dan saling melumat bibir tak lupa payudaranya kulumat, lalu selangkangannya kujilat kusapu dengan bibirku tepi vaginanya kujilat jilat tubuhnya bergetar menahan nikmat.

“Aaah…mau keluar nih cek!” desahnya

Kusuruh dia keluar di mulutku saja aku mau merasakan cairan kewanitaannya yang gurih. Aku pun jongkok dan menaikkan satu kakinya ke bahuku, kepalaku menengadah vaginanya pas di mulutku.

Kujilat terus hingga lidahku masuk vaginanya membuat organ kewanitaannya semakin berdenyut dan akhirnya… .seeeeer cairan bening itu keluar tepat di mulutku. Hangat dan enak, kuteguk semua cairan itu sambil kusapu bibir vaginanya dengan bibirku. Wah sensasi yang luar biasa, seumur umur aku belum pernah merasakan yang segurih ini, punya istriku yang udah bangkotan itu? Lewat!! Dia tersenyum tahu aku meneguk cairan klimaksnya

“Gimana rasanya Cek?” tanyanya

“Huehehe…uenak Fi, pasti itu kamu rajin dirawat ya?” jawabku

Setelah klimaks di kamar mandi kami saling mengeringkan tubuh dengan handuk dan keluar dari kamar mandi, tadinya mau kugendong sih tubuhnya tapi aku takut encokku kumat, kan malah jadi berantakan semua deh acaranya hak…hak…hak!! Aku mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas ranjang, aku langsung menerkamnya dan kuciumi seluruh tubuhnya sampai pantat dan anusnya juga tidak lolos dari kecupanku. Giliran vaginanya kucium lebih lama untuk menikmati aromanya, ketiaknya juga kucium lama karena harum dan lembut. Dia juga menawarkan diri menjilat penisku. Lalu kami posisi 69 saja supaya sama-sama enak mendapat kenikmatan dobel, aku enak dapat menikmati vaginanya dan penisku enak disedotnya juga  Dia dapat dobel sambil menikmati penisku vaginanya juga enak kujilat jilat. Sungguh nikmat dan asik, dia melumat lumat penisku dengan lahap, rupanya dia memang suka dan doyan melumat penis. Cairan kewanitaanya sudah banyak keluar dan membuat mukaku basah kuyup. Dia makin asik menghisap hisap penisku, enak rasanya karena dia makin pintar melumat penisku sampai aku dibawa ke puncak kenikmatan. Puas sekali dia dapat orgasme berkali kali, sudah banyak air vaginanya kuteguk. Kini dia kepingin bersetubuh, ia berbaring telentang dengan kaki dibuka lebar seolah mengajakku untuk melakukannya. Hehehe…kali ini gak akan ‘edi tansil’ lagi seperti kemaren itu karena aku sudah mempersiapkan diri dengan viagra impor sebelum menjemputnya tadi. Khasiat obat itu begitu terasa karena hingga kini penisku masih tegang dan belum orgasme. Awas Fi…akan kubalas ejekan kemaren itu dengan membuatmu berkelejotan nikma. Aku menggesekkan kepala penisku ke lubang vaginanya sambil kumasukkan sedikit demi sedikit,

”Eeennggh…sakit Cek, pelan pelan…jangan kasar!!” erangnya.

Meskipun vaginanya sudah tidak perawan tapi terbilang sempit dan legit, maka kudorong penisku lebih bertenaga hingga dia meringis kesakitan, lalu kusuruh dia duduk di atasku supaya dia sendiri dapat menyesuaikan masuknya dengan vaginanya.

Digesek gesekkan bibir vaginanya dengan penisku dulu untuk melicinkan lubang vaginanya kemudian dia angkat pantatnya lalu turun lagi diangkat dan turun lagi perlahan. Makin masuk makin lama makin dalam masuknya, kunikmati saat-saat penisku mulai masuk oooh penisku masuk semua sampai pangkalnya wah enak vaginanya seret dan menjepit. Sungguh enak vaginanya, akhirnya aku dapat juga menikmati vagina putri mitra bisnisku ini. Dia berhenti bergerak sambil matanya terpejam mukanya memerah, bibir bawahnya digigit sendiri menikmati vaginanya kemasukan suatu benda asin. Enak dan nikmat terasa vaginanya terganjal meski agak perih tapi nikmat katanya. Tubuhnya sudah menyatu dengan tubuhku, vaginanya berkedut kedut, penisku terasa diremas remas. Dia bergidik gemetar mengelinjang dan makin menekan ke bawah, rupanya dia orgasme. Setelah dia dapat menyesuaikan dan vaginanya sudah basah sekali lalu dia mulai bergerak naik turun keluar masuk penisku dalam vaginanya wah nikmat sekali. Makin cepat dia naik turun sambil payudaranya kulumat lumat dan kuhisap. Dia mengerang kenikmatan

“Aaaahhh…aaahhh…enak Cek, nnggghhh!!” desahnya makin seru, goyangnya juga makin dahsyat

Wah pinter juga dia bersetubuh, goyangannya itu benar-benar ahli, tidak kalah dari wanita panggilan impor yang pernah kucicipi. Berkali kali dia orgasme sampai basah sekali lalu dia cabut penisku dan diemutnya penisku yang berlumuran cairan vaginanya hingga bersih lalu dimasukkannya lagi ke vaginanya.

”Ooooh enak…nikmat Cek” digoyangnya naik turun lagi tubuhku

Kusuruh dia jongkok supaya tambah enak makin terasa enjotannya. Kulumat bibirnya, liurnya kuhisap, kupeluk dia dengan erat. Pantatnya tetap naik turun, sekarang gantian aku di atas, kunaikkan kakinya ke pinggangku lalu kuenjot enjot sambil kakinya menekan pinggangku. Kulumat payudaranya, putingnya kusedot dengan bernafsu. Makin erat rangkulannya, desahnya makin bernapsu, keringatnya bercucuran sehingga tubuhnya makin licin. Betul-betul tubuhnya menyatu dengan tubuhku dalam kenikmatan. Aku hampir mencapai puncak dan kutanya dia apa mau kukeluarkan di dalam. Dia mengiyakan supaya dia dapat merasakan semburan spermaku, dia tak takut hamil sebab tadi dia sudah minum pil anti hamil. Menanti saat-saat spermaku menyembur di dalam tubuhnya makin nikmat dan akhirnya spremaku keluar juga setelah sekitar setengah jam kugenjot dia. Enak sekali mengisi tubuhnya dengan spermaku, dia makin memelukku erat dengan tubuh mengelinjang merasakan semburan spermaku pada liang vaginanya. Kami pun terkulai lemas penuh kepuasan

.”Gimana Fi? Asyik kan?”tanyaku sambil kucium pipinya

“ooh enak Cek, Ncek Ang kuat banget hari ini, Fifi puas loh!” katanya dengan ngos-ngosan setelah bersetubuh.

Masih ada waktu karena aku hari ini cukup senggang, enaknya tidur sebentar untuk memulihkan tubuh tuaku.

Sebelum tidur bersama dia mandi dulu untuk membersihakan tubuh lalu kami tidur berangkulan. Sunguh nikmat tidur merangkul tubuh telanjangnya yang hangat dan lembut. Setengah jam kami tidur badan terasa segar kembali dan dia sudah mulai meremas remas penisku dengan posisi 69, vaginanya masih mulus kemerah merahan meski lobangnya agak membesar, tapi kalau dijilat masih tetap enak lidahku bisa bebas menjilat dalamnya. Kami bersetubuh sebentar sebelum pulang, kugenjot dia dengan gaya doggie

”Iyaahh…yahhh enak trus genjot genjot Cek!!” erangnya keenakan, ”Cek…Fifi maaauuu keluar eeeghhh!!”

Vaginanya berkedut kedut dan aku pun mau keluar juga, crot keluar sudah spermaku kutuntaskan sampai habis. Lega dan enak sekali, dia juga sangat puas hari itu. Kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu makanan yang kupesan lewat telepon. Dalam obrolannya ia menceritakan beberapa pengalaman seksnya dengan sejumlah pria. Wah…wah, ternyata ia juga pernah terlibat seks dengan GT, seorang petugas pajak yang pernah mengurus pajak perusahananku juga pernah terlibat hubungan sesama jenis denganku (oppppsss…jadi ketahuan deh, hehehe malu ah, iya nih terus terang selain gila perempuan, aku Ang**** si otak peler juga sebenarnya suka dengan sesama pria loh). Dengan GT aku pernah melakukannya sehingga mendapat diskon untuk jasanya memanipulasi pajak. Psstt…cukup mupengers di sini aja ya yang tau rahasiaku ini, jangan bilang-bilang lagi apalagi ke wartawan, nanti tambah heboh beritanya ya heheheh…Setelah makan kami kembali melakukan seks kilat, dia rupanya napsunya besar juga, tak puas-puasnya mau bersetubuh lagi mumpung ada kesempatan dan waktunya sedang lenggang. Ronde kali ini kami hanya melepaskan pakaian bawah saja, lalu ia duduk berhadapan dan memelukku dengan erat. Pantatnya kubantu menekan vaginanya, penisku terasa menyentuh sesuatu di dalam. Dia bergoyang makin seru sambil berteriak teriak pelan saking nikmatnya. Gundukan vaginanya hangat nempel perutku jembutnya bergesekan dengan jembutku. Tidak terlalu lama kami mencapai orgasme bersamaan. Setelah beres-beres aku kembali meminta cd nya untuk kukoleksi, dan ia mengiyakan sehingga dia pulang tak pakai cd. Sebelum keluar dari kamar hotel ia menciumku sebagai tanda perpisahan, setelah di luar hotel kami berpisah seolah tidak saling kenal. Hehehe…sungguh hari yang memuaskan, dalam usia setua ini masih bisa menikmati wanita muda yang segar seperti si Fifi ini.

Selanjutnya kami beberapa kali mengulangi perbuatan itu, baik di hotel maupun di rumahnya kalau sedang sepi. Hingga ketika aku terkena kasus pertengahan 2010 lalu, aku sempat lama tidak bertemu dengannya, karena repot ngurusin pengadilan ini itu. Setelah pengadilan yang bertele-tele seperti dagelan itu aku dijatuhi hukuman penjara. Awalnya sih memang aku ditempatkan di sebuah bekas rumah sakit, ya tau sendiri lah kan waktu itu baru saja heboh penjara mewah AS, si ratu suap yang baru saja dibebaskan kemaren itu, jadi untuk memberi kesan baik ke publik gitu loh hehehe….di penjara ternyata aku tidak kesepian dan banyak bertemu partner kriminalku, misalnya GT, si petugas pajak itu, SD, si polisi korup tapi sok suci yang juga pernah terima suap dariku, juga beberapa mantan pejabat lain yang kini menjadi tahanan. Di penjara karena kurangnya perempuan kami sering pesta orgy sesama jenis, terutama dengan GT, itu tuh my partner in crime waktu menggelapkan pajak itu, ternyata dia itu kekasih lelaki AB, seorang pengusaha dan politikus terkenal di Indonesia, pantas saja kasusnya menggantung terus, wong bekingnya aja orang kuat kok. Bahkan pada akhir 2010 lalu setelah GT kepergok plesiran ke Bali, aku sempat pergi plesiran dengannya ke Thailand, Macau, dan Malaysia. Di Pattaya, Thailand, yang terkenal dengan hiburan esek-eseknya kami bersenang senang di sebuah klub gay terkenal di sana, ternyata orang setua diriku ini juga masih menarik kaum gay setempat maupun bule loh hehehhee….Tapi dasar si GT ini emangnya banci kamera, dia kan banyak foto-foto tuh di tempat menarik yang kami kunjungi, foto-foto tadi dia pasang di FB nya untuk diperlihatkan pada saudara dan teman, eh tapi gak tau bagaimana deh, foto-foto itu akhirnya tersebar di internet, untung tidak ada yang sedang bersamaku, kalau ada wah tambah parah deh. Oke deh mupengers sekalian sampai segini dulu ceritaku, aku masih harus mendekam di penjara VIP ku ini, waktu aku menutup tulisan ini aku sedang dioral oleh GT, uh asik juga hihihihi…udah dulu ya. Wah dan baru kemaren penjara tempat kami ditahan kedatangan 17 dari 19 politisi (2 lagi kan wanita jadi di penjara lain) yang tertangkap KPK terkait suap pemilihan gubernur BI nih, wah bakal tambah peserta nih acara gay orgy di sini, sipp!! Oh iya, untuk Fifi sori ya Ncek udah lama gak ketemu kamu soalnya sekarang Encek lebih suka sama pedang daripada sarungnya nih, hehehhe

SEKIAN

By: Susan Lonte
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di
sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini

Read Full Post »

Cerita ini bertolak dari ide roman sex yang indah berlatar budaya yang berbeda, dibumbui dengan ilmu gendam yang dahsyat juga kemelut keluarga sehari-hari. Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi pembacanya untuk menghayati bahwa perbedaan itu sangat indah.

Chapter I

Viana

Viana

Viana adalah gadis smu putri Pak Sumarga, pengusaha kaya yang mata duitan dan terkenal pelit. Sebagai layaknya anak orang kaya tentu saja Viana luar biasa dimanja, akibatnya Viana tumbuh menjadi gadis yang malas dan mata duitan. Viana berwajah oriental yang cantik, imut dan mulus  karena memang berasal dari keluarga kaya yang sangat menjaga penampilan luarnya sehingga kulit tubuh Viana begitu putih terang dibalut dengan pakaiannya yang selalu modis seperti layaknya gadis keturunan yang hidup di kota besar. Meskipun begitu sebenarnya Viana adalah gadis feminim yang dalam kesehariannya senang sekali belanja dan jalan-jalan bersama pacarnya, Johan. Berbeda dengan adiknya, Airin yang juga feminim, tapi lebih suka berada di rumah. Viana dan Airin hanya berbeda umur dua tahun, hal itu menyebabkan mereka terlihat lebih akrab dan kompak satu sama lain.

Airin

Airin

Nasib manusia memang sulit diterka, bencana secara beruntun menimpa keluarga Viana, pertama, ayah Viana mengalami kebangkrutan (karena ayah Viana senang sekali berjudi dan main perempuan) sehingga yang tadinya mempunyai pabrik dan banyak toko, sekarang habis semua, untunglah ayah Viana masih mempunyai tabungan. Bencana kedua, Viana harus merelakan keperawanannya oleh Johan, sang pacar. Bencana ketiga, mama Viana stress berat akibat semua kekayaannya habis karena ulah suaminya, hingga merekapun cerai. Bencana keempat, rupanya Johan hanya mengincar kekayaan Viana, karena setelah tahu ayah Viana bangkrut, Johanpun memutuskan Viana secara sepihak. Dan bencana kelima yang tidak disadarinya adalah dendam terpendam salah seorang pegawai ayah Viana yang dipecat beberapa tahun silam, dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan bencana-bencana yang lain. Semua musibah itu cukup membuat Viana terluka juga pada awalnya, namun apa boleh dikata, hidup harus tetap dijalani, tangispun tak ada gunanya. Minimal karena peristiwa-peristiwa itulah mata Viana terbuka dalam memandang kehidupan, terutama dalam memilih cowok, Viana cukup trauma bergaul dengan teman-teman kaya yang sekarang malah menjauhinya. Viana sadar cowok kaya yang mendekatinya tak lebih dari sekumpulan buaya yang ingin memanfaatkannya setelah keluarganya mengalami kebangkrutan fatal. Seminggu lamanya Viana menyendiri meratapi nasibnya, untunglah dia punya adik yang bawel seperti Airin yang senantiasa menghiburnya, hingga taklama Vianapun ceria kembali. Setelah orangtuanya cerai, Vianapun harus hidup dengan papa dan adiknya keluar jauh dari Jakarta kedesa kecil dipinggir pantai utara pulau Jawa. Atas saran Tatik, istri mudanya, Papa Viana membuka toko sembako didesa itu karena tabungannya tidak cukup untuk buka usaha di kota besar. Penduduk sekitarnya kebanyakan adalah nelayan sehingga jarang ada toko sembako disitu, Untunglah naluri bisnisnya tetap jalan sehingga justru usaha sembakonya bisa berjalan mulus sebagai agen dan penyalur.

###########################

Chapter II

Tarjo, Warsa, Darsono, Kosim, dan Udin

Tarjo, Warsa, Darsono, Kosim, dan Udin


 Lima tahun yang lalu di desa kecil daerah pantai utara tempat Viana sekarang tinggal, dikenal lima orang preman yang kerapkali meresahkan warga sekitar. Darsono(40 tahun) adalah kepala preman, Warsa (40 thn) tangan kanannya dan tiga orang anak buah dan juga muridnya yang rata-rata berumur 30 tahunan yaitu Kosim, Tarjo dan Udin. Darsono dikenal sakti karena mempunyai ilmu kanuragan tingkat tinggi dan juga ilmu gendam, dengan bekal ilmu inilah setiap harinya mereka selalu meresahkan warga nelayan, dan mempermainkan gadis desa ataupun pelacur hingga kerapkali mereka masuk sel, namun tidak juga membuat jera. Sampai akhirnya Warsa harus tewas tertembak peluru polisi karena terlibat aksi bajing loncat yang merampok sopir truk yang lewat. Setelah kejadian itu mereka berempat mulai jera dan agak mengurangi aksinya. Kosim yang merasa ketakutan karena diapun ikut dalam perampokan itu, melarikan diri ke Jakarta dan tinggal bersama Tatik, adiknya. Sedangkan Tarjo dan Udin tetap didesa itu sambil berguru pada Darsono memperdalam ilmu kanuragan. Kosim ikut bekerja di tempat Tatik kerja yaitu di toko emas milik Pak Sumarga, seorang pengusaha keturunan chinesse kaya yang usahanya banyak, diantaranya toko emas, tekstil, café, dan lain sebagainya termasuk usaha rumah bordir yang dikelolanya secara gelap. Pak Sumarga ini terkenal suka main judi dan wanita hingga meskipun sudah punya istri cantikpun masih hobi main wanita. Tatik, adiknya Kosim adalah wanita Jawa yang hitam manis yang bekerja di toko emas milik Pak Sumarga sebagai kasir. Diam-diam Tatikpun jadi simpanan Pak Sumarga, hal inilah yang memudahkan Kosim untuk mendapatkan pekerjaan di rumah Pak Sumarga sebagai sopir pribadi. Pak Sumarga hanya mempunyai dua orang putri, yaitu Viana dan Airin, hasil perkawinannya dengan Irene, bekas teman kuliahnya dulu yang sekarang menjadi istrinya. Didesa asalnya, Kosim memang jarang melihat warga keturunan Chinesse apalagi yang seperti Viana dan Airin yang waktu itu masih anak SMP namun kecantikannya sudah terlihat menggairahkan dimata Kosim yang mata keranjang. Belum lagi Nyonya Irene yang umurnya 35 tahunan tidak terpaut jauh darinya yang masih 32 tahun. Nyonya majikannya masih terlihat cantik, apalagi dengan dandanan seperti halnya wanita kaya dari kalangan atas.  Otak kotornya Kosim mulai bekerja, bagaimana ia bisa menguasai ketiga wanita majikannya tanpa paksaan, dan tanpa sepengetahuan bosnya sendiri yaitu Pak Sumarga. Kosimpun tidak ingin adiknya terus menjadi simpanan bosnya, bagaimanapun seorang kakak ingin adiknya bisa nyaman hidupnya dan tidak kekurangan materi seperti keluarganya.

Akhirnya Kosimpun bekerjasama dengan Tatik, sang adik untuk menguasai para majikannya terutama hartanya. Dengan ilmu gendamnya yang tinggi, Kosim berhasil memikat hati Nyonya Irene sang majikan wanita. Nyonya cantik yang sering kesepian ini akhirnya jatuh dalam kekuasaan Kosim sang sopir. Tidak sampai tiga bulan bekerja, Kosim sudah mendapatkan bonus tubuh nyonya majikannya itu. Merekapun terlibat skandal terlarang diluar rumah Pak Sumarga. Untunglah rahim nyonya Irene sudah disteril sehingga tidak terjadi kehamilan dan rahasia bisa terus terjaga. Puas dengan tubuh sang nyonya, Kosim mulai mencari pelampiasan yang lain, yaitu Viana dan Airin. Ranumnya tubuh belia anak SMP rupanya cukup membuat Kosim mengocok penisnya tiap hari dengan khayalan tubuh mulus anak majikannya. Tapi apabolehbuat, Vania dan Airin benar-benar gadis yang tidak dapat dijangkau Kosim. Ilmu gendamnya belum dapat berpengaruh banyak pada anak SMP yang masih polos. Perbedaan status sosial juga membuat Kosim hanya bisa menelan ludah saat melihat paha Viana yang putih tersingkap dari balik seragam birunya karena tidak berani berbuat terang-terangan seperti kebiasaannya pada nyonya Irene. Tatikpun mulai melancarkan aksinya pada Pak Sumarga, ia ingin statusnya naik menjadi nyonya muda, dengan bujuk rayunya gadis itupun berhasil membuat Pak Sumarga menikahinya meskipun secara diam-diam. Namun sayang, drama rumah tangga ini harus berakhir dimana Kosim kepergok oleh Viana saat mencuri perhiasan emas. Seharusnya Kosim dipenjara, namun karena Tatiklah akhirnya Kosim hanya dipecat dari pekerjaannya. Hal ini membuat Kosim dendam pada keluarga Sumarga dan bertekad akan membalasnya dikemudian hari terutama pada Pak Sumarga yang juga adik iparnya. Karena hasratnya terputus ditengah jalan, Kosimpun kembali kedesa asalnya, niatnya untuk mencicipi tubuh anak majikannyapun kandas karena keserakahannya sendiri. Nyonya Irenepun harus merelakan kekasih gelapnya dipecat, tanpa berani menghalangi karena takut skandalnya malah jadi terungkap. Tatik juga tidak bisa berbuat banyak, karena posisinya sebagai istri muda, namun ia sudah tahu perihal hubungan nyonya Irene dengan kakaknya, namun Tatik memilih diam untuk kelanggengan hubungannya dengan Pak Sumarga yang baru seminggu menikahinya. Memang bukan saat yang tepat membocorkan ulah Nyonya Irene pada suaminya, Tatik takut kakaknya malah berurusan lagi dengan polisi, tentu nasibnya tambah parah. Namun Tatik sudah menyimpan rencana untuk merebut Pak Sumarga yang kaya dari istri tua saingannya, Nyonya Irene, sekaligus ikut membalas sakit hati Kosim pada anak-anak Pak Sumarga, terutama Viana yang menyebabkan Kosim dipecat secara kasar oleh Pas Sumarga.

###############################

Chapter III

 

Kehadiran keluarga Viana segera tersebar di desa kecil itu, karena keluarga Chinesse sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari, itupun rata-rata sudah berbaur dengan pribumi setempat sehingga ciri-cirinya sudah hampir hilang. Keluarga Viana yang datang didesa itu atas bujukan Tatik, tentu saja menjadi pusat perhatian karena kehadiran Viana dan Airin yang bagai bidadari belia. Viana harus menghabiskan masa smu nya di sebuah smu pinggiran satu-satunya didesa itu, sementara Airin harus memulai masa SMU nya selama 3 tahun disitu, sungguh suatu beban yang berat bagi Viana dan Airin. Ini semua sudah rencana Kosim dan Tatik adiknya. Kosim yang masih merasa kesal karena aksinya dulu ketahuan langsung saja menghubungi kawan-kawannya.

“Wah, yang bener sim, ceweknya cantik-cantik tah?”

“Iyalah Jo, bagus buat sampeyan perbaiki keturunan, sayang Ibunya udah pindah” celoteh Kosim mempromosikan mantan majikannya.

“Kalau begitu, daripada kalian nganggur, toh obyekan kita juga lagi sepi trus banyak diincer pulisi, mending kalian kerja ditempat dik Tatik saja, siapa tau anak bekas majikan si Kosim ini bisa kalian entotin, kan lumayan bisa dijadiin gundik, toh kalian ini belum punya istri, jadi kita gak perlu kerja lagi, tinggal minta uang sama bapaknya, iya toh Sim” dengan semangat Darsono menimpali laporan Kosim.

“ Kalau aku sih ndak bisa lagi mas, aku kan sudah kerja di juragan baruku.paling si Tarjo sama Udin saja toh mas, lagian aku pasti ditolak mentah-mentah meski ada Tatik! Semua ini gara-gara anak itu!. Kalau sampeyan sendiri gimana mas? “

“Hehehe itu juga bagus, kalau aku mending urusin istriku jualan ikan dipasar sim, jadi ga bisa ikutan, nanti sajalah aku ikut ngentotin non amoy itu yah, itu juga kalau lagi nganggur, gimana kalian mau apa ndak?”

Serempak Tarjo dan Udin berkata keras “mauuuuuuu” karena mereka diam-diam sudah mengintip gadis muda di keluarga Pak Sumarga, mantan majikan Kosim. Kosim tersenyum puas mendengar semangat dua rekannya, terbayang lagi diingatannya tubuh Viana dan Airin yang putih bagai Kristal, tak ada Ibunya, anaknyapun jadi, malah pasti lebih nikmat daripada Ibunya dulu. Dia harus memutar otak agar kedua gadis itu terutama Viana jatuh ketangannya. Tarjo dan Udin harus menjadi alatnya untuk membalas keluarga Pak Sumarga. Akhirnya melalui Tatik juga, Tarjo dan Udin diterima kerja ditoko sembako sebagai kuli angkut merangkap tukang antar jemput sekolah Viana dan Airin.

############################

Chapter IV

 

Keluarga Viana menjadi pusat perhatian di desa itu, Viana dan Airin pun menjadi primadona para pemuda pribumi di sekitarnya. Banyak pemuda pribumi berusaha mendekati Viana, tapi papa Viana melarangnya sehingga Viana tidak dapat berteman sekalipun dengan para pemuda tersebut. Memang mungkin karena dikota kecil, jadi penduduknya agak kurang berpendidikan, rata-rata penduduk pribuminyanya hanya lulusan SMP dan pekerjaannya nelayan atau buruh kasar, mungkin karena itu ayah Viana melarang putrinya bergaul. Disekolahnya yang baru, Viana juga menjadi sorotan guru dan murid lainnya, karena penampilannya yang berbeda dengan murid lain. Untunglah pikir Viana dia hanya menghabiskan massa kelas 3 SMU saja disekolah itu, sementara Airin, adiknya harus menghabiskan 3 tahun lagi karena masih kelas 1 SMU. Viana dan Airin semenjak kecil sekolah disekolah elit di Jakarta, maka tidak heran penampilan mereka sangat modis didukung oleh dana yang besar selama di Jakarta. Dikota kecil itu mereka harus rela tidak berdandan, tapi meskipun begitu mereka memang pada dasarnya cantik, malah kecantikannya lebih natural kalau tanpa makeup, hanya tentu saja masalah berpakaian mereka hanya berubah kalau pergi kesekolah yang melarang muridnya berdandan, sedangkan kalau dirumah mereka bak model rumahan. Airin tidak terlalu kentara, tapi Viana benar-benar terlihat jelas kesexyannya, mereka berhotpants ria didalam rumah menampilkan paha yang putih mulus, tidak heran mereka diincar para pemuda sekitar dan juga para kuli ditoko sembakonya termasuk Tarjo dan Udin. Sejak awal bekerja, Tarjo dan Udin yang sudah berotak kotor selalu membayangkan tubuh anak majikannya yang memang amat mulus mengkilat. Mereka kerap menonton film porno sambil mengocok penis hitam kebanggaannya dan mengkhayal memperkosa Viana  yang putih dan sipit dikamar mereka, tentu saja mereka melakukan itu waktu malam hari, karena kalau siang mereka berubah bagai serigala berbulu domba didepan para majikannya. Mereka sepakat untuk mendapatkan Viana dan Airin dengan segala cara termasuk dengan ilmu gendam yang mereka miliki.

######################################

Chapter V

Rumah Viana terdiri dari 2 tingkat, cukup besar karena juga berfungsi sebagai toko sembako. Tatik, istri muda papa Viana  bertugas sebagai kasir dibantu oleh Dewi yang bertugas melayani pembeli. Diah adalah wanita yang ramah dalam melayani pembeli, juga teman curhat Viana yang baik, tapi sayang tugasnya hanya didepan toko, mungkin hanya sesekali Dewi kedalam rumah untuk buang air. Hanya Tarjo dan Udin yang bisa lalu lalang keluar-masuk rumah karena mereka adalah kuli yang bertugas mengangkut barang dari dalam gudang dibelakang rumah ketoko dan juga sekaligus bertugas membersihkan rumah dan gudang. Tinggallah Viana dan Airin didalam rumah bersama Mbok Saroh yang sudah tua dan agak tuli. Sejak kepindahannya dari Jakarta Viana dan Airin dilarang bergaul dengan orang-orang kampung disekitar rumahnya, jadi satu-satunya yang menjadi teman dirumah selain kedua orangtuanya adalah seorang pembantu, Tatik ibu tirinya, Dewi dan dua orang kuli. Tiap pagi Udin bertugas mengantar Viana kesekolah, sementara Airin diantar Tarjo, masing-masing menggunakan motor milik ayah Viana, karena semua mobil kepunyaannya telah habis dijual untuk menutup semua hutang-hutangnya. Awalnya Viana dan Airin merasa malu dan tidak biasa kesekolah menggunakan sepeda motor, tapi lama-kelamaan mereka akhirnya terbiasa juga dan dapat menerima keadaan itu, apalagi mereka sedikit terhibur karena disekolah merekapun malah rata-rata muridnya berjalan kaki kesekolah, tidak seperti disekolahnya yang dulu hampir semuanya menggunakan mobil pribadi. Saat-saat mengantar Viana sekolah adalah saat yang paling ditunggu Tarjo dan Udin, karena hanya pada saat itu tubuh mereka bisa saling menempel dan mereka bisa mempraktekkan ilmu gendam pada kedua gadis itu. Tentu saja kedua nona majikannya tidak menyadari niat busuknya itu. Hari demi hari ambisi Tarjo dan Udin semakin besar untuk memiliki gadis bermata sipit itu, nafsu mereka berkobar saat memandang belahan payudara Airin dibalik bra dan baju seragamnya. Ilmu Gendam yang tiap hari dilepaskan pada kedua gadis itu rupanya semakin bertumpuk, hingga tanpa disadari, Tarjo dan Udin leluasa memasukkan pengaruh cabul kedalam pikiran Viana dan Airin. Viana yang pernah merasa trauma dengan pacarnya memang ingin merubah cara pandangnya yang mata duitan, Viana memang ingin membuka kesempatan buat pria serius yang menginginkannya tanpa memandang harta bahkan ras, sehingga akibatnya banyak teman pria disekolah yang berusaha mendapatkan hati Viana. Namun pengaruh cabul dari Udin dan Tarjo justru malah mengingatkannya saat keperawanannya diambil dulu, bukan dari sisi sakitnya namun pikiran Viana justru membayangkan sisi  kenikmatan yang seharusnya dia dapat dulu.

Kata-kata cabul yang sering diucapkan Udin semakin menambah gairah Viana, bukannya menjadi jijik seperti umumnya anak gadis lain, Viana malah menjadi tambah dekat dengan Udin dan Tarjo akibat kata-katanya itu. Bagai gayung bersambut, Viana yang memang bertekad merubah pandangannya tentang pria, ditambah gendam yang semakin hari semakin kuat ditanamkan akhirnya tanpa disadari berhasil membuat hati Viana takluk pada Udin dan Tarjo. Pernyataan cinta dari teman-teman sekolahnyapun ditolaknya. Viana sudah tidak peduli pada fisik Udin atau Tarjo yang sangar, hitam, dengan kulit penuh tattoo bahkan Udin yang agak tonggos, malah Viana justru merasa bergairah sekali dalam hatinya hanya ada gairah, bukan cinta. Keadaan yang samapun terjadi pada Airin, tapi tidak separah Viana karena Airin masih perawan dan belum pernah dijamah pria manapun sehingga Airin meskipun dibawah pengaruh gendam, namun masih dapat menguasai dirinya. Udin yang merasa diatas angin, semakin yakin gendamnya berhasil telak pada Viana. Dia sering membisikkan kata jorok secara langsung pada Viana. Viana pun seakan tidak punya malu malah menanggapi dengan polos semua komentar Udin yang kurang ajar. Seperti hari itu sepulang sekolah disepeda motor tampak Viana dan Udin asyik berbincang tentang persetubuhan yang seharusnya tabu bagi mereka yang notabene adalah majikan dan kacung.

“Non Via pernah pacaran ga?”

“Pernah mang, dulu waktu masih dijakarta”

“Pernah dientot gak sama pacarnya non? Jangan-jangan pernah ya”

“Pernah mang, Cuma sekali koq” jawab Viana sangat polos sambil tersenyum.

“Ah, masa Cuma sekali? hehehe enak gak non?”

“Iya koq mang, Cuma sekali, itu juga udah lupa rasanya, sakit sih mang”

“Lho, nantinya kan enak non, masa cuma sekali? Selebihnya ngapain non?” dengan semangat Udin berusaha.

“Yah, seringnya malah cuma via kocokin aja koq mang, abis keluar yasudah, Via juga gak habis pikir bisa sampe kebobolan gitu”

“Ya gapapa non, itumah wajar, cewek zaman sekarang apalagi dikota besar memang udah pada jebol. Pernah nyedot ga non?”

“Nyedot? Nyedot apa mang?” Viana mulai ceria

“ya nyedot kontolnya pacar non dulu itu”

“yehhh, ga dong mang, jijik ah, ngeri kalo tumpah dimulut” wajah Viana mulai merona malu.

“koq ngeri non? Memangnya kontolnya kegedean yah?”

“Bukan gitu, cuma jijik aja kalo dimulut, ihhhh” Viana merinding membayangkan penis Johan kalo ada dimulutnya, justru sebenarnya bukan jijik, tapi nyesel juga kenapa belum pernah nyoba, kayaknya sensasinya lumayan juga pikirnya.

“Non via, mamang malah jadi pengen nih” celoteh Udin cengar-cengir

“Pengen apa mang?”

“Pengen juga kalo dikocokin sama non Via..hehehe apalagi kalau sambil disedot, asyik!”

“ihhh mang Udin porno tuh!”teriak Viana sambil mencubit Udin.

“Aduh, sakit non.. Tapi non Via juga mau kan?”

“Idih, amit-amit mang, udah ah  via jijik nih ngomongin gitu terus”  tanpa terasa sampailah via didepan rumah sekaligus tokonya sementara Airin menyusul dibelakangnya bersama Tarjo.

“Non, nanti sore  mampir kegudang ya, jangan dikamar terus, nanti cepet tua”

“Di gudang tuh kotor banget, via males ke situ, memangnya mau apa mang? Lagian mana boleh sama papa”

“Ya jangan bilang dong non, kita butuh temen ngobrol nih, kan lumayan kalau ada cewek ikut nimbrung”

“ga ah mang, via takut, masa Cuma via ceweknya, disitukan ada mang Tarjo juga, ga enak kalau diliat orang”

“Justru Cuma ada si Tarjo non, jadi sepi,  datang kesana sore-sore aja non atau malem juga ga apa-apa, sepi koq, papa non juga kan kadang suka pergi, gimana non?

“ Iya deh mang, liat nanti yah, via ngantuk nih, mau bobo dulu.” Ujar Viana sambil berjalan masuk kerumahnya diikuti Airin dan langsung naik kelantai dua dimana kamarnya berada. Aneh sungguh ajaib, permintaan Udin itu bagi Viana tak ubahnya sebagai kewajiban yang harus dijalani. Hanya gengsinya saja yang membuat lidahnya berkata lain. Sedemikian ampuhnya ilmu gendam yang dimiliki Udin hingga membuat Viana merasa bangga sekali bisa bergaul dengan Udin. Padahal status sosial Viana jauh diatas Udin.

#####################################

Chapter VI

 

“Ayolah Airin, temenin cici yuk ke gudang…” rengek Viana pada adik satu-satunya itu.

“Aku juga pingin cie, tapi ini banyak tugas fisika yang harus selesai besok, gimana nih? Kayaknya lain kali deh rin temenin yah cie, sekarang cici aja yang kesana” tampak pengaruh gendam Tarjo pada Airin membuat gadis itupun punya keinginan yang sama dengan cicinya.

“Aduh, koq cici dibiarin sendirian, malu neh… rinnn ayuuuu…”

“idihhh cici, koq pake malu segala, daripada jadi kuper sendirian terus ayo pilih mana? Lagian mang Udin juga orangnya lumayan nyenengin koq, meskipun tampangnya ancur, tapi obrolannya rame kan”

“Iya tapi inikan baru pertamakali, temenin sekaliiii aja, nanti baru terserah kamu… yaaaaa”

“ga ah, mang Tarjo juga rin tolak koq cie, ini demi nilai, besok harus dikumpulin, lagian gudangnyakan dirumah kita juga, sepi lagi Cuma ada mereka berdua, masa harus ditemenin sih?”

“Jadi gimana nih? Cici mulai bosen dikamar terus, pingin ngobrol2 gitu aja koq”

“Udah ciciku yang cantik sendiri aja gih, mumpung papa pergi sama mbak Tatik, nanti kalau keburu datang malah ga bisa kegudang.iyakan?

“UUUhhhh alesannya banyak ya… yaudah deh cici kesana dulu” Viana yang kebelet pun akhirnya pergi juga memenuhi undangan Udin di kamarnya yang juga gudang sembako.

##################################

Chapter VII

Gudang sembako itu berukuran 15×15 meter, di dalamnya penuh berbagai kebutuhan sembako, tepat dipojok kiri ada bilik kecil 3×3 yang merupakan kamar Udin dan Tarjo. Baru kali ini Viana menjelajahi gudangnya sendiri, baru kali ini pula dia tahu letak kamar Udin.

“Wah, ada non Viana berkunjung nih, masuk non, tuh si Udin lagi ngerokok dikasur. Koq sendirian non, mana non Airin?”

Mata Tarjo mencari Airin dibelakang Viana sambil mulutnya tersenyum penuh arti, dan matanya mengerling kearah Udin yang memang sedang asyik merokok dikasurnya.

“Airin lagi sibuk mang, tadi udah via ajakin, tapi gak bisa..lho, mau kemana mang? Koq malah pergi?” Viana heran karena Tarjo justru pergi meninggalkan kamarnya.

“Mau keluar dulu non, beli makanan buat makan malem, kasian kalo nyusruh mbok Saroh, udah tua non, non masuk dulu aja ya”

“Eh, non Viana tumben nih, kirain ga akan mampir kesini” tegur Udin dengan muka berseri namun tetap sangar dan mesum.

“Yah, abis gak ada kerjaan dikamar mang, bosen”

“wah yah bagus non, kalau gak ada kerjaan kesini aja temenin mang Udin. Hehehe duduk dulu atuh non, dibawah gak apa-apa ya, disini gak ada kursi, Cuma ada kasur aja tuh, buat alas tidur, jadi mau di tikar atau dikasur non?”

“gak apa mang, via ditikar aja deh, nanti deh via minta papa beliin ranjang sama kursi buat disini” Viana tanpa ragu duduk ditikar yang ditunjuk Udin dengan terlebih dulu membetulkan posisi roknya yang selutut..

“gak usah gitu non, malu ah, kerja belum satu taun masa udah minta segala macem” kata Udin sambil mematikan rokoknya karena Viana jadi batuk-batuk mencium asap rokoknya.

“tapi itu kan fasilitas mang, masa dapet kamar gak nyaman begini” jawab Viana sambil memandang sekeliling kamar yang ternyata memang pengap, jauh berbeda dengan kamarnya yang ber-AC. Sementara diam-diam Udin tersenyum licik, otaknya cepat sekali berfikir untuk mendapatkan dua keuntungan bahkan bisa lebih sekaligus.

“Ya, terserah non Viana deh, koq non baek banget, cantik lagi, goblok banget tuh pacarnya non ya…”

Wajah Viana merona merah dalam remang lampu 50 watt dalam kamar Udin. Viana sendiri merasa aneh, kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, naluri kewanitaannya tersentuh oleh pujian yang memang disengaja oleh kuli ayahnya itu.

“Hmm udahlah mang, jangan ingetin via lagi, via ga mau inget dia lagi” dalam benaknya Viana teringat betapa keperawanannya telah terenggut oleh mantan pacarnya dulu, dia merasa menyesal andai saja….

“iya maaf non, mamang Cuma ngerasa sayang aja padahal non udah dientotin, masa ditinggal gitu aja, kalau mang Udin jadi dia, pasti non via udah mang kawinin, jarang kan ada cewek kayak non ini, putih, badan mulus, cantik lagi” Udin terus melancarkan jurus memuji nya sekaligus dengan kata-kata vulgar yang cenderung jorok.

“ah, mang Udin bisa aja, masa mau kawinin via segala” wajah Viana tambah memerah, bukan karena marah, tapi justru hatinya sedang berbunga-bunga. Udin benar-benar pintar memanfaatkan situasi hati Viana yang masih dalam tahap pemulihan, ditambah efek dari ilmu gendam yang tiap hari ditujukan pada Viana rupanya benar-benar sukses. Gadis 18 tahun majikannya ini telah 75% dalam genggamannya.

“bener non, sumpah samber duit kalau mang bohong, suer dah”

Viana malah tertawa “ heheheeh asik dong kesamber uang mah, via juga mau, ayo mang Udin nanti dimarahi istrinya lho,,,,!”

“mamang mah belum punya istri, tapi kalau gundik mah banyak.hehehe, maklum non, kebutuhan si otong ini wajib dipenuhin, kalau gak malah ga bisa kerja, bawaannya ngaceng terus”

“Ihhhh , mang Udin ternyata mata keranjang ya, dasar laki-laki buaya!” teriak Viana dengan pura-pura cemberut manja.

“Yah gimana lagi non, gini nasib orang gak punya duit, terdesak dimana-mana termasuk siotong ini selalu minta jatah, nah siapalagi yang bisa mamang kerjain selain jajanan dijalan itu tuh…” tanpa ragu Udin menunjuk kearah retsleting celananya.

“Idihhh, amit-amit ya mang koq mau sih sama cewek dijalan-jalan itu, emang cantik-cantik ya?” Tanya Viana penasaran.

“Boro-boro non, jauh tanah kelangit kalau dibandingin sama non Viana, ini mah karena terdesak kebutuhan saja non”

“kebutuhan apa sih mang? Kayaknya berat amat?”

“Non pura-pura gak tau ah, ya kebutuhan siotong ini, kalau ga muncrat-muncrat belum bisa mikir jernih, pasti pacarnya non juga dulu gitu, tapi untung ada non Via”

“Ah, masa sih mang? Berarti mang Udin sekarang juga masih suka jajan dong?”

“hehehe jadi malu non, tapi sekarang mah ga pernah lagi sejak kerja disini non” Udin cengar-cengir didepan Viana.

“Wah, berarti mang Udin udah insyaf yah, makanya kerja yang bener mang biar bisa cepet kawin, nanti malah ketuaan”

“Sebenernya bukan insyap non, tapi sekarang mamang udah gak perlu jajan lagi, udah tersedia disini koq”

“maksud mang Udin?” Tanya Viana dengan wajah masih innocent sambil membetulkan posisi kakinya yang pegal akibat tak biasa duduk bersimpuh seperti sinden.

“tapi jangan marah ya non, sebenernya sekarang mamang sering ngocok sambil berkhayal tentang non Via”

“Tentang aku mang? Berkhayal apa?” hati Viana bergetar-getar daritadi hingga pembicaraan itu jadi sangat menjurus tanpa sedikitpun rasa marah dalam hati Viana.

“Ya tentang non Via dong, andai mang Udin jadi pacarnya Via, trus kita entotan, mamang service seluruh badan non Via yang putih mulus itu, sampai sperma mamang muncrat-muncrat kayaknya pacanya non Via itu dulu”

“Ahhh, mang jangan singgung lagi tentang pacar Via dulu.”

“Ehhh, iya maaf non, kelepasan  bicara, maksudnya memang kebutuhan cowok itu ngeluarin sperma baru puas, gitu non”

“kalau Cuma buat ngeluarin sperma, via juga bisa koq, tapi ga usah bayangin via sampai kayak gitu”

“Yang bener non? Memangnya non Via mau sama mamang? Tadi siang katanya gak mau..hehehe”

“Jangan geer dulu mang, Via mau dengan 3 syarat, gimana?

“Syaratnya apa non? Jangan berat-berat nih, sekarang mamang gak tahan kepingin muncrat lagi”

“Syaratnya, jangan bicarain pacar via lagi, kedua mamang ga boleh jajan diluar lagi trus syarat ketiga mang Udin harus nemenin via ngobrol kalau via lagi bosen, gimana mang?

“Wehwehweh, syarat ketiga yang berat non, kalau siang mamang kan harus kerja, gimana caranya trus nanti gimana kalau papa non tau, bisa dipecat mamang nih”

“ooo, kalau itu tenang aja mang, pintu kamar Via dilantai 2 selalu dikunci dan kuncinya via bawa terus, jadi papa pasti ngiranya Via lagi tidur atau belajar dikamar”

“ Okeh non, mulai sekarang ajah, udah gak nahan dari tadi nih” Udin tanpa malu melepas celana jins lusuhnya lalu selana dalam kumalnya yang sudah bau. Viana terkesiap melihat benda menggantung didepannya, bentuknya panjang hitam dan lumayan besar kalau dibandingkan dengan penis Johan yang belum sunat. Ini pertama kalinya dia melihat penis pria dewasa yang umurnya jauh diatas Johan.

“Koq sekarang mang? Cepat sekali?”

“Iya non, sebelum non datang juga udah mau nyoli, tapi keburu non dateng, jadi sekarang aja sekalian non yang kocokin”

Ragu-ragu Viana malah terus memandang penis hitam didepannya, tercium bau yang kurang sedap dari penis itu, Viana mengernyitkan alisnya, tapi pelan-pelan tangannya memberanikan diri menyentuh batang penis Udin sambil terus duduk bersimpuh di depan kaki Udin yang dalam posisi berdiri. Ada perasaan aneh dalam hati Viana kenapa dia mau melakukan hal ini, tapi anehnya Viana semakin bergairah, mukanya yang putih oriental tampak sayu dalam nafsu yang memuncak. Udin sangat menikmati ketika batang pelernya digenggam Viana kemudian mulai diurut-urut, dipijat dan dikocok. Viana memang sudah berpengalaman mengocok penis Johan, mantan pacarnya sehingga tak butuh waktu lama dia mulai lancar mengocok penis Udin, hanya bedanya sekarang Viana tampak sedikit ragu memegang kepala penis yang disunat, baru kali ini Viana melihat penis pria yang disunat, namun lama kelamaan Viana malah asyik memainkan kepala penis bersunat itu. Sepuluh menit kemudian Udin tak kuat menahan arus sperma dalam penisnya hingga akhirnya menyemburlah sperma kental kekuningan. Viana yang sudah tau gelagat akan keluar, segera mengarahkan penis itu kearah samping mukanya sehingga wajah Viana terhindar dari semprotan sperma.

“Aduh, banyak amat mang, sampai 5 kali keluar nih”

“I…iya non, abis wajah non bikin mamang nafsu banget. Terusin non sampai beres, non Via enak bener, tangannya lembut banget, gak pernah kerja ya non” kata Udin dengan mata merem melek menikmati mani terakhir yang keluar dari ujung kemaluannya.

“hehehe iya dong, udah via duga, mang Udin pasti keenakan dikocokin via, tapi ihhhh ada yang nempel ditangan via tuh, mana tisu mang, jijik ahh”

Dengan santainya Udin menarik rok putih Viana hingga pahanya tersingkap, lalu malah mengelap tangan Viana yang terkena spermanya. “ Gini aja non, biar gampang, disini ga ada tisu, nanti dicuci si mbok Saroh aja” Tentu saja Viana melotot dengan wajah lucunya. “Mang Udin jorokkk aaah!”

Tiba-tiba terdengar pintu gudang terbuka, pertanda ada orang yang masuk, Viana buru-buru berdiri “mang, ada yang datang, jangan-jangan papa pulang, sembunyi dimana nih?” bisiknya khawatir.

“Itu si Tarjo pulang non, bukan papanya non. Hehehe tenang aja non, amann.”

Viana menarik nafas lega, dia tidak jadi memarahi Udin yang menempelkan sisa sperma di roknya.

“Wew, si non masih disini rupanya, maaf ya non saya ikutan nimbrung boleh kan?” Tarjo yang rupanya sudah pulang beli makanan berdiri didepan kamar.

“Boleh koq mang, tapi via udah mau balik ke kamar via juga nih, udah mulai ngantuk”

“padahal baru satu jam non, masa udah ngantuk? Tidur disini aja, nanti mamang tidurin, gimana non?” Udin nyeletuk, sampai Viana kembali mendelik kearahnya, wajahnya merah, malu karena disitu ada Tarjo yang tampak nyengir.

“Tuh kan mang Udin genit, udah ah, via balik sekarang” sahut Viana sambil berjalan kearah pintu kamar.

“Becanda non, koq marah, tapi tambah cantik ya…, mang Udin anterin deh” Udin juga ikut berjalan dibelakang Viana sambil matanya tak lepas memandang body Viana dari belakang yang tampak sexy. Didepan Tarjo, Udin rupanya ingin memperlihatkan bahwa Viana sudah dalam kekuasaannya. Udin mencoba merangkul pinggang Viana dari samping. Viana menyibakkan tangan tangan Udin sambil melirik kearah Tarjo dibelakangnya yang pura-pura memandang kearah lain. Sekeluar dari kamar, Udin lagi-lagi menggandeng pinggang Viana yang ramping, tapi kali ini Viana diam saja tak menolak sampai dipintu gudang. “Non, besok sore kesini lagi ya, tadi mamang puas banget, kocokan non Via mantap banget”

Viana tertunduk malu, matanya yang sipit tak berani melihat muka Udin yang porno, tapi Viana senang dan bangga bisa memuaskan Udin. “Iya mang, nanti Via kesini lagi, tapi ingat janji mamang tadi” Viana mengangguk, tapi wajahnya tetap tertunduk. Viana pun kembali ke kamarnya tanpa ada yang melihat.

##################################

Chapter VIII

Hari itu Viana tampak berseri-seri, pagi-pagi sudah diantar Udin ke sekolah. Di sekolah, Viana malah membayangkan penis yang kemarin dipegangnya, melihat muntahan sperma didepan matanya rupanya membuat Viana terkesan, penis yang bagi Viana berukuran besar itu terlihat sexy sekali dengan kepala penis menyerupai helm berwarna merah kehitaman, berbeda sekali dengan penis Johan yang terlihat berkerut dan masih terselubung kulit malah terlihat kecil menguncup. Tiba-tiba saja Viana merasa rindu pada Udin, aroma penisnya yang meskipun tidak sedap malah menjadi daya tarik tersendiri. Wajah Udin yang selalu menatapnya dengan pandangan mesum malah terbayang-bayang, Viana malah kangen pada tatapan Udin padanya. Tatapan itu membuat Viana bangga pada tubuhnya sendiri. Viana ingin kembali memuaskan Udin, pemandangan muncratnya sperma didepan matanya telah membuat Viana puas sekali. Disisi lain , Viana tidak ingin Udin mendapat kepuasan yang lebih selain darinya, mungkin ini sisi feminimnya sebagai wanita, namun justru sisi inilah yang akan terus menjerumuskannya. Ilmu gendam yang dilancarkan Udin memang luar biasa, mampu mempengaruhi seseorang secara tidak sadar dengan permanen. Viana gadis Chinesse dengan masa lalu yang kelabu dan mungkin sekarang dengan masadepan yang suram yang samasekali tidak disadarinya. Sama sekali tidak ada cinta dalam hati Udin untuk Viana, yang ada hanya nafsu yang selalu memikirkan bagaimana cara menikmati tubuh anak majikannya itu. Dia penasaran sekali dengan gadis-gadis Chinesse yang selalu tertutup dan tidak dapat disentuhnya. Sejak bertemu Viana yang cantik oriental dengan tubuh yang bening mulus membuat Udin merasa bahwa Viana gadis yang tepat untuk dijadikan sasaran nafsu birahi terpendamnya. Bel sudah berbunyi, sekolahpun usai. Viana buru-buru keluar kelas membawa tasnya. Wajahnya lebih semangat dari hari sebelumnya, tapi didepan Udin justru dia berusaha menyembunyikan perasaan itu. Wajahnya yang bulat telur dengan kulit putih kemerahan terkena sinar matahari membuatnya tampak cantik sekali berbeda dengan teman-teman wanitanya yang lain yang tampak kumal kehitaman.

“Mang, udah lama nunggunya? Ayo anter Via pulang, oiya mang Tarjo tadi Airin lagi makan dulu dikantin, jadi mang Trajo tunggu dulu aja, jadi Via duluan pulang ya”

“Sip non, pasti ditunggu”

Udin yang sudah siap, begitu Viana menaiki motor langsung saja tancap gas. Ini membuat Viana secara reflek memeluk pinggangnya, begitu sadar, kontan muka Viana merah malu dan segera melepas pelukannya.

“Koq dilepas non, gak apa-apa pegang aja, nanti non Via malah jatuh dari motor, lagian enak non, susu non empuk sekali ya”

Udin mulai lagi bicara seenaknya dan langsung berteriak karena pinggangnya dicubit Viana dengan keras sekali, kali ini motornya jadi oleng, lalu gantian Viana yang teriak ketakutan dan lagi-lagi tangannya merangkul Udin sampai motor itu kembali berjalan normal. Udin tersenyum puas bisa ngerjai anak majikannya itu. Viana pun melepas kembali rangkulannya.

“Tuh, makanya mang nyetir yang bener dong!”

“Iya, abis tadi non nyubitnya sakit, jadi aja gitu, tapi tadi ada yang enak lagi koq, cubit lagi dong non” teriak Udin disela-sela suara motornya.

Viana mendelik dibelakangnya, tapi dia juga tersenyum geli mengingat kejadian tadi.

“Awas aja kalau kayak tadi lagi, nanti sore gak jadi via service lho”

“Ampun non, iya deh yang penting nanti servicenya memuaskan ya non”

Viana diam saja pura-pura tidak menanggapi tapi hatinya berkata iya.

Sesampainya didepan rumah, mereka pura-pura cuek karena ayah Viana tampak sedang memperhatikan anaknya dari dalam toko.

“Non, nanti bajunya yang sexy ya” bisik Udin dibelakang Viana diiringi gendam dalam suaranya yang bernada perintah. Viana diam saja mendengar bisikan itu, dan terus berjalan kearah toko papanya dan terus kearah kamarnya dengan cuek.

“Via, nanti sore papa mau pergi ambil stock ke Indramayu, papa udah titip kunci ke mama Tatik, tolong jaga rumah ya soalnya papa bakal pulang subuh”

“Iya pa, tenang aja, kan urusan jaga rumah ada mang Udin sama Tarjo, suruh mereka aja”

“Iya nanti juga papa bilang mereka sekalian suruh jaga kalian semua”

“Ya udah deh pa, via masuk dulu, mau istirahat” tanpa menunggu jawaban papanya, Viana langsung masuk dan naik tangga ke kamarnya.

####################################

Chapter IX

Sore itu, setelah ayahnya berangkat, Viana pun bersiap mengunjungi gudang kepuasannya tapi kali ini Viana tidak ingin adiknya ikut. “Rin, besok kamu ada tugas apa lagi? Sibuk gak?” Tanya Viana memancing keadaan adiknya.

“Iya cie, koq cici tau, masih yang kemarin belum selesai soalnya kemarin aku malah ketiduran ci”

“ yaudah deh, cici udah mulai bosan lagi dikamar nih, mau main dulu kegudang ya”

“Iya ci, kemarin rame ya ngobrolnya sampai ketagihan gitu”

“yah lumayan, daripada bengong dikamar” Viana kembali kekamarnya untuk ganti baju sesuai pesan Udin tadi siang.

Tiba-tiba Viana merasa horny membayangkan tatapan mesum Udin dan Tarjo padanya, ia ingin kulinya itu terus menatapnya seperti itu, perasaannya tersanjung sekali saat itu. Viana merasa dirinya diinginkan, dia tidak sadar Udin dan Tarjo hanya menginginkan tubuhnya saja. Sengaja Viana memilih baju atasan merah tua yang agak terbuka dibagian dada dan pundaknya, sedangkan untuk bawahan, dia pilih rok merah yang dia pikir matching dengan bajunya agar tampak feminim, ternyata roknya sudah agak kekecilan hingga terlihat agak ketat dan ujungnya sudah sedikit diatas lutut, padahal waktu dibeli dulu masih selutut, berarti sekarang ini dia jadi tambah tinggi. Yasudahlah, pikirnya yang penting matching dan terlihat feminim modis. Viana mengendap-endap keluar dari kamarnya setelah sebelumnya mengunci pintu kamar takut ketahuan Tatik dan mbok Saroh, lalu turun kelantai satu, untunglah semua orang berada dikamarnya masing-masing, jadi setelah sampai dilantai satu tokonya, Viana dengan bebas melenggang kearah gudang. Viana membuka pintu gudang yang tidak terkunci, lalu menutupnya kembali pelan-pelan.

“Wah non via sexy sekali, udah kangen sama kontol mamang ya…” Viana dikejutkan oleh bisikan cabul yang tiba-tiba dibelakangnya, belum sempat teriak, pinggangnya sudah dirangkul Udin dari belakang.

“Non, bajunya sexy juga nih, tuh susunya keliatan, wew, putih banget non” bisik udin di belakang telinga Viana sambil mulutnya menjilati bahu Viana yang putih mulus, matanya terus melihat belahan dada Viana di belakang pundaknya.

Viana yang belum hilang kagetnya secara reflek berbalik hingga tubuhnya menghadap Udin. “Aduhhh mang Udin bikin kag…mmmphhh mmmanghh” belum selesai kalimat diucapkan, Udin yang sudah kebelet mencium bibir Viana, lalu lidahnya dengan liar menyapu mulut Viana.

“Mang, udah ah, nanti ada yang liat” bisik Viana sambil matanya melirik keadaan sekeiling.

“tenang aja non, kebetulan si Tarjo sekarang masih belum pulang, jadi Cuma kita disini non”

“memangnya mang Tarjo lagi kemana?”

“Tadi sih bilangnya mau kerumah temannya didaerah pantai, pulangnya agak malam, non via kangen ya sama si Tarjo?”

“iii gak koq, kirain ikut papa ke indramayu”

“ga koq non, papa non via mana mau diikuti” sahut Udin mengomentari tuannya yang juga mata keranjang.

“Iya, papa memang gitu, dari dulu juga kalau pergi selalu sendirian”

“mungkin nyari ayam-ayam kampung non yang masih muda, hehehe”

Viana termenung sejenak teringat pada mamanya diJakarta, betapa akibat perbuatan papanya, keluarganya jadi hancur, juga gara-gara Tatik yang suka morotin uang papanya, sekarangpun masih jadi benalu dirumahnya. Ia merasa geram sekali pada papanya itu. “Hmmmm kebiasaan papa memang belum berubah”

“Yah, biarin aja non, banyak koq pengusaha cina yang demen gadis-gadis kampung, itumah wajar, udah bosen kali non tiap hari liat istrinya yang sipit-sipit juga kayak non… sekarang giliran mamang yang demen gadis sipit kayak non Via hehehehe” kata Udin sambil tangannya kembali menggandeng pinggang Viana dan digiringnya kedalam kamar. Viana tidak bisa menolak ajakan tidak langsung itu karena hatinya sedang dagdigdug digandeng oleh Udin. “masa sih mang, koq kayak gitu sih, emang semua cowok kayak gitu ya?”pikiran Viana terlintas pada mantan pacarnya yang sudah tega mencampakkannya.

“gak semua sih non, itu terutama kalau si cowoknya kaya, cakep ya rata-rata begitu, makanya non kalau nyari suami,gak usah yang kaya-kaya, kayak kita aja dijamin puas, yang penting kontolnya gede-gede, non via juga udah liat yang punya mamang, suka kan?”

“idihhh kata siapa via suka barangnya mamang?” sahut Viana nyengir malu.

“Lah, non Via koq mau lagi dateng kesini, mau apalagi selain yang kemarin itu tuh, ayo non ngaku aja,non”

Viana terdiam, risih sekali rasanya mendengar ada pria yang bicara begitu secara langsung didepannya, secara dirinya sendiri juga merasa senang mendengarnya. Udin maklum pada keadaan Viana yang masih belia tentu malu mengakui semua rahasia hatinya, tangannya segera mendudukan Viana, namun kali ini Viana didudukkan dikasurnya yang sudah lusuh dan bau.  Matanya sibuk menjelajahi pundak Viana yang putih mulus sampai kebelahan dadanya, penisnya sudah tegang didalam celananya, putih amat nih cewek pikirnya.

“mang, baju via bagus ga?” Viana asal bertanya memecah ketegangan dalam hatinya dengan suara lirih, badannya sudah lemas akibat sentuhan Boneng yang dibarengi ilmu gendamnya.

“Bagus non, sesuai permintaan mamang, Cuma kurang sexy dikit non” kata Udin

“Kurang sexy apanya mang? Kata via ini udah cukup modis, waktu beli malah jadi rebutan sama Airin”

“Tetep kurang non, harusnya dibagian ini bukaannya dilebarin, jadi susu non lebih keliatan.” Kata Udin, kali ini tangannya sambil meraba baju bagian dada Viana yang memang agak terbuka, sekaligus tangannya yang besar ikut nyerempet kekulit dada Viana yang halus itu. Viana agak tersentak, bagaimanapun juga Viana adalah gadis baik-baik sehingga belum pernah ada pria yang menyentuh tubuhnya, kecuali Johan, mantan pacarnya. Justru kali ini tangan yang menyentuhnya adalah tangan kulinya sendiri yang jelas bukan siapa-siapanya.

“Ihh, mang Udin jangan pegang-pegang ah, maluuu…”kata Viana lirih sambil menutupi dadanya yang tadi baru tersentuh, kulit wajahnya yang putih , merona merah.

“kenapa malu non, itukan wajar, malah tadinya mamang mau liat susu non Via, ayolah non, jangan jual mahal gitu, lagian non Via juga udah ga perawan, jadi ngapain lagi jual mahal, lagian mamang Cuma mau liat susu non via aja” bujuk Udin.

“malu ah mang, bukannya Via jual mahal, tapi dulukan Via sama pacar Via, mang Udinkan bukan siapa-siapa Via”

“Gini aja non, gimana sekarang kalau mamang jadi pacar non Via, mau kan?” desak Udin tidak sabar. Viana pun melongo.

“Yah, nanti dulu deh mang, Via belum siap, nanti Via pikir-pikir dulu ya” jawab Viana kemudian dengan santai.

“Hmmm, ya sudah deh gimana non via aja, sekarang kocokin kontol mamang yah, udah basah nih rasanya” kata Udin sambil membuka celananya, dan benar saja, kepala penisnya yang tegang sudah mengkilat oleh cairan  precum nya yang sudah meleleh menyelimuti ujung penisnya. Viana yang memang sudah terkesan dari kemarin, langsung saja memegang penis Udin yang sudah tegang.

“Hmm udah tegang ya mang?” Tanya Viana sambil tersenyum menggoda. Senyuman itu membuat Udin langsung mendekatkan kepalanya ke wajah Viana, sambil berbisik “Non, sekarang oralin ya, mau kan?” lalu bibir tebalnya mengecup pundak lalu terus merayap kebibir Viana yang tipis. Vianapun membalas ciuman itu dengan bibirnya yang lembut. Lidah Udin dan lidah Viana saling bersentuhan. Udin dengan lahapnya menyedot lidah Viana. Untunglah Viana segera menarik lidahnya, takut adegan it uterus berlanjut dan membobol pertahanannya.

“Via gak suka oral, jijik banget mang, via kocokin aja yah, kayak kemarin, mang Udin puas juga kan?”

“kenapa non? Padahal enak lho, non Via Cuma ga biasa kali nyedot kontol, sedotinlah non, nanti juga jadi biasa koq, kan bisa lebih puas”

“ lain kali deh mang, Via bisa muntah ngebayangin barang mang Udin dimulut Via”

“Janji ya non, tapi sekarang non buka susunya dong, mang udin pingin liat, pasti tambah nafsu nih, boleh ya” tanpa menunggu jawaban Viana, tangan Udin memelorotkan baju Viana. Karena bajunya model bahu terbuka, maka dengan mudahnya baju Viana melorot ke pinggang, hingga nampaklah kulit pundak dan dada yang halus mulus, payudara Viana yang ukuran 34 masih tertutup bra putih kesayangannya. Secara reflek Viana menutupi payudaranya dengan kedua tangan, namun tangan Udin yang besar menghalanginya.

“Udah, gak apa-apa non, gak mau oral, berarti non mesti begini” Viana yang sejak tadi birahinya sudah naik, tidak protes sewaktu tangan Udin melepas bra yang dipakainya.

“Wuihh, putih amat non, gimana ngerawatnya nih susu, buat mamang ya” Udin tak kuat untuk tidak menjilati payudara Viana mulai dari belahan hingga putingnya yang merah muda.. Viana rupanya sudah kehilangan rasa malunya yang baru saja dia katakan pada Udin. Viana tidak menolak semua perlakuan Udin padanya, tangan Viana mulai mengocok penis Udin yang tegak mencapai 18 cm.

Viana tidak menyadari, di ruangan itu telah bertambah satu orang lagi yaitu Tarjo yang memang sengaja pulang setelah mendapat SMS dari Udin sebelum Viana datang tadi. Tarjopun sengaja datang dengan mengendap-endap, Iapun ingin mengalami kenikmatan seperti yang diceritakan Udin kemarin. Tarjo datang tanpa membuat suara derit pintu karena siangnya pintu gudang telah diberinya pelumas untuk memuluskan kedatangannya. Dilihatnya Viana yang tengah bertelanjang dada sedang mengocok penis Udin, tak tahan melihat pemandangan itu, Tarjopun menyergap Viana dari belakang. Tangan Tarjo memeluk tubuh Viana dari belakang lalu meremas-remas payudara Viana yang putih lembut. Viana sedikit kaget melihat kehadiran Tarjo disaat dirinya sedang setengah telanjang, namun birahinya yang sudah memuncak dapat menutupi kekagetannya.

“Ga apa-apa non, Cuma si Tarjo koq, terusin aja, tanggung enak nih”Udin rupanya sudah merencanakan itu semua.

“Iya non, tenang aja, pintunya udah aku kunci barusan”kata Tarjo sambil ikut membuka celananya disamping Viana, lalu keluarlah penis hitam Tarjo yang sedang membesar dengan pesat. Tarjo mengelus-eluskan kepala penisnya yang sedikit lebih besar dari Udin ke punggung Viana yang terbuka. Menyadari ada benda asing dikulit punggungnya yang mulus, Viana membalikkan badannya, sekejap kemudian dia membalik lagi dengan cepat. Mukanya merah merona karena malu, jengah melihat penis pria lain didekatnya. Udin yang melihat itu tersenyum mengejek, lalu dia membimbing tangan Viana agar menyentuh penis Tarjo yang kian membesar.

“Pegang juga non, kontol mang Tarjo, jangan malu-malu, ayo kocokin juga” kata Tarjo tersenyum mesum melihat Viana yang tampak canggung.

Akhirnya perlahan-lahan tangan Viana mulai menyentuh penis Tarjo yang sekarang terlihat sudah lembab. Nasi sudah menjadi bubur pikir Viana, diapun melanjutkan kocokannya pada kedua penis pembantunya. Viana menggelengkan kepalanya sewaktu Tarjo mencoba membujuk agar dia mau mengulum penis mereka. Udin dan Tarjo saling berpandangan lalu mengangguk penuh arti, sementara Viana bersimpuh didepan penis mereka sambil tangannya terus bekerja memuaskan para pekerjanya. Selang sepuluh menit kemudian Viana merasakan kedutan pada penis Udin, ini saat yang dia tunggu, ia ingin melihat semprotan sperma Udin yang telah membuatnya terkesan kemarin. Tarjo memegangi kepala Viana yang tadinya akan menghindar ke samping.

“ liatnya dari depan aja non, begini, jadi lebih nikmat” kata Tarjo memposisikan wajah Viana didepan penis Udin. Viana mau-tidak mau menghadap penis yang sesaat lagi akan muntah, dan benar saja beberapa detik kemudian, Udin melenguh sambil memuncratkan banyak sekali sperma kewajah Viana tanpa terelakkan. Viana memejamkan matanya sambil mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Sperma yang selama ini dihindari dari wajahnya kini malah total menghiasi kulit wajahnya yang putih. Tampak lendiran itu meleleh turun diantara kedua alisnya. Gadis itu tidak dapat berbicara bebas karena tentu sperma Udin akan ikut masuk bila mulutnya terbuka. Tangan Tarjo memegangi tangan Viana yang akan menyeka sperma Udin dari wajahnya. “tunggu non, biar aja peju mamang turun dengan sendirinya, wajah non keliatan lebih cantik koq sekarang” kata Udin sehabis melepas hajatnya.

“Iya non tunggu mamang juga mau bucat nih” Tarjo kini sedang mengocok-ngocok penisnya didepan Viana yang mata sipitnya masih tertutup sperma. “Crott…cretttt” terdengar bunyi muncratan sperma Tarjo yang kental kekuningan melesat kewajah Viana, namun kali ini Tarjo juga mengarahkan spermanya ke payudara Viana yang sudah terpampang didepannya. Alhasil payudara Vianapun terkena sperma Tarjo.

Kini tangan Viana mulai menyeka sperma dari wajahnya, terutama dari bibirnya. Udin ikut membantunya sambil berusaha memasukkan sperma kedalam mulut Viana agar terjilat oleh lidahnya. “nih non, sambil dicoba dikit-dikit biar terbiasa, jadi nanti-nanti non bisa nelen peju, enak kan non?” Tanya Udin kemudian, tetap dengan senyum puas melihat anak sulung majikannya sudah takluk pada mereka berdua. “mmmmh…” Viana cemberut tapi tetap tidak berani membuka mulutnya. Disela-sela bibirnya tampak lelehan sperma yang menggenang tepat dibelahan bibirnya hingga secara tidak sengaja ikut meresap kedalam mulut Viana. Tampak gadis sipit itu mengernyitkan dahinya dan mulai meludah kecil karena sperma yang meresap dibibirnya terasa bau dan hambar. “uuhhh, bau mang, kayak ingus rasanya” gerutu Viana

“hehehe tapi enak kan non, asin gurih gitu, iya gak?” udin menyeringai

“Asin gurih apanya!, hambar bau!”Viana terus meludah karena terasa dilidahnya justru rasa benih Udin itu mulai menjalar didalam rongga mulutnya.

“Coba rasa peju mamang non, sama gak?” Tarjo yang tak mau kalah mempromosikan rasa spermanya sambil menyodorkan ujung penisnya yang masih terdapat sedikit sisa sperma

“gak mauuu” Viana spontan menjawab diiringi tawa kedua pembantunya.

Selanjutnya ketiga insan yang berbeda status itu bersenda gurau dengan candaan porno dari Udin dan Tarjo yang memang bertujuan untuk merusak pemikiran gadis yang mulai berangkat dewasa ini. Ilmu gendam pun secara diam-diam dilancarkan dari jarak dekat oleh kedua pembantu bermuka mesum ini. Viana semakin terlena oleh hasutan dan gendam kedua pembantunya yang menjurus pada suatu persetubuhan haram dengannya. Udin dan Tarjo semakin ahli dalam mempermainkan gairah Viana yang memang sedang pada masa pergolakan layaknya gadis dewasa, tapi sayangnya Viana hanya gadis abg yang kurang pengalaman sehingga gadis itu tidak tahu harus bagaimana memenuhi hasratnya terutama jika tidak dibimbing. Nalurinya sebagai gadis terhormat masih melekat sehingga meskipun sudah terbakar birahi namun Viana masih menolak untuk disetubuhi oleh kedua pembantunya itu.

“Non via kapan atuh mau cobain kontol mamang ini, tuh gak kasian non, udah pada tegang gini padahal belum 10 menit tadi baru pada muntah” kata Tarjo yang masih belum memakai celana sengaja memperlihatkan penisnya yang sudah tegang lagi.

“iya non, cobain sekali aja non kulum, pasti ketagihan deh, lebih nikmat daridapa Cuma dikocok kayak tadi non” kata Udin menimpali sambil tangannya mempermainkan payudara Viana yang belum juga memakai branya.

“engga deh mang. Via jijik kalau harus gitu” kata Viana sengaja tidak melihat penis kedua pembantunya, namun sesekali mata sipitnya melirik juga kearah penis Udin yang juga sedang membesar.

“Jadi non Via maunya gimana? Nyobain ngentot yuk non, mau gak? Mumpung papa non belum pulang” kata Tarjo sambil tangannya mencoba menyibakkan rok Viana, namun tangan Viana menepisnya pelan.

“ga ah mang, Via ngantuk nih, mau tidur, inikan udah jam 11 malem.” Kata Viana sambil menguap lebar.

“yah koq gitu non, padahal pasti memek non juga udah basah kan?” Kata Udin dengan nada kecewa.

“Yehh mang Udin tau aja, tapi jangan harap ya, cukup kayak tadi aja, toh kalian ini siapanya Via?” Sahut Viana.

“Nah lu din, kita ditagih nih. Hehehe kalau non via mau, kita mau banget koq jadi pacar non Via, tinggal non aja yang mau atau gak sama kita, hayooo” kata Tarjo malah senang menemukan jalan pintas.

“kalian ini udah gila ya, memangnya mau dimadu sama Via? Udah ah, makin ngelantur aja nih mang Tarjo, udah malem, Via mau balik kekamar” kata Viana tersenyum sambil memakai bajunya kembali.

“kenapa ga disini aja tidurnya non? Kita juga masih mau koq dikocokin sama tangan non Via, apalagi sambil non nya telanjang, pasti asyik non” Udin mencoba membujuk Viana agar tidak kembali kekamar.

“Via ngantuk mang, kapan-kapan lagi aja ya”

“janji ya non, nanti mamang tagih janji non via” kata Udin

“Iya deh mang, nanti tagih aja kalau mang Udin lagi kepengen” kata Viana tersenyum manis pada Udin

“Sekarang cium dulu dong non kontol kita, sekaliii aja sebelum non tidur, biar ga penasaran nih si otong”Kata Tarjo.

Viana yang sudah selesai merapikan pakaian, melirik kearah penis Udin dan Tarjo yang tegang-tegang mengacung kearahnya. Kembali Viana tersenyum nakal, kepalanya mendekat kearah selangkangan Udin, lalu mulutnya yang mungil mencium kepala penis Udin lalu berganti pada penis Tarjo. “Nah gitu dong non, yang sering ya, gak usah jijik segala, nanti non yang rugi“ kata Tarjo menyeringai sambil memakai celananya kembali.

”sampai nanti yang mang berdua, Via mau bobo dulu” kata Viana pamitan.

Viana kembali kekamarnya dengan senyum puas karena telah bisa memuaskan kedua pria yang selama ini membuatnya penasaran dan tidak bisa tidur. Gadis itu tidak tahu perjalanan hidupnya sejak saat itu ada dibawah kendali Udin dan Tarjo. Bagaimana kisah keluarga Viana selanjutnya?

Bersambung
By: Dream Master
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di
sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini

Read Full Post »

DISCLAIMER

  • Cerita ini mengandung unsur pornografi. Bagi Anda yang di bawah umur, tidak menyukai pornografi, atau tidak mengerti mana kehidupan nyata dan mana kehidupan cerita fiksi diharapkan jangan membaca cerita ini yang bisa menyebabkan tegang dimana-mana. Tak kan ada yang bertanggung jawab atas perbuatan Anda di kehidupan nyata.
  • Tak ada wanita, pria, menteri, politikus, ormas, wasit, fans, ataupun hewan yang tersakiti dalam pembuatan cerita ini.
  • Cerita ini hanyalah cerita fan fiction belaka yang bertujuan untuk menghibur para pembaca. Tak ada unsur untuk menjelek-jelekkan artis yang ada di dalam cerita ini dan membuat mereka hina di mata public sebab cerita ini murni 100% imajinasi, BUKAN KISAH NYATA !!

############################ (lebih…)

Read Full Post »

Linda

Linda

Setelah sekian kali Linda bersetubuh dengan Ujang, pembantunya. Hidupnya kini menjadi tidak terkendali. Ia kerap mengajak Ujang untuk melampiaskan syahwatnya. Seluruh tempat atau ruangan di dalam rumah mewah itu telah menjadi ajang penuntasan syahwat mereka. Terkadang Linda yang terlebih dahulu mengoda dan mengajak Ujang bersenggama, atau terkadang Ujang yang sering datang ke kamar Linda untuk menuntaskan birahinya. Terkadang bahkan kalau sedang horny berat dan ingin menggoda kacungnya itu Linda sengaja bertelanjang ria bila dia berada di rumah. Rumah yang megah itu, memang menjadi sepi mulai pukul 7.30an pagi sampai sekitar pukul 5 sore. Suami Linda bekerja di Jakarta. Anaknya selalu di dampingi baby sitter ke pre-shool dan Pak Abdul (ayahnya Ujang) yang juga bertindak sebagai sopir. Setelah itu, Merry (puterinya Linda), kerap mengajak pergi ke rumah omanya di Pondok Indah. Ibu Abdul hanya datang 3 kali seminggu, untuk menyetrika pakaian. Setelah selesai melakukan hal itu, kadang ditambah menyapu rumah, dia pulang ke rumahnya. Yang ada tinggal Ujang dan majikan perempuannya, yakni Linda. Karena selalu hidup berlebihan dan kerap merawat tubuhnya, Linda kelihatan tetap cantik. Dia tidak sungkan untuk merawat tubuh dan kulitnya. Apalagi ia pernah operasi mempercantik tubuh dan memancungkan hidungnya di Singapore, sehingga tubuhnya tetap indah dan menarik bagi siapapun yang memandangnya. Dan yang sangat beruntung adalah Ujang yang adalah pelayan di rumah mewah itu. Seperti halnya pagi itu, ketika Ujang sedang membersihkan ruang tamu rumah itu, datanglah Linda yang hanya mengenakan daster pendek dan tipis mendekati Ujang. (lebih…)

Read Full Post »

Cappuccinno instant kusesap seujung bibir. Mataku menatap jemu pada layar komputer yang masih kosong. Si upin , kucingku , berlarian kesana kemari , mengejar sesuatu -entah apa- di lantai. Belum pernah aku seragu ini dalam menulis , padahal serangkaian ide cerita telah memenuhi otakku. Berkali kali jariku menyentuh keyboard , namun tak satupun huruf yang berhasil kuketik. Dengan kesal kubawa gelasku menuju jendela , dan duduk di sana. Hujan turun deras sekali. Gelap datang lebih cepat dari seharusnya. Genangan air di depan rumahku , sedikit demi sedikit terus meninggi. Jika hujan tidak juga reda , setidaknya dalam satu jam ke depan , maka di depan rumahku akan muncul sungai dadakan. Si upin ikut ikutan duduk di bawah jendela. Mungkin sudah berlari atau penasaran melihat kegundahanku. Kepalanya mendongak seolah bertanya ada apa. Aku hendak bercerita tentang wanita cantik. Public figure. Namanya terkenal dan aku yakin banyak penggemarnya. Dulu sekali aku pernah mengenalnya , saat dia belum sepopuler sekarang. Mungkin sekarang dia tak mau repot –repot mengingat siapa aku. Tapi aku tak akan pernah melupakannya. Aku tak akan pernah lupa jika dia pernah membuatku kehilangan pekerjaan. Dari situlah keragu-raguanku muncul. Aku tak mau orang mengira tulisan ini dibuat atas dasar dendam dan sakit hati. Well, mungkin sedikit ada unsur itu , tapi bukan menjadi alasan utama. Ada pesan yang lebih besar yang ingin kusampaikan melalui tulisan ini. Di sisi lain , aku juga tak mau dianggap sebagai seorang penggemar yang obsesif. Seseorang yang tak mampu menyentuh idolanya , lalu menyalurkan khayalannya dengan sebuah cerita mesum. Sebuah  Fan fiction. Kuteguk cappuccinoku yang mulai mendingin. Si upin sudah berkeliaran lagi mencari apapun yang tadi dikejarnya. Seorang lelaki tua terbungkus jas hujan melintas di depan rumahku sambil mendorong motor. Ia celingak celinguk , sepertinya mencari tempat berteduh atau mungkin juga bengkel. Aku tersenyum hambar. Gara gara kisahBB, setiap kali melihat lelaki tua macam itu, pikiranku langsung ngeres. Terbayang olehku, sesampainya di rumah, lelaki itu disambut oleh wanita cantik  -Eliza atau Andani Citra- melayaninya, menghangatkannya luar dalam seperti dalam film-film JAV keluaran Glory Quest. (lebih…)

Read Full Post »

“Kong, tolong dong. Satu bulaan aja Minah nggak bayar. Ayo dong, Engkong ganteng deh…” rayu Aminah, salah seorang penyewa kost ‘Melati’ yang bermasalah dalam hal iuran bulanan.

“Nggak bisa Neng, pan aturannya udah jelas dari pertama nge-kost. Silahkan angkat kaki dari sini mulai besok.” tegas lelaki udzur pemilik kost-kostan, tanpa memberi keringanan barang sedikit pun.

Seorang gadis cantik yang kamarnya tepat di sebelah sedang bersantai, asyik menguping perselisihan tersebut. Akhir dari perbincangan, Aminah, mahasiswi yang sama sekali tak menarik kaum Adam untuk melirik itu pergi sambil bersungut-sungut. Menuruni anak tangga tinggalkan si orang tua lawan bicaranya penuh dengan rasa benci.

Marjuki nama si orang tua, disapa ‘Kong Juki oleh warga sekitar. Usianya berkisar 70 tahun, namun tubuhnya masih gagah lantaran beliau adalah seorang pensiunan hansip kelurahan di kota J. Ditinggal mati istrinya 10 tahun yang lalu karena sakit. ‘Kong Juki orang Jakarta asli, memiliki harta warisan turun temurun berupa beberapa tanah kosong, baik itu girik maupun bersertifikat. Sebidang tanah di kota D, dimanfaatkannya untuk membangun sebuah tempat kost khusus wanita.

‘Kong Juki sangat keras dalam peraturan. Boleh membawa teman pria tapi pintu harus dibuka. Bayar uang kost juga harus tepat waktu, boleh minta tempo mundur dengan syarat tidak genap 1 bulan. Bila terjadi demikian, penyewa akan diusir Engkong secara tegas. Daerah sekitar kost masih jarang ditempati warga, sebagian lahan kosong. Kost-kostan belum banyak, apalagi yang bersih dan tertata apik. Ada kontrakan bagus sayang berat untuk kantung, terutama bagi mahasiswa.

Beruntungnya lagi tempat Engkong strategis, hanya dengan menyusuri jalan setapak beberapa meter, tiba di jalan raya menuju terminal sekaligus melewati pusat perbelanjaan (Mall). Dimana tak jauh dari situ terdapat warung kecil dan fasilitas umum seperti halte, warnet, wartel, salon, dekat dengan kampus serta tembus ke stasiun. Hal-hal itulah yang membuat mahasiswa ataupun pekerja kantoran tertarik untuk kost disitu.

Adapun Tanty, nama gadis penguping tersebut di atas. Seorang gadis berusia 19 th. Baru saja dirundung duka kehilangan orang tuanya di Padang karena musibah Gempa, dimana itu terjadi di tahun ke-2 kuliahnya. Saudara orang tua Tanty yang ada di Jawa tepatnya di Jakarta, memiliki ekonomi yang pas-pasan. Membuatnya tak tega untuk tinggal menetap, apalagi minta dibiayai kuliah plus uang jajan. 

Kong Marjuki &  Tanty

Kong Marjuki & Tanty

Nilai kuliah terus menerus anjlok lantaran Tanty banyak berburu pria tajir di kampus, bahkan cenderung sering gonta-ganti. Tiap kali ada yang bermateri lebih, pasti Tanty pindah ke lain hati. Untuk sementara ini keuangannya aman dalam hal bayar kost dan kuliah. Berjalan mulus masuk ke tahun berikutnya mendekati kelulusan.

Hingga suatu masalah datang menyela…

***

“Yak pas, lu kalo bayar selalu tepat waktu ya Tong..demen Engkong” ujar ‘Kong Juki tersenyum lebar, giginya yang banyak tanggal terlihat saking senangnya terima uang.

“Hahaha, Engkong bisa aja. Yaah, apa sih yang nggak buat pacar” sahut si pemuda berbangga diri.

“Jadi Tanty itu pacar lu ya?” pemuda itu tersenyum bangga. “Kirain masih sodare?” sambung Engkong.

“Bukan ‘Kong, kan saudara Tanty di Jakarta. Orang tuanya juga sudah nggak ada”.

“Iya, kalo itu Engkong tahu. Abis, banyak bener anak laki-laki seliweran di kamer Tanty. Engkong jadi kagak tahu nyang mane pacarnye, nyang penting pintu dibuka titit aeh titik !” jelas ‘Kong Juki panjang lebar. Wajah pemuda tersebut mendadak berubah, api cemburu membara di dadanya.

Dalam hati ‘Kong Juki tertawa. Berhasil memanas-manasi si pemuda. Perkataannya tadi bukan sekedar celetukan, melainkan bertujuan. Sudah lama dia perhatikan keindahan yang dimiliki Tanty. Kecantikannya.. kesintalan bodynya.. senyum manisnya.. aroma wangi tubuhnya dan lain sebagainya yang buat Engkong jadikan Tanty gadis dambaan untuk disetubuhinya. Pemuda-pemuda mahasiswa yang akrab dengan Tanty, hanyalah penghalang menurut ‘Kong Juki semata.

“Banyak ‘Kong?”, kekasih Tanty penasaran.

“Buaanyak… malah ade nyang rutin. Engkong perhatiin tuh, tiap lu pulang anter Tanty, suka ade nyang dateng. Engkong kagak bisa nyuruh entu anak pulang karena masih jam boleh kunjung”. Wajah pemuda tersebut merah menahan amarah.

“Kalo kagak percaye, kasih Engkong nomor lu deh…‘ntar kalo dateng tu anak, Engkong telpon”, pemuda itu langsung cepat-cepat meraih ponsel, ingin segera buktikan hal yang mengganjal di hati kecilnya.

Tiba-tiba muncul Tanty di depan pintu kamar Engkong, “Eh si eNon”. “Eh Engkong, aku jalan dulu yach. Yuk say..” ajak Tanty ke sang kekasih, namun sang kekasih terlihat acuh tak acuh. (lebih…)

Read Full Post »

Dewi

Dewi

Selama 1 minggu ini Dewi betul-betul beristirahat dari petualangan liarnya, ia sedang berusaha memulihkan kembali otot-otot vaginanya kembali normal setelah selama 1 minggu vaginanya dihajar oleh batang kemaluan Dave yang besar dan panjang, Dewipun rajin meminum jamu yang dapat mengembalikan otot-otot vaginanya kembali normal. Selama 1 minggu ini Dewi masih merasakan vaginanya yang sedikit perih akibat hajaran batang kemaluan Dave, tapi walaupun ia merasakan perih di vaginanya tapi Dewi merasa puas dengan terjangan-terjangan batang kemaluan Dave, negro teman suaminya itu, masih terbayang dalam benaknya bagaimana enaknya disetubuhi oleh penisnya Dave yang hitam, besar dan panjangnya melebihi batang kemaluan yang pernah ia rasakan selama ini, ukuran penisnya Dave itu hampir 2x dari ukuran batang kemaluan para lelaki yang pernah memuaskan ia. Setelah 1 minggu lamanya Dewi meminum jamu dan berhenti melakukan persetubuhan, Dewi mulai merasakan perih di vaginanya berangsur hilang, hari ini Dewi merasakan vaginanya sudah tidak perih lagi, hatinya membatin hari ini ia dapat merasakan lagi kejantanan para lelaki. Hari ini matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya, rumah Hendro masih terlihat sepi, kesibukan yang ada hanya didapur dan ditempat cuci, para pembantunya Hendro sudah terlihat dengan kegiatan masing-masing, terlihat Tuti dan Narti sibuk membenahi rumah dan kamar, sementara Ani sibuk dengan mencuci pakaian, Pono sendiri sedang membenahi taman di depan rumah. Terlihat sebuah mobil meluncur kearah rumah kediaman Hendro, dari balik mobil turun seseorang dan menghampiri pintu gerbang, ia melihat Pono yang sedang asyik memotong rumput di halaman, dari balik pintu gerbang orang tersebut lalu  memanggil Pono, yang dipanggilpun segera menghampiri pintu gerbang.

“Eh, aden , baru datang,” tanya Pono setelah mengetahui bahwa yang dating adalah tuan mudanya.

“Hhhmm, iya nih baru sampai, tolong bukain pintunya, Pon,” sahut Doni.

“Baik, Den,” jawab Pono.

Pintu gerbang segera dibuka oleh Pono dan Donipun segera mengemudikan mobilnya langsung menuju garasi, sementara Pono setelah menutup pintu gerbang kembali dengan kegiatannya. Donipun melangkah masuk kerumah, yang pertama ia tuju adalah kamar mamih tirinya, ia merasa sudah kangen dengan pelukan mamih tirinya, dengan ciumannya, dengan kulumannya dan dengan jepitan vaginanya. Hanya dengan membayangkan semua itu membuat batang kemaluannya berdiri tegak.

Doni tidak melihat ke 3 pembantunya saat ia menuju kekamar mamihnya itu, saat itu Tuti dan Narti sedang berada di kamar Doni, membersihkan kamar tuan mudanya itu, sementara Ani sendiri masih asyik dengan kegiatannya ditempat cuci, setibanya didepan kamar mamihnya, Doni dengan perlahan membuka pintu kamar mamihnya, kemudian ia menutup pintu kamar tersebut dengan perlahan setelah berada didalam kamar, langkah kakinya menuju kearah tempat tidur mamihnya, Doni melihat Dewi masih tertidur dengan lelap, dengan perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, kemudian dengan perlahan juga ia duduk di samping mamihnya yang masih tertidur itu. Dengan perlahan ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mamihnya itu. Donipun tersenyum melihat tubuh Dewi yang sudah tidak tertutupi oleh selimut, karena ia melihat tubuh Dewi yang hanya berbalutkan daster tipis, sehingga kedua payudaranya terbayang, kedua putingnya tercetak didaster tersebut. Dengan perlahan kedua tangannya mulai menjamah kedua payudara tersebut dan meremas perlahan, selain itu Doni mulai mengecup perlahan bibir Dewi. Remasan-remasan kedua tangan Doni di payudara Dewi, dan kecupan-kecupan ringan dibibir Dewi, membuat Dewi tersentak dari tidurnya, Dewi kaget karena merasakan kedua payudaranya ada yang meremas dan bibirnya ada yang mengecup. Matanya terbuka, dan mulutnya terbuka untuk berteriak, saat itu juga Doni mencium bibir mamihnya yang terbuka itu dan memasukkan lidahnya kedalam rongga mulutnya, lidahnya mulai bermain dan dilangit-langit dan lidah Dewi. Mendapat serangan yang mendadak itu Dewi gelagapan dan matanya semakin terbelalak, tapi setelah matanya menangkap raut muka yang ia kenal dan wajah itu adalah wajah anak tirinya, Doni. Hasrat untuk marahnya hilang, ciuman Doni ia balas. Lidah Doni yang bermain di rongga mulutnya ia balas, kedua lidah mereka saling bertautan, remasan tangan Doni semakin menjadi. Dewi dibuatnya mendesah, nafas keduanya memburu, nafsu birahi mereka memuncak. Tangan kiri Dewi meraih belakang kepala Doni, seolah tidak mau melepaskan Doni untuk terus mencumbunya, tangan kanannya merayap keselangkangan Doni, mengelus-elus batang kemaluan Doni yang sudah tegang dari balik celananya, tangan Donipun semakin asyik meremas-remas kedua payudara Dewi yang ukurannya sama dengan ukuran artis “JUPE”, desahan-desahan dan lenguhan-lenguhan kerap terdengar dari mulut mereka berdua, tidak puas dengan hanya mengelus-elus batang kemaluan Doni dari luar. Tangan kanan Dewi mulai beraksi dengan mencoba membuka kancing dan resleting celana Doni. Setelah berhasil membuka celana Doni, tangan Dewi segera menyelusup masuk kedalam CD Doni, batang kemaluan Doni yang sudah tegang segera diremasnya, akibatnya Doni menggelinjang mendapat serangan itu, saat mereka asyik bercumbu itu tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar, keduanya segera menghentikan kegiatan mereka.

Doni

Doni

“Yaaa….,” sahut Dewi dengan nafas yang masih tersengal-sengal, dan mulutnya tersenyum ke Doni, lalu ia mengecup mesra bibir Doni.

“Bu…maaf, kamarnya mau dibersihkan sekarang,” terdengar suara Tuti menjawab.

“Hmmm….ya boleh, masuk saja,” jawab Dewi

Doni kemudian memandang Dewi seolah memprotes jawaban mamihnya itu, karena dia merasa hasrat birahinya yang sudah lama terpendam belum tersampaikan. Dewi hanya tersenyum sambil mengecup kembali bibir Doni.

 “Kamar mandi dulu aja, Tut, yang kamu bersihkan,” sahut Dewi.

 “Baik, bu,” jawab Tuti,

 “Eh..ada den Doni, kapan datang, Den?” tanya Tuti yang saat itu menyadari ada Doni di kamar nyonyanya ini.

“Barusan saja,” jawab Doni dengan tersenyum dan memandangi Tuti

Ia menyadari bahwa Tuti seorang cewek yang manis, kulitnya kuning langsat, bentuk tubuhnyapun sempurna, langsing, kedua payudaranyapun nampaknya tidak terlalu besar. Hatinya membatin suatu hari aku harus merasakan tubuhnya. Doni memandangi tubuh Tuti sampai menghilang ke dalam kamar mandi. Dewi yang melihat tingkah anaknya itu tersenyum, kemudian ia berbisik ditelinga anaknya, 

“Pasti kamu sedang membayangkan tubuh Tuti telanjang, dan pasti kamu berharap untuk bisa menyetubuhinya,”bisik Dewi sambil menjilat telinga anaknya.

“Ah..mamih, gak lah,”jawab Doni perlahan dan tersipu, saat jalan pikirannya diketahui oleh mamihnya itu.

“hehehe… kamu jangan bohong Don, dari cara matamu menatap tubuhnya, mamih langsung tahu,”bisik Dewi kembali.

“Kamu pengen nyobain tubuhnya sekarang, itu juga kalau kamu mau….,”goda Dewi.

“eeh…emang bisa,”tanya Doni penasaran.

“Mau…atau tidak,” Dewi kembali menggoda.

“Hhhmmmm….mau, mih, tapi mamih?,”dengan malu Doni mengiyakan.

 “Hmmmm…kita main bertiga aja, kamu kuat gak?” tawar Dewi.

Dewi tidak tahu bahwa Doni sebelumnya sudah menelan obat kuat, karena Doni ingin menyetubuhi mamihnya dan memberinya kepuasan.

“kalau soal itu gak usah khawatir,”jawab Doni tersenyum.

“Oke kalau begitu,” sahut Dewi.

“Kamu sembunyi dulu sana , terus lepas bajumu semua, biar mamih yang ngatur, nanti kalau mamih kasih tanda kamu keluar,” Dewi menyuruh Doni sembunyi.

“Hhhmmm.. oke mih,”Sahut Doni sambil beranjak menuju ke ruangan tempat berganti pakaian.

“Tut, Tuti…sini sebentar,” Dewi memanggil Tuti.

“Ya bu,” sahut Tuti yang segera menghampiri nyonyanya ini.

Saat itu Dewi sedang duduk dipinggiran tempat tidurnya, Tuti sedikit ternganga saat sampai di tempat Dewi duduk, karena ia melihat tubuh nyonyanya terbayang dengan jelas dari balik daster tipisnya, Tuti melihat kedua payudara nyonyanya yang indah dan besar dihiasi kedua putingnya yang kemerahan, sementara diselangkangannya Tuti melihat bayangan hitam, Tuti menyadari bahwa nyonyanya ini tidak mengenakan pakaian dalam dibalik dasternya yang tipi situ.

“Sini, Tut, duduk sini,” Sahut Dewi sambil menepuk pinggiran tempat tidur disebelah kirinya.

“Ahh..gak usah Bu, biar saya disini saja, daster saya basah, Bu,” jawab Tuti sungkan untuk duduk disamping nyonyanya ini.

“Eh..gak apa-apa, sini duduk, saya mau tanya sesuatu,”kata Dewi.

Dengan berat hati akhirnya Tuti duduk disebelah Dewi,

“ Ada apa Bu? Ehh..den Doni sudah ke mana, Bu?” tanya Tuti.

“Ohh..Doni kembali kekamarnya, ini Tut, saya mau tanya, kamu sudah berapa lama menjanda,”tanya Dewi

“Ohh..kira-kira 1 tahun setengah, Bu, memang kenapa, Bu?”jawab Tuti sambil bertanya.

“Kamu gak kangen sama itunya lelaki,” tanya Dewi sambil tersenyum.

“Maksud ibu?”tanya Tuti yang masih belum mengerti maksud Dewi.

“Itu lho, Tut, selama satu setengah tahun kamu gak merasa kesepian, tidur gak ada yang meluk, lalu gak pernah melakukan hubungan suami istri?” Dewi menjelaskan.

“Ohh itu, eehhh..gimana yach, Bu, malu..jadinya..kangen sih lalu kalau kesepian sich udah pasti, Bu, kalau yang satu itu, gimana yach, malu Bu..”jawab Tuti tersipu. 

Tuti

Tuti

“kenapa malu, Tut, kan hanya kita berdua aja, kenapa harus malu sama saya, kan kita sama-sama wanita,”desak Dewi

“Eeehhh…kadang-kadang sich kepengen juga, Bu.” Jawab Tuti malu-malu.

“terus kalau lagi kepengen begituan, kamu ngapain,”kembali Dewi mendesak.

“Iiihh…ibu..malu ah….,”kata Tuti

“Ayo dong Tut, kenapa harus malu, ini kan hanya kita berdua saja yang tahu,” Dewi terus mendesak.

“Aaahh…ibu, saya..hhmmm..saya…paling kalau lagi kepengen begituan…eehhh…. Saya….eeehh….saya…. punya saya… aaahh..malu…,”jawab Tuti malu, pipinya berona merah karena malu, Doni yang mengintip semakin bernafsu melihat Tuti yang tersipu malu semakin terlihat manisnya.

“Punyamu diapain,”desak Dewi.

“Ihhh..ibu…masa saya harus bilang..,”kata Tuti

“Ayo, dong Tut, punyamu diapain,”desak Dewi kembali.

“Itu lho, Bu…di ..raba…di elus-elus sama tangan saya…sampai saya..puas,” jawab Tuti tersipu malu, rona merah dipipinya semakin terlihat.

“Oohh..hanya dielus-elus sama tangan kamu sendiri,”kata Dewi, sambil tangan kirinya mengusap-usap punggung Tuti, Tuti menggelinjang kegelian oleh rabaan tangan Dewi.

“Aaah…geli, Bu,”kata Tuti

“Kamu mau tolongin saya, saya juga sudah lama tidak merasakan punyanya laki-laki,”kata Dewi

“Eehh..Bu, gimana caranya Bu, saya kan perempuan?”kata Tuti bingung

“Kamu lakukan dengan tanganmu, kamu lakukan seperti kamu lakukan kepunyaanmu,” kata Dewi

“maksud ibu,”tanya Dewi bingung

Dewi kemudian meraih tangan Tuti lalu meletakkan tangannya tersebut diselangkangannya, Dewi membuka kedua kakinya, dan mengangkat dasternya, tangan Tuti lalu ia gerakkan di vaginanya. Tuti terperanjat dengan ulah majikannya ini, tapi karena kasihan dengan majikannya ini, iapun lalu mengikuti kemauan majikannya ini. Tangannya bergerak perlahan mengelus-elus vagina Dewi, tak lama kemudian Dewipun mulai beraksi, tangan kanannya menyelusup ke dalam daster Tuti dan menyelinap kedalam Bra Tuti. Payudara Tuti langsung diremas-remasnya, sementara tangan kirinya mengusap-usap punggung Tuti. Tuti kaget mendapat perlakuan seperti itu,

“Eeehh..Bu, jangan, Bu….ooohhh…jjaaanngan…,”tolak Tuti sambil mendesah, karena ia sudah merasakan gairah birahinya yang mulai timbul.

Mulut berkata jangan, tapi tubuh Tuti tidak menolak dengan perlakuan Dewi, tangan Tutipun semakin aktif bermain di vagina Dewi, hasrat birahi kedua wanita ini dengan perlahan bangkit. Permainan mereka semakin menjadi. Entah sejak kapan tubuh mereka berdua sudah telanjang. Dari posisi duduk di pinggiran ranjang, sekarang posisi mereka sudah di atas ranjang. Tuti terbaring mendesah-desah menikmati jilatan-jilatan lidah Dewi di vaginanya dan hisapan-hisapan yang mendera kelentitnya, perasaan Tuti melambung tinggi, tubuhnya menggelinjang menikmati serangan-serangan Dewi di vagina dan kelentitnya.

“Oooohhh… ssshhh …aaahhh …sshhh ..aahhh ….ooohhh …,”Tuti mendesah.

“Hhhmmm…ssllrrppp…ssllrrppp…enaak..Tut, ssslrrppp.. ssllrrrppp,” tanya Dewi sambil tetap menghisap kelentit Tuti dan menjilati vagina Tuti.

“Ooohh…hheeehee..enaaaakk… Bu, nikmaatt…Bu,” jawab Tuti

Tak lama kemudian Dewi memutar tubuhnya sambil mulutnya tetap bermain di selangkangan Tuti, ia menempatkan bagian selangkangannya tepat diatas muka Tuti,

“Slllrrppp… kamu ssllrrpp…juga jilati dan hisap punyaku, Tut, ssslrrppp… sslrrppp,”kata Dewi.

“Ooohhh…iiiyaaaa…Bu…,  aaaahhhh…sllrrppp….ssllrrppp…aaahh…,” Tuti menuruti kehendak nyonya majikannya ini.

“Ooohh…ssslllrrppp….aaaghhh…Tut, itilku dihissaaappp…juga…Tut, ssslrppp…,” Dewi mendesah

Doni yang melihat pemandangan itu semakin terangsang, penisnya semakin mengeras. Dengan sabar Doni menunggu kode dari mamihnya, walaupun hatinya ingin segera memasukkan penisnya ke vagina Tuti dan Dewi, nafasnya memburu tanda nafsu birahinya semakin meninggi. Sementara itu di ranjang aksi kedua wanita ini semakin menggila, keduanya saling menghisap dan mengerang silih berganti. Terlihat Dewi memberi kode kepada Doni untuk masuk ke arena pertempuran. Kedatangan Doni tidak diketahui oleh Tuti yang saat itu sibuk menikmati jilatan dan hisapan Dewi dan juga sibuk dengan aksi mulutnya di vagina Dewi. Dengan pelan-pelan Doni naik ke atas ranjang, ia melihat vagina Tuti yang sedang dijilati oleh mamihnya, lubang vaginanya yang sengaja Dewi buka terlihat jelas kemerahan. Doni melihat dalaman lubang itu berdenyut-denyut, saat mamihnya menghisap kelentitnya. Dengan perlahan Doni menyelipkan kepala penisnya ke lubang tersebut. Sleeeppppp…kepala penisnya terjepit di lubang vagina Tuti. Tuti yang merasakan lesakan di lubang kemaluannya tersentak, tapi ia tidak bisa bergerak banyak karena tubuhnya sedang di tindih oleh tubuh Dewi, tubuhnya yang mungil tidak dapat berbuat apa-apa, dan ia tidak mengetahui apa yang mengganjal di lubang kemaluannya itu.

“OOuughhh….aaapaa… itu Bu, aapa.. yang masuk ke dalam memek saya?” tanya Tuti kaget

“Tenang, Tut, tenang, nikmati saja penisnya Doni, pasti kamu gak kecewa,” jawab Dewi menenangkan.

“Eeehhh…jangan,  Jangan….dimasukkan Den,  den, jangan…Aaghhhh….Ppelaaan… den…peellaannn…aagggghh…kontolmu besar sekali den…ooougghh…robeeekk.. memekku,” Tuti menjerit saat Doni mulai meneroboskan penisnya ke dalam lubang vagina Tuti.

Perlahan tapi pasti batang kemaluan Doni mulai menyeruak lubang vagina Tuti yang sudah lama tidak pernah dikunjungi oleh batang kemaluan lelaki ini, sedikit demi sedikit penisnya Doni mulai terbenam dalam lubang vagina Tuti, Bleeessss…bleeeessss…Bleesssss….dan bleesssssssss…Dengan sekali hentak Doni mendorong masuk semua batang kemaluannya sehingga terbenam seluruhnya di dalam lubang kenikmatan Tuti.

“Aaaagghhh… vaginamu sempit juga…Tut,” Doni mengerang keenakan merasakan jepitan ketat vagina Tuti.

“Oooghhh…. Ssaaakkittt…. Aaahhh….  Hmmmm…aaaaghhh… den…cabut..den.. ,” Tuti mengerang kesakitan merasakan penisnya Doni yang memenuhi rongga kewanitaannya.

“Sabar..Tut.. nanti juga gak sakit… itu karena kamu sudah lama tidak merasakan batang kemaluan lelaki,” Dewi menenangkan.

Doni mendiamkan penisnya dalam jepitan vagina Tuti, Dewi mulai kembali menjilati kelentit Tuti. Jilatan yang dilakukan Dewi perlahan-lahan mulai menghilangkan rasa sakit di vagina Tuti akibat lesakan penisnya Doni, tapi bukan hanya Tuti yang menikmati jilatan Dewi itu, Doni pun ikut merasakan jilatan mamihnya dipangkal selangkangannya, karena posisi pangkal selangkangannya berdekatan dengan posisi kelentit Tuti sehingga jilatan Dewi dapat Doni rasakan juga, Doni merasakan lidah mamihnya menyapu-nyapu pangkal selangkangannya. Doni merasakan kenikmatan yang sedikit berbeda.

“Ooohhh….ssshhh….ooohhh….sshhhh…,”erangan Tuti mulai terdengar lagi, isak tangisnya telah berganti dengan lenguhan nikmat akibat jilatan Dewi.

Tuti sudah mulai tidak merasakan sakit di vaginanya, tapi ia merasakan enak akibat vaginanya dipenuhi oleh penisnya Doni, Doni sendiri mulai merasakan vagina Tuti berdenyut-denyut, seolah meremas-remas penisnya dengan lembut. Dengan tidak menunggu lebih lama lagi Doni mulai mengeluar masukkan penisnya  di lubang vagina Tuti. Sssrtttt….  Bleeessss…. Srrttttt…. Bleeeesss…. Sssrrttt…. Bleeessss…..Dewi yang masih asyik menjilati kelentit Tuti, melihat bagaimana penisnya Doni keluar masuk di vagina Tuti dengan perlahan, dan iapun mendengar suara desahan keenakan dari Tuti, menyadari bahwa Tuti sudah dapat menikmati lesakan-lesakan penisnya Doni.

Dewi bangkit dari posisinya, ia berbaring di samping Tuti, sambil tangannya bermain di payudara Tuti. Kedua payudara Tuti silih berganti ia remas-remas dan ia hisap-hisap, jilatannya bermain di kedua putingnya, gigitan-gigitan lembut ia lakukan juga di kedua putingnya tersebut, akibatnya erangan dan desahan nikmat Tuti semakin kerap terdengar. Tuti merasakan keenakan yang sangat luar biasa yang belum pernah ia alami selama ia berhubungan dengan seks dengan suaminya, batang kemaluan Doni yang besar memenuhi rongga wanitanya, gesekan-gesekan penisnya Doni di dinding vaginanya terasa sangat erat, di tambah dengan hisapan dan jilatan serta gigitan Dewi di kedua payudara dan putingnya, Tuti merasakan keenakan, matanya kadang terpejam kadang mendelik, mulutnya mendesah dan mengerang.

“OOuughh….eenaaakk…aaaghhh….ssshhh… den…enaaak… kontolmu… enak den… aahhh…genjot terusss..memekku… yaaaaaahhh….,” Tuti mendesah keenakan.

“Ssshhh…uuughhh… memekmu…seempiittt…Tut,  enaaakk… kontol!” Donipun mengerang kenikmatan.

“Hhhmmm…ssslrrppp…ssslrrppp…, betull kan Tut, kamu pasti enak..sslrrppp…,” gumam Dewi

“Iiiiyyaaaahhh…  buuu… ooougghh…  penisnya den Doni…. Enaaakk.. besaarr… lebih bessaaar… dari padaaaaa…  punya suamiku… aaaagghhh…,”erang Tuti.

Nampak kepala Tuti bergoyang kekiri dan kekanan, kadang-kadang terangkat saat lesakan penisnya Doni masuk lebih dalam di lubang vaginanya, lenguhan dan desahannya semakin sering terdengar, gairah birahinya yang terpendam selama satu setengah tahun hari ini terlampiaskan, gejolak birahinya meledak-ledak menikmati sodokan-sodokan penisnya Doni, Tuti merasakan puncak pendakian birahinya akan segera tercapai, ia merasakan lahar kenikmatannya akan segera meletup,

“Ooohhh….den….terussss….genjot  memekku yang cepaaatt…den, yang kuaaat… den….aaawwww….teeruusss…dennn….yaaah…beegitttuuu…deeen… makiiiinn ceppaatt… aaaghhh…dennn… makin kuaaatt…deen…Aaaakuuuu…oooghhhh… mmmau..kheluuarrrrr… den…oohh..enaaaakkkk” Tuti mengerang sejadi-jadinya merasakan nikmatnya digenjot oleh Doni.

Mendengar erangan Tuti, Doni semakin mempercepat keluar masuk penisnya di dalam lubang vagina Tuti, dan saat Doni merasakan kedutan kuat di batang kemaluannya iapun lalu menekan penisnya sekuat-kuatnya kedalam lubang kenikmatan Tuti, dan sssrrrrrrr…. Sssrrrrr……. Sssrrrrrrr….. Sssssrrrrrr……  lubang vagina Tuti akhirnya menyemburkan lahar kenikmatannya yang sudah terpendam selama satu setengah tahun.

“Ooouugghhh…deeennn…. Eeenaaaakkk….. nikkmaaattt….,hhhmmmm,” Tuti mengerang keenakan saat vaginanya mulai menyemburkan cairan kenikmatannya.

Doni mendiamkan sejenak penisnya dalam lubang vagina Tuti, untuk memberi kesempatan kepada Tuti menikmati puncak kenikmatan yang diraihnya, dan Doni merasakan vagina Tuti berkedut-kedut dengan kuat seiring dengan menyemburnya cairan kenikmatannya. Terlihat nafas Tuti masih memburu, matanya terpejam, dimulutnya tersungging senyuman kepuasan, untuk pertama kalinya Tuti merasakan kenikmatannya bersetubuh dan untuk pertama kalinya juga Tuti mencapai puncak orgasmenya, selama menikah dan melakukan hubungan badan dengan suaminya belum pernah Tuti merasakan kenikmatan bersetubuh apalagi sampai orgasme, selama ia menikah yang ia lakukan hanya melayani suaminya saja, apalagi kalau suaminya melakukan hubungan seks tidak pernah melakukan pemanasan dulu seperti yang ia dapatkan sekarang ini. Setelah nafasnya mereda Tutipun membuka kedua matanya, tapi ia jadi tersipu malu saat tahu bahwa kedua majikannya sedang menatap dirinya, mukanya langsung memerah, kedua tangannya secara otomatis menutupi kedua payudaranya, ia merasa malu, terutama kepada majikan mudanya itu, dari pertama ia bekerja dirumah ini, sering ia mencuri pandang kepada majikan mudanya ini, dan ia sering membicarakan kerupawanan majikan mudanya itu dengan Narti dan Ani, kedua temannya itu juga sering mencuri-curi pandang majikan mudanya itu. Gerakan tangan Tuti yang menutupi kedua payudaranya itu, membuat Doni dan Dewi tersenyum, apalagi Doni yang penisnya masih terbenam dilubang kenikmatan Tuti, tersenyum lebar dengan perbuatan Tuti tersebut.

Dengan perlahan-lahan Doni mulai kembali memaju mundurkan penisnya di lubang kenikmatan Tuti, Tuti yang masih tersipu malu terhenyak dengan ulah Doni, iapun melenguh merasakan gesekan batang kemaluan Doni di dinding vaginanya, mukanya semakin memerah saat kedua tangan Doni mulai menggerayangi kedua payudaranya yang sedang ditutupi oleh tangannya, tangan Doni mulai menyingkirkan tangan Tuti sehingga kembali payudaranya yang masih ranum dan tidak terlalu besar terpampang dimata Doni, kemudian diremas-remasnya kedua bukit kembar itu sambil tetap menggenjot penisnya keluar masuk lubang vagina Tuti dengan perlahan, erangan Tutipun kembali terdengar, nafsu birahinya yang tadi sudah padam, perlahan mulai menyala kembali. Irama genjotan Doni yang pelan tapi teratur, membuat Tuti merem-melek menikmati sensasi gesekan penisnya Doni di dinding vaginanya, lenguhan dan desahannya kerap terdengar dari mulutnya, apalagi remasan tangan Doni dan pilinan jemarinya bermain di kedua payudaranya dan kedua putingnya yang semakin menegang, Tuti merasakan kenikmatan yang sangat dan terutama ia merasa senang bahwa majikan mudanya ini sedang menyetubuhinya, ia juga bangga bahwa majikan mudanya ini sedang menikmati lubang vaginanya. 

“OOoohhh…den…  aaaghh…den…enak… den…penismu…enak sekali.. terus den genjot vaginaku…aaaghh…hhhmmm…aaaagghh..,”desah Tuti.

“Enak..Tut, oooogghh… vaginamu..juga enak…,”Donipun mengerang keenakan merasakan jepitan vagina Tuti di penisnya.

Dewi yang melihat Doni mulai menggenjot Tuti kembali, iapun beranjak kearah Doni. Tubuh Doni ia peluk dari belakang dan Dewipun mulai menciumi punggung, telinga, tengkuk Doni, dan salah satu tangannya bergantian mengelus-elus antara dada Doni dan biji peler Doni, Doni yang merasakan serangan Dewipun mulai melenguh, ia merasakan sensasi nikmat yang berbeda, terutama saat tangan mamihnya mengelus-elus biji pelernya yang sedang bergoyang akibat ia sedang memaju mundurkan penisnya dilubang vagina Tuti, ciuman Dewi di punggung dan tengkuknya membuat ia merinding kegelian.

Penisnya semakin gencar keluar masuk di vagina Tuti, gerakannya semakin bertambah cepat, Tuti yang merasakan penisnya Doni semakin gencar keluar masuk dilubang vaginanya bertambah melenguh, desahan dan erangannya semakin menjadi, cairan pelicin semakin banyak mengalir dari lubang vaginanya, bercampur dengan cairan pelicin yang keluar dari penisnya Doni, akibatnya lubang vaginanya semakin basah, suara berkecipak aneh terdengar akibat beradunya kedua kemaluan Tuti dan Doni. Bagi Doni dan Tuti suara ini menambah gairah birahi mereka, nafsu birahi mereka semakin membara seiring dengan semakin kerasnya suara berkecipak dari kemaluan mereka.

“Oooogghhh… Den. Enaaaak… teruss.. genjot…teruss….yyaaaahh… aaahhh.. Den kontolmu… betul-betull enaaakk…terus den terus…. Genjot teruss…vaginaku ooooohhh.. den… ooohhh…,” Tuti merintih-rintih keenakan.

Sambil  kedua tangannya tetap meremas-remas kedua payudara Tuti, genjotan-genjotan Donipun semakin bertambah cepat, sementara itu Doni merasakan elusan-elusan di biji pelernya berubah dengan remasan-remasan lembut, tangan mamihnya tidak mau lepas dari biji pelernya yang sedang bergoyang-goyang seirama dengan gerakan maju mundur penisnya.

“Hhmmm…enak. Sayang … enak vaginanya Tuti…hhmmmm…jangan lupa sayang sisakan buat mamihmu ini…sisakan kontolmu itu sayang….hhmmmm.,”Dewi berbisik lirih di telinga Doni

“Oouughh…sshh…aagghhh… pasti mih, penisku ini selalu buat mamih, eenaaakk mih, seret…dan rapet…semppitt…ooogghh….,”jawab Doni

“Oohhh… Den… Ooohhh… percepat genjotanmu.. den… aaaghh..aaakhuu.. mau keeluaarrr…laaggiii…iyaaa  deenn….,” rintih Tuti yang merasakan puncak kenikmatannya akan ia raih kembali untuk kedua kalinya.

Doni tersenyum mendengar jeritan Tuti, hatinya membatin obat kuat yang kuminum betul-betul ampuh, untuk kedua kalinya Tuti kembali mau meraih puncak kenikmatannya,

“Hhhmmm…aaggghhh… keluarin Tut, keluarin….enaaakk.. Tut….kontolku enak… ini terima kontolku…aaaghhh,”kata Doni sambil mempercepat genjotannya.

“Iyyaaahh.. den…iyaaaahhh… kontolmu enaaak..sekaliii…ooooughhh..  den aku gak kuat lagi den…aaaghhh…den….aaaghh…aaakku keluar deeenn…,”Tuti menjerit keenakan dan,

Sssssrrrrrrr….. Ssssrrrrrr…. Sssssrrrrrr… Ssrrrrrrr….. Ssssrrrrrr….. vagina Tuti memuntahkan lahar kenikmatan untuk kedua kalinya, lubang vaginanya semakin basah oleh cairan kenikmatannya. Nafas Tuti memburu menikmati puncak pendakian yang berhasil ia raih untuk kedua kalinya, dadanya naik turun seirama dengan nafasnya, kedua payudaranya bergoncang dengan perlahan mengikuti naik turun dadanya. Doni mendiamkan penisnya terbenam di lubang vagina Tuti untuk memberikan kesempatan kepada Tuti menikmati sensasi orgasmenya. Dewi tersenyum melihat Tuti kelojotan untuk kedua kalinya oleh terjangan penisnya Doni, dan ia kagum melihat stamina Doni yang berhasil mengalahkan Tuti dua kali sementara Doni sendiri belum. Dewi terkejut karena dulu Doni selalu kalah bila bermain dengannya, Dewi jadi semakin penasaran ingin merasakan lagi kenikmatan disodok oleh penisnya Doni, Dewi penasaran apakah ia akan kalah seperti Tuti atau ia dapat mengatasi keperkasaan anaknya, Dewi tidak tahu bahwa Doni telah minum obat kuat sebelum pertarungan ini. Dewi memagut bibir Doni dengan penuh nafsu, vaginanya sudah ia rasakan sangat gatal ingin segera menikmati sodokan-sodokan penisnya Doni, lidahnya menerobos kerongga mulut Doni, yang disambut oleh Doni dengan penuh nafsu juga sementara penisnya Doni masih terbenam dilubang vaginanya Tuti, keduanya asyik berciuman sementara Tuti yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya melihat pemandangan ini dimana kedua ibu dan anak majikannya asyik berpagutan dengan penuh nafsu. Sementara Tuti melihat tangan Doni mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, desahan-desahan birahi mereka terdengar, sementara Tuti merasakan vaginanya yang masih disumpal oleh penisnya Doni dan ia merasakan penisnya Doni itu semakin mengeras dan berdenyut-denyut, walaupun sudah dua kali Tuti mencapai orgasme, tapi ia masih ingin merasakan lagi kemaluan majikan mudanya yang ganteng ini, tapi ia tahu diri untuk melihat atraksi yang akan dilakukan oleh Dewi. Dewipun mendorong tubuh Doni sehingga penisnya terlepas dari jepitan vagina Tuti, plooop…. Saat penisnya Doni terlepas dari jepitan vagina Tuti, dan Tuti melihat penisnya Doni itu bergoyang setelah terlepas dari jepitan vaginanya.

Tubuh Doni mengikuti dorongan Dewi, sehingga tubuh Doni berbaring di tempat tidur tersebut, Dewipun mengikuti dorongannya dengan menaiki tubuh Doni perlahan, selama itu kedua mulut mereka tidak terlepas berpagutan dengan mesra dan penuh nafsu. Dewipun mulai menggesek-gesekkan vaginanya di batang kemaluan Doni, sehingga membuat penisnya itu semakin keras, dengan tidak sabar Dewi mulai meraih kemaluan anak tirinya itu, diarahkannya kelubang vaginanya. Slleeeeppppp….. penis Doni terjepit oleh bibir vagina Dewi dan bleesssss…penis Doni mulai menyeruak di lubang vagina tersebut saat Dewi mulai mendorong pantatnya, lalu bleeessss….. penis itu semakin masuk kedalam lubang vagina tersebut seiring dengan dorongan pantat Dewi, dan akhirnya terbenam seluruhnya di lubang kenikmatan Dewi, setelah dengan sekali hentakan kuat Dewi mendorong pantatnya lebih kebelakang,  

“Aaaghhhh….. Doon , masuk semua kontolmu….di memekku….aaaahhh sudah lama tidak kurasakan besarnya penismu ini….oooogghhhh,”Dewi melenguh merasakan penisnya Doni yang terbenam di lubang vaginanya.

“Miiihhhh… aaaaghhh…memeknya masih sempit saja…aaaahhh…enak..Mih..enak,” Donipun mengerang keenakan merasakan sempitnya lubang vagina Dewi.

Tanpa menunggu lama, Dewi mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga penis Doni keluar masuk dengan sendirinya, sementara Dewi menggoyang pantatnya. Bibirnya semakin bernafsu memagut bibir Doni, tubuh keduanya seolah menyatu, mata Tuti terbelalak melihat aksi nyonya majikannya ini, Tuti tidak menyangka nyonya majikannya yang lembut bias beraksi liar seperti yang ia saksikan sekarang. Dewi yang sudah berpuasa selama satu minggu inipun semakin liar beraksi diatas tubuh Doni, goyangan pantatnya betul-betul hebat, kadang-kadang pantatnya maju-mundur, kadang-kadang pantatnya ia putar-putar, Dewi yang sedang beraksi merasakan penisnya Doni menyodok-nyodok lubang kemaluannya dengan keras dan tegang, kadang-kadang ia rasakan penisnya Doni seperti sedang mengebor kemaluannya saat ia putar pantatnya.

“Ooohhhh…enak…Don, enaknya penismu….aaaahhh…hhmmmmhh…aaaaghh kamu enak Don, enak vagina mamih…aaahhh….,”Dewi merintih keenakan.

“Aaaghh… Mih, nikmmat sekali…vagina mamih betul-betul legit…ooohhh…  Mih, terus mih goyang terus…ooohhh…putar mih, putar,” Doni mengerang merasakan keenakan penisnya yang sedang keluar masuk di vagina Dewi dan kadang-kadang ia merasakan penisnya seperti diputar-putar saat Dewi memutar pantatnya.

Saat itu Dewi sedang dalam posisi menduduki Doni, sambil memaju mundurkan pantatnya dengan penuh semangat, Tuti melihat kedua payudara Dewi bergoyang seiring dengan maju mundur pantatnya, lalu dengan memberanikan diri Tuti mulai mendekati Dewi, dan mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, tidak hanya tangannya yang beraksi, tapi mulut Tutipun mulai ikut beraksi kedua payudara Dewi silih berganti ia jilati dan hisap-hisap, kedua putingnya tak luput dari jilatan dan hisapan Tuti, sehingga kedua putingnya Dewi semakin mengeras.

“Aaaghhh…Tut, hisapp…yaaah…oohhh…terus hisapp… ooohhh…,”Dewi mendesah keenakan menikmati serangan Tuti dipayudaranya dan serangan penisnya Doni di kemaluannya.

Gerakannya maju mundurnya semakin bertambah cepat, dengan berpegangan di tubuh Tuti yang sedang asyik bermain dipayudaranya, Dewipun mengangkat pantatnya sedikit dan semakin gencar memaju mundurkan pantatnya tersebut, akibatnya penisnya Donipun semakin gencar menyodok-nyodok vagina Dewi, gerakan Dewi mulai tidak beraturan, tubuhnya kadang-kadang mengejang, nampaknya Dewi hamper mencapai puncak kenikmatannya.

“Aaagghh….Don,, enaaak…sekaliiii…Don, ooogghhh…..aaakuu…mau keluar Don, aaagghhh…penismu memang ….nnniiikkkmaaat,”Dewi mengerang dan …

“Doooonnniiiii, aaaaghhhh….mmaammihh  keluar… sayang…aaaahhh…. Nikmat ssaaayyyaangg…..oooghhhh….,”Dewi merintih, tubuhnya mengejang saat vaginanya memuntahkan lahar kenikmatannya,

Sssrrrrrrr….. sssrrrrrr…   ssssrrrrr…..  sssrrr…..  sssrrrr…. Lahar kenikmatan Dewi menyembur membasahi batang kemaluan Doni yang sedang berada dalam jepitan vaginanya itu.

“Enaaaakk…mih, eeenaaakk… penisku …Mih.,  keluarin mih…keluariin ooohhh,” Donipun merintih

Doni melihat tubuh mamihnya mengejan-ejan, sementara itu Tuti yang sedang menghisap-hisap payudara Dewi merasakan tubuh nyonya majikannya itu bergetar dengan hebat, saat ia mendengar teriakannya yang memberitahukan bahwa dirinya telah mencapai puncak kenikmatannya. Tubuh Dewi bergetar dengan hebatnya saat ia merengkuh puncak kenikmatannya, dinding vaginanya berkedut dengan kuat seperti yang dirasakan oleh Doni pada batang kemaluannya, seolah-olah meremas-remas penisnya itu, sambil berpegangan pada tubuh Tuti yang masih memainkan kedua payudaranya, Dewi menikmati sensasi orgasmenya kali ini, ia harus mengakui bahwa sekarang ini ia dikalahkan oleh anaknya dalam pertempuran ini, nafasnya masih terdengar memburu, hisapan dan remasan Tuti dikedua payudaranya semakin menambah nikmatnya orgasme kali ini, dimulutnya tersungging senyum kepuasan, matanya masih terpejam menikmati puncak kenikmatan yang berhasil ia raih. Kedutan-kedutan dinding vagina Dewi mulai berhenti, nafas Dewi mulai kembali normal, tubuh Dewi mulai bergerak maju mundur dengan perlahan, dan penisnya Donipun keluar masuk lagi di lubang vagina Dewi, Dewipun mengangkat kepala Tuti yang sedang asyik mempermainkan payudaranya, dilumatnya bibir Tuti dengan penuh nafsu, lidahnya menerobos kedalam rongga mulut Tuti, dan menari-nari didalam mulut Tuti, Tuti yang mendapat serangan yang mendadak menjadi kaget, karena belum pernah selama ini ada orang yang mencumbunya seperti itu apalagi wanita, matanya terbelalak, tapi setelah tangan Dewi mulai meremas-remas payudaranya.

Tutipun mulai mendesah, tak mau kalah dengan aksi Dewi, Tutipun membalas serangan Dewi, tangannya mulai meremas-remas payudara Dewi, mulutnya mulai belajar membalas lumatan yang dilakukan oleh Dewi, lidahnya mulai ikut menari dengan lidah Dewi, lidah mereka bergiliran menerobos mulut mereka. Bagian tubuh atas Dewi sedang asyik bertempur dengan Tuti, sementara bagian bawahnya asyik menggoyang-goyang penisnya Doni, setelah Dewi mengeluarkan lahar kenikmatannya, lubang vaginanya menjadi basah sehingga penisnya Doni lebih leluasa keluar masuk, melihat aksi kedua wanita itu Donipun tidak mau tinggal diam saja, iapun mulai menaik turunkan pantatnya seiring gerakan maju mundur Dewi, saat Dewi memajukan pantatnya Donipun menurunkan pantatnya, dan saat Dewi memundurkan pantatnya Donipun menimpali dengan menaikkan pantatnya sehingga penisnya lebih dalam menerobos lubang vagina Dewi. Tangan Donipun tidak mau ketinggalan, dengan tangan kanannya mulai beraksi di vagina Tuti yang posisinya kebetulan sedang membelakangi dia, dengan lembut digosok-gosoknya vagina Tuti dari belakang, sampai ke kelentitnya, sehingga membuat vagina Tuti semakin basah, Tuti yang mendapat serangan atas bawah mulai mendesah-desah, Dewipun mengalami hal yang serupa terutama saat Doni menaikkan pantatnya sehingga penisnya masuk lebih dalam di vaginanya, iapun melenguh-lenguh, suara desahan, erangan, lenguhan mereka bertiga saling bersahutan, keringat sudah membanjiri tubuh mereka bertiga.

“Oooohhhhh….hhhmmmm….aaaahhh…hhmmmm… ssshhh… hhmmm… aaahhh,” desah Dewi keenakan.

“Hhhmmm…aaahhh….ooougghh…hhhhmmm ..sshhhh…aaaahhh…hhhmmmmm,” Tutipun mendesah keenakan.

“Oouughhhh…Mih,  vaginamu enak sekali…aaaghhh… ooohhh… terus goyang, Mih, terus, yaaa…aaahhh…,”erang Doni menikmati goyangan Dewi.

Tubuh Dewi menggelinjang saat tangan kiri Tuti mulai merambah selangkangannya, tangan Tuti mulai menggosok-gosok kelentitnya dengan lembut, kadang-kadang jari jemari Tuti memilin-milin kelentit tersebut, gosok-pilin, gosok-pilin tangan Tuti bergantian melakukan hal tersebut di kelentit Dewi, Dewi semakin merasakan keenakan mendapat perlakuan tangan Tuti di kelentitnya tersebut. Saat tangannya sibuk dengan vagina Dewi, Tutipun mendapat serangan yang lebih hebat dari tangan Doni, tangan Doni yang tadinya hanya mengelu-elus vagina Tuti dari luar, sekarang jari tengah Doni mulai menerobos masuk kedalam lubang kenikmatan Tuti, Tutipun terhenyak oleh gerakan jari Doni,

Tuti mulai merasakan gesekan-gesekan tangan Doni didinding vaginanya, memang tidak seketat saat penisnya Doni yang menggesek dinding vaginanya, jari tengah Doni mengocok vagina Tuti seiring dengan kocokan kontoknya di vagina Dewi, kedua wanita ini yang vaginanya sedang dikocok oleh Doni semakin mengerang-erang keenakan. Tidak cukup dengan jari tengahnya saja, Donipun mulai memasukkan jari manisnya kedalam vagina Tuti, Tuti semakin keenakan dengan bertambahnya jari tangan Doni yang masuk di lubang vaginanya, gesekan-gesekan yang dirasakan oleh Tuti di dinding vaginanya bertambah, gerakan tangan Doni yang mengocok vagina Tuti kadang-kadang diselingi dengan menggoyang kekekiri-kekanan kedua jarinya persis dibelakang kelentitnya berada dan ibu jarinya bergerak dikelentitnya,  sehingga membuat Tuti semakin menggelinjang merasakan gesekan dilubang vaginanya dan dikelentitnya.

“Oooohhhh.. den,  ooohhh…hhhmmm…eeenaaak… Den… hhhmmm.. terus… Den,” erang Tuti keenakan.

“Oooohhh…. Itilku… Tut, itilku gesek…terus… ooogghhh…Don, tekan lebih dalam, kontolmu itu Don….lesakkan … sodok..memek mamihmu ini…aaagghh,” Dewi mengerang-erang menikmati sodokan batang kemaluan Doni dan gesekan tangann Tuti di kelentitnya.

“Aaaghh….kaliaann…juga enak…oooghhh…begini Mih, enak Tut….aaahhh,” erang Doni sambil menekan penisnya lebih dalam dilubang vagina Dewi, dan jari-jemarinya semakin aktif menggesek kelentit dan dinding vagina Tuti. 

Dewi dan Tuti betul-betul menikmati gocekan-gocekan Doni di lubang kemaluan mereka, dan Donipun menikmati jepitan vagina Dewi di penisnya, tubuh mereka semakin banjir oleh keringat, mereka bertiga berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan mereka, suara lenguhan dan erangan mereka semakin sering terdengar,

“Oooghhh…enak….enak…Don…terus sayaaang…sodok lebih dalam memek mamihmu iiinnnii….aaaaggghhh…iiiyaaa…terusss…Don…terusss…buat mamihmu ini puaaasss….sssaaayyaaang…aaaaghhh….,” Dewi mengerang-erang keenakan.

“Ddeeeennn….aaaghh…eeenaak…Den…terusss…goyang…tanganmu…Denn… aagghhh…tekan..Den…tekaaan…lebih kuat…Den…aaagghh…enaaak,” erang Tuti menikmati tekanan jari jemari Doni di kelentit dan dinding vaginanya.

Donipun semakin menyodokkan penisnya lebih dalam lagi kedalam vagina Dewi, sehingga pangkal selangkangan mereka berdua sering beradu akibatnya dan menimbulkan suara plak-plok yang aneh, yang menambah gairah birahi mereka semakin membara, dan tangannyapun semakin aktif dan kuat menekan-nekan kelentit Tuti dan dinding vaginanya. Donipun merasakan kenikmatan yang sangat saat penisnya melesak lebih dalam dirongga vagina Dewi, ia merasakan ujung kepala penisnya bersentuhan dengan dinding rahim Dewi,

“Aaaaaghhh…. Mih, enak sekali vaginamu ini…oooughhh…,”erang Doni

Dan, tubuh Tuti terlihat mulai mengejang dan mengejut-ngejut, Tuti merasakan desakan lahar kenikmatannya yang hendak menerobos keluar dari lubang vaginanya tidak dapat ia pertahankan lagi, dengan melenguh panjang Tutipun akhirnya memuntahkan lahar kenikmatannya.  Sssrrrr…. Ssssrrrrrr…  ssssrrrrr… sssrrrrr… ssssrrrr… sssrrrr…. Sssssrrr….. vaginanya memuntahkan cairan kenikmatan untuk yang ketiga kalinya, tapi kali ini cairan yang dikeluarkan sangat banyak dan mengalir turun serta membasahi tangan Doni.

“OOOuughhhh… Den, aaku keluar laagii….aaaaghh…enakk…Den…enak…sekali. ooooggghhhh…. Den…..,”Tuti mengerang, tubuhnya bergetar dengan hebatnya, pantatnya mengejang, lubang vaginanya berkedut dengan sangat kuat seiring dengan menyemburnya cairan kenikmatannya.

Dewi yang tahu bahwa Tuti mengalami orgasme lagi, menambah sensasi kenikmatan yang sedang dirasakan oleh Tuti dengan meremas-remas kedua payudara Tuti, sambil tetap memaju mundurkan pantatnya dengan cepat, remasan tangan Dewi di kedua payudaranya menambah kenikmatan buat Tuti, tubuh Tuti semakin bergetar, nafasnya terengah-engah, akhirnya tubuh Tuti ambruk kedua kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya, Tuti merasakan kakinya yang sedang berlutut menjadi lemas karena puncak kenikmatan yang berhasil ia raih.

Setelah Tuti ambruk di samping mereka, Dewi mulai memeluk Doni dan mulai menaik-turunkan pantatnya dengan cepat, sementara Doni dengan kedua tangannya mulai memegang dan meremas-remas kedua bongkah pantat mamihnya itu, dan juga mulai mengimbangi gerakan mamihnya, saat mamihnya menurunkan pantatnya ke bawah tangannya membantu dengan menekan pantat tersebut kebawah dan menyodokkan penisnya keatas, gerakan mereka berdua semakin bertambah cepat, nafas keduanyapun semakin memburu dan terengah-engah. Kedua mulut merekapun sibuk saling melumat dan lidah keduanya sibuk menari, desahan dan lenguhan mereka semakin menjadi, gerakan mereka semakin liar, goyangan mereka semakin cepat dan tidak beraturan,

“Oooughhh…hhhhmmm…Don,. Hhhmmm…ssslrrppp… aaaaghh…terus…ssslrpp.. aaagghh lebih cepat sayaang… ssslrppp..hhmmmm…,”Dewi melenguh sambil tetap memagut bibir Doni.

“Oooghh…sssshhhh…aaahh…hhhmmm… iiyaaa… Mih…. Aakuu  mau  keluar.. aaaaaghhh…. Mih…,” lenguh Doni sambil mempercepat gerakannya.

Penis Doni semakin cepat keluar masuk di lubang vagina Dewi, tangan Doni semakin kuat meremas kedua bongkah pantat Dewi, dan semakin kuat menekan pantat Dewi kebawah saat ia mendorong keatas penisnya tersebut.

“Iiiyaaa… barengan kita Don, Mamih…jugaa…mau kellluaar…oooghhh… Dooon ,” Dewipun mengerang.

Dengan hentakan kuat Doni menekan penisnya dalam-dalam di lubang vagina Dewi, sementara kedua tangannya meremas dengan kuatnya dan menekan kebawah pantat Dewi, tubuh Donipun mengejang, pada saat bersamaan tubuh Dewipun bergetar dengan hebat, vaginanyapun berkedut dengan kuat. Crreeeettt…..ssssrrrrrr….ccreeeettt…..ssssrrrrr, batang kemaluan Doni menyemburkan air maninya berbarengan dengan vagina Dewi yang menyemprotkan cairan kenikmatannya, Dewi merasakan hangat pada dinding vaginanya akibat siraman spermanya Doni, sementara Doni merasakan penisnya menjadi hangat akibat disirami oleh cairan kenikmatan Dewi, dan Doni juga merasakan dinding vagina Dewi meremas-remas kuat batang penisnya, sementara Dewi juga merasakan penisnya Doni berkedut-kedut dengan kuat. Terdengar nafas mereka berdua terengah-engah, kedua tubuh mereka seolah menyatu, keringat mereka berdua membanjiri sprei, senyum kepuasan menghiasi ketiga orang ini, mereka bertiga betul-betul merasa puas dengan permainan seks pagi ini, ketiganya terkapar kelelahan kehabisan tenaga.

By: Yan19
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di
sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 157 pengikut lainnya.